Jumat, 01 Maret 2019

Hari Kedua - Penolakan Tersingkat

Scholarship's application rejected in just 5 minutes?
Yes, finally, i know that feels 

Ini aplikasi sebenarnya paling mudah, jauh lebih mudah daripada isi form online pendaftaran ITB atau UGM. Qadarullah, terkejut abang terheran-heran, dapat email penolakan lima menit setelah submit, haha. Tapi mau bagaimana lagi, surat rekomendasi rektor pun belum turun. Ya sudah, tidak apa-apa, bukan rezekinya. Ya kan?

Kalau kuhitung, ini sudah aplikasi beasiswa kelima yang ditolak dalam kurun waktu dua tahun. Sedih? Biasa aja, masih lebih sedih ditolak LPDP tahap akhir.

Mungkin bukan sulit, tapi aku belum serius minta pada Allah. Atau dosaku kebanyakan hingga menghalangi doa. Atau mungkin, Allah siapkan rencana lain yang lebih baik daripada menjadi awardee beasiswa. Entah apa itu.

Sebenarnya, urusan pendanaan kuliah ini memang jadi salah satu penyumbang anxiousness, sih. Kamu yang sudah berusaha mandiri pasti tahu rasanya, saat sudah mulai stabil sendiri, tapi seakan terpaksa bergantung lagi demi mimpi. Sampai aku berulang kali bertanya pada diri sendiri, "maukah nanti kamu mendanai anakmu untuk lanjut kuliah sampai S3? Meski terseok-seok dan jatuh bangun?". Jawabanku, iya, tentu. Tapi, ah, melihat wajah orang tuaku, rasanya ini berat jika harus membebani mereka lagi.

Doakan aku ya. Entah kemana takdir membawaku pergi, tolong doakan aku.
By the way, ini hari kedua tanpa toxic dari medsos. But i just realized, the media social is totally fine. Tapi orang-orang dekat di dalamnya yang membuatku bergantung dan merasa harus berkomunikasi setiap saatnya-lah yang membuatku gusar.

Aku sedih jika diabaikan. Rasanya ingin bilang "Kalian tahu tidak, hari ini aku sama sekali tidak berbicara dengan orang lain. Maukah kalian jadi orang pertama yang berbicara denganku?". Tapi sekali lagi, tidak. Mereka punya bebannya masing-masing. Urusan kesepianku, biar jadi bebanku saja.

Aku juga sedih jika melewatkan momen-momen penting mereka. Tepatnya, dilewatkan. Bukan aku orang yang harus mereka bagi kisahnya, meski aku selalu membagi kisahku. Atau apa sebenarnya aku tak cukup membagi kisahku?

Hehe, begini lah aku. Tenggelam dalam pemikiran sendiri.
Ah, sudah cukup bahas yang sedih-sedih. Besok saatnya lakukan perjalanan cukup panjang sendirian, nih! Dan lagi, aku masih bahagia liatin tiket Juni nanti, tak sabar rasanya, hehehe.

What i have done today :
1. Beli tiket mudik mei diskon 20%, alhamdulillah, lumayan. Dengan pemikiran panjang akhirnya memilih ekonomi premium. Tidak sanggup berdesakan di ekonomi biasa, namun tetap tidak tega gesek tiket eksekutif. Apa daya, hampir PP 4x dalam 6 bulan, bisa setengahnya gaji bulanan 
2. Lebih fokus di kantor, sampai tak sadar sudah jam 4.44 alhamdulillah.
3. Menghubungi wan kawan di kota sebelah, siap dikunjungi esok hari.
Dipikir-pikir ini malu ya kalau ada yang baca, huft. Tapi tak apalah, menulis disini ya salah satu cara untuk kurangi tekanan akhir-akhir ini. Percayalah, dengan menulis, rasanya lebih tenang :")
Share:

0 komentar:

Posting Komentar