Selasa, 13 Desember 2016

Jangan lupa untuk bercermin

Jangan lupa untuk bercermin. 
Begitu nasihat dari ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya.

Aku seringkali kecewa pada orang-orang terdekatku. Sebegitu merasa kecewanya hingga aku yang keras ini bisa menangis sesenggukan dan memberitakan seluruh luka padaNya. Merasa begitu sakitnya hingga pergi menenangkan diri seharian agar tak merasa kalut. Padahal, apa yang membuatku pantas merasa kecewa? Bukankah aku hanya dikelabui oleh harapan pribadi lalu merasa harapan-harapan itu menjadi tanggung jawab orang lain?

Egois bukan?

Aku merasa berhak untuk membalas dan melakukan protes dengan diam dalam waktu yang tak dapat ditentukan. Hingga seseorang mengetuk pintu dengan perlahan dan bertanya dengan lembut "Ada apa?".

Aku luluh, lalu aku tersadar bahwa aku lupa untuk bercermin.

Aku sibuk menilai dunia dan seisinya ini hanya dari kacamata sendiri. Aku menolak sikap acuh tak acuh dari orang lain, padahal ia hanya melihat dunia dari kacamatanya persis dengan apa yang aku lakukan. Aku seringkali merasa kecil, merasa bukan siapa-siapa karena sikap dari orang-orang yang tercinta. Padahal bukankah ungkapan cinta itu berbeda dari setiap insan? Bisa jadi doa yang ia kirimkan jauh lebih banyak jika dikalkulasikan. Aku sering terbunuh rasa khawatir, marah jika seseorang memberikan kesempatan pada prasangka untuk menampakkan batang hidungnya. Lupa, bahwa khawatir yang berlebihan itu datangnya dari syaitan.

Aku sungguh lupa untuk bercermin.
Aku lengah dan sibuk menilai orang lain tanpa mengevaluasi diri sendiri. Sibuk menerima energi negatif dari orang lain tanpa sadar bahwa aku masih punya energi positif untuk dibagi. Aku lengah menangkap kebaikan dari orang lain namun lihai merasa kecewa atas kesalahannya.

Bukankah sejatinya kita sedang bercermin ketika melihat satu kesalahan pada saudara kita? Bisa jadi, rasa sakit yang kita ukir pada hatinya jauh lebih dalam daripada apa yang kita rasakan saat itu juga. Bisa jadi, ia yang saat itu torehkan luka justru sedang berusaha untuk jadi sosok yang lebih baik untuk kita. Bisa jadi, ia yang buat kita menangis sesenggukan malah sedang berbincang denganNya, tentang kita. Bukankah hudnuzhan akan membuat diri ini lebih tenang?

Maafkan aku.
Sungguh, maafkan aku.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar