Selasa, 31 Oktober 2017

Ini Semua Tentang "Kita"

Pernah di suatu hari yang sangat sibuk, aku yang berseragam putih abu, dengan laptop di pangkuan dan berkas-berkas surat di genggaman serta printer yang tak hentinya bekerja maksimal, seorang teteh tiba-tiba berbicara dengan tegas dan keras "Mandeu, kok kamu tuh segala dikerjain sendiri sih?! Itu temen-temen kamu tuh banyak, disuruh kerja juga ngga?!"

Jleb.

Dua kalimat yang totally bikin aku terdiam. Saat itu aku ingin sekali bantah dengan keras "Iya teh, temen-temen aku memang banyak, tapi aku ngerasa sendiri disini!". Tapi tidak, aku seakan ditampar, aku merasa sombong sekali jadi manusia. Siapa aku hingga pantas berpikir bahwa hanya aku yang berjuang disini? Bisa jadi semuanya karena aku, aku yang sok merasa sendiri dan merasa orang lain lalai dengan tugasnya. Padahal bisa jadi, mereka bekerja dalam diam, aku saja yang hanya pandai memaksa mereka bekerja dengan ritme ku.

Tidak adil. Ya, aku tidak adil pada mereka. Aku tidak adil bahkan sejak dalam pikiran.

Maka sejak saat itu, aku mulai belajar membagi beban. Bukan, bukan pertanda lemah, tapi jalan yang jauh dan terjal memang hanya bisa dilalui berjamaah, meski lebih lembat, tapi jauh lebih aman.

===

Dan untukmu, adikku.

Kau tidak sendirian, ingin sekali aku bisikkan padamu saat itu, bahwa kau tidak sendirian.
Ada Allah. Ada Allah. Ada Allah.

Dan kau tahu?
Sejatinya.. mungkin kau sedang berlari, meninggalkan kawan-kawanmu.
Sedang kawanmu itu, mungkin sedang berjalan dengan kecepatan konstan, kehilangan jejakmu yang sudah lebih dulu berlari tanpa henti. Hingga kalian sama-sama tak bisa melihat satu sama lain.

Kau tak salah, cepatnya kau berlari bukanlah suatu dosa yang perlu dirutuki.
Tapi sedikit saran dariku, dari orang yang penuh dosa ini, cobalah kau kurangi kecepatan berlarimu, tunggu sebentar, berjalanlah dengan santai hingga terlihat wajah kawan-kawanmu di belakang sana yang tergopoh-gopoh mengejarmu. Lalu tunggulah sebentar lagi, hingga posisi mereka tepat di sebelahmu. Setelah itu, berjalanlah sejauh mungkin, bersama-sama. Karena barangkali, perjalanan jauh dan terjal akan lebih baik ditempuh dengan kecepatan yang konstan, tak perlu terengah-engah dengan berlari cepat.

Atau kau ingin solusi yang lebih cepat lagi?
Berlarilah. Bukan kedepan, tapi ke belakang, ke arah dimana kawan-kawanmu berada.
Hampiri mereka sesegera mungkin, genggam tangan mereka, sehingga tak perlu lagi saling meninggalkan satu sama lain. Lalu berjalanlah, berjalanlah sejauh mungkin bersama-sama.

Sungguh, makhluk hina ini pun tahu, kau tidak sendiri.
Kau hanya perlu berhenti berlari, sejenak. Hingga kau temukan tangan-tangan yang sebenarnya selalu siap terulur untuk membantumu. Mungkin tak mudah, tapi yakinlah, bersama itu jauh lebih menguatkan, meski sakit dan mengibas perasaan di hati.

Satu lagi.
Di dunia ini, kita tak perlu mengerjakan segala jenis pekerjaan.
Semua ada porsinya, semua ada tempatnya, semua punya peran yang tak bisa dipindahtangankan.
Dahulu, makhluk hina yang sedang menulis ini pernah dinasihati oleh seorang bidadari, ia berkata
"Berikan kepercayaanmu seutuhnya pada saudaramu, maka ia akan lakukan yang terbaik dan memberikan segala sesuatu yang ia punya".
Terkadang, tak semua masalah di dunia ini harus selesai melalui tangan kita.
Bisa saja, menggenggam tangan orang lain dan menguatkannya untuk selesaikan masalah tersebut akan jauh lebih baik daripada kita yang harus turun tangan langsung menyelesaikannya.

Percayalah, setiap orang, "punya ukuran sepatu masing-masing".
Aku ingin kau belajar dari kesalahanku.
Karena ini semua tentang kita. Bukan hanya kamu, atau bahkan mereka.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar