Minggu, 27 November 2016

Ini aku yang terlalu kuno atau dunia memang sudah memaksa manusia untuk berubah?

Aku seringnya tak nyaman menghadapi saudara-saudara yang terjebak dengan cinta yang semu, karena menasihati dan dinasihati tentang cinta bukanlah hal yang mudah.
Aku tahu, sungguh aku tahu sekali bahwa diri ini pun jauh dari kata sempurna apalagi suci dari dosa. Bahkan mungkin diri ini jauh lebih berdosa dibandingkan mereka.
Tapi sekotor-kotornya diri dan hati ini, ada rasa sakit yang tak asing ketika melihat orang-orang terdekatku bermain-main dengan apa yang mereka sebut dengan cinta.

Benarkah itu cinta?
Bagaimana bisa mereka yakin bahwa apa yang menjerumuskan mereka adalah cinta?
Bagaimana bisa mereka begitu percaya diri bahwa ia yang senantiasa memberikan perhatian semu 24/7 adalah cinta?
Bagaimana bisa mereka merasa paham benar bahwa lelaki yang sejatinya tak punya hubungan darah dengannya itu berhak mengatur hidupnya atas nama cinta?
Bagaimana mungkin mereka merelakan prinsipnya, hatinya, bahkan tangannya untuk disentuh oleh seseorang yang mereka sebut itu cinta?
Bagaimana bisa mereka bangga bisa berfoto berdua bersandingan dengan lelaki yang selalu tampak gagah dan tercinta di matanya? Memandangi foto itu setiap malam dan mengaminkan agar mereka bisa memadu cinta di kehidupan selanjutnya?

Aku. Sungguh. Tak. Paham. Lagi.
Ini aku yang terlalu kuno atau dunia memang sudah memaksa manusia untuk berubah?

Aku sering mendengar kisah cinta, mulai dari yang semu hingga yang kisahnya begitu indah dan aktornya begitu bercahaya karena keimanan yang meledak-ledak dalam hati.

Ada yang terjebak dan menolak segala nasihat karena sang cinta terlalu indah di matanya.
Ada yang terjebak dan menerima nasihat, lalu besoknya kembali terjebak, lalu kembali, lalu terjebak lagi dan begitu seterusnya.
Tapi ada juga yang terjebak, namun tepat pada obrolan pertama ia memutuskan untuk kembali padaNya.

Dear, aku tahu ini berat. Urusan hati seperti ini memang tak akan pernah jadi ringan untuk kita.
Bahkan mungkin orang yang terlihat garang bisa saja menangis di sepertiga malam karena rasa sakit di hatinya yang disebabkan oleh "cinta".
Perasaan yang abstrak ini memang seringnya melemahkan, maka dari itu aku selalu terharu jika ada yang dengan begitu mudahnya berbalik memuarakan cinta padaNya. Mengikhlaskan segala nafsu dalam dada karena takut padaNya, meski sakit, meski sulit. Aku sungguh cemburu dengan bidadari-bidadari dunia seperti mereka :')

Ayo kita berubah bersama-sama. Membentengi diri dari sosok manusia yang bahkan memuliakan kesucian hati kita pun tak bisa. 

Bagaimana mungkin kita bisa yakin bahwa mereka (yang kita kira itu cinta) akan muliakan diri kita jika sekedar menjaga kesucian hati kita pun tak bisa?

Lupakan keshalihannya yang terlihat begitu memesona jika menahan dirinya untuk tidak "mengganggu" via chat saja tidak bisa. Semua ada batasannya dan apa-apa yang berlebihan selalu berakhir dengan tidak baik.

Dan tak lupa, kita akan kuat jika bersama. Semoga kita bisa senantiasa menjadi sosok yang hangat untuk saudara kita sendiri, hingga ia tak lagi membutuhkan rumah baru yang tak halal untuk hatinya.

ps:terimakasih untuk kalian, yang senantiasa mengisi hati ini dengan kehangatan ukhuwah yang luar biasa. Sungguh, kisah kita ini jauh lebih mengasyikkan untuk diarungi dan digali sampai habis masanya, daripada menelusuri labirin kisah yang semu.
Share:

1 komentar: