Selasa, 04 April 2017

Pulang

Ini baru satu pekan, tapi aku sudah rindu.
Sayang, rindu ini rasanya hanya tertahan di dalam hati, tak sempat terucapkan ataupun tersalurkan lewat jari. Sungguh hanya berdiam saja di dalam hati, lalu terkadang hampir mengalir lewat mata. Hampir.


Memang dasar manusia, mudah sekali masuk dalam perangkat syaitan bernama was-was. Aku memang suka ada disini, tapi rasanya aku seringkali khawatir pada banyak hal. Aku yang naif ini mencoba menganggap bahwa teman yang baik itu akan selalu ada di semua tempat selain disana. Tapi ternyata tidak. Aku tetap bersyukur, aku punya teman untuk berbagi kebahagiaan disini, meski bukan untuk berbagi kesulitan atau kesedihan. It's okay, setidaknya Allah tak biarkan diri ini sendirian bukan?

Tapi... ini semua mendukungku untuk terus merindukannya, merindukan mereka. Merindukan orang-orang yang ada meski tak dibutuhkan.


Aku khawatir sekali jatuh sakit disini. Aku benci sakit ketika tak di rumah karena takut merepotkan.
Terakhir kali aku jatuh sakit ketika tak di rumah, ada seseorang yang dengan telatennya membuatkan nasi tim dan memaksa minum jus jambu. Tiga hari aku terkapar dan selama itu pula ia direpotkan dengan masak-memasak bubur yang meninggalkan bekas luka di tangannya serta berbagai tugas penelitian yang harusnya menjadi tugasku. Ah, aku rin... Tidak, hehe.

Entahlah, suasana kamar saat itu jadi bayang-bayang tersendiri saat ini. Aku masih merasa asing dengan rasa sepi ini. Biasanya dulu tak ada malam-malam yang hening (kecuali salah satu sedang stress atau kesal). Dulu aku tak pernah segan untuk bilang sakit ketika memang sedang sakit, karena aku tahu kau pun lakukan hal yang sama. Lalu aku sadar satu hal, betapa aku bersyukur punya seseorang yang tak ada hubungan darah, namun bisa saling perlakukan seperti keluarga di rumah.

Dan untukmu, aku minta maaf. Aku tahu, pergi ke tempat ini mungkin bukanlah hal yang paling tepat. Aku dulu yakin bahwa kau bisa lewati semuanya sendirian, maka aku coba untuk percaya bahwa ini kesempatan yang harus aku ambil. Percayalah, berat bagiku untuk meninggalkanmu bersama segunung amanah yang harusnya diselesaikan bersama.

Aku kesal disini, menyaksikanmu yang terkadang tak kokoh lagi. Aku tak bisa menyalahkan komunikasi kita yang berantakan, aku hanya merasa betapa tak bergunanya diri ini untuk sekedar membantumu. Ketahuilah, aku masih ada di belakangmu, masih setia dengan posisi yang tak akan terlihat olehmu. Dan aku sedang bersiap, untuk hadapi saat saat kau berlari pergi tanpa pamit.

Ah, aku pun rindu mereka. Rindu para bidadari kecilku yang manis senyumnya. Aku ingin peluk mereka satu-persatu, ingin bekal canda tawanya. Alhamdulillah, mereka terus tumbuh jadi kakak yang baik :") Aaaaah, aku sungguh rindu.

Ternyata ini rasanya, punya orang-orang yang jadi alasan kuat untuk cepat pulang, sejauh apapun kita pergi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar