Selasa, 23 Oktober 2018

Pulang

Pernah tidak, merasa cukup dengan segalanya hingga yang diinginkan hanya pulang?
Iya, pulang.

Ketika manusia seusiamu sedang mendambakan kisah romansa sejati dalam ikatan suci atau pencapaian karir yang menyilaukan mata, sedang kau, yang tak lebih dari sekedar debu, hanya ingin pulang. Merasa cukup dengan segalanya.

Atau tepatnya... menyerah?

Jika aku bilang ini semua tidak sulit, aku bohong. Ini semua menyesakkan. Rasa-rasanya aku tak pernah menangis sebanyak ini dalam episode kehidupan sebelumnya.

Tapi Allah... maksiatku banyak sekali, dosaku banyak sekali, kebodohanku tiada ujung, akibat yang harus ku tanggung juga pasti banyak sekali. Aku mencoba bermuhasabah diri, tak lain semua ujian ini karena kelalaianku sendiri.

Yaa Allah, di titik kritis ini, seharusnya aku hanya sibuk tersungkur kepadamu, meminta maaf atas semua kelalaianku. Memperbaiki diri dan terus mendekat kepadaMu. Sehina apa diri ini hingga masih bisa tenang dan meminta pulang padahal dosa masih menggelayuti diri?

Allah, ampuni aku, maafkan aku..
Share:

Sabtu, 20 Oktober 2018

Tetaplah disini, adik-adik hebatku.

Tetaplah disini
Di jalan dakwah ini, bersama kafilah dakwah ini
seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh
sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya
Tetaplah disini
Jika bersama dakwah saja engkau serapuh itu,
Sekuat Apa Jika Kau Seorang Diri?
(KH. Rahmat Abdullah
)

Assalamu'alaikum, Mandeus.
Eh, masih boleh kan ya dipanggil gini?

Apa kabar para mahasiswa baru? Udah banyak teman baru ya? Udah ikutan komunitas apa aja? Atau sudah jatuh cinta pada kampus dan lingkungan baru?
Duh, rasanya ingin tanya satu-satu, langsung. Aneh, sampai sekarang, aku masih agak nggak rela jauh dari kalian, agak lho ya, gengsi kalau bilang banget, haha.

Semoga Allah melindungi kalian semua, adik-adik yang entah kenapa aku sayang banget. Sampai sekarang. Semoga selamanya dan selalu karenaNya.

Kalian masih ingat momen menginap di green pool? 
Itu jadi satu hal termanis yang masih aku ingat sampai sekarang. 
Saat itu, aku terhenyak lama, kok bisa ya, anak-anak SMA selucu kalian sudah mengalami ujian seberat itu. Sekeren apa pundak kalian coba. Bahkan kurasa, episode FTV kalah sinetron daripada episode kehidupan kalian, hehe. Lalu jeng jeeng, tiba-tiba, aku rasakan juga episode FTV itu.

Qadarullah, aku (tepatnya kami) baru merasakan hal seperti di sinetron, yang hal itu jadi alasan utama kenapa aku mendadak pindah secepat ini ke kota orang. Maaf ya nggak pamit, karena memang nggak mau dianggap pergi :)

Curhat dikit yaaa. Kalau inget masa-masa berat itu, saat nangis-nangis sampai nggak berupa, aku ingat satu hal, bisa jadi semua musibah ini karena dosa. Entah itu dosa besar, maupun dosa yang dianggap kecil. Naudzubillah..
Rasanya berat sekali, sesak dan tiba-tiba hilang kemampuan untuk berpikir panjang. Lalu aku pikir, gimana dengan azab di alam kubur? Akan sesesak apa di akhirat nanti atas dosa-dosa yang kita tabung selama ini?

Teman-teman, mungkin tujuanku tulis tulisan ini untuk titip pesan (selain curhat dan menyampaikan kerinduan) : jangan main-main dengan dosa. Sungguh, mungkin kita pikir dosa akan semudah itu hilang ketika bertaubat. Tapi siapa yang jamin taubat kita benar? Siapa yang jamin tabungan kekhilafan kita lebih sedikit daripada tabungan pahala kita? Siapa yang jamin, kita akan dimatikan tidak dalam keadaan berdosa? Naudzubillahi min dzalik...

Aku pernah rasakan euforia mahasiswa baru, saat kita punya kendali penuh atas prinsip mana yang akan kita ambil dan kita lepaskan. Ah, karena nasihat adalah hak muslim atas muslim lainnya, aku ingin sampaikan beberapa nasihat yang mungkin akan kalian butuhkan suatu waktu di masa-masa jadi mahasiswa ini. Tentu, nasihat ini sangat berlaku bagi yang menulisnya juga.

Jangan bergantung dengan lelaki non mahram, seberat apapun, jangan terbiasa menggantungkan kesulitan kita pada mereka. Kita ga pernah tahu, kapan syaitan kasih jurus terbaik sampai kita lengah, lalu jatuh dalam jebakannya. Please, kalian harus aware sama ini. Carilah sejuta alasan untuk menghindar dari hubungan dan komunikasi yang tidak perlu. Aku serius.

Sebenarnya ini berlaku pada manusia manapun, jangan terbiasa menggantungkan apa-apa pada manusia. Belajarlah berdiri di atas kaki sendiri, dengan keimanan yang meluap-luap di dalam hati. Ada kalanya, segalanya akan hilang, namun iman tak boleh berganti bukan?

Teman-teman, yakinlah, seringan apapun azab Allah, kita ga sekuat itu untuk menanggungnya.
Ketika hitungan dosa dirasa semakin banyak, jangan pernah meminta dipercepat balasannya di dunia. Mohonlah dengan sungguh-sungguh agar Allah maafkan, kalau perlu dengan tersungkur di setiap malam.

Jadi.. untuk adik-adikku yang masih panjang jalan juangnya, dekatilah Allah selalu. Sejauh apapun kita melangkah, berusaha menebarkan manfaat, pulanglah setiap sepertiga malam dalam sujud-sujud panjang padaNya. Disambung dengan sujud penuh syukur di waktu Dhuha. Ingat, kita di posisi sekarang juga atas rahmatNya..

Dan lagi...
Wanita-wanita shalihahku, aku masih kagum dengan ikatan kalian. Kagum dengan ujianNya yang begitu hebat dan ditimpakan pada ikatan kalian. Seromantis itu kalian dalam ikatan ukhuwah yang kalian miliki. Semahal itu, seberkilau itu ikatan ukhuwah diantara kalian. Kalian sadar nggak sih?

Aku, baru menemukan kilau cahaya ukhuwah dengan titik terang maksimalnya ya tahun ini. Lepas delapan tahun lulus dari SMA, lalu dengan ajaibnya Allah turunkan pertolongan dari kawan-kawan dari masa putih abu. Kawan-kawan yang rajin dimarahi rame-rame karena kelamaan di NI. Mereka yang lari duluan saat tahu aku kenapa-kenapa, bukan hanya nanya kabar atau nyemangatin, tapi langsung lari dan tolong saat itu juga, hiks.

Ikatan ini mahal, sayang. Mahal sekali. Tak ada kata lain selain, jaga. Jaga. Jaga. Kelak nanti kalian akan tahu, seberapa besar kasih sayang Allah yang dicurahkan lewat ikatan ini. Jangan biarkan waktu menjauhkan kalian dengan jarak yang kian tak terukur, buatlah waktu untuk memperpendek jarak kalian.

Entah mungkin suatu hari kita memilih jalan yang berbeda, semoga jalan itu tetap membawa kita pada tujuan yang sama, Surga. Tapi aku tetap berdoa, semoga perbedaan apapun, tak menjadikan kita saling menjauh di dunia, apalagi di akhirat :"

Terima kasih untuk semuanya ya, Mandeus. Jazakunnalahu khair, sadar atau tidak, kalian masih jadi alasanku untuk bertahan. Entah kenapa aku juga bingung, hehe. Oh iyaa, mushaf, mukena dan sajadah dari kalian sering kejatuhan air mata, kalian kan suka protes tuh kalau aku ga ikutan nangis. Tenaaang, barang-barang dari kalian mewakili kalian untuk lihat aku nangis, haha. Mushafnya udah lepas-lepas lembarannya, tapi aku masih ga rela ganti mushaf :(( Terus mau ngaku juga, itu mukenanya ketinggalan di pare, drama banget lah pokoknya. Doakan masih bisa kembali yaa (siap-siap dimarahi rame-rame). Btw, itu botol isi suratnya masih sukses bikin aku menitikkan air mata rindu. Kalian kok sakti banget yaa, nulis gituan aja bisa bikin kangen, haha. Terbukti kan? Aku bukan manusia yang ga pernah nangis seperti yang suka kalian bilang, hanya saja aku terlalu gengsi untuk nangis di depan kalian, haha.

Intinya, meski kebersamaan kita singkat, itu sungguh berarti untukku. Terima kasih, sungguh terima kasih. Kapan nih green pool sesi dua? Aku masih diajakin ga nih?

Uhibbukunna Fillah, Mandeus.
Aisyah, Fazla, Asyel, Atha, Zarine, Djihan, Musuh, Meta, Nabila, Shafira, Sinda, Yaaq, baik-baik ya di tempat baru, jangan bandel, jangan biarkan aku patah hati menahun.
Jika nanti di surga kalian tak temukan aku, jangan lupa jemput aku ya..

Foto diambil pada Jum'at, 29 Juli 2016.
Dari detik pertama bertemu, aku tahu aku akan jatuh cinta pada kedua belas adik ini.

Yogyakarta, 20 Oktober 2018.
Dari aku,
yang selalu merindukan adik-adik hebatku.




*Percaya atau tidak, tulisan ini sudah ditulis dan di revisi berkali-kali sejak Agustus 2018. Semoga membaca tulisan ga jelas ini tidak membuang-buang waktu kalian ya.
**Ditunggu di Jogja, kalian kan sudah besar, ga pengen apa liburan bareng ke Jogja? Masa liburannya kumpul di ramen mayasi terus? Aku siap jadi guide niih!
Share: