Rabu, 01 Maret 2017

Membuat kenangan

Di suatu siang, entah ada angin apa, ia yang woles-woles banget aja tiba-tiba melempar percakapan menyedihkan

X : "Kalau kamu kerja, yang nemenin aku di DS siapa?"
X : "Ah, aku harus kuat"
X : "Biar aku yang menanggung sebagian, atau seluruhnya. -Ust. Rahmat Abdullah"
A : "Kok tumben...."
A : "Nanti aku cari penggantinya, yang lebih banyak, lebih kuat, lebih mantap"


Lalu beberapa hari kemudian..


X : "Mba, kapan mulai kerja?"
A : "Kemungkinan akhir bulan depan. Kenapa?"
X : "Aku mau siap-siap"

Dua penggalan percakapan dengan orang yang sama ini sungguh menyadarkanku atas sesuatu. Bukan hanya sadar, tapi tertampar. Kedua percakapan ini langka sekali karena aku terlanjur haqqul yakin bahwa ia akan baik-baik saja, namun ternyata cukup membuatku paham bahwa ketika takdir membawaku untuk benar-benar pergi dari tempat ini, akan ada banyak yang aku tinggalkan.

Aku berpikir terlalu jauh, tentang kemana aku pergi, apa tujuanku untuk pergi, tempat mana yang harus kupilih dan lain sebagainya. Tanpa aku sadar bahwa akan ada seseorang yang diam-diam menanggung amanah di pundakku ini. Bahwa seseorang yang selama ini sukses menghilangkan perasaan kesepian, mungkin akan sendirian berjuang disini. Bahwa seseorang yang biasanya aku khawatirkan, mungkin khawatir pula akan perpisahan ini.

Lagi-lagi aku melakukan kebodohan. Aku kira kepergianku nanti tak akan mempengaruhi apapun. Ah, aku sungguh lupa bahwa ada posisiku yang harus digantikan.

Ya, posisi sebagai seorang kakak.

Ternyata memang benar ya, ketika kita merasa bahwa sesuatu akan ada akhirnya, maka pertemuan akan menjadi lebih bermakna. Akhir-akhir ini aku sibuk sekali membuat agenda main seakan-akan waktu yang ku miliki memang sangat terbatas. Aku pun lebih menikmati duduk santai sambil tersenyum memperhatikan gerak-gerik manusia-manusia yang ku cinta. Aku sungguh antusias mendengar seluruh kisah yang terucap dari bibir mereka. Aku juga berusaha secepat mungkin membalas setiap pesan mereka. Aku sibuk menciptakan kenangan bersama mereka karena aku takut aku pergi tanpa meninggalkan banyak kenangan manis untuk mereka.

Iya, mereka, seluruh adik-adik yang tak ada hubungan darah namun selalu merindukan pertemuan di masjid bernuansa hijau itu.

Ah, tiba-tiba ini terasa berat. Semakin hari aku semakin sadar, bahwa andaipun aku tak jadi pergi ke kota sana, rasanya aku akan tetap pergi dari taman syurga ini. Saat ini, pergi memang masih menjadi salah satu pilihan, tapi aku butuh untuk memilih pergi. Meskipun hati ini teriris-iris nantinya, meskipun aku tahu aku tak akan pernah tega melihat seseorang menanggung amanah sebagai seorang kakak sendirian, meskipun aku tahu rindu pada adik-adik akan menyesakkan dada, tapi sekali lagi, aku butuh untuk tetap memilih pergi.

Bismillah, semoga Allah tunjukkan yang terbaik. 
Dan mari kita buat kenangan indah ^^
Share:

0 komentar:

Posting Komentar