Selasa, 22 November 2016

Kita perlu berhenti sejenak

Sudah hampir dua pekan terakhir rasanya ingin makan orang uring-uringan karena beban pikiran yang bercabang-cabang layaknya mind mapping kehidupan yang nggak ada habisnya. Mungkin ketika ketemu orang banyak langsung lupa seketika, tapi kalau sudah sendiri mulailah masa-masa "semedi", melamun tentang apa yang harus dilakukan kedepannya.


Baru kerasa sekarang, ternyata cinTA itu memang melelahkan. Bukan hanya tenaga, tapi pikiran juga terkuras habis untuk mikirin "gimana caranya menuntaskan tanggung jawab pada orang tua" yang satu ini. Sulit, apalagi harus membagi ruangan di otak dan hati untuk memikirkan hal lain yang jadi prioritas juga. Alhasil semua dipikirin (dipikirin doang, dikerjainnya ntaran aja) sampai lelah, sampai tubuh mengeluarkan sinyal-sinyalnya untuk berhenti, untuk istirahat sejenak.


Sejujurnya... tepat dua hari yang lalu saat rasanya ingin menyerah dan ingin menikah saja, aku minta sakit pada Allah. Saat itu kurang lebih aku bilang gini dalam hati "Ya Allah, aku udah ga kuat, aku minta sakit aja, sakit yang benar-benar sakit hingga orang-orang memaklumi aku kalau tanggung jawab ini ga selesai tepat waktu lagi". Iya, aku tahu ini hal yang bodoh. Biasanya aku tak kenal kata menyerah, tapi malam itu aku sungguh ingin menyerah setelah sebelum-sebelumnya juga terbersit rasa untuk menyerah.

Tapi Allah Maha Baik. Ia kabulkan doa itu, esoknya (benar-benar esok harinya setelah aku minta sakit) dada mulai sesak dan tumbanglah diri ini karena demam tinggi. Dan tahukah? Ini jadwal aku penelitian. Pilihannya cuma dua, benar-benar menyerah dan menjadi beban lagi atau lanjutkan perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Ya, aku memilih untuk lanjutkan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Dengan tubuh menggigil dan demam yang tinggi beserta teman-temannya, aku coba untuk kuatkan diri dan yakinkan diri bahwa segalanya pasti akan berlalu.

Aku sadar, meminta sakit adalah hal yang bodoh (tolong jangan ikuti di rumah). Kebayang nggak sih, untung cuma dikasih sakit begini, gimana coba kalau Allah kabulkan permintaan dengan "penyakit yang benar-benar sakit" itu? Tapi Allah tahu, Allah tahu aku mampunya menangung sakit yang begini aja. Allah sedang uji, apakah aku akan menyerah atau berjuang? Dan setelah memutuskan untuk berjuang, Allah beri kenikmatan berjuang ditengah berbagai himpitan masalah, alhamdulillah :')

Ketika segalanya terasa berat, kita perlu berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, kawan. Karena jarak solusi dari masalah adalah sedekat dahi kita dari tempat sujud.

Dan tak lupa, terimakasih banyak pada bidadari-bidadari tak bersayap, yang walau raga tak selalu nampak namun hati ini rasanya selalu dekat. Terimakasih sudah buat aku menyerah malam ini karena dimarahin rame-rame hanya karena sekedar malas makan. Tthx banget loh untuk seseorang yang dengan seenaknya aja membagikan informasi kredensial bahwa aku sedang malas makan ini -_-. Eh nggak deng, gitu-gitu juga beliau yang buat aku memilih untuk tetap berjuang.

Semoga semesta senantiasa mendukung agar amanah ini tuntas tahun ini, mohon doanya ya ^^
Share:

0 komentar:

Posting Komentar