Rabu, 28 Maret 2018

Gusar.

Ini pekan ketiga, kedua kalinya tumbang sampai ingin rasanya menangis saat kesakitan di tengah malam. Merepotkan seseorang hingga batas maksimal.

Tapi kau tahu, sejauh apapun kamu pergi, hanya ada sepasang tangan yang senantiasa ingin kau temukan saat sakit. Tangan mereka, kedua orang tuamu.

Malam ini aku menyerah untuk tidur. Rasanya menyakitkan saat mata ini terpejam. Maka biarkan aku sedikit bercerita malam ini.

.....

Sepi.
Kukira "batasan" yang satu ini sudah pergi. Tapi mungkin ia abadi.
Sisa porak poranda kepercayaan diri belasan tahun yang lalu nyatanya masih berserakan hingga saat ini. Tidak pernah utuh dan sempurna jadi satu kesatuan.
Malam yang sunyi dan dingin, akan jadi pilihan dibanding siang yang riang dan ramai.
Ada rasa cemas dalam diri, bahwa cahaya akan menunjukkan segalanya, segala yang tidak perlu dunia tahu. Cukuplah malam menutupi apa apa yang tidak perlu ditampakkan.

Aku, dengan segala keterbatasanku, sungguh tidak bisa merubah diri sejauh itu. Aku, hari ini, menyadari kembali bahwa aku tidaklah sama dengan yang lainnya. Sejujurnya aku cukup terpukul, mengetahui masih ada rasa takut yang sebenarnya tidak perlu ada. Aku, pemuda berusia 23 tahun, masih takut untuk sekedar menghabiskan waktu dan tertawa bersama mereka yang tak kukenal. Aku... payah bukan?
Bahkan ilmu survival terendah saja, tidak bisa kumiliki.

Lalu aku kembali berpikir. Kamu yakin bisa bertahan di luar sana? Bersama makhluk-makhluk yang dari ukuran mata saja sudah berbeda.

Aku bukannya tidak suka bersosialisasi. Aku sangat suka ada di tengah mereka yang lingkarannya melindungi.
Aku hanya tidak bisa, sungguh tidak bisa dipaksa dan memaksa diri untuk sama dengan yang lainnya, untuk dapat selalu menampakkan binar mata yang menyenangkan ketika sedang gusar.

Aku pun kecewa, dengan diriku sendiri.
Aku, belum, untuk tidak disebut sebagai da'i yang gagal.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar