Senin, 17 Juni 2019

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar

 “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.
(QS. Al Anfal [8] : 46)

Banjirlah air mataku malam ini, yang sebelumnya sudah terisak-isak, makinlah tersungkur membasahi mukena yang entah sudah dicuci berapa puluh kali. Sungguh, rasanya seperti dipeluk seorang teman, dinasihati dengan hangat dan bijaksana. Allah, sungguh, Engkau Maha Baik. Jika berpikir dengan logika, bagaimana mungkin dari 6236 ayat, ayat itulah yang aku baca artinya dengan seksama, memaksa suara parau penuh isak tangis ini tetap bertahan hingga akhir ayat. Lalu pecahlah segalanya karena solusi dari segala problemaku saat ini hanyalah bersabar. Duhai Allah, aku ingin, terus, selalu mencintaiMu.

Entah kenapa, rasanya sesak sekali akhir-akhir ini. Pressure dari soal-soal yang menurutku sangat sulit itu berimbas kemana-mana. Atau mungkin bukan soalnya yang susah, pressure dibalik kenapa-aku-harus-bisa-mengerjakan-soal-soal-itu lah yang buat diri ini tertekan. Bukan hanya itu, aku tak bisa memberitahukan siapapun tentang beratnya hari-hari terakhir ini. Egoku bersenandung, membuat diri ini tak mau kalah dengan keluhan. Padahal mata yang sedang terpejam sudah terlalu sering dipaksa membuka karena mimpi buruk. Belum lagi sangat sulit membuatnya terpejam saat tubuh sudah butuh istirahat. Tapi aku tahu, aku harus bertahan. Tugasku ini berjuang sekuat tenaga.

Seperti biasa, saat sudah tak ada lagi objek hidup yang bisa kuserang dengan keluhanku, ya tulisan disini akan bercerita. Boleh kan ya, aku bercerita disini? Sepertinya akan kupertimbangkan untuk tidak memperpanjang domain ini, kubiarkan saja berdomain aneh dan asal, agar tak ada yang bisa baca hehe.

Tahu tidak, kenapa-aku-harus-bisa-mengerjakan-soal-soal-itu?
Jawabannya, karena aku butuh alasan untuk kembali. Seringkali kurasa, aku sudah di tepian batas kuatnya diri ini untuk menikmati sepi. Aku tahu, sepi tidak selalu jadi hal yang buruk, buktinya aku bisa bebas menangis kapanpun dan adukan segalanya padaNya yang notabene tidak bisa aku lakukan saat di rumah. Tapi sisi manusiawiku berkata, bahwa sudah cukup, sungguh sudah cukup. Masalahku sehari-hari memang sederhana, sesederhana ingin makan roti bakar tapi tahu tidak akan sanggup menghabiskan karena tak ada kawan yang ikut makan. Atau ingin mencoba mie nyemek bu siti namun tahu persis tidak mungkin antri berjam-jam untuk makan sendirian di tempat seramai itu. Pernah juga ingin mencoba suatu wahana di taman bermain, tapi terlalu menyedihkan bila dirasakan sendiri. Sederhana bukan? Tapi bila dihadapi setiap hari, i mean benar-benar setiap hari, kau akan muak dengan dirimu sendiri. Ralat, dengan dirimu yang mencari teman saja tak becus.

Pernah kubaca sebuah kutipan
"Hal yang menyedihkan bukan ketika kau tak punya teman berbagi saat sedih, namun saat tak lagi kau bisa berbagi masa-masa bahagia yang kau miliki."
Untukku, mendatangi kajian, mengikuti agenda keilmuan atau mengagumi cantiknya Jogja tidak seindah itu saat segalanya dinikmati sendirian. Akan selalu ada rasa "ah sayang sekali, kalau bareng keluarga pasti mereka betah" atau "andai ada my sis, pasti seneng banget diajak kesini". Ya seperti itu kurang lebihnya.

Tapi apapun yang kualami, biarlah sesak ini jadi konsumsi sendiri sebab bisa jadi tak ada yang paham rasa ini selain aku sendiri. Alhamdulillah, setidaknya aku jadi tahu, bedanya merantau untuk kuliah dan merantau untuk kerja. Bersyukurlah para mahasiswa, jatuh dan bangkitmu masih dibersamai orang-orang yang menggantikan peran keluarga di perantauan. Dan bersyukurlah wahai diri, Allah cukupkan banyak kebutuhan hidupmu dan menempatkanmu di lingkungan yang baik. Pada akhirnya, yang perlu kita lakukan, hanyalah bersyukur dan bersabar, bukan? :)

Wah, panjang juga cerita malam ini. Terima kasih sudah mendengarkan dan membantu kosongkan beban di dada ini agar siap untuk menampung sesaknya pengharapan, haha.

Apapun yang terjadi, tetaplah jatuh dan bangkit di tempat yang tepat, sajadahmu.
Share:

Selasa, 05 Maret 2019

Hari Ketujuh - Over thinking

Ini hari ketujuh, rasanya semakin terbiasa sendirian, kemajuan atau kemunduran? Entahlah, yang jelas jadi lebih menikmati kesepian, tak dikejar-kejar oleh hal yang dibuat-buat sendiri.
Tapi aku mulai khawatir, apa kabar manusia-manusia di luar sana ya? Sehat ga ya? Baik-baik aja ga ya? Nah kan, mulai lagi.

Malam ini, ditengah hutang menulis hari kelima, aku ingin sedikit berbagi tentang overthinking. Yaa, mungkin bukan hal yang begitu penting dan sudah umum, tapi aku ingin sedikit menguraikan apa yang aku rasakan selama ini dengan ke-overthinking-an yang boleh jadi terlampau over. Pusing ga tuh?

Aku ingin sekali bilang. Jangan jadi aku, nggak enak! Apa-apa dipikirin, dikit-dikit khawatir, bentar-bentar panik. Pokoknya ga enak! Tapi... yakin hidup orang lain yang non-over thinking juga enak? Bisa jadi sama saja nggak enaknya, cuma bentuk ujiannya aja yang berbeda.

Sedikit tentang over thinking, biasanya ini terjadi kalau ada sebuah (atau banyak) kekhawatiran akan sesuatu yang sedang terjadi atau bahkan belum terjadi. Ajaib kan? Iya, over thinker macam aku ini seringnya mengkhawatirkan apa-apa yang masih dalam bentuk embrio prasangka. Misal, orangtua belum sampai rumah jam 11 malam, nggak bisa dihubungi, wah itu jaman SD aku bisa-bisa tak tidur sampai terdengar suara mobil Bapak, hehe. Atau pernah, aku kalang kabut nyariin seseorang yang tiba-tiba lost contact saat beliau sedang di luar kota. Sampai-sampai aku telpon agen travel yang seharusnya beliau naiki sore itu. Lalu segala kekhawatiran yang menyiksa itu gugur saat beliau kirim sms (iya, sms, sekesal itu aku nunggu sms) "ga usah khawatir, aku dijemput om kok". Huaaaah, rasanya baru bisa napas lega. Receh kan? Tapi asli, ini nggak enak.

Jadi kemarin liat thread seorang dokter di twitter juga tentang over thinking, dan disebutkan bahwa gejalanya ya panik, ndak bisa mikir, sesak napas hingga agak mual. Bahkan seringkali ingin bergerak atau berbicara dengan cepat. INI SUNGGUH TEPAT SEKALI! Bacain reply twitnya berasa tiba-tiba nemu temen senasib sepenanggungan gitu :"

Saat kakek meninggal dan lihat orang-orang panik, rasanya aku yang sesak napas sejak ada telpon tengah malam, lalu perlahan asam lambung rasanya naik, lalu hilang nafsu makan total dan tak akan bisa tidur karena benak ini penuh dengan pikiran-pikiran. Adakah yang senasib? Hehe.

Memang, ini penyakit untukku. Rasa khawatir itu ya dibawa oleh syaitan dengan mencoba membunuh akal sehat dan menyuburkan prasangka. Makanya, aku selalu berusaha lawan ini meski rasanya menyiksa sekali. Ya siapa sih, yang ingin kaya gini? Kadang envy juga dengan teman-teman yang cenderung cuek, kok rasanya bebas ya hidupnya. Tapi dipikir-pikir ya harus disyukuri, meski tidak selalu benar, intuisi ini kadang tepat sasaran. Saat orang lain menebak-nebak apa yang terjadi, kadang aku bisa tahu dengan lihat tatapan matanya dan dengar sedikit alur kisahnya. Oh please, memahami orang tidak sesulit itu jika kita bersedia melihat dan mendengar dengan seksama, bukan? Atau kadang, Allah beri kepekaan yang luar biasa. Allah gerakkan kaki ini atas dasar intuisi tertentu dan menemui saudara-saudara yang sedang butuh pertolongan. Seringkali dapat feeling, si ini lagi sakit, si itu lagi susah, saat di konfirmasi, benarlah adanya. Ya, seajaib itu rasanya.

Ketahuilah, ini tidak mudah untukku. Pernah aku menangis, eh, sering, hanya karena orang-orang menolak untuk memberikan konfirmasi. Begini, menurut hematku, apa susahnya memberikan kabar bahwa "aku baik-baik saja, hanya sedang tidak bisa ditemui" daripada menghilang tanpa kabar? Ingin rasanya aku bilang, bisakah kalian membantuku dengan pertolongan sederhana? Sesederhana membantuku untuk tidak berprasangka.

Tahu tidak kalimat paling menenangkan untukku? Bukan kalimat manis penuh dengan pujian, tapi cukup "udah, ga usah khawatir...".

Kawan, ini sulit sekali bagiku. Bisakah kau membantuku dengan sederhana? Maka ku dapat berjanji untuk membantumu dengan tidak sederhana, setidaksederhana menahan diriku untuk tidak mengusikmu.
Share:

Minggu, 03 Maret 2019

Hari Kelima - Lima Episode Kehidupan

Sudah lama tak menulis kisah sepotong episode nih, hari ini cocok kayanya tulis macam gitu. Tapi rombongan gapapa kali ya, langsung lima episode hehe. Sepertinya ada satu orang yang pernah kutulis, tapi ku lupa dong panggilannya apa :( (Sekarang sudah ingat setelah gali-gali blog ini dan tumblr haha, ternyata ada dua orang, yang satunya hujan, satunya lagi kutulis tiga tahun lalu tanpa nama)

Sebut saja mereka dengan Air, Berlian, Aurora, Bening dan Hujan.

Air.

Sebenarnya, tipikal Air ini bukan tipikal manusia aneh, tapi untukku tetap tidak lazim. Dia tidak berisik sepertiku, tidak diam juga. Tidak ambisius, tapi seringkali mengambil inisiatif terlebih dahulu. Hmm, Air lebih suka bekerja dalam diam, tau-tau semua selesai, hehe.

Ada banyak yang kukagumi dari Air, tapi yang utama, hatinya lembut, lembut sekali. Meski tak selalu ditunjukkan, matanya jujur, terlihat sedih jika sedih, senang jika senang, terharu jika terharu. Tidak sepertiku yang penuh dengan kepalsuan, haha.

Air ini meski bungsu, tetap punya sisi kedewasaan yang luar biasa. Air telaten, sigap ketika ada hal-hal yang harus diselesaikan. Air tidak asing dengan pengorbanan, Ia siap melakukan banyak hal untuk kebaikan banyak orang, termasuk jika itu harus membuat dirinya kesusahan.

Aku lupa bagaimana aku bisa dekat dengannya, seperti ujug-ujug klop aja. Air ini luar biasa kalau udah ngelucu, Sule kalah telak. Kalau lagi tebak-tebakan, baru mangap mau ngomong aja kita udah ketawa :( Abis gimana ya, tebak-tebakan dengan wajah datar itu ya sebuah anomali, hahaha.

Air ini satu-satunya yang cukup intens menghubungi via email, sesuai apa yang diinstruksikan saat aku memutuskan rehat. Memang bukan Air, kalau tidak manut dengan prosedur, haha.

Aku sayang Air. Dia elemen yang harus ada di hidup setiap orang. Jujur, tulus, menyejukkan. Seperti berkaca di air jernih, bayangan kita akan nampak dengan jelas, seperti itu pula bersaudara dengannya.

Berlian.

Berlian ini tipikal manusia yang setidaknya kita punya satu di sepanjang hidup kita. Kenapa? Ndak seru hidup tanpa Berlian. Berlian ini supel (bukan suka ngepel, plis), humoris, pintar dan jauh di dalam sana, hatinya lembut sekali. Ia tipikal orang yang sangat aku butuhkan di tengah keramaian (yang seringkali membuatku kikuk) karena Berlian pasti memulai pembicaraan seru dengan smooth dan melibatkan siapapun yang ada disana.

Seperti yang kita tahu, berlian mengalami proses penempaan hingga bisa berkilau, indah dan mahal. Ya persis, sama, Berlian di hidupku pun seperti itu. Ia mengalami proses penempaan hidup yang luar biasa. Jatuh bangun kehidupannya berhasil ia maknai dengan sangat bijak dibalik tawa yang selalu ia hadirkan. Berlian sebenarnya mudah menangis, tapi juga mudah tertawa, ia artis yang baik untuk menyembunyikan kesedihannya, hehe.

Oh ya, Berlian ini entah kenapa klop sekali dengan Air. Kalau sudah berdua, rasanya seperti pasangan penyiar radio tengah malam yang sanggup berbicara berjam-jam seakan dunia milik berdua, haha.

Aku sayang Berlian. Ia sumber kebijaksanaan hidup dan juga tempat istirahat yang baik saat sedang lelah. Berlian seringkali jadi perpanjangan tanganku atau bahkan penyampai pesan saat bibirku tak mampu mengutarakannya. Satu lagi, Berlian, selalu ada di hidupku dalam wujud yang aku butuhkan.

Aurora.

Aurora, sebuah fenomena alam yang tak selalu kita jumpai, butuh effort luar biasa untuk sekedar menikmati keindahannya. Tersembunyi, misterius, namun ketika nampak, indah luar biasa.
Intro tersebut cukup menggambarkan Aurora. Dia sebenarnya tidak pendiam, cenderung berisik dan usil, paling usil malah, haha. Tapi percayalah, apa yang kau lihat, tak selalu menggambarkan yang sebenarnya.

Dari kelima saudaraku ini, yang paling mirip kepribadiannya denganku ya Aurora. Kita sama-sama suka memendam dan mengalah, lebih suka menikmati pilihan orang lain. Kita sama-sama takut mengecewakan atau melukai orang lain.

Tapi Aurora ini juga spesial. Ia seringkali jadi orang yang pertama berlari saat sesuatu terjadi padaku. Benar-benar berlari. Saat banyak orang berpikiran bahwa masalah itu biasa dan pasti bisa dilewati, Aurora tidak menganggapnya seperti itu. Ia akan ambil bagian besar, hingga masalah saudaranya selesai, baik disadari maupun tidak.

Aurora ini sangat keibuan, sangat telaten. Dan ajaibnya, Ia hapal kebiasaan orang-orang dekatnya. Ia tahu aku clumsy, teledor, maka saat trip bersama, ia yang akan memastikan barang bawaanku sudah terbawa semua. Sesederhana itu dia hapal, apalagi yang jauh lebih besar. Oh ya, Aurora bukan hanya sekedar mengingat, tapi juga beraksi atas ingatan-ingatannya.

Kalau mengenal Aurora lebih dalam, banyak sekali kejutan yang akan ditemui. Ah, pokoknya jangan pernah pandang sebelah mata orang-orang seperti Aurora.

Aku sayang Aurora. Pengorbanannya untuk orang lain seringkali tak terlihat, namun sangat nyata hingga Ia rela terluka. Aurora memang hanya datang dan terlihat sesekali, tapi lihatlah, Ia datang dengan berlari, menampakkan keindahan hatinya yang luar biasa tulus.

Bening.

Bening ini pernah kutulis tiga tahun lalu di tumblr, tanpa nama, hanya dengan panggilan ukhti, shalihah sekali bukan? Bening ini bukan orang baru di hidupku, dia salah satu jalan hijrahku. Bening ini teman menatap langit saat di Nurul Ihsan tujuh tahun lalu. See? Selama itu Bening menggoreskan makna di hidupku. Dan aku baru sadar, dari kelima tokoh utama ini, sepertinya Bening satu-satunya yang tak pernah lost contact selama tujuh tahun terakhir. Meski komunikasi kita tidak selalu dalam dan private (seringnya bahas kerjaan dakwah), tapi wah masyaAllah, aku pun baru sadar tak ada sebulan-pun aku lost contact dengan Bening di tujuh tahun terakhir setelah lulus dari SMA. Bening, sadarkah kamu? haha.

Bening, kok aku sedih ya tulis ini. Apa ini efek backsound "Sampai Jumpa" yang sedang diputar? Hmm. Tapi gimana ya, Bening ini memang sering bikin haru. Bening sepertinya tak tahu, pesan-pesan singkatnya itu sering mengundang tangis diam-diam. Bening bukan orang yang suka mengobral kalimat cinta atau rindu, tapi Bening pandai menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Kalau minta nasihat, pasti dikasih dan pasti cocok dengan keadaan kita tanpa menggurui sama sekali.

Bening lembut sekali, hatinya bersih kali ya? Ndak ada satupun sesi muhasabah tanpa air mata baginya, pokoknya cemburu melihat kedekatannya dengan Rabb nya dan juga dengan dirinya sendiri. Bening ini penulis handal kita semua, pandai membungkus tema-tema berat seperti politik jadi suatu tulisan yang renyah dan asyik dibahas. Bening juga pandai menyembuhkan diri dan hatinya, ya menulis lah salah satu jalannya. Pokoknya jika urusan self-healing, Bening lah rujukanku.

Oh ya, Bening ini sabaaaaaaaaaar sekali (hitung tuh a nya berapa). Kalau kamu lihat Bening marah atau diam tak bergeming, berarti kondisi itu sudah parah sekali. Dulu aku kesal, kok Bening nggak pernah marah ya, nggak mungkin kan sahabatan lama terus nggak pernah marah. Eeeeh, saat marah rasanya terkejut abang terheran-heran. Nggak ada sama sekali kata-kata menyakitkan, hanya diam sampai dirasa hilang amarahnya. Ngeri bosque, marahnya aja santun dan cuma setahun sekali. Apalah aku ini yang pundungan hanya karena whatsappnya ga dibalas padahal lagi on. Eh, malah tjurhat.

Bening ini jendela ilmu bagi orang-orang di sekelilingnya. Dan mungkin memang benar jokes kita selama ini bahwa tanpa Bening, FITRAH jalan di tempat, haha.

Aku sayang Bening, dan ini bukan rahasia. Aku tahu Bening tahu dan aku juga tahu Bening merasakan hal yang sebaliknya. Perasaannya bening, jujur dan bersih hingga mudah untuk dirasakan ketulusannya. Bening juga panutan itsar dalam diam. Coba cek saja, siapa yang berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, tubuh lebih kelelahan namun Ia tetap diam, maka itu pasti Bening. Dan seringkali kita tak tahu karena Bening tak akan pernah membahasnya sekalipun.

Hujan.

Sembilan tahun, dan masih terus berlalu. Ya, hujan adalah tokoh tertua, terlama, terdrama, tergengsi dan banyak ter-ter lainnya di hidupku. Terbanyak gelut? Ya itu juga Hujan pemenangnya. Aku seringkali tulis tentang Hujan disini, tapi aq yaqin Hujan sama seqali tidak tertarique untuk meliriqnya, hahaha. Aku juga ga sebut nama sih, gengsi banget, hih. Tapi ndak apa, nanti kalau aku sudah tak ada, mungkin Hujan dapat hidayah untuk scroll-scroll blog ini, haha.

Tidak seperti yang lainnya, aku mengenal hujan sejak 2009, sebelas tahun! Bermula dari wall facebook perkenalan diri super singkat, lalu membangkang bersama di SMA, membuat geng alay berdua, berantem di twitter (literally dimana-mana), terjebak tinggal bersama, ke luar negeri bersama, hingga tertipu puluhan juta bersama, haha. Sempat lost contact selama 2-3 tahun, FYI aja dulu aku segan dan agak sebel sama Hujan, tapi eee kok kesini-sini malah aneh kalau ga ada dia, huft.

Aku tidak suka bilang bahwa Hujan spesial (kok kalau yang lain gampang aja ya disebut spesial), tapi ya memang begitu adanya. Ciri khas Hujan di hidupku adalah, bukan Hujan kalau tidak menciptakan kekhawatiran -_- Tapi sebagian kekhawatiranku yang bukan berasal darinya, ya dia yang bantu meredakan. Serba salah kan? Memang.

Hujan bukan orang yang pandai sampaikan perasaannya. Hmm, she lack of it, really. Maka yang bisa kulakukan ya menebaknya, dari statusnya, dari bicaranya. Tapi aneh, aneh sekali, Hujan hapal sekali tentangku. Mulai dari penyakitku, warna dan makanan kesukaanku, alergiku, tingkahku saat sedang marah hingga tipikal orang yang kusuka, khan ghawatt -_- Kukira awalnya ia adalah titisan manusia tercuek seisi dunia, tapi oh tapi, bahkan sekarang ia bisa tebak satu yang terbaik dari tiga motif jilbab yang kusuka.

Satu hal yang unik dari Hujan. Ia selalu bisa menahan rasa penasarannya, kebalikan dari aku bukan? Seringkali saat segalanya tak tertahankan lagi, aku yang jarang menangis di tempat umum ini menangis di hadapannya tanpa ada sepatah katapun. Tapi ajaib, Ia sama sekali tidak bicara apalagi bertanya, ia hanya menepuk-nepuk pundakku hingga ku rasa lega. Setelahnya? Ya sudah, hanya tawarkan minum dan sama sekali tak bertanya apapun. Mungkin ia tahu, aku yang bawel ini pasti cerita kali ya kalau udah siap? Atau ia tak penasaran? Atau ia sudah tahu apa masalahku? Hah, sungguh yang ini buatku penasaran -_-

Hujan memang tipikal wanita kuat, tak mudah patah hanya karena satu atau dua hal. Tapi aku tetap merasa harus menjaganya baik-baik, sebab aku tahu kalau patah, akan sehancur apa Ia, haha. Aku siap hempaskan siapa saja yang mengganggunya (tentu saja aku juga siap hempaskan siapa saja yang mengganggu keempat orang diatas).

Aku sayang Hujan (huft, ini pertama kalinya kutulis, gengsi), ia seperti tetesan-tetesan air sejuk yang dibutuhkan oleh banyak orang. Ilmunya, cara jeniusnya menyampaikan, hingga keramahannya, itulah yang objek dakwah kita butuhkan. Sendiri Ia kuat, maka aku tak akan rela jika pasangannya nanti tak bisa lebih menguatkannya.

Ada satu hal yang ingin sekali ku sampaikan padanya namun tak berani ku sampaikan langsung.
Hujan, apapun yang terjadi, tetaplah disini. Aku tahu jalan menuju Surga tak harus dari sini, tapi coba buka matamu, ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan olehmu. Ambilah peran itu, jadikan sebagai salah satu kendaraan menuju Surga.
Biarlah selera kita saja yang beda, sedang kendaraan kuingin tetap sama, sebab sepertinya ku tak sanggup jika harus berbeda darimu.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah kelima episode terbaik dalam hidupku. Mereka belum pernah absen dari untaian harapanku. Belum pernah absen juga di titik-titk kritisku. Maafkan aku yang sering lalai dan sering meminta. Tapi jika boleh kupinta lagi, aku ingin kalian cari jika tak kalian temukan batang hidung ini di SurgaNya nanti. Tolong, mintalah pada Allah dengan sungguh-sungguh. Kalian boleh kok tidak hadir di momen-momen penting hidupku, asal satu hal yang tidak boleh kalian lewatkan, shalati aku jika aku pulang terlebih dahulu. Janji, ya?

Kalau Dilan nggombal ke Milea, aku ini serius, "jangan bilang ada orang yang menyakiti kalian, karena bisa-bisa besoknya aku hempaskan orang itu", hah! Gini-gini aku punya track record labrak yang cukup tinggi kalau urusan ada yang melukai orang-orang yang kusayang.

Tak ada kata lain yang dapat kusampaikan untuk menggambarkan cinta ini selain, Uhibbukunna Fillah. Kalian, baik-baik ya.
Share:

Jumat, 01 Maret 2019

Hari Ketiga - Kamu Masih Bernilai!

Hmm, agak berat menulis malam ini. Ada yang sesak di dalam dada, ingin dikeluarkan tapi rasanya belum saatnya.

Hari ini bisa dibilang satu hari yang dapat mengobati tiga puluh hari ke belakang. Padahal sederhana saja yang ku lakukan, solo traveling.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku langkahkan kaki dengan itinerary seadanya di kepala. Kehabisan tiket kereta karena beli on the spot, datang ke stasiun lima menit sebelum kereta berangkat, booking hotel kapsul saat kaki telah berpijak di kota tujuan, jalan kaki dari stasiun ke hotel, kejatuhan kelabang besar dari pohon dan nemplok di kepala (yang ini rasanya ingin teriak-teriak pinggir jalan). Luar biasa, ini prestasi besar untukku yang selalu well-organized setiap traveling.

Jadi, dua kota tujuanku akhir pekan ini adalah Solo dan Semarang. Kenapa Solo? Karena ada dua saudara disana yang seharusnya sering aku kunjungi. Tadi amang tanya, "kenapa susah-susah kesini? Padahal kan bisa aja lupa kalau aku disini". Hehe, aku sudah cukup kenyang lihat story orang-orang berkunjung ke Jogja hanya untuk liburan, bukan untuk mengunjungiku. Ya apa daya, pesona Jogja memang memikat. Maka dari itu, aku trauma reply story teman-teman yang lagi di Jogja, takut diabaikan lagi, padahal cuma ingin menawarkan hospitality, atau sekedar nraktir (nraktir lho, bukan minta traktir) atau kasih oleh-oleh. Sedih akutu :")

Tapi, ajaib. Setelah jenguk amang dan resti, dan lihat mereka senang dengan kunjungan sederhana ini, rasanya kepercayaan diri ini kembali perlahan. Hei, kamu masih bisa buat orang senang! Masih ada yang senang dengan kehadiranmu! (Ah, netes juga, kan...) Rasanya ringan hati ini. Tersenyumlah aku di sepanjang perjalanan selanjutnya, hanya karena ingat senyum mereka. Lalu aku jadi ketagihan, ingin keliling Indonesia, eh dunia deh, bukan untuk sekedar jalan-jalan, tapi mengunjungi saudara-saudara yang sedang merantau. Pasti mereka senang :")

Lalu, kenapa Semarang?

Ndak tahu. Aku kangen aja jalan-jalan disini. Kangen partner perjalanan yang kemarin? Sedikit. Kalau banyak nanti gengsi.


Tapi keren ya solo traveling yang benar-benar solo bersama Allah dan tanpa Instagram atau WhatsApp. Rasanya sibuk menikmati momen sepenuhnya, tidak sibuk update atau pantau kabar orang. Jadi bisa ngobrol juga sama orang baru. Prestasi kaan? (Kalau si sis baca, pasti akan bilang mantap, nih).


Oh ya, ini first time nyobain nginep di hotel kapsul. Ternyata.. mantap! Haha. Murah, 50 rebu semalam. Bersih, sepi, unik. Minusnya, dingin, hmm.

Benar kata orang, kesendirian bikin banyak muhasabah, dikit-dikit pengen nangis terharu karena ngerasa Allah baiiik banget. Selain itu, kehadiran orang-orang yang sebelumnya biasa ada dekat kita jadi kerasa berharga. Ya kok bisa ya, ada yang tahan, mangtaun taun, menghadapi saya yang kaya begini?

Sudah ah, cukup hari ini. Besok kita makan makanan khas sini. Eh, kok kita, hmmmm.
Share:

Hari Kedua - Penolakan Tersingkat

Scholarship's application rejected in just 5 minutes?
Yes, finally, i know that feels 

Ini aplikasi sebenarnya paling mudah, jauh lebih mudah daripada isi form online pendaftaran ITB atau UGM. Qadarullah, terkejut abang terheran-heran, dapat email penolakan lima menit setelah submit, haha. Tapi mau bagaimana lagi, surat rekomendasi rektor pun belum turun. Ya sudah, tidak apa-apa, bukan rezekinya. Ya kan?

Kalau kuhitung, ini sudah aplikasi beasiswa kelima yang ditolak dalam kurun waktu dua tahun. Sedih? Biasa aja, masih lebih sedih ditolak LPDP tahap akhir.

Mungkin bukan sulit, tapi aku belum serius minta pada Allah. Atau dosaku kebanyakan hingga menghalangi doa. Atau mungkin, Allah siapkan rencana lain yang lebih baik daripada menjadi awardee beasiswa. Entah apa itu.

Sebenarnya, urusan pendanaan kuliah ini memang jadi salah satu penyumbang anxiousness, sih. Kamu yang sudah berusaha mandiri pasti tahu rasanya, saat sudah mulai stabil sendiri, tapi seakan terpaksa bergantung lagi demi mimpi. Sampai aku berulang kali bertanya pada diri sendiri, "maukah nanti kamu mendanai anakmu untuk lanjut kuliah sampai S3? Meski terseok-seok dan jatuh bangun?". Jawabanku, iya, tentu. Tapi, ah, melihat wajah orang tuaku, rasanya ini berat jika harus membebani mereka lagi.

Doakan aku ya. Entah kemana takdir membawaku pergi, tolong doakan aku.
By the way, ini hari kedua tanpa toxic dari medsos. But i just realized, the media social is totally fine. Tapi orang-orang dekat di dalamnya yang membuatku bergantung dan merasa harus berkomunikasi setiap saatnya-lah yang membuatku gusar.

Aku sedih jika diabaikan. Rasanya ingin bilang "Kalian tahu tidak, hari ini aku sama sekali tidak berbicara dengan orang lain. Maukah kalian jadi orang pertama yang berbicara denganku?". Tapi sekali lagi, tidak. Mereka punya bebannya masing-masing. Urusan kesepianku, biar jadi bebanku saja.

Aku juga sedih jika melewatkan momen-momen penting mereka. Tepatnya, dilewatkan. Bukan aku orang yang harus mereka bagi kisahnya, meski aku selalu membagi kisahku. Atau apa sebenarnya aku tak cukup membagi kisahku?

Hehe, begini lah aku. Tenggelam dalam pemikiran sendiri.
Ah, sudah cukup bahas yang sedih-sedih. Besok saatnya lakukan perjalanan cukup panjang sendirian, nih! Dan lagi, aku masih bahagia liatin tiket Juni nanti, tak sabar rasanya, hehehe.

What i have done today :
1. Beli tiket mudik mei diskon 20%, alhamdulillah, lumayan. Dengan pemikiran panjang akhirnya memilih ekonomi premium. Tidak sanggup berdesakan di ekonomi biasa, namun tetap tidak tega gesek tiket eksekutif. Apa daya, hampir PP 4x dalam 6 bulan, bisa setengahnya gaji bulanan 
2. Lebih fokus di kantor, sampai tak sadar sudah jam 4.44 alhamdulillah.
3. Menghubungi wan kawan di kota sebelah, siap dikunjungi esok hari.
Dipikir-pikir ini malu ya kalau ada yang baca, huft. Tapi tak apalah, menulis disini ya salah satu cara untuk kurangi tekanan akhir-akhir ini. Percayalah, dengan menulis, rasanya lebih tenang :")
Share:

Jumat, 22 Februari 2019

Dialog Imaji

"Kau menangis lagi. Lihatlah, betapa menyedihkannya dirimu. Menggigil kedinginan menahan sakit, penuh sengguk tangis entah karena apa. Ada lagi daftar harap yang tak sampai?"

"Tidak. Aku tidak semenyedihkan itu. Yang perlu kulakukan hanya bersabar. Tapi kembali aku terlalu mudah menangis. Padahal yang kuhadapi tidak seberat itu, tidak sesulit yang dihadapi saudara-saudaraku bukan?"

"Sudahlah, berhenti untuk peduli. Tidak semua yang terjadi harus menjadi tanggung jawabmu. Menyerahlah dengan harapan-harapan imajimu."

"Tidak bisa. Aku siap terluka, sedemikian rupa. Namun tidak dengan mereka, tak boleh ada luka segorespun, kalau bisa. Aku tak akan mampu melihat mereka terluka. Lukaku, tak akan berarti untukku sendiri, selama itu hanya untukku."

"Akuilah. Itu semua hanya keegoisanmu bukan? Kau lah yang takut melihat mereka susah. Hingga kau lebih rela terluka sendirian. Egois."

"Memang. Benar. Apakah salah?"

"Egois. Dasar makhluk egois. Kau kira jika kau yang terluka, mereka akan baik-baik saja? Berhentilah naif, kau tak sesampah itu."

"Salah. Kau salah. Aku boleh hilang. Perlahan atau tiba-tiba. Aku boleh terluka.  Tak akan ada yang terganggu. Percayalah."

"Bodoh. Kau bodoh. Terserah kau saja."

"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mendengarkan."

Share:

Minggu, 17 Februari 2019

Seandainya

Seringkali aku berandai-andai,
seandainya aku berhenti meminta, apa kau masih akan memberi?
Seandainya aku berhenti bertanya, apa kau masih akan menjawab?
Seandainya aku berhenti mencari, apa kau masih akan menghilang?

Karena aku yakin, seluruh jalinan manusia terbentuk atas dasar supply dan demand. Namun sayang, sepertinya aku hanya memainkan posisi demand sejak komunikasi sebatas "Assalamu'alaikum, apa kabar?" hingga "Tau ga?! Kemarin ya...". Sebuah fakta yang cukup menyakitkan, mengetahui bahwa bisa saja segalanya berakhir jika aku berhenti meminta. Lebih menyakitkan lagi mengetahui bahwa aku terus meminta untuk memperpanjang umur komunikasi.

Aku bukan tipikal orang yang cinta basa-basi. Bukan orang yang akan berjuang setengah mati bila tahu bahwa yang diperjuangkan tidak memiliki kemungkinan akan "hidup setelah mati". Singkat kata, aku hanya memperjuangkan apa-apa yang kurasa akan berumur panjang. Sedikit yang kuperjuangkan, namun dari sedikit itu masih juga berguguran, dengan baik maupun tragis. Allah tahu, makhluk sekerdil aku memang harus diberikan pelajaran agar hanya bergantung kepadaNya.

Mari kita berandai-andai lagi.
Seandainya aku menyerah, berhenti untuk peduli, apa kau akan peduli?

Ah, tidak. Aku tidak peduli apa jawabannya.
Selain karena berandai-andai tidak baik.
Toh aku tidak akan, tidak bisa untuk berhenti peduli.

As usual. Welcome everyone, feel free to leave whenever you have to go yet i'll try to give my best for you. Thanks.
Share: