Selasa, 05 Maret 2019

Hari Ketujuh - Over thinking

Ini hari ketujuh, rasanya semakin terbiasa sendirian, kemajuan atau kemunduran? Entahlah, yang jelas jadi lebih menikmati kesepian, tak dikejar-kejar oleh hal yang dibuat-buat sendiri.
Tapi aku mulai khawatir, apa kabar manusia-manusia di luar sana ya? Sehat ga ya? Baik-baik aja ga ya? Nah kan, mulai lagi.

Malam ini, ditengah hutang menulis hari kelima, aku ingin sedikit berbagi tentang overthinking. Yaa, mungkin bukan hal yang begitu penting dan sudah umum, tapi aku ingin sedikit menguraikan apa yang aku rasakan selama ini dengan ke-overthinking-an yang boleh jadi terlampau over. Pusing ga tuh?

Aku ingin sekali bilang. Jangan jadi aku, nggak enak! Apa-apa dipikirin, dikit-dikit khawatir, bentar-bentar panik. Pokoknya ga enak! Tapi... yakin hidup orang lain yang non-over thinking juga enak? Bisa jadi sama saja nggak enaknya, cuma bentuk ujiannya aja yang berbeda.

Sedikit tentang over thinking, biasanya ini terjadi kalau ada sebuah (atau banyak) kekhawatiran akan sesuatu yang sedang terjadi atau bahkan belum terjadi. Ajaib kan? Iya, over thinker macam aku ini seringnya mengkhawatirkan apa-apa yang masih dalam bentuk embrio prasangka. Misal, orangtua belum sampai rumah jam 11 malam, nggak bisa dihubungi, wah itu jaman SD aku bisa-bisa tak tidur sampai terdengar suara mobil Bapak, hehe. Atau pernah, aku kalang kabut nyariin seseorang yang tiba-tiba lost contact saat beliau sedang di luar kota. Sampai-sampai aku telpon agen travel yang seharusnya beliau naiki sore itu. Lalu segala kekhawatiran yang menyiksa itu gugur saat beliau kirim sms (iya, sms, sekesal itu aku nunggu sms) "ga usah khawatir, aku dijemput om kok". Huaaaah, rasanya baru bisa napas lega. Receh kan? Tapi asli, ini nggak enak.

Jadi kemarin liat thread seorang dokter di twitter juga tentang over thinking, dan disebutkan bahwa gejalanya ya panik, ndak bisa mikir, sesak napas hingga agak mual. Bahkan seringkali ingin bergerak atau berbicara dengan cepat. INI SUNGGUH TEPAT SEKALI! Bacain reply twitnya berasa tiba-tiba nemu temen senasib sepenanggungan gitu :"

Saat kakek meninggal dan lihat orang-orang panik, rasanya aku yang sesak napas sejak ada telpon tengah malam, lalu perlahan asam lambung rasanya naik, lalu hilang nafsu makan total dan tak akan bisa tidur karena benak ini penuh dengan pikiran-pikiran. Adakah yang senasib? Hehe.

Memang, ini penyakit untukku. Rasa khawatir itu ya dibawa oleh syaitan dengan mencoba membunuh akal sehat dan menyuburkan prasangka. Makanya, aku selalu berusaha lawan ini meski rasanya menyiksa sekali. Ya siapa sih, yang ingin kaya gini? Kadang envy juga dengan teman-teman yang cenderung cuek, kok rasanya bebas ya hidupnya. Tapi dipikir-pikir ya harus disyukuri, meski tidak selalu benar, intuisi ini kadang tepat sasaran. Saat orang lain menebak-nebak apa yang terjadi, kadang aku bisa tahu dengan lihat tatapan matanya dan dengar sedikit alur kisahnya. Oh please, memahami orang tidak sesulit itu jika kita bersedia melihat dan mendengar dengan seksama, bukan? Atau kadang, Allah beri kepekaan yang luar biasa. Allah gerakkan kaki ini atas dasar intuisi tertentu dan menemui saudara-saudara yang sedang butuh pertolongan. Seringkali dapat feeling, si ini lagi sakit, si itu lagi susah, saat di konfirmasi, benarlah adanya. Ya, seajaib itu rasanya.

Ketahuilah, ini tidak mudah untukku. Pernah aku menangis, eh, sering, hanya karena orang-orang menolak untuk memberikan konfirmasi. Begini, menurut hematku, apa susahnya memberikan kabar bahwa "aku baik-baik saja, hanya sedang tidak bisa ditemui" daripada menghilang tanpa kabar? Ingin rasanya aku bilang, bisakah kalian membantuku dengan pertolongan sederhana? Sesederhana membantuku untuk tidak berprasangka.

Tahu tidak kalimat paling menenangkan untukku? Bukan kalimat manis penuh dengan pujian, tapi cukup "udah, ga usah khawatir...".

Kawan, ini sulit sekali bagiku. Bisakah kau membantuku dengan sederhana? Maka ku dapat berjanji untuk membantumu dengan tidak sederhana, setidaksederhana menahan diriku untuk tidak mengusikmu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar