Selasa, 18 April 2017

Tak tahulah

"Aku sudah berjuang, setidaknya aku sudah berjuang untuk ada di posisi itu. Meski aku salah, tapi jangan salahkan aku karena aku telah berjuang."

"Andai kita bisa bertukar posisi, kamu akan tahu betapa sulitnya jadi aku"

"Aku iri sama dia, bisa sedekat itu denganmu"

Lalu aku termenung. Bukan, aku tak terharu dengan pengorbanan macam itu. Setengah dari diriku merasa bersalah, namun setengahnya lagi masih tak terima. Mengapa aku sering sekali dipaksa untuk jadi tersangka atas apa yang orang lain lakukan?

Aku jahat, memang. Bagaimana bisa aku tak tersentuh sama sekali atas perjuangan mereka yang justru melawan aturanNya. Aku SUNGGUH tidak suka dijadikan alasan untuk berbuat dosa. Lebih baik diam saja di rumah dan menyaksikan jatuh bangun diri ini dari jauh, daripada harus ada tapi melawan aturannya.

Aku salah, memang. Aku sungguh salah karena tak peka bahwa kau sedang berjuang. Aku pun sedang berjuang untuk berikan kepercayaan ini lagi, setelah kau hancurkan empat kali berturut-turut. Ini luar biasa, kawan. Aku bukan orang yang mudah berikan kepercayaan dan ini kesempatan kelima untukmu. Kau tak tahu, kan?

Aku bodoh, memang. Tak paham bahwa kau sedang butuh sosok yang setia disampingmu. Aku akan akui disini bahwa kau memang tak lagi prioritas utamaku. Aku belajar menentukan prioritas, dan setelah perhitungan panjang, prioritas ini jatuh pada adik-adikku yang notabene juga adikmu. Di tangan mereka, ada tongkat estafet yang sempat aku berikan padamu juga. Izinkan aku bertanya, masihkah kau peduli? Mimpiku adalah mencintai mereka bersamamu, tapi nyatanya kau lebih mencintai yang lain.

Apa aku berhak protes? Tidak.
Aku diam. Bahkan hingga saat ini aku masih diam. Aku tak bergeming meski kau tutup salah satu akses medsosmu sehingga aku tak akan tahu kabar tentangmu.

Lalu izinkan aku menggunakan hak-ku untuk bertanya.
Mengapa lagi-lagi kau limpahkan kesalahan atas pilihanmu pada yang lain? Dan kali ini, aku yang jadi tersangkanya.

Aku ingin menyerah akan dirimu. Jujur, aku lelah sekali :')
Tapi kau tahu? Selalu ada saja alasan untuk bertahan, sesakit apapun.
Kau.. seharusnya mulai membuka mata pada orang-orang yang kau anggap memaksamu untuk berubah. Kau sungguh tak tahu betapa keras usaha mereka untuk yakinkan aku bahwa kau pantas untuk diperjuangkan.
Aku benar-benar ingin membisikkan kalimat ini di telingamu "Bagaimana jika orang-orang yang kau anggap mengganggu pilihan hidupmu, justru jadi orang yang menolongmu di akhirat nanti?"
Share:

0 komentar:

Posting Komentar