Minggu, 12 Maret 2017

Kamu... kenapa?

Aku mau tanya, boleh? Kamu tega? Tega ninggalin aku disini? ujarnya.
Dan aku terdiam, terintimidasi tanpa kata.

Kalau boleh jujur, aku cukup terkejut. Sudah kubilang, kau ini jarang sekali bertingkah seperti ini. Meski aku tahu ini bisa jadi bercanda seperti biasa, tapi tetap saja, aku terhenyak tanpa banyak kata. Satu kata "tega?" cukup untuk mengintimidasi kian hebatnya, membuat diri ini berpikir berkali-kali. Apakah benar ini keputusan terbaik?

Kalau kamu memang benar-benar butuh jawabannya, maka aku akan jawab "tidak".

Bagaimana mungkin aku tega. Lagipula memangnya nanti siapa yang akan menghalangi orang-orang untuk mendekatimu kala kau sedang butuh waktu untuk sendiri? Nanti siapa yang tahu bahwa sedikit bengkak di wajahmu, itu pertanda bahwa kau sedang sakit? Siapa yang akan hafal bahwa kau sulit sekali menjaga pola makanmu jika sedang sibuk? Ah, nanti bagaimana jika kau-lah satu-satunya kakak yang tersisa untuk adik-adik yang sama-sama kita cintai?

Lihat, aku tak akan pernah tega. Bagaimana mungkin aku bisa tega?
Bagaimanapun, jika memang Allah takdirkan aku untuk pergi, maka aku tak akan tinggal diam. Aku pernah bilang bukan, aku akan siapkan penggantinya.

Selamat, kau berhasil buatku meragu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar