Kamis, 22 Desember 2016

Ini Jum'atku, mana Jum'atmu?



Kau tahu rasanya jatuh cinta? Atau lebih spesifik lagi, kau tahu bukan bagaimana rasanya ada kupu-kupu terbang di perutmu ketika melihat si dia yang kau cinta? 

Ah, aku rasakan hal itu setiap jum'at.

Beruntung sekali bukan? Aku tak perlu menunggu momen spesial untuk merasakan kupu-kupu terbang ala orang yang sedang jatuh cinta. Aku juga tak perlu membayar mahal untuk bisa merasakan rindu layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Aku juga tak perlu menambah-nambah dosa hanya untuk bertingkah seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Aku selalu jatuh cinta di hari Jum'at.
Aku bahkan sudah rindu mereka sesaat setelah jum'at berakhir.

Apakah benar ini cinta?
Bahkan hatiku dengan mudahnya bilang "iya".

===


Mereka tahu tidak ya? Betapa seluruh peluh rasanya hilang di hari jum'at, tepat ketika senyuman mereka terlihat di jendela masjid berwarna hijau.
Mereka tahu tidak ya? Setiap tingkah mereka selalu sukses jadi hiburan tersendiri dikala penat.
Mereka tahu tidak ya? Keberadaan mereka membuat diri ini merasa berharga, setidaknya untuk duabelas bidadari dunia seperti mereka.
Mereka tahu tidak ya? Setiap respon positif mereka selama mentoring menambah keyakinan bahwa akan ada satu generasi yang akan merubah segalanya.

Ah, mungkin mereka tak akan pernah tahu dan sebenarnya tak perlu tahu. 

Mereka juga tak perlu tahu ada seseorang yang saat ini sedang memikirkan mereka. Orang ini senang sekali bercerita tentang mereka kepada siapapun karena ia bangga sekali pada mereka. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering memikirkan mereka dimanapun dan kapanpun. Apakah karena ia rasa perpisahan semakin dekat? Entahlah, yang jelas rasa cinta yang ia rasakan pada mereka semakin besar setiap harinya hingga ia memutuskan untuk menuliskan cintanya (meski tak akan pernah cukup) lewat tulisan malam ini.

Dan orang itu adalah aku.

Aku yang tak pernah habis pikir mengapa Allah menitipkan bidadari-bidadari dunia dengan sayap indahnya pada diri yang penuh dengan dosa ini.

Aku sungguh malu, malu sekali padaNya, pada mereka.

Aku malu pada Aisyah, pada hatinya yang selembut jingga di sore hari, pada matanya yang selalu memancarkan kebersihan hati yang hakiki. Aku malu pada Fazla, pada prinsipnya yang menghujam kuat dalam jiwa, pada keagungan sikap yang memancarkan kekokohan hati. Aku malu pada Asyel, pada kemampuan syiar dakwahnya yang menyentuh lapisan sosial yang tak pernah bisa aku sentuh bahkan hingga detik ini. Aku malu pada Atha, pada itsarnya yang tak pandang bulu, pada pengorbanan untuk saudaranya yang tak kasat mata. Aku malu pada Zarin, pada semangatnya yang melahirkan kekuatan untuk saudaranya, pada senyuman yang tak pernah hilang seterhimpit apapun kondisinya. Aku malu pada Djihan, pada air mata solidaritas, pada rasa peduli yang tak terucap. Aku malu pada Firaas, pada loyalitasnya yang tinggi untuk saudara sendiri, pada kemampuannya memimpin tanpa membuat orang merasa kehilangan posisi. Aku malu pada Meta, pada kegigihan diri, pada pembuktian kasih sayang yang sungguh luar biasa tanpa harus banyak kata. Aku malu pada Nabila, pada kekhawatiran hati yang selalu timbul saat kesalahan sedang terjadi di sekitarnya, pada kelapangan hati dalam menerima mahalnya permata nasihat. Aku malu pada Shafira, pada keberaniannya mengatakan bahwa yang benar adalah benar, pada tegaknya kaki meski harus berdiri sendiri. Aku malu pada Sinda, pada jernihnya lisan dan akal untuk menerima luasnya samudera ilmu, pada kemauan berubah yang sangat tinggi. Aku malu pada Yaaquta, pada kesetiaan dalam diam, pada ingatan baiknya tentang saudara-saudaranya.

Aku ingin peluk mereka satu persatu malam ini dan katakan terimakasih telah membuat diri ini sanggup merasakan cinta sedemikian hebatnya :')
Tak bosan aku katakan, semoga cinta ini memang hanya karenaNya dan selalu karenaNya.
Dan jika cinta ini memang benar ikhlas karenaNya, seharusnya tak ada lagi kekhawatiran akan pertemuan dan perpisahan di dunia. Cukuplah pertemuan kekal di surgaNya nanti..

Umar Bin Khattab radhiAllahu ‘anhu pernah berkata : “Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini, kecuali karena tiga hal; keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya, repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail, dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.”

Adik-adik surgaku, jangan lelah perbaiki diri agar Allah hadiahi pertemuan hakiki di surgaNya nanti. Uhibbukum Fillah, Mandeu's.



Bandung, 22 Desember 2016 01:07 WIB.
Ditulis sambil mendengarkan nasyid senandung ukhuwah dan untukmu teman yang begitu syahdu dalam hati.
Share:

Selasa, 13 Desember 2016

Jangan lupa untuk bercermin

Jangan lupa untuk bercermin. 
Begitu nasihat dari ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya.

Aku seringkali kecewa pada orang-orang terdekatku. Sebegitu merasa kecewanya hingga aku yang keras ini bisa menangis sesenggukan dan memberitakan seluruh luka padaNya. Merasa begitu sakitnya hingga pergi menenangkan diri seharian agar tak merasa kalut. Padahal, apa yang membuatku pantas merasa kecewa? Bukankah aku hanya dikelabui oleh harapan pribadi lalu merasa harapan-harapan itu menjadi tanggung jawab orang lain?

Egois bukan?

Aku merasa berhak untuk membalas dan melakukan protes dengan diam dalam waktu yang tak dapat ditentukan. Hingga seseorang mengetuk pintu dengan perlahan dan bertanya dengan lembut "Ada apa?".

Aku luluh, lalu aku tersadar bahwa aku lupa untuk bercermin.

Aku sibuk menilai dunia dan seisinya ini hanya dari kacamata sendiri. Aku menolak sikap acuh tak acuh dari orang lain, padahal ia hanya melihat dunia dari kacamatanya persis dengan apa yang aku lakukan. Aku seringkali merasa kecil, merasa bukan siapa-siapa karena sikap dari orang-orang yang tercinta. Padahal bukankah ungkapan cinta itu berbeda dari setiap insan? Bisa jadi doa yang ia kirimkan jauh lebih banyak jika dikalkulasikan. Aku sering terbunuh rasa khawatir, marah jika seseorang memberikan kesempatan pada prasangka untuk menampakkan batang hidungnya. Lupa, bahwa khawatir yang berlebihan itu datangnya dari syaitan.

Aku sungguh lupa untuk bercermin.
Aku lengah dan sibuk menilai orang lain tanpa mengevaluasi diri sendiri. Sibuk menerima energi negatif dari orang lain tanpa sadar bahwa aku masih punya energi positif untuk dibagi. Aku lengah menangkap kebaikan dari orang lain namun lihai merasa kecewa atas kesalahannya.

Bukankah sejatinya kita sedang bercermin ketika melihat satu kesalahan pada saudara kita? Bisa jadi, rasa sakit yang kita ukir pada hatinya jauh lebih dalam daripada apa yang kita rasakan saat itu juga. Bisa jadi, ia yang saat itu torehkan luka justru sedang berusaha untuk jadi sosok yang lebih baik untuk kita. Bisa jadi, ia yang buat kita menangis sesenggukan malah sedang berbincang denganNya, tentang kita. Bukankah hudnuzhan akan membuat diri ini lebih tenang?

Maafkan aku.
Sungguh, maafkan aku.
Share: