Selasa, 01 Agustus 2017

Filosofi Waktu

Ternyata ada saja ya, ada saja masa-masa dimana hidup ini terasa begitu melelahkan.
Rasanya, dua bulan terakhir belum sempat bernafas lega. Hilang satu, lahir yang lain. Hingga sesak di dada, hingga sujud bahkan ruku' pun seakan menjadi saat yang tepat untuk memejamkan mata dan menarik napas panjang tanda lelah dan menyerah.

Dan hey! Aku baru sadar, telah lama aku jauh dari hingar bingar masalah disana. Perlahan, aku serahkan pada yang lain atau tenggelam sendiri tiada solusi, tanpa banyak yang mempertanyakan. Padahal diri ini jauh dari kata muntijah. Aku sibuk sendiri, merasa sudah bukan waktunya lagi.

Parah, ini parah.
Kau sakit, tapi kau tak sadari.
Kau sakit, tapi kau bertindak seakan-akan tak ada yang salah di hadapan yang lain.

Kau sakit. Ruhiyahmu sakit.
Amalanmu mungkin bisa kau jaga meski dengan menyeret kaki dan tergopoh-gopoh. Tapi lihatlah, berapa banyak manusia yang kau lalaikan?
Berapa banyak ajakan diskusi yang hanya kau balas dengan senyuman?
Berapa banyak amanah yang hanya kau tatap dengan nanar?

Lalu ada lintasan pikiran yang lain.
Jangan-jangan.. ini saat terbaik untuk pergi. Saat orang-orang tak menyadari karena telah terbiasa tanpa kehadiran manusia ini di sudut surau itu. Toh ini yang akan selalu terjadi bukan?

Waktu mungkin tidak meniadakan. Tapi waktu akan membiasakan atas ketiadaan yang lainnya.

Sejujurnya aku rindu, rindu sekali teriakan-teriakan khas di tempat itu.
Tapi... ah sudahlah, saatnya mainkan peran masing-masing.


Berjuta maaf untukmu, untuk semua yang terdzhalimi beberapa minggu terakhir.
Maafkan aku.
Share:

1 komentar: