Jumat, 28 Oktober 2016

Sesuatu


Banyak orang mengeluhkan tak punya teman yang bisa jadi sandaran ketika butuh, tapi nggak sadar, kamunya udah jadi teman yang bisa jadi sandaran belum?


Banyak orang yang sedih karena tak punya teman yang bisa ajak ke jalan kebaikan, tapi nggak sadar kalau dirinya memang lebih asyik berkecimpung dengan komunitas gaulnya.

Banyak orang yang ketika sedang dirundung masalah merasa bahwa temannya tak ada yang setia, menganggap mereka hanya menumpang payung ketika hujan dan hilang ketika hujan reda. Tapi kau yakin tak jadi teman yang hanya menumpang payung orang lain saja?


Karena beginilah hidup bukan?
Kita akan ditemukan dengan orang-orang yang sebenarnya adalah cerminan diri kita.


Jika boleh jujur, terkadang aku pun mengeluh tentang ukhuwah. Rasanya memang menyakitkan ketika angan tentang kisah ukhuwah yang begitu menggugah seakan hanya manis diujung lidah belaka. Kemana itsar yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah di jamannya?

Tapi tidak, mataku tertutup atas jutaan kebaikan mereka oleh sedikit kesalahan yang dengan khilaf ia  (baca : partner sehari-hariku) lakukan, sungguh sedikit saja.

Aku dengan mudahnya marah saat ia meng-cancel agenda, tapi aku lupa bahwa ia selalu memaafkan diri ini dengan begitu sederhana sebesar apapun kesalahannya.

Aku kecewa saat merasa bahwa ia tak peduli, sering lupa bahwa beberapa kali ia meminta switch tempat tidur dengan alasan "kasian dingin dibawah".

Aku sering protes dengan tidak pekanya ia, tapi aku terlupa bahwa ia hafal makanan yang tak bisa aku makan, daftar penyakit yang sering kambuh dan kebiasaanku yang lupa mengunci pintu kosan yang bahkan bisa jadi orang tua-ku pun sudah tak sehafal ini.

Aku sering kesal dengan tingkahnya yang sulit diatur, tapi sungguh aku lupa bahwa ia satu-satunya yang tahan dengan kebawelan tingkat tinggi ini. Ia hanya protes sambil tertawa, tanpa sekalipun marah karena aku melanggar privasinya.

Aku sering meminta pada Allah untuk dititipkan saudara yang baik dan bisa saling menjaga, tapi aku sungguh lupa bahwa ia-lah yang setia mengingatkan selama ini. Lupa bahwa justru bisa jadi ia yang Allah titipkan, ia yang jadi jawaban doa selama ini.

Sekarang aku sadar, bahwa memiliki seseorang yang paham akan diri kita adalah "sesuatu".
Punya orang yang tahu persis kita sedang marah dan butuh waktu untuk tenang, bahkan dengan sabarnya mau jadi pelampiasan adalah "sesuatu".
Punya orang yang selalu protes dengan bawelnya kita juga "sesuatu".
Dikelilingi oleh orang yang bahkan tak tega melihat kita kedinginan juga "sesuatu".
Dilindungi oleh seseorang yang tahu kelemahan kita itu "sesuatu".

Dan sesuatu ini tak harus ditemui dengan cara yang tak benar atau melawan ketentuanNya.
Coba buka matamu, "sesuatu" ini setia ada di sisimu. Entah di tempat yang kau singgahi 7 hari dalam seminggu atau di tempat lainnya yang mungkin luput dari perhatianmu.

Atau kau masih yakin bahwa kau tak punya "sesuatu" tersebut?
Maka jadilah "sesuatu" itu.
Share:

Jumat, 07 Oktober 2016

...

Jangan macem-macem. Udah, ikutin aja alurnya. Nanti kalau ga sesuai yang diharapkan, kamu yang ga akan kuat nanggung sendirian.

Ini semua rasanya jadi semakin serius, ya. Aku jadi semakin serius berpura-pura bahagia, begitu juga dengan kamu yang semakin hebat dalam menyembunyikan rasa, berpura-pura baik-baik saja setelah apa yang terjadi.

Bagiku, kau itu teman terbaikku. Kau, orang yang paling sering kutemui setelah keluargaku di rumah. Jadi sebenarnya percuma saja kalau kau pasang topeng dengan senyum terbaik, satu paket dengan kalimat "Aku nggak apa-apa kok, malas mikirinnya juga". Dear, aku tetap masih rasakan ada yang salah.

Kau mungkin tak tahu, saat itu aku tersungkur menangis hingga pukul 4.30 pagi karena merasa sangat bersalah padamu. Tepat setelah kamu ceritakan semuanya malam itu. Aku hancur, merasa begitu bodohnya telah berikan sumbangsih terbesar pada rasa sakitmu saat ini. Dan kau, dengan begitu bijaknya berkata bahwa kau lega jika aku ikhlas.

Aku harus bagaimana?
Jika lukamu yang ini terulang lagi, rasanya aku yang tak sanggup hadapi kenyataan, bukan kamu.
Aku yang tak tahan membayangkan perihnya luka yang harus kau sembuhkan lagi, bukan kamu.
Karena sendiri pun, kau tetap kuat. Aku tahu, kau akan tetap kuat. 
Aku yang tak sekuat itu.

Semoga Allah kuatkan pundakmu untuk hadapi segalanya. Seperti yang selalu kau bilang, "kita ikuti aja alurNya.."
Share:

Selasa, 04 Oktober 2016

.

Waktunya sudah dekat. Dan kisah ini, akan segera menjadi lagu untukku sendiri.
Tapi bukankah seharusnya aku bahagia? Seharusnya malam ini aku menangis penuh rasa syukur.
Namun apalah ini, aku malah mengeluarkan banyak energi untuk menahan tangis... karena sakit,

Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku, Yaa Rabb..
Share: