Kamis, 14 Desember 2017

Tak Sesederhana Amarah

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa aku ini seseorang yang menyeramkan ketika marah. Percayalah, kau yang baru mengenalku tak akan mau ada di dekatku ketika aku sedang marah. Tapi ini hanya perkara marah, bukan perkara besar untukku. Pernah suatu hari aku marah besar, menahan tangis semalaman karena bisa-bisanya seseorang yang selalu ada tiba-tiba menghilang di agenda besar tahunan. Tapi sekali lagi, ini hanya urusan amarah. Besoknya, ketika aku bertemu dengannya, aku peluk dengan erat dan aku tepuk pundaknya dengan gemas seraya berkata "Awas kalau kamu kaya gini lagi!". Dan ia tertawa, selesai. Sungguh, selesai semuanya. Jadi sebenarnya, marah adalah perkara kecil untukku.

Tapi tidak dengan kecewa. Itu sulit, berat sekali.
Ketika aku kecewa, aku akan diam. Tak menyeramkan bukan? Toh hanya diam, entah berapa lama, bisa jadi selamanya. Biasanya aku akan menghukum diriku sendiri. Iya, sejatinya aku hanya menghukum diri sendiri. Kau kira mudah bagiku untuk diam seperti itu? Tidak, aku pun ingin mentransformasikan rasa ini menjadi sekedar rasa marah sesaat dan ucapkan segalanya langsung di depan mukamu. Tapi apa daya, tidak bisa. Ada sesuatu yang mendasar yang terlanjur terluka disini.

And in this case, this time, you hurt someone precious for me.
No, it's not about me. I don't care if you got mess with me. I don't really care too if you hurt my heart with your statements about me. I don't care.
And no no, it's not about my bestfriend. It's not about how you made her cry before in front of your face. I'm agree that it's not right, but i know that she could handle it. So, it's your business with her.


But do you know? Do you remember how you called your close friend as a "Provocator"?!
I don't get it. How could you state your friend with that name. The Provocator. To the people out there and made them feel that she is truly a provocator based on your story.

Hey, it's hurt me!
She is my little sister, you're my little sister too. I really couldn't get it why are you so mean.
Wonder how if i were her, maybe i'll cry all over the night because the one who i care so much would called me like that.

Ah, you don't know. You don't know how hard she tried to do her best to help you get out from this situation. I'm curious, what will you do, if you know that i'm on her side, that every act from her is based on my instruction. What will you do? Will you called me as a provocator too?
I dont care. Really. Just call me whatever you likes.

Please. Stop. Stop it right now.
We already need to recover everything, so stop everything right now.

See, now you know how childish i am.But i'll always be this childish if someone hurt my lovely friends. Sure, whoever you are.

*So sorry, i have no time to check the grammar first, haha.
Share:

Jumat, 24 November 2017

It's Okay


Bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini seharusnya berjalan sesuai porsinya masing-masing?
Ikan berenang di air, burung terbang di langit, manusia berjalan di muka bumi..


Lalu mengapa, mengapa harus menginginkan sang ikan terbang di langit?
Apakah tingginya langit menjadi suatu simbolis keberhasilan?


Mengapa harus melatih burung berenang di laut?
Apakah menaklukan luasnya laut menjadi suatu simbol kegagahan?


Mengapa, mengapa harus memaksakan manusia yang dapat melakukan segalanya?
Menyamaratakan potensi yang ada, hingga menggunduli antusiasme dalam kehidupan.
Hingga kosong, habis semua keinginan.

Mungkin segala kunci permasalahan ini ada di keimanan, di titik keseimbangan antara sabar dan syukur.

Toh Allah Maha Baik. Ia tahu akan ada air mata yang jatuh sore ini. Lalu secara tak terduga, ia kirimkan seseorang agar kau dapat menangis di pangkuannya.
Maaf, ada yang untuk pertama kalinya tak berhasil mengendalikan rasa. Terimakasih, untuk mengusap pundak ini dengan sabar tanpa bertanya apapun, hingga hilang sengguk tangis itu. Terimakasih telah bersedia menunggu, seperti biasanya.

It's okay dear, everything will be alright.
Share:

Selasa, 31 Oktober 2017

Ini Semua Tentang "Kita"

Pernah di suatu hari yang sangat sibuk, aku yang berseragam putih abu, dengan laptop di pangkuan dan berkas-berkas surat di genggaman serta printer yang tak hentinya bekerja maksimal, seorang teteh tiba-tiba berbicara dengan tegas dan keras "Mandeu, kok kamu tuh segala dikerjain sendiri sih?! Itu temen-temen kamu tuh banyak, disuruh kerja juga ngga?!"

Jleb.

Dua kalimat yang totally bikin aku terdiam. Saat itu aku ingin sekali bantah dengan keras "Iya teh, temen-temen aku memang banyak, tapi aku ngerasa sendiri disini!". Tapi tidak, aku seakan ditampar, aku merasa sombong sekali jadi manusia. Siapa aku hingga pantas berpikir bahwa hanya aku yang berjuang disini? Bisa jadi semuanya karena aku, aku yang sok merasa sendiri dan merasa orang lain lalai dengan tugasnya. Padahal bisa jadi, mereka bekerja dalam diam, aku saja yang hanya pandai memaksa mereka bekerja dengan ritme ku.

Tidak adil. Ya, aku tidak adil pada mereka. Aku tidak adil bahkan sejak dalam pikiran.

Maka sejak saat itu, aku mulai belajar membagi beban. Bukan, bukan pertanda lemah, tapi jalan yang jauh dan terjal memang hanya bisa dilalui berjamaah, meski lebih lembat, tapi jauh lebih aman.

===

Dan untukmu, adikku.

Kau tidak sendirian, ingin sekali aku bisikkan padamu saat itu, bahwa kau tidak sendirian.
Ada Allah. Ada Allah. Ada Allah.

Dan kau tahu?
Sejatinya.. mungkin kau sedang berlari, meninggalkan kawan-kawanmu.
Sedang kawanmu itu, mungkin sedang berjalan dengan kecepatan konstan, kehilangan jejakmu yang sudah lebih dulu berlari tanpa henti. Hingga kalian sama-sama tak bisa melihat satu sama lain.

Kau tak salah, cepatnya kau berlari bukanlah suatu dosa yang perlu dirutuki.
Tapi sedikit saran dariku, dari orang yang penuh dosa ini, cobalah kau kurangi kecepatan berlarimu, tunggu sebentar, berjalanlah dengan santai hingga terlihat wajah kawan-kawanmu di belakang sana yang tergopoh-gopoh mengejarmu. Lalu tunggulah sebentar lagi, hingga posisi mereka tepat di sebelahmu. Setelah itu, berjalanlah sejauh mungkin, bersama-sama. Karena barangkali, perjalanan jauh dan terjal akan lebih baik ditempuh dengan kecepatan yang konstan, tak perlu terengah-engah dengan berlari cepat.

Atau kau ingin solusi yang lebih cepat lagi?
Berlarilah. Bukan kedepan, tapi ke belakang, ke arah dimana kawan-kawanmu berada.
Hampiri mereka sesegera mungkin, genggam tangan mereka, sehingga tak perlu lagi saling meninggalkan satu sama lain. Lalu berjalanlah, berjalanlah sejauh mungkin bersama-sama.

Sungguh, makhluk hina ini pun tahu, kau tidak sendiri.
Kau hanya perlu berhenti berlari, sejenak. Hingga kau temukan tangan-tangan yang sebenarnya selalu siap terulur untuk membantumu. Mungkin tak mudah, tapi yakinlah, bersama itu jauh lebih menguatkan, meski sakit dan mengibas perasaan di hati.

Satu lagi.
Di dunia ini, kita tak perlu mengerjakan segala jenis pekerjaan.
Semua ada porsinya, semua ada tempatnya, semua punya peran yang tak bisa dipindahtangankan.
Dahulu, makhluk hina yang sedang menulis ini pernah dinasihati oleh seorang bidadari, ia berkata
"Berikan kepercayaanmu seutuhnya pada saudaramu, maka ia akan lakukan yang terbaik dan memberikan segala sesuatu yang ia punya".
Terkadang, tak semua masalah di dunia ini harus selesai melalui tangan kita.
Bisa saja, menggenggam tangan orang lain dan menguatkannya untuk selesaikan masalah tersebut akan jauh lebih baik daripada kita yang harus turun tangan langsung menyelesaikannya.

Percayalah, setiap orang, "punya ukuran sepatu masing-masing".
Aku ingin kau belajar dari kesalahanku.
Karena ini semua tentang kita. Bukan hanya kamu, atau bahkan mereka.
Share:

Sabtu, 21 Oktober 2017

Bersiap

Kau tahu?
Membersamai orang yang tak ingin dibersamai bukanlah hal yang mudah.

Sometimes, what we did, what we gave, what we fought, it's totally not for them, it's just a normal reaction when we cared somebody.

Itu yang selalu aku coba untuk ingat, bahwa mungkin tak ada kebaikan yang kita lakukan untuk mereka (red : orang-orang yang kita cintai), segala yang kita lakukan ya hanya reaksi normal dari seorang pecinta.

But in another case..
loving someone is our needs.

Jika dicintai memberikan kekuatan, maka mencintai akan menumbuhkan keberanian.
Entah untuk siapapun cinta itu, jika memang benar, maka ada keberanian yang akan menghujam dalam dada. Bagaimana dengan cinta pada Sang Pencipta coba, akan sekokoh apa kita? :"

Ya, kita butuh menjadi berani dengan mencintai orang lain.
Bukan hanya itu, kita butuh menjelma menjadi seorang pecinta sejati, yang setiap geraknya berasal dari bahan bakar cinta.

Maka untukmu wahai pencinta sejati, bersabarlah.
Kelak jika kehilangan menjadi akhir destinasi, kau telah tahu harus menuju kemana.



Tertanda,
yang bersiap untuk kehilangan.
Share:

Kamis, 19 Oktober 2017

Bunga dan Lebah.

Seperti bunga dan lebah, ujarku saat ditanya tentang sebuah analogi.
Ya, aku lebah dan ia bunganya. Atau mungkin sebaliknya. Aku tak peduli.

Simbiosis mutualisme, pikirku. Karena kami saling memberi, dan tanpa sadar saling menerima.
Lalu aku mulai meminta lebih banyak. Dan otomatis ia memberi lebih banyak.
Begitu yang kami lakukan sebagai bunga dan lebah.

Tapi aku sadar.
Mungkin aku bunganya.
Objek yang tidak akan pernah bisa berpindah tempat, hanya menunggu untuk disinggahi sesaat.

Ia lebahnya.
Hadir kala memang saatnya hadir. Pergi kala memang saatnya pergi.
Kala sang bunga menutup diri, berhenti untuk meminta, maka sunyi akan segera tercipta. Sang lebah boleh pergi, mencari keindahan bunga yang lain.

Lalu sepi.
*Sedikit tulisan ini dapat diinterpretasikan dalam berbagai makna.
Share:

Selasa, 03 Oktober 2017

Beautiful Hello, Painful Goodbye.

From the first time we met, i knew that you will be alright without me, you'll be really fine even you didn't see my face and hear my voices for years.

But unfortunately, not with me.
I need to see you and makes sure that you're fine there.
I need to ask a simple "how are you" even though you didn't reply it honestly.

It's a shame fact, that i couldn't handle any loss in this live.
I ever live this world with a super lonely feeling and when Allah "gives" me a tons of happiness with so many lovely people, i become more eager to keep that things closer with me. It's such a shame, right?

I knew, you're, they're not mine.

It's just a beautiful hello before a painful goodbye.

But.. this "hello moment" made me sick of lonelyness. I really couldn't handle any lonely moment and couldn't see they're feeling lonely. I forgot, that sometimes, we need that "lonely moment" to make sure what is the biggest love in our heart.

Yes, actually it's hurt, it's always hurt when i started to feeling dumped. Ah, it's okay. I knew you're fine there, you'll always be fine even without anyone in this world. So, it's ok to leave me such as a small things in your live.


Allah, keep my heart belongs to You. Just belongs to You.


*Sorry for the grammar, not in the mood to write a story in a perfect grammar.
Share:

Selasa, 01 Agustus 2017

Filosofi Waktu

Ternyata ada saja ya, ada saja masa-masa dimana hidup ini terasa begitu melelahkan.
Rasanya, dua bulan terakhir belum sempat bernafas lega. Hilang satu, lahir yang lain. Hingga sesak di dada, hingga sujud bahkan ruku' pun seakan menjadi saat yang tepat untuk memejamkan mata dan menarik napas panjang tanda lelah dan menyerah.

Dan hey! Aku baru sadar, telah lama aku jauh dari hingar bingar masalah disana. Perlahan, aku serahkan pada yang lain atau tenggelam sendiri tiada solusi, tanpa banyak yang mempertanyakan. Padahal diri ini jauh dari kata muntijah. Aku sibuk sendiri, merasa sudah bukan waktunya lagi.

Parah, ini parah.
Kau sakit, tapi kau tak sadari.
Kau sakit, tapi kau bertindak seakan-akan tak ada yang salah di hadapan yang lain.

Kau sakit. Ruhiyahmu sakit.
Amalanmu mungkin bisa kau jaga meski dengan menyeret kaki dan tergopoh-gopoh. Tapi lihatlah, berapa banyak manusia yang kau lalaikan?
Berapa banyak ajakan diskusi yang hanya kau balas dengan senyuman?
Berapa banyak amanah yang hanya kau tatap dengan nanar?

Lalu ada lintasan pikiran yang lain.
Jangan-jangan.. ini saat terbaik untuk pergi. Saat orang-orang tak menyadari karena telah terbiasa tanpa kehadiran manusia ini di sudut surau itu. Toh ini yang akan selalu terjadi bukan?

Waktu mungkin tidak meniadakan. Tapi waktu akan membiasakan atas ketiadaan yang lainnya.

Sejujurnya aku rindu, rindu sekali teriakan-teriakan khas di tempat itu.
Tapi... ah sudahlah, saatnya mainkan peran masing-masing.


Berjuta maaf untukmu, untuk semua yang terdzhalimi beberapa minggu terakhir.
Maafkan aku.
Share:

Jumat, 14 Juli 2017

Maaf dan memaafkan

Terkadang, memang lebih mudah memaklumi seorang teman, daripada seorang saudara.
Karena kita terlanjur memberikan harapan, bahwa ia pun akan memaklumi apa adanya kita.
Tapi mungkin ada yang terlupa, bahwa bagaimanapun kita tetap manusia.

Dan terkadang, rasa keakuan memang membunuh. Seperti saat ini.

Memaafkan memang bukan hal yang mudah. Tapi percayalah, meminta maaf dengan segera pun bukan hal yang mudah.
Jika memang memaafkan jadi sebuah tanda kebesaran hati, maka meminta maaf seharusnya menjadi tanda keberanian.

Aku tahu, sulit menjadi orang yang dapat segera memaafkan yang lain.
Tapi kau perlu tahu bahwa ini pun sulit, sulit untuk meminta maaf dengan kondisi kau tahu bahwa maafmu tak akan digubris.
Share:

Kamis, 08 Juni 2017

See you.

"Kamu serius dengan keputusanmu itu?" tanyaku pada seseorang yang ada di delapan tahun terakhir kehidupanku. "Iya, aku bisa apa? Kan hanya sebentar" jawab gadis berkerudung itu seraya mengalihkan pandangannya.

"Memangnya ada apa? Apa yang sedang kau hadapi?"

"Ada, pokoknya ada."

Lalu aku meradang.

"Kau, tak tahukah kau tadi pagi semua orang panik karenamu? Sebenarnya sebelum kau bicara, kau memikirkan orang lain tidak sih?!" nadaku meninggi.

Ia diam. Aku merasa bersalah.

"Memangnya orang lain pernah pikirkan aku?" jawabnya dengan lirih. Ini menyakitkan untukku, dia tak tahu, dia sungguh tak tahu.

"Coba kau pikirkan sekali lagi, baik-baik." dengan frustasi aku akhiri percakapan ini. Lalu aku seret ranselku dan berdiri dengan kasar. Aku emosi, aku butuh berdiam diri sejenak.

Lambungku bergemuruh kembali, akhir-akhir ini sedikit tekanan pada otakku maka cukup bagi sang lambung untuk ikut membuat masalah.

Aku ingin menangis, ingin sekali bilang bahwa masalahnya bukan itu. Aku tak peduli kau pikirkan orang lain atau tidak. Masalahnya adalah aku, aku yang masih belum siap untuk melagukan kisah ini sendirian. Aku... egois bukan?

Jalan menuju surau berwarna hijau itu terasa hampa, aku berjalan dengan tergesa-gesa. Menyembunyikan luka dan rasa bersalah di dalam hati.

"Aku egois. Aku sungguh egois. Ia pasti sedang ada di titik lemahnya, lalu kenapa aku suarakan kepanikan yang padahal sejak pagi berhasil ku redam? Aku kalah oleh emosi. Aku telah lukai seseorang yang sangat aku sayangi" akhirnya, hati kecilku mulai berbicara.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar..." adzan maghrib pun nyaring terdengar..

Tetes wudhu masih membasahi daguku, aku baru saja akan berjalan menujunya untuk meminta maaf. Namun... ia menangis. Ia menangis dipelukan saudaranya. Lalu aku terhenyak, ada rasa sakit yang tak asing. Sejak delapan tahun terakhir, ini kali pertama aku melihatnya menangis sesenggukan di depan banyak orang.

Kau sudah terlalu banyak tinggalkan jejak di hidupku. Dan aku dengan semena-mena melukaimu. Jika boleh kukatakan, aku tak pantas melabeli diri sebagai saudaramu.

Aku mendekat perlahan. Ku singkirkan semua egoku dan ikut memelukmu dari samping. Aku tak tahu apa yang sedang kau hadapi, tapi tangisanmu saat itu sungguh lukai hatiku.

Dengan sayup ku berkata "maaf.." seraya usap punggungmu yang masih naik turun karena sengguk tangismu.

===

"Deg". Hening.

Suara temanku di belakang mulai tak terdengar, pandangan mulai kabur. Dada ini bergemuruh, aku hampir pingsan lagi saat kendarai si hitam. Aku hentikan motorku, ku bilang aku ingin beli minum terlebih dahulu. Ah, aku sungguh takut pingsan saat masih ada ia di belakang.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.." kuulangi terus untuk kembali menyadarkan diri di gelapnya malam itu. Hampir saja aku hubungi seseorang yang telah aku lukai untuk minta tolong, tapi aku sadar itu hanya tindakan bodoh kesekian. Maka aku paksakan diriku, aku sengaja memilih jalan yang melewati rumahnya, agar kalau ada sesuatu yang terjadi aku bisa dengan cepat minta tolong.

Rumahmu masih gelap, dan aku khawatir kau tak langsung pulang. Aku tak ambil jalur kanan, aku sengajakan ambil jalan lurus menuju jalan utama yang selalu kau lewati. Aku hentikan motor disana, berharap bisa sekedar melihatmu lewat.

"Ah! Itu dia" aku panik, takut sekali ia melihatku. Aku menunduk agar ia tak melihatku, lalu segera berputar mengikutinya.

"Alhamdulillah, lima menit lagi insyaAllah ia sudah di rumah" lalu dengan sisa tenaga, aku paksakan kendarai si hitam sampai ke rumah.

===

Mungkin lukamu bukan hanya karenaku. Tapi aku dan lisanku yang bodoh ini kerap melukaimu. Tak apa, kau boleh hukum aku dengan pergi meninggalkan semuanya. Namun bolehkah aku mengajukan syarat? Tuntaskan amanahmu. Aku tak ingin di akhirat nanti Allah mempertanyakan kehadiranmu, saat amanah ini jelas masih ada di pundakmu.

Pergilah, bebaskan dirimu wahai sahabat seperjuanganku.

Aku bangga sempat mengenalmu begitu dalam di dua tahun terakhir ini. Terimakasih telah jadi seseorang yang mengubah hidupku dengan begitu sabarnya.

Akhir kata, "selamat tinggal, sampai jumpa saat kita memang sudah seharusnya berjumpa".
Share:

Senin, 05 Juni 2017

Mastatho'tum

Bukan, ini bukan branding nama kelompok mentoring sebelah. Ini tentang makna dari mastatho'tum itu sendiri.

Titik perjuangan sampai batas tak mampu.

Ternyata ini titik mastatho'tum, titik antara maju dan berhenti. Saat tangan sudah gemetaran, isi perut yang sudah melesak ingin keluar, bicara yang sudah tak tahu arah, otak yang sudah tak mampu berpikir lagi, lalu hanya bisa memanggil saudaramu dan berkata "aku sudah tidak kuat lagi" seraya meremas tangannya karena kamu tahu, semenit lagi kamu bicara, bisa jadi kamu terkapar pingsan saat itu juga.

Malu. Karena saat itu hanya bisa beristighfar, merasa sudah setengah tak sadar saat forum bahkan belum sempat ditutup.

Sedih. Karena kamu harus melimpahkan hampir seluruh tugasmu pada yang lain, karena kamu sungguh harus berhenti.

Allahu, kuatkan kami. Semoga peluh di dunia ini yang tiada apa-apanya, dapat hapuskan dosa yang telah kian menggunung, aamiin.
Share:

Senin, 29 Mei 2017

Tentang menghargai

"Eh, tolong kerjain ini dong, tapi A, B sama C nya sudah ada. Kamu tinggal lengkapi aja oke."
Ok.
"Bisa tolong percepat?"
Baik.
"Jadi ini bagaimana ya?"
Begini,,,
"Tolong dipastikan lagi kalau ia memang kredibel"
Sudah.

Tibalah mendekati acara. Lalu nyatanya segalanya dirombak tanpa konfirmasi.

Kau mungkin tak tahu.
Barangkali saudaramu juga lelah. Barangkali saudaramu sedang sakit saat lakukan tugas-tugasnya. Barangkali ia juga telah berjuang sisihkan waktunya untuk tunaikan amanahnya.

Karena dibalik kelambanannya, ia juga tahu bahwa ia sedang berdakwah. Mungkin ia tak bisa berlari secepat kau berlari, tapi ia juga tak selalai yang kau pikir.

Lalu aku ingin tanya, untuk apa ada tim jika anda dan anda dapat kerjakan semuanya sendirian?
Ini musyawarah, bukan sosialisasi produk.

Allahu, mungkin aku kurang bersyukur atas kehadiran tim ini yang membersamai sejak 7 tahun lalu. Memang ya, kita perlu sering-sering studi banding keluar sana, agar lebih menghargai kehangatan keluarga sendiri :"
Share:

Rabu, 24 Mei 2017

Bincang bersama bayangan

Suatu malam, terjadi perbincangan antara manusia dan bayangannya.


M  : "Aku sedang tak enak hati. Kira-kira apakah dia baik-baik saja?"
B : "Aku bingung, tak bosankah kau ada di kondisi seperti ini?"
M : " Memang apa salahnya? Ini kan wajar"


B : "Kau ini bodoh apa bagaimana? Kau tahu jelas ini bukan kisah yang pertama, bukan orang yang pertama dan bukan kekhawatiran yang pertama kau rasakan."
M : "Iya, aku memang bodoh."


B : "Apa kau tak lelah? Kau tahu jelas, pada akhirnya ini semua akan jadi lagu untukmu sendiri."
M : "Kau bayanganku, seharusnya kau lebih tahu. Kau tahu bahwa orang-orang itu telah lakukan kebaikan jauh daripada apa yang ku lakukan. Kau pun tahu bahwa mereka pun berkorban, mungkin jauh lebih besar daripada apa yang pernah ku korbankan. Aku selalu merasa perlu membalas budi. Tapi.. mungkin caraku salah"
B : "Aku tahu, tapi ini semua hanya melemahkanmu."


M : "Bukankah cinta memang melemahkan?"
B : "Tidak, cinta yang karenaNya itu menguatkan. Kau hanya belum sembuh dari trauma masa kecil. Kau hanya takut tak berkawan lagi. Kau takut rasakan keheningan yang seakan abadi, padahal itu karena kau belum mengenalNya. Lalu coba aku tanya, apakah sekarang kau sudah mengenalNya?"


M : "..."
B : "Berhentilah sejenak. Beristirahatlah."
M : "Tapi..."
B : "Biarkan aku tanya lagi. Apakah sebelumnya, saat kau hanya ditemani keheningan, kau peduli akan kabar mereka? Atau bahkan mereka tahu keberadaanmu? Jawabannya tentu tidak, bahkan kalian mungkin tak ingat akan keberadaan satu sama lain."

M : "Kamu benar"
B : "Apakah kau akan menyerah?"

M : "Yes, exactly. Aku akan beristirahat. Aku akan kembali, hanya jika ia atau mereka yang kembali terlebih dahulu."
B : "Tapi keheningan akan segera tercipta antara kalian"

M : "Bukankah keheningan memang akan segera tercipta diantara kami?"
Share:

Senin, 22 Mei 2017

Menjadi Kuat

Menjadi kuatlah,
karena ini bukan hanya seakan-akan, tapi ini memang pilihan terakhirmu.

Menjadi kuatlah,
meski sesak dan penat, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah bertahan.

Menjadi kuatlah,
berat langkah kakimu memang nyata, tapi kau tetap harus berlari walau hampir habis nafasmu.

Menjadi kuatlah,
kelak kau akan terbang bebas, jauh dan tak berbatas.

Meninggalkanku dan segala yang membebanimu. Disini.


Share:

Selasa, 18 April 2017

Tak tahulah

"Aku sudah berjuang, setidaknya aku sudah berjuang untuk ada di posisi itu. Meski aku salah, tapi jangan salahkan aku karena aku telah berjuang."

"Andai kita bisa bertukar posisi, kamu akan tahu betapa sulitnya jadi aku"

"Aku iri sama dia, bisa sedekat itu denganmu"

Lalu aku termenung. Bukan, aku tak terharu dengan pengorbanan macam itu. Setengah dari diriku merasa bersalah, namun setengahnya lagi masih tak terima. Mengapa aku sering sekali dipaksa untuk jadi tersangka atas apa yang orang lain lakukan?

Aku jahat, memang. Bagaimana bisa aku tak tersentuh sama sekali atas perjuangan mereka yang justru melawan aturanNya. Aku SUNGGUH tidak suka dijadikan alasan untuk berbuat dosa. Lebih baik diam saja di rumah dan menyaksikan jatuh bangun diri ini dari jauh, daripada harus ada tapi melawan aturannya.

Aku salah, memang. Aku sungguh salah karena tak peka bahwa kau sedang berjuang. Aku pun sedang berjuang untuk berikan kepercayaan ini lagi, setelah kau hancurkan empat kali berturut-turut. Ini luar biasa, kawan. Aku bukan orang yang mudah berikan kepercayaan dan ini kesempatan kelima untukmu. Kau tak tahu, kan?

Aku bodoh, memang. Tak paham bahwa kau sedang butuh sosok yang setia disampingmu. Aku akan akui disini bahwa kau memang tak lagi prioritas utamaku. Aku belajar menentukan prioritas, dan setelah perhitungan panjang, prioritas ini jatuh pada adik-adikku yang notabene juga adikmu. Di tangan mereka, ada tongkat estafet yang sempat aku berikan padamu juga. Izinkan aku bertanya, masihkah kau peduli? Mimpiku adalah mencintai mereka bersamamu, tapi nyatanya kau lebih mencintai yang lain.

Apa aku berhak protes? Tidak.
Aku diam. Bahkan hingga saat ini aku masih diam. Aku tak bergeming meski kau tutup salah satu akses medsosmu sehingga aku tak akan tahu kabar tentangmu.

Lalu izinkan aku menggunakan hak-ku untuk bertanya.
Mengapa lagi-lagi kau limpahkan kesalahan atas pilihanmu pada yang lain? Dan kali ini, aku yang jadi tersangkanya.

Aku ingin menyerah akan dirimu. Jujur, aku lelah sekali :')
Tapi kau tahu? Selalu ada saja alasan untuk bertahan, sesakit apapun.
Kau.. seharusnya mulai membuka mata pada orang-orang yang kau anggap memaksamu untuk berubah. Kau sungguh tak tahu betapa keras usaha mereka untuk yakinkan aku bahwa kau pantas untuk diperjuangkan.
Aku benar-benar ingin membisikkan kalimat ini di telingamu "Bagaimana jika orang-orang yang kau anggap mengganggu pilihan hidupmu, justru jadi orang yang menolongmu di akhirat nanti?"
Share:

Selasa, 04 April 2017

Pulang

Ini baru satu pekan, tapi aku sudah rindu.
Sayang, rindu ini rasanya hanya tertahan di dalam hati, tak sempat terucapkan ataupun tersalurkan lewat jari. Sungguh hanya berdiam saja di dalam hati, lalu terkadang hampir mengalir lewat mata. Hampir.


Memang dasar manusia, mudah sekali masuk dalam perangkat syaitan bernama was-was. Aku memang suka ada disini, tapi rasanya aku seringkali khawatir pada banyak hal. Aku yang naif ini mencoba menganggap bahwa teman yang baik itu akan selalu ada di semua tempat selain disana. Tapi ternyata tidak. Aku tetap bersyukur, aku punya teman untuk berbagi kebahagiaan disini, meski bukan untuk berbagi kesulitan atau kesedihan. It's okay, setidaknya Allah tak biarkan diri ini sendirian bukan?

Tapi... ini semua mendukungku untuk terus merindukannya, merindukan mereka. Merindukan orang-orang yang ada meski tak dibutuhkan.


Aku khawatir sekali jatuh sakit disini. Aku benci sakit ketika tak di rumah karena takut merepotkan.
Terakhir kali aku jatuh sakit ketika tak di rumah, ada seseorang yang dengan telatennya membuatkan nasi tim dan memaksa minum jus jambu. Tiga hari aku terkapar dan selama itu pula ia direpotkan dengan masak-memasak bubur yang meninggalkan bekas luka di tangannya serta berbagai tugas penelitian yang harusnya menjadi tugasku. Ah, aku rin... Tidak, hehe.

Entahlah, suasana kamar saat itu jadi bayang-bayang tersendiri saat ini. Aku masih merasa asing dengan rasa sepi ini. Biasanya dulu tak ada malam-malam yang hening (kecuali salah satu sedang stress atau kesal). Dulu aku tak pernah segan untuk bilang sakit ketika memang sedang sakit, karena aku tahu kau pun lakukan hal yang sama. Lalu aku sadar satu hal, betapa aku bersyukur punya seseorang yang tak ada hubungan darah, namun bisa saling perlakukan seperti keluarga di rumah.

Dan untukmu, aku minta maaf. Aku tahu, pergi ke tempat ini mungkin bukanlah hal yang paling tepat. Aku dulu yakin bahwa kau bisa lewati semuanya sendirian, maka aku coba untuk percaya bahwa ini kesempatan yang harus aku ambil. Percayalah, berat bagiku untuk meninggalkanmu bersama segunung amanah yang harusnya diselesaikan bersama.

Aku kesal disini, menyaksikanmu yang terkadang tak kokoh lagi. Aku tak bisa menyalahkan komunikasi kita yang berantakan, aku hanya merasa betapa tak bergunanya diri ini untuk sekedar membantumu. Ketahuilah, aku masih ada di belakangmu, masih setia dengan posisi yang tak akan terlihat olehmu. Dan aku sedang bersiap, untuk hadapi saat saat kau berlari pergi tanpa pamit.

Ah, aku pun rindu mereka. Rindu para bidadari kecilku yang manis senyumnya. Aku ingin peluk mereka satu-persatu, ingin bekal canda tawanya. Alhamdulillah, mereka terus tumbuh jadi kakak yang baik :") Aaaaah, aku sungguh rindu.

Ternyata ini rasanya, punya orang-orang yang jadi alasan kuat untuk cepat pulang, sejauh apapun kita pergi.
Share:

Senin, 20 Maret 2017

Kita hanya akan saling meninggalkan

Akhirnya aku tersadar, pada akhirnya kita hanya akan saling meninggalkan. Entah itu aku yang memutuskan pergi atau kamu yang nantinya tak sadar sedang perlahan pergi.
Sekuat apapun aku genggam ikatan ini, aku tahu bahwa mungkin kisah akhirnya akan sama seperti yang lampau. Meski kisah ini luar biasa berbeda dari yang sebelumnya, tetap aku tahu bahwa aku harus siap ditinggalkan.

Toh bukankah selalu seperti ini prosesnya?
Saling asing - mengenal - mendekat - menemukan kesamaan - tak terpisahkan - berpisah - terbiasa atas ketiadaan satu sama lain.

Ya, terbiasa atas ketiadaan satu sama lain.
Aku akui, aku adalah pihak yang biasanya ada dalam posisi ditinggalkan dan tak berhak untuk melawan. Sedang yang meninggalkan selalu punya cadangan teman.

Lalu memangnya apa yang salah? Bukankah dahulu kita bahkan bisa hidup dengan amat baik tanpa harus tahu kabar satu sama lain? Boro-boro ada rasa khawatir yang rutin menyergap seperti sekarang, toh dulu bahkan aku sempat lupa akan keberadaanmu. Begitu juga denganmu, yang bisa saja tak ingat bahwa aku masih ada.

Bagaimana bisa manusia terbiasa atas ketiadaan satu sama lain setelah menjadi insan-insan yang tak terpisahkan? Maka mungkin jawabannya adalah : waktu. Waktu dapat mendekatkan atau bahkan meniadakan.

Sungguh, seringkali aku cemburu pada mereka yang Allah takdirkan untuk terus bersama, maka dari itu aku berharap banyak dari kisah yang satu ini. Aku ingin membersamai dan dibersamai hingga surga menjadi tempat kembali. Aku ingin menjadi yang paling tahu tentang kisahmu seperti saat ini. Aku ingin mendampingimu di momen sakral nanti, membantu segala persiapanmu dari titik nol. Aku ingin kelak anak kita nanti juga menjadi saudara dekat. Aku sungguh masih ingin melakukan banyak project bersama meski rambut telah memutih nantinya. Aku masih ingin tertawa lepas denganmu, meski deretan gigi ini sudah tak lengkap lagi.


Tapi sejatinya aku lupa, bahwa janji naungan Allah di akhirat nanti bukanlah untuk yang selalu bersama hingga mati, tapi yang karenaNya saling mencintai, baik bersama maupun berjarak.

Yaa Allah, kuatkanlah. Yakinkanlah bahwa untuk menjadi bermakna, tak perlu selalu bersama. Aku yakin, Kau akan selalu berikan penjagaan terbaikMu. Jadikanlah kami hambaMu yang mendapat syafaat atas ukhuwah yang terjalin karenaMu dan semoga selalu karenaMu. Aamiin, aamiin Ya Rabb..
Share:

Selasa, 14 Maret 2017

Que Sera Sera

Sudah malam, hawa panas masih setia menemani. Begitu juga dengan otak dan hati yang masih saja tak mau bercengkrama dan tunduk dalam keputusan yang sama. Seharusnya, malam ini ia sudah sibuk mempersiapkan segala persiapan mahasiswa yang ingin melepas status "pengangguran". Tapi apa daya, ia justru mulai meragu. Padahal... bukankah ini yang ia mau? Lepas dan pergi sejenak barang sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun?

Ah, entahlah.

Seharusnya, pukul 9.30 esok hari menjadi titik awal dimana ia harus bertarung dengan pesaing lainnya, memperebutkan sebuah posisi di sudut kecil ibukota. Tapi sungguh, ia sangat meragu. Dan sayangnya, ia dalam posisi "tidak bersih" untuk bisa menangis dalam sujudnya, seperti biasa.

Apalah yang ia pikirkan, padahal hanya ada 24 orang lainnya yang juga bisa sampai tahap ini. Ia hanya perlu lanjutkan ke tahap berikutnya, dan duduk manis menanti pengumuman. Simpel bukan?

Tapi sekali lagi, ada yang mengganjal di hatinya. Pertemuan hari itu, bersama orang-orang yang sangat ia hormati benar-benar membuatnya meragu. Ia tahu, bahwa ia butuh pergi. Tapi ia tertampar keras hari itu, ia akhirnya sadar bahwa ia pun butuh untuk tetap berjuang bersama mereka. Ia butuh berkontribusi untuk kemenangan dakwah di kota kecil ini.

Apalagi kalimat tanya penuh dengan intimidasi, "Kamu tega?" yang dilontarkan seseorang saat itu. Ia tahu, setengah pertahanannya roboh saat itu juga. Ia tahu jelas, bahwa ia tak akan pernah tega. Dan bodohnya, padahal ia tahu bahwa jika ia bertukar posisi dengan orang tersebut, maka ia sudah pasti jadi pihak yang akan ditinggalkan.

Lalu mengapa ia masih meragu?
Ah, ternyata masih ada alasan lain.

Malam ini, rasanya ia mencium sesuatu yang salah dari gelagat bidadari-bidadari kecilnya. Ia tahu ada yang salah, tapi ia tak mampu untuk mendekat. Ia rindu, bahkan terlampau rindu untuk sekedar duduk melingkar tanpa ada dialog berarti. Namun ternyata, menyimpan rindu tanpa kata itu berat. Mendadak ia khawatir, khawatir meninggalkan bidadari-bidadari kecilnya tidak dalam kondisi terbaik. Cintanya untuk mereka, sungguh masih sebesar saat-saat dahulu. Dan sekali lagi, pertahanannya hampir roboh jika ia ingat siapa yang akan ia tinggalkan nantinya.

Que Sera Sera. Whatever will be, will be.


Yaa Allah.. Ternyata urusan kepergian ini tak hanya menyangkut diri ini saja yang butuh untuk pergi menjauh. Semoga Kau senantiasa tunjukkan yang terbaik, aamiin, aamiin yaa Rabb..
Share:

Minggu, 12 Maret 2017

Kamu... kenapa?

Aku mau tanya, boleh? Kamu tega? Tega ninggalin aku disini? ujarnya.
Dan aku terdiam, terintimidasi tanpa kata.

Kalau boleh jujur, aku cukup terkejut. Sudah kubilang, kau ini jarang sekali bertingkah seperti ini. Meski aku tahu ini bisa jadi bercanda seperti biasa, tapi tetap saja, aku terhenyak tanpa banyak kata. Satu kata "tega?" cukup untuk mengintimidasi kian hebatnya, membuat diri ini berpikir berkali-kali. Apakah benar ini keputusan terbaik?

Kalau kamu memang benar-benar butuh jawabannya, maka aku akan jawab "tidak".

Bagaimana mungkin aku tega. Lagipula memangnya nanti siapa yang akan menghalangi orang-orang untuk mendekatimu kala kau sedang butuh waktu untuk sendiri? Nanti siapa yang tahu bahwa sedikit bengkak di wajahmu, itu pertanda bahwa kau sedang sakit? Siapa yang akan hafal bahwa kau sulit sekali menjaga pola makanmu jika sedang sibuk? Ah, nanti bagaimana jika kau-lah satu-satunya kakak yang tersisa untuk adik-adik yang sama-sama kita cintai?

Lihat, aku tak akan pernah tega. Bagaimana mungkin aku bisa tega?
Bagaimanapun, jika memang Allah takdirkan aku untuk pergi, maka aku tak akan tinggal diam. Aku pernah bilang bukan, aku akan siapkan penggantinya.

Selamat, kau berhasil buatku meragu.
Share:

Rabu, 01 Maret 2017

Membuat kenangan

Di suatu siang, entah ada angin apa, ia yang woles-woles banget aja tiba-tiba melempar percakapan menyedihkan

X : "Kalau kamu kerja, yang nemenin aku di DS siapa?"
X : "Ah, aku harus kuat"
X : "Biar aku yang menanggung sebagian, atau seluruhnya. -Ust. Rahmat Abdullah"
A : "Kok tumben...."
A : "Nanti aku cari penggantinya, yang lebih banyak, lebih kuat, lebih mantap"


Lalu beberapa hari kemudian..


X : "Mba, kapan mulai kerja?"
A : "Kemungkinan akhir bulan depan. Kenapa?"
X : "Aku mau siap-siap"

Dua penggalan percakapan dengan orang yang sama ini sungguh menyadarkanku atas sesuatu. Bukan hanya sadar, tapi tertampar. Kedua percakapan ini langka sekali karena aku terlanjur haqqul yakin bahwa ia akan baik-baik saja, namun ternyata cukup membuatku paham bahwa ketika takdir membawaku untuk benar-benar pergi dari tempat ini, akan ada banyak yang aku tinggalkan.

Aku berpikir terlalu jauh, tentang kemana aku pergi, apa tujuanku untuk pergi, tempat mana yang harus kupilih dan lain sebagainya. Tanpa aku sadar bahwa akan ada seseorang yang diam-diam menanggung amanah di pundakku ini. Bahwa seseorang yang selama ini sukses menghilangkan perasaan kesepian, mungkin akan sendirian berjuang disini. Bahwa seseorang yang biasanya aku khawatirkan, mungkin khawatir pula akan perpisahan ini.

Lagi-lagi aku melakukan kebodohan. Aku kira kepergianku nanti tak akan mempengaruhi apapun. Ah, aku sungguh lupa bahwa ada posisiku yang harus digantikan.

Ya, posisi sebagai seorang kakak.

Ternyata memang benar ya, ketika kita merasa bahwa sesuatu akan ada akhirnya, maka pertemuan akan menjadi lebih bermakna. Akhir-akhir ini aku sibuk sekali membuat agenda main seakan-akan waktu yang ku miliki memang sangat terbatas. Aku pun lebih menikmati duduk santai sambil tersenyum memperhatikan gerak-gerik manusia-manusia yang ku cinta. Aku sungguh antusias mendengar seluruh kisah yang terucap dari bibir mereka. Aku juga berusaha secepat mungkin membalas setiap pesan mereka. Aku sibuk menciptakan kenangan bersama mereka karena aku takut aku pergi tanpa meninggalkan banyak kenangan manis untuk mereka.

Iya, mereka, seluruh adik-adik yang tak ada hubungan darah namun selalu merindukan pertemuan di masjid bernuansa hijau itu.

Ah, tiba-tiba ini terasa berat. Semakin hari aku semakin sadar, bahwa andaipun aku tak jadi pergi ke kota sana, rasanya aku akan tetap pergi dari taman syurga ini. Saat ini, pergi memang masih menjadi salah satu pilihan, tapi aku butuh untuk memilih pergi. Meskipun hati ini teriris-iris nantinya, meskipun aku tahu aku tak akan pernah tega melihat seseorang menanggung amanah sebagai seorang kakak sendirian, meskipun aku tahu rindu pada adik-adik akan menyesakkan dada, tapi sekali lagi, aku butuh untuk tetap memilih pergi.

Bismillah, semoga Allah tunjukkan yang terbaik. 
Dan mari kita buat kenangan indah ^^
Share:

Rabu, 22 Februari 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

Kau yang berlebihan.

Ah, perpisahan itu nyata adanya, ya?
Kukira, ini semua hanya masalah pembiasaan saja. Tapi ternyata... semakin dekat, semakin nyata rasanya. Ini malam terakhir kita, kau sudah terlelap, namun bagiku ada segenggam rasa khawatir yang terbersit dalam pikiran.

Aku khawatir kau jatuh sakit lagi, seperti beberapa malam kemarin. Jika tubuhmu menggigil seperti itu, siapa yang akan urus? Toh kamu bukan orang yang pandai mengeluh sakit, tidak seperti aku. Jika kau butuh teman berbicara di perjalanan, siapa yang akan dengar celotehan recehmu itu? Jika kau emosi dan ingin menghilang, siapa yang akan menahanmu?

Ah, aku lupa. Kau bukan akhwat manja yang harus bergantung pada manusia. Kalaupun kau butuh bantuan, akan banyak orang yang tawarkan bantuan untukmu.

Oh ya, kau tahu?

Orang-orang diluar sana banyak yang salah paham tentangmu. Mereka bilang, aku ini berlebihan padamu. Padahal.. kau yang berlebihan.
Setahun ini, aku banyak berada di titik paling kritis dalam hidup. Dan entahlah, Allah Maha Baik, mengirimmu untuk berdiri di hadapanku, lengkap dengan senyum dan bahu yang kokoh untuk menopang setengah dari bebanku.

Kau yang berlebihan.
Tak banyak yang tahu bahwa aku hancur tempo lalu ketika rasakan kehilangan untuk pertama kalinya. Kau datang siang itu. Kau lah yang tahu jelas bahwa aku sedang hancur. Kau yang berikan pelukan erat, justru saat aku bungkus kesedihan dengan senyuman. Kau yang bilang jangan menangis sambil memeluk erat dan menepuk lembut pundakku, saat tangisanku hampir pecah di bahumu.

Kau yang berlebihan.
Aku masih ingat jelas bagaimana kau menahan rasa khawatir malam itu. Bagaimana tidak, aku meringkuk sambil menangis tepat di depanmu, berpura-pura dan menganggap kau tak tahu. Tapi kau ikuti permainanku, kau bertindak seakan tak ada yang terjadi. Kau diam. Kau sabar menunggu, tidak seperti aku yang terus bertanya bahkan menuntut penjelasan satu menit sekali jika lihat kau berubah sedikit saja.

Kau yang berlebihan.
Aku sadar, aku adalah makhluk manja yang sulit diatur. Tapi dengan cueknya kau tarik tanganku saat aku iseng menggaruk bekas luka yang gatal. Kau juga yang sigap bergerak siapkan makanan saat tahu bahwa aku sedang sakit atau tak ingin makan seharian.

Kau yang berlebihan.
Aku memang suka mengurus keperluan orang lain. Tapi ini pertama kalinya aku merasa bahwa ada yang turut serta dalam hidupku selain keluargaku. Kau memang bukan makhluk romantis, tapi kau hafal seluruh kebiasaan dan kelemahanku. Kau pun belum pernah absen ketika aku butuh. Kau satu-satunya manusia yang tahu hampir seluruh kisah hidupku.

Kau yang berlebihan.
Mereka saja yang tidak tahu. Menganggap bahwa aksiku yang terlihat ini jauh lebih sesuatu dibandingkan sigap dalam sunyimu.

Dan sesungguhnya... aku benci berpisah denganmu.

Mungkin segalanya memang hanya akan jadi lagu untukku sendiri. Tapi tak apa, jaga dirimu baik-baik wahai kakak panutan sekaligus saudara yang harus kujaga. Sebentar lagi, mungkin kau akan kehilangan driver ojek pribadimu.


Ssst, biarkan alurNya yang membawa beliau untuk sampai ke blog ini ^^
Share:

Selasa, 07 Februari 2017

Genapkanlah dirimu

Karena pada akhirnya, aku tahu bahwa jika bukan kamu yang pergi, aku yang akan pergi.
Maka seharusnya, sudah saatnya kau membersamai seseorang yang akan menjagamu dengan baik. Sudah saatnya langkah-langkah panjangmu tak sendiri lagi, tentu denganNya tapi juga dengan pasangan pilihanNya.

Dulu saat aku bilang bahwa kau perlu orang yang dapat menjagamu, kau bilang "kan ada kamu yang menjagaku". Iya, aku memang bersedia menjagamu, mengatur jadwal makanmu yang berantakan, menyiapkan keperluanmu karena kau hobi sekali menunda-nunda, mengecek dahimu karena kau sering demam tiba-tiba, menarik selimutmu karena kau sering tidur dengan gelisah, menyuruhmu cepat pulang jika hari sudah beranjak gelap dan hal-hal yang mungkin luput dari perhatianmu.

Bagiku, kau adalah kakak panutan sekaligus adik yang harus ku jaga.

Namun sekarang, rasa-rasanya aku akan merantau kembali, mengingkari kesepakatan yang telah kita buat. Bisa jadi, mata dan tangan ini tak lagi dapat menjagamu.

Maka menikahlah, genapkanlah dirimu.
Share:

Minggu, 29 Januari 2017

Cemburu.


Kau tahu rasanya cemburu?
Iya, cemburu.


Aku kira, aku tak akan rasakan hal kekanak-kanakan ini. Bagaimana mungkin seorang "kamandeu" yang gengsinya sampai ke ubun-ubun bisa mengakui bahwa dirinya sedang cemburu?
Tapi entahlah, ternyata tempo hari lalu ada kecemburuan yang menyergap. Ada rasa asing di hati ketika ia yang dicinta tertawa bersama yang lain, tentunya tanpa ada aku di dalamnya.

Siang itu aku sedang melingkar bersama lingkaran surga yang baru. Namun aduhai, mata ini sulit sekali untuk fokus. Telinga ini juga tak bisa diajak kompromi. Sedikit-sedikit, ada suara tawa yang tak asing, yang membuatku memaksa memandang ke sebelah kiri. Bukan hanya sekali, berkali-kali. Bahkan lagi dan lagi. Hingga akhirnya diri ini memaksa untuk menumpahkan perhatian pada mereka yang ada di hadapanku. Menampar diri bahwa mereka-lah amanahku yang harus aku perhatikan sepenuhnya.

Tidak hanya sampai situ. Malamnya pun sesosok yang lain sibuk menceritakan tentang ia yang ku cinta. Menceritakan tentang perkembangannya, tentang bagaimana serunya hari itu bersamanya. Aneh, sungguh aneh. Aku selalu antusias pada apa yang sosok tersebut ceritakan setiap malam. Namun malam itu, aku terpaku beberapa detik. Ingin rasanya berkata bahwa "Oh, aku cemburu. Biasanya kan aku yang ceritakan tentangnya.". Namun aku sadar. Sungguh sadar bahwa amanah ini telah berpindah padanya. Sosok itu, lebih pantas untuk menjaga ia yang kucinta.

Lalu... ada beban yang menyergap dalam hati. Mengetahui bahwa aku harus menanggung rasa ini lebih lama lagi. Namun aku tahu, beban ini bukanlah kesedihan. Ini hanya soal waktu. Entah kapan aku terbiasa tidak membersamai ia yang kucinta, yang biasanya selalu kutemui setiap pekannya. Toh tak banyak yang berbeda. Aku tetap bisa menemuinya, meski tak lagi sebagai siapa-siapa.

Ah, tersenyumlah. Perkembangan ia yang kucinta memang pantas dibayar dengan harga semahal apapun, bahkan jika harus dibayar dengan perpisahan, maka aku (harus) rela,

============

Itu versiku. Ini versi dari ia yang kucinta (kurang lebih begini redaksinya, maafkan kalau lebay haha)


X : "Ka mandeu, aku cemburuuu. Aku masih ga rela ka mandeu ketawa sama yang lainnya. Bukan sama kita kaya jum'at-jum'at sebelumnya"
Y : "Iya! Daritadi aku sibuk curi-curi pandang terus ke sebelah kanan"

Z : "Iiih, sama lah. Aku juga daritadi sibuk curi curi pandang tauu"

Aku : (memandang satu persatu wajah-wajah yang kucinta) "Aku juga... aku juga sibuk curi-curi pandang ke kelompok kalian. Masih ngerasa aneh aku ga ada di samping kalian" (Lalu kita berpelukan rame-rame)

===========

Ternyata, ini rasanya kalau cinta tidak bertepuk sebelah tangan ya. Indah, penuh dengan kejutan meski mungkin hanya sesaat. Sungguh, terimakasih mandeu's, telah menjadi "ia yang kucinta" selama ini. Selamat! Kalian yang pertama buatku rasakan cemburu seperti ini :") 

Duuh malu sebenernya nulis ini, tapi biarlah, biar memori tentang cemburu ini mengkristal di benakku..
Share:

Kamis, 05 Januari 2017

Kacau

Kau tahu apa yang paling mengesalkan ketika sedang tidak-baik-baik saja?
Diri ini jadi begitu egois, tak bisa memastikan orang lain tetap baik-baik saja.
Pekerjaan terbengkalai, memaksa orang lain harus handle banyak hal.

Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang jam hidupnya sedang berantakan?
Lengkap dengan emosi yang sedang tak stabil karena waktu istirahat yang labil, bisa sewaktu-waktu meledak dengan tangisan.
Ah, aku sungguh lelah.. Mungkin jauh sekali diri ini darimu, Ya Allah..

Tapi Yaa Allah, aku malu, ada saja manusia titipanMu yang masih bersabar menghadapi diri yang sedang kacau ini. Ada saja yang tak lelah memastikan dengan berbagai macam cara agar tetap makan setidaknya satu hari sekali. Ada saja yang tak tega meninggalkan sendirian. Ada saja yang gigih membujuk agar tetap jaga kesehatan. Ada saja yang tak bosan menyemangati. Ada saja.

Ternyata benar adanya, kita jadi tahu siapa sebenarnya teman baik kita saat kita ada di posisi terendah.

Ah, sungguh terimakasih.
Share: