Kamis, 08 Juni 2017

See you.

"Kamu serius dengan keputusanmu itu?" tanyaku pada seseorang yang ada di delapan tahun terakhir kehidupanku. "Iya, aku bisa apa? Kan hanya sebentar" jawab gadis berkerudung itu seraya mengalihkan pandangannya.

"Memangnya ada apa? Apa yang sedang kau hadapi?"

"Ada, pokoknya ada."

Lalu aku meradang.

"Kau, tak tahukah kau tadi pagi semua orang panik karenamu? Sebenarnya sebelum kau bicara, kau memikirkan orang lain tidak sih?!" nadaku meninggi.

Ia diam. Aku merasa bersalah.

"Memangnya orang lain pernah pikirkan aku?" jawabnya dengan lirih. Ini menyakitkan untukku, dia tak tahu, dia sungguh tak tahu.

"Coba kau pikirkan sekali lagi, baik-baik." dengan frustasi aku akhiri percakapan ini. Lalu aku seret ranselku dan berdiri dengan kasar. Aku emosi, aku butuh berdiam diri sejenak.

Lambungku bergemuruh kembali, akhir-akhir ini sedikit tekanan pada otakku maka cukup bagi sang lambung untuk ikut membuat masalah.

Aku ingin menangis, ingin sekali bilang bahwa masalahnya bukan itu. Aku tak peduli kau pikirkan orang lain atau tidak. Masalahnya adalah aku, aku yang masih belum siap untuk melagukan kisah ini sendirian. Aku... egois bukan?

Jalan menuju surau berwarna hijau itu terasa hampa, aku berjalan dengan tergesa-gesa. Menyembunyikan luka dan rasa bersalah di dalam hati.

"Aku egois. Aku sungguh egois. Ia pasti sedang ada di titik lemahnya, lalu kenapa aku suarakan kepanikan yang padahal sejak pagi berhasil ku redam? Aku kalah oleh emosi. Aku telah lukai seseorang yang sangat aku sayangi" akhirnya, hati kecilku mulai berbicara.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar..." adzan maghrib pun nyaring terdengar..

Tetes wudhu masih membasahi daguku, aku baru saja akan berjalan menujunya untuk meminta maaf. Namun... ia menangis. Ia menangis dipelukan saudaranya. Lalu aku terhenyak, ada rasa sakit yang tak asing. Sejak delapan tahun terakhir, ini kali pertama aku melihatnya menangis sesenggukan di depan banyak orang.

Kau sudah terlalu banyak tinggalkan jejak di hidupku. Dan aku dengan semena-mena melukaimu. Jika boleh kukatakan, aku tak pantas melabeli diri sebagai saudaramu.

Aku mendekat perlahan. Ku singkirkan semua egoku dan ikut memelukmu dari samping. Aku tak tahu apa yang sedang kau hadapi, tapi tangisanmu saat itu sungguh lukai hatiku.

Dengan sayup ku berkata "maaf.." seraya usap punggungmu yang masih naik turun karena sengguk tangismu.

===

"Deg". Hening.

Suara temanku di belakang mulai tak terdengar, pandangan mulai kabur. Dada ini bergemuruh, aku hampir pingsan lagi saat kendarai si hitam. Aku hentikan motorku, ku bilang aku ingin beli minum terlebih dahulu. Ah, aku sungguh takut pingsan saat masih ada ia di belakang.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.." kuulangi terus untuk kembali menyadarkan diri di gelapnya malam itu. Hampir saja aku hubungi seseorang yang telah aku lukai untuk minta tolong, tapi aku sadar itu hanya tindakan bodoh kesekian. Maka aku paksakan diriku, aku sengaja memilih jalan yang melewati rumahnya, agar kalau ada sesuatu yang terjadi aku bisa dengan cepat minta tolong.

Rumahmu masih gelap, dan aku khawatir kau tak langsung pulang. Aku tak ambil jalur kanan, aku sengajakan ambil jalan lurus menuju jalan utama yang selalu kau lewati. Aku hentikan motor disana, berharap bisa sekedar melihatmu lewat.

"Ah! Itu dia" aku panik, takut sekali ia melihatku. Aku menunduk agar ia tak melihatku, lalu segera berputar mengikutinya.

"Alhamdulillah, lima menit lagi insyaAllah ia sudah di rumah" lalu dengan sisa tenaga, aku paksakan kendarai si hitam sampai ke rumah.

===

Mungkin lukamu bukan hanya karenaku. Tapi aku dan lisanku yang bodoh ini kerap melukaimu. Tak apa, kau boleh hukum aku dengan pergi meninggalkan semuanya. Namun bolehkah aku mengajukan syarat? Tuntaskan amanahmu. Aku tak ingin di akhirat nanti Allah mempertanyakan kehadiranmu, saat amanah ini jelas masih ada di pundakmu.

Pergilah, bebaskan dirimu wahai sahabat seperjuanganku.

Aku bangga sempat mengenalmu begitu dalam di dua tahun terakhir ini. Terimakasih telah jadi seseorang yang mengubah hidupku dengan begitu sabarnya.

Akhir kata, "selamat tinggal, sampai jumpa saat kita memang sudah seharusnya berjumpa".
Share:

0 komentar:

Posting Komentar