Jumat, 30 September 2016

Tulisan Emosi (2)

Them.

Aku percaya, setiap orang punya tugas dan peran masing-masing dalam satu lingkaran persaudaraan. bahkan yang besar sekalipun. Ada yang bertugas sebagai leader, ada yang harus dilindungi, ada yang bertugas untuk tegas mengingatkan, ada yang tersenyum riang sepanjang hari, ada yang harus dikuatkan, ada yang memberi perhatian dan lain sebagainya.

Dan untukku, tak perlu semua orang punya level perhatian atau kekhawatiran yang sama. Bisa gonjang-ganjing dunia jika semua punya level kekhawatiran se-berlebihan diri ini. Dan aku pun selalu yakinkan diri ini bahwa aku, tak butuh perhatian semacam ini. Aku butuh mereka untuk tetap baik-baik saja. Aku sungguh butuh mereka dalam kondisi terbaik mereka. Tidak sakit dan tidak kurang apapun jua. Aku butuh merasa tenang dengan melihat mereka baik-baik saja. Bagiku, cukup aku lakukan tugasku untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja. 

Mungkin, ada yang salah dengan semua ini. Ada perhatian yang salah arah. Ada kekhawatiran yang justru mengancam kebebasan mereka. Ada tindakan-tindakan dibawah alam sadar yang membuat mereka merasa terbatasi.

Maafkan aku. Jelas aku egois sekali saat ini. Aku hanya bisa lakukan yang terbaik alias menjaga mereka hingga segalanya terlihat baik-baik saja dimataku. Aku mau lakukan apapun agar mereka berada dalam kondisi baik-baik saja, atau bahkan dalam kondisi terbaik.

Sekali lagi, aku butuh merasa tenang dengan melihat mereka baik-baik saja.

Mungkin ini semua bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri yang egois tak terkira ini. Aku tahu jelas, aku tak bisa tanpa mereka. Maka sudah selayaknya aku menjaga apa yang pada nyatanya hanya dititipkan padaku. Aku bertindak seakan-akan semua ini untukku. Aku tak siap, tak pernah siap jika tiba-tiba mereka hilang. Padahal apalah hak diri ini untuk menahan mereka disini? Nol. Nihil.

Sejatinya aku lupa, bahwa kita sesekali perlu merasa tidak baik-baik saja. Bahwa terkadang, ketidak baikan ini akan menjadi satu kebaikan tersendiri untuk kita.

Kita perlu momen sesak penuh sepi untuk bisa mendekat padaNya, bukan?

Maka izinkan aku untuk memohon maaf pada mereka, pada kalian yang mungkin sering merasa terkekang dengan aturan-aturan tak resmi yang notabene sering keluar dari mulut ini. Aku bukan orang baik, semoga Allah sibukkan diri ini agar terus menjadi lebih baik.

Sungguh, maafkan aku. 

Semoga rasa cinta ini tak lagi salah arah, hingga ketika saatnya kau dan kau dan kau pergi bahkan tak ada satupun yang tersisa lagi, maka ikhlas akan tetap memenuhi hati ini. Aku sungguh mencintai kalian semua, tapi aku masih tak tahu harus bagaimana agar cinta ini tak jadi satu hal yang mengikat sayapmu untuk terbang. Maafkan aku.


Ditulis ditengah-tengah gelombang perasaan bersalah pada banyak orang, pada adik-adik, pada kakak-kakak, mungkin pada semuanya. Ah, aku lupa, gelombang rasa sakit dalam ulu hatiku juga masih belum menghilang.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar