Minggu, 29 Januari 2017

Cemburu.


Kau tahu rasanya cemburu?
Iya, cemburu.


Aku kira, aku tak akan rasakan hal kekanak-kanakan ini. Bagaimana mungkin seorang "kamandeu" yang gengsinya sampai ke ubun-ubun bisa mengakui bahwa dirinya sedang cemburu?
Tapi entahlah, ternyata tempo hari lalu ada kecemburuan yang menyergap. Ada rasa asing di hati ketika ia yang dicinta tertawa bersama yang lain, tentunya tanpa ada aku di dalamnya.

Siang itu aku sedang melingkar bersama lingkaran surga yang baru. Namun aduhai, mata ini sulit sekali untuk fokus. Telinga ini juga tak bisa diajak kompromi. Sedikit-sedikit, ada suara tawa yang tak asing, yang membuatku memaksa memandang ke sebelah kiri. Bukan hanya sekali, berkali-kali. Bahkan lagi dan lagi. Hingga akhirnya diri ini memaksa untuk menumpahkan perhatian pada mereka yang ada di hadapanku. Menampar diri bahwa mereka-lah amanahku yang harus aku perhatikan sepenuhnya.

Tidak hanya sampai situ. Malamnya pun sesosok yang lain sibuk menceritakan tentang ia yang ku cinta. Menceritakan tentang perkembangannya, tentang bagaimana serunya hari itu bersamanya. Aneh, sungguh aneh. Aku selalu antusias pada apa yang sosok tersebut ceritakan setiap malam. Namun malam itu, aku terpaku beberapa detik. Ingin rasanya berkata bahwa "Oh, aku cemburu. Biasanya kan aku yang ceritakan tentangnya.". Namun aku sadar. Sungguh sadar bahwa amanah ini telah berpindah padanya. Sosok itu, lebih pantas untuk menjaga ia yang kucinta.

Lalu... ada beban yang menyergap dalam hati. Mengetahui bahwa aku harus menanggung rasa ini lebih lama lagi. Namun aku tahu, beban ini bukanlah kesedihan. Ini hanya soal waktu. Entah kapan aku terbiasa tidak membersamai ia yang kucinta, yang biasanya selalu kutemui setiap pekannya. Toh tak banyak yang berbeda. Aku tetap bisa menemuinya, meski tak lagi sebagai siapa-siapa.

Ah, tersenyumlah. Perkembangan ia yang kucinta memang pantas dibayar dengan harga semahal apapun, bahkan jika harus dibayar dengan perpisahan, maka aku (harus) rela,

============

Itu versiku. Ini versi dari ia yang kucinta (kurang lebih begini redaksinya, maafkan kalau lebay haha)


X : "Ka mandeu, aku cemburuuu. Aku masih ga rela ka mandeu ketawa sama yang lainnya. Bukan sama kita kaya jum'at-jum'at sebelumnya"
Y : "Iya! Daritadi aku sibuk curi-curi pandang terus ke sebelah kanan"

Z : "Iiih, sama lah. Aku juga daritadi sibuk curi curi pandang tauu"

Aku : (memandang satu persatu wajah-wajah yang kucinta) "Aku juga... aku juga sibuk curi-curi pandang ke kelompok kalian. Masih ngerasa aneh aku ga ada di samping kalian" (Lalu kita berpelukan rame-rame)

===========

Ternyata, ini rasanya kalau cinta tidak bertepuk sebelah tangan ya. Indah, penuh dengan kejutan meski mungkin hanya sesaat. Sungguh, terimakasih mandeu's, telah menjadi "ia yang kucinta" selama ini. Selamat! Kalian yang pertama buatku rasakan cemburu seperti ini :") 

Duuh malu sebenernya nulis ini, tapi biarlah, biar memori tentang cemburu ini mengkristal di benakku..
Share:

Kamis, 05 Januari 2017

Kacau

Kau tahu apa yang paling mengesalkan ketika sedang tidak-baik-baik saja?
Diri ini jadi begitu egois, tak bisa memastikan orang lain tetap baik-baik saja.
Pekerjaan terbengkalai, memaksa orang lain harus handle banyak hal.

Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang jam hidupnya sedang berantakan?
Lengkap dengan emosi yang sedang tak stabil karena waktu istirahat yang labil, bisa sewaktu-waktu meledak dengan tangisan.
Ah, aku sungguh lelah.. Mungkin jauh sekali diri ini darimu, Ya Allah..

Tapi Yaa Allah, aku malu, ada saja manusia titipanMu yang masih bersabar menghadapi diri yang sedang kacau ini. Ada saja yang tak lelah memastikan dengan berbagai macam cara agar tetap makan setidaknya satu hari sekali. Ada saja yang tak tega meninggalkan sendirian. Ada saja yang gigih membujuk agar tetap jaga kesehatan. Ada saja yang tak bosan menyemangati. Ada saja.

Ternyata benar adanya, kita jadi tahu siapa sebenarnya teman baik kita saat kita ada di posisi terendah.

Ah, sungguh terimakasih.
Share: