Jumat, 07 Oktober 2016

...

Jangan macem-macem. Udah, ikutin aja alurnya. Nanti kalau ga sesuai yang diharapkan, kamu yang ga akan kuat nanggung sendirian.

Ini semua rasanya jadi semakin serius, ya. Aku jadi semakin serius berpura-pura bahagia, begitu juga dengan kamu yang semakin hebat dalam menyembunyikan rasa, berpura-pura baik-baik saja setelah apa yang terjadi.

Bagiku, kau itu teman terbaikku. Kau, orang yang paling sering kutemui setelah keluargaku di rumah. Jadi sebenarnya percuma saja kalau kau pasang topeng dengan senyum terbaik, satu paket dengan kalimat "Aku nggak apa-apa kok, malas mikirinnya juga". Dear, aku tetap masih rasakan ada yang salah.

Kau mungkin tak tahu, saat itu aku tersungkur menangis hingga pukul 4.30 pagi karena merasa sangat bersalah padamu. Tepat setelah kamu ceritakan semuanya malam itu. Aku hancur, merasa begitu bodohnya telah berikan sumbangsih terbesar pada rasa sakitmu saat ini. Dan kau, dengan begitu bijaknya berkata bahwa kau lega jika aku ikhlas.

Aku harus bagaimana?
Jika lukamu yang ini terulang lagi, rasanya aku yang tak sanggup hadapi kenyataan, bukan kamu.
Aku yang tak tahan membayangkan perihnya luka yang harus kau sembuhkan lagi, bukan kamu.
Karena sendiri pun, kau tetap kuat. Aku tahu, kau akan tetap kuat. 
Aku yang tak sekuat itu.

Semoga Allah kuatkan pundakmu untuk hadapi segalanya. Seperti yang selalu kau bilang, "kita ikuti aja alurNya.."
Share:

0 komentar:

Posting Komentar