Senin, 20 Maret 2017

Kita hanya akan saling meninggalkan

Akhirnya aku tersadar, pada akhirnya kita hanya akan saling meninggalkan. Entah itu aku yang memutuskan pergi atau kamu yang nantinya tak sadar sedang perlahan pergi.
Sekuat apapun aku genggam ikatan ini, aku tahu bahwa mungkin kisah akhirnya akan sama seperti yang lampau. Meski kisah ini luar biasa berbeda dari yang sebelumnya, tetap aku tahu bahwa aku harus siap ditinggalkan.

Toh bukankah selalu seperti ini prosesnya?
Saling asing - mengenal - mendekat - menemukan kesamaan - tak terpisahkan - berpisah - terbiasa atas ketiadaan satu sama lain.

Ya, terbiasa atas ketiadaan satu sama lain.
Aku akui, aku adalah pihak yang biasanya ada dalam posisi ditinggalkan dan tak berhak untuk melawan. Sedang yang meninggalkan selalu punya cadangan teman.

Lalu memangnya apa yang salah? Bukankah dahulu kita bahkan bisa hidup dengan amat baik tanpa harus tahu kabar satu sama lain? Boro-boro ada rasa khawatir yang rutin menyergap seperti sekarang, toh dulu bahkan aku sempat lupa akan keberadaanmu. Begitu juga denganmu, yang bisa saja tak ingat bahwa aku masih ada.

Bagaimana bisa manusia terbiasa atas ketiadaan satu sama lain setelah menjadi insan-insan yang tak terpisahkan? Maka mungkin jawabannya adalah : waktu. Waktu dapat mendekatkan atau bahkan meniadakan.

Sungguh, seringkali aku cemburu pada mereka yang Allah takdirkan untuk terus bersama, maka dari itu aku berharap banyak dari kisah yang satu ini. Aku ingin membersamai dan dibersamai hingga surga menjadi tempat kembali. Aku ingin menjadi yang paling tahu tentang kisahmu seperti saat ini. Aku ingin mendampingimu di momen sakral nanti, membantu segala persiapanmu dari titik nol. Aku ingin kelak anak kita nanti juga menjadi saudara dekat. Aku sungguh masih ingin melakukan banyak project bersama meski rambut telah memutih nantinya. Aku masih ingin tertawa lepas denganmu, meski deretan gigi ini sudah tak lengkap lagi.


Tapi sejatinya aku lupa, bahwa janji naungan Allah di akhirat nanti bukanlah untuk yang selalu bersama hingga mati, tapi yang karenaNya saling mencintai, baik bersama maupun berjarak.

Yaa Allah, kuatkanlah. Yakinkanlah bahwa untuk menjadi bermakna, tak perlu selalu bersama. Aku yakin, Kau akan selalu berikan penjagaan terbaikMu. Jadikanlah kami hambaMu yang mendapat syafaat atas ukhuwah yang terjalin karenaMu dan semoga selalu karenaMu. Aamiin, aamiin Ya Rabb..
Share:

0 komentar:

Posting Komentar