Senin, 29 Mei 2017

Tentang menghargai

"Eh, tolong kerjain ini dong, tapi A, B sama C nya sudah ada. Kamu tinggal lengkapi aja oke."
Ok.
"Bisa tolong percepat?"
Baik.
"Jadi ini bagaimana ya?"
Begini,,,
"Tolong dipastikan lagi kalau ia memang kredibel"
Sudah.

Tibalah mendekati acara. Lalu nyatanya segalanya dirombak tanpa konfirmasi.

Kau mungkin tak tahu.
Barangkali saudaramu juga lelah. Barangkali saudaramu sedang sakit saat lakukan tugas-tugasnya. Barangkali ia juga telah berjuang sisihkan waktunya untuk tunaikan amanahnya.

Karena dibalik kelambanannya, ia juga tahu bahwa ia sedang berdakwah. Mungkin ia tak bisa berlari secepat kau berlari, tapi ia juga tak selalai yang kau pikir.

Lalu aku ingin tanya, untuk apa ada tim jika anda dan anda dapat kerjakan semuanya sendirian?
Ini musyawarah, bukan sosialisasi produk.

Allahu, mungkin aku kurang bersyukur atas kehadiran tim ini yang membersamai sejak 7 tahun lalu. Memang ya, kita perlu sering-sering studi banding keluar sana, agar lebih menghargai kehangatan keluarga sendiri :"
Share:

Rabu, 24 Mei 2017

Bincang bersama bayangan

Suatu malam, terjadi perbincangan antara manusia dan bayangannya.


M  : "Aku sedang tak enak hati. Kira-kira apakah dia baik-baik saja?"
B : "Aku bingung, tak bosankah kau ada di kondisi seperti ini?"
M : " Memang apa salahnya? Ini kan wajar"


B : "Kau ini bodoh apa bagaimana? Kau tahu jelas ini bukan kisah yang pertama, bukan orang yang pertama dan bukan kekhawatiran yang pertama kau rasakan."
M : "Iya, aku memang bodoh."


B : "Apa kau tak lelah? Kau tahu jelas, pada akhirnya ini semua akan jadi lagu untukmu sendiri."
M : "Kau bayanganku, seharusnya kau lebih tahu. Kau tahu bahwa orang-orang itu telah lakukan kebaikan jauh daripada apa yang ku lakukan. Kau pun tahu bahwa mereka pun berkorban, mungkin jauh lebih besar daripada apa yang pernah ku korbankan. Aku selalu merasa perlu membalas budi. Tapi.. mungkin caraku salah"
B : "Aku tahu, tapi ini semua hanya melemahkanmu."


M : "Bukankah cinta memang melemahkan?"
B : "Tidak, cinta yang karenaNya itu menguatkan. Kau hanya belum sembuh dari trauma masa kecil. Kau hanya takut tak berkawan lagi. Kau takut rasakan keheningan yang seakan abadi, padahal itu karena kau belum mengenalNya. Lalu coba aku tanya, apakah sekarang kau sudah mengenalNya?"


M : "..."
B : "Berhentilah sejenak. Beristirahatlah."
M : "Tapi..."
B : "Biarkan aku tanya lagi. Apakah sebelumnya, saat kau hanya ditemani keheningan, kau peduli akan kabar mereka? Atau bahkan mereka tahu keberadaanmu? Jawabannya tentu tidak, bahkan kalian mungkin tak ingat akan keberadaan satu sama lain."

M : "Kamu benar"
B : "Apakah kau akan menyerah?"

M : "Yes, exactly. Aku akan beristirahat. Aku akan kembali, hanya jika ia atau mereka yang kembali terlebih dahulu."
B : "Tapi keheningan akan segera tercipta antara kalian"

M : "Bukankah keheningan memang akan segera tercipta diantara kami?"
Share:

Senin, 22 Mei 2017

Menjadi Kuat

Menjadi kuatlah,
karena ini bukan hanya seakan-akan, tapi ini memang pilihan terakhirmu.

Menjadi kuatlah,
meski sesak dan penat, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah bertahan.

Menjadi kuatlah,
berat langkah kakimu memang nyata, tapi kau tetap harus berlari walau hampir habis nafasmu.

Menjadi kuatlah,
kelak kau akan terbang bebas, jauh dan tak berbatas.

Meninggalkanku dan segala yang membebanimu. Disini.


Share: