Selasa, 14 Maret 2017

Que Sera Sera

Sudah malam, hawa panas masih setia menemani. Begitu juga dengan otak dan hati yang masih saja tak mau bercengkrama dan tunduk dalam keputusan yang sama. Seharusnya, malam ini ia sudah sibuk mempersiapkan segala persiapan mahasiswa yang ingin melepas status "pengangguran". Tapi apa daya, ia justru mulai meragu. Padahal... bukankah ini yang ia mau? Lepas dan pergi sejenak barang sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun?

Ah, entahlah.

Seharusnya, pukul 9.30 esok hari menjadi titik awal dimana ia harus bertarung dengan pesaing lainnya, memperebutkan sebuah posisi di sudut kecil ibukota. Tapi sungguh, ia sangat meragu. Dan sayangnya, ia dalam posisi "tidak bersih" untuk bisa menangis dalam sujudnya, seperti biasa.

Apalah yang ia pikirkan, padahal hanya ada 24 orang lainnya yang juga bisa sampai tahap ini. Ia hanya perlu lanjutkan ke tahap berikutnya, dan duduk manis menanti pengumuman. Simpel bukan?

Tapi sekali lagi, ada yang mengganjal di hatinya. Pertemuan hari itu, bersama orang-orang yang sangat ia hormati benar-benar membuatnya meragu. Ia tahu, bahwa ia butuh pergi. Tapi ia tertampar keras hari itu, ia akhirnya sadar bahwa ia pun butuh untuk tetap berjuang bersama mereka. Ia butuh berkontribusi untuk kemenangan dakwah di kota kecil ini.

Apalagi kalimat tanya penuh dengan intimidasi, "Kamu tega?" yang dilontarkan seseorang saat itu. Ia tahu, setengah pertahanannya roboh saat itu juga. Ia tahu jelas, bahwa ia tak akan pernah tega. Dan bodohnya, padahal ia tahu bahwa jika ia bertukar posisi dengan orang tersebut, maka ia sudah pasti jadi pihak yang akan ditinggalkan.

Lalu mengapa ia masih meragu?
Ah, ternyata masih ada alasan lain.

Malam ini, rasanya ia mencium sesuatu yang salah dari gelagat bidadari-bidadari kecilnya. Ia tahu ada yang salah, tapi ia tak mampu untuk mendekat. Ia rindu, bahkan terlampau rindu untuk sekedar duduk melingkar tanpa ada dialog berarti. Namun ternyata, menyimpan rindu tanpa kata itu berat. Mendadak ia khawatir, khawatir meninggalkan bidadari-bidadari kecilnya tidak dalam kondisi terbaik. Cintanya untuk mereka, sungguh masih sebesar saat-saat dahulu. Dan sekali lagi, pertahanannya hampir roboh jika ia ingat siapa yang akan ia tinggalkan nantinya.

Que Sera Sera. Whatever will be, will be.


Yaa Allah.. Ternyata urusan kepergian ini tak hanya menyangkut diri ini saja yang butuh untuk pergi menjauh. Semoga Kau senantiasa tunjukkan yang terbaik, aamiin, aamiin yaa Rabb..
Share:

0 komentar:

Posting Komentar