Sabtu, 10 September 2016

Karena mereka adalah seorang kakak

"Afwan saya terlambat, baru pulang dari kantor. Sudah sampai mana bahasannya?" ucap seseorang dalam sebuah grup. Lalu mulailah ia sampaikan ide-ide briliannya. Tak lupa ia tanyakan kabar adik-adiknya. Kecintaannya pada mereka sungguh terlihat, meski kesempatannya untuk sekedar bertemu dengan adik-adiknya sudah terenggut, cintanya masih tak berkurang sedikitpun.


Dan ia adalah seorang kakak.


===

"Alhamdulillah, akhirnya hari ini mereka datang mentoring. Aku seneeeeng banget liat mereka datang" ujarnya setelah selesai mengisi mentoring. Kau tahu berapa yang datang? Tiga orang. Dan ia bahagia seakan-akan tiga puluh orang datang pada pertemuan itu.

Di sela-sela kesibukannya, ia sempatkan untuk main ke masjid. Ia singkirkan sejuta kesedihannya demi melihat adik-adiknya tertawa bersamanya.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Hari itu, ia sedang jatuh sakit. Tubuhnya demam tinggi dan menggigil. Membuka matanya pun tak sanggup, apalagi harus bangun dari tidurnya.

Lalu siangnya ia terperanjat, membaca sms di handphonenya yang mengabari bahwa ada adiknya yang pingsan di sekolah. Ia panik, ia coba hubungi siapapun yang bisa dihubungi untuk memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja. Ia menyesal mengapa hari itu tak memaksakan diri ke sekolah. Ia pikir, setidaknya jika ada ia, maka adiknya yang pingsan tersebut bisa ia temani di UKS.

Ia lupa bahwa untuk berdiri pun, ia tak sanggup.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Dalam sebuah kondisi, sekumpulan orang sedang sibuk menyusun rencana karena ada sebuah kesalahpahaman besar yang disebabkan oleh adiknya. Mereka tak sampai hati jika harus melimpahkan tanggungjawab pada adik tersebut seorang diri. Karena apapun yang terjadi, adik tersebut tetaplah adik mereka.

Sedangkan adiknya tak tahu, bahwa ada yang harus menanggung kecerobohannya. Bahkan bisa jadi ia tak sadar kecerobohan apa yang sudah ia perbuat juga akibat yang harus ia tanggung. Ia tak akan tahu, karena sudah ada orang lain yang menanggungnya, kakaknya sendiri.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Ada seseorang yang hingga saat ini sudah tak menampakkan batang hidungnya. Namun setiap bulan masih rutin mengirimkan uang yang ia sisihkan dari uang jajannya untuk membantu adik-adiknya yang terhambat masalah ekonomi, maupun untuk kepentingan agenda dakwah adik-adiknya. Ia rela mengurangi jatah makannya untuk mereka.

Ia masih terus rutin melakukannya, meski tak ada satupun adiknya yang tahu tentang ia, bahkan sekedar mengenal namanya.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

"Guys, adik A lagi kena musibah kehilangan barang nih. Ayo kita bantu bareng-bareng." begitu bunyi jarkoman seseorang di sebuah grup. Ia tidak bercanda, selama dua hari penuh ia coba untuk kumpulkan donasi dari banyak orang yang mengenal adik A tersebut. Dan tahukah kamu? Uang sebanyak itu terkumpul dalam waktu 48 jam. Ia singkirkan ego dan rasa malunya demi lihat adiknya tersenyum lagi tanpa beban yang berat.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil kedinginan. Jaket tebal yang mereka bawa sudah mereka pakaikan pada adik-adik yang tak membawa jaket. Begitu juga dengan payung dan jas hujannya yang sudah menyebar entah di barisan ikhwan atau akhwat. Dalam derasnya hujan, mereka terus memandu barisan untuk bisa pulang dengan aman dari hutan yang cukup lebat.

Mereka panik, takut adik-adik mereka sakit. Mereka lupa akan kaki yang hampir kram di tengah jalan. Mereka coba hilangkan pening di kepalanya yang terus dipenuhi kebingungan yang luar biasa. Mereka tak peduli akan luka di lutut mereka karena terjatuh di jalan, demi memastikan bahwa adik-adiknya baik-baik saja.

Mereka terdiam, dalam hati terus berdoa agar Allah jaga adik-adiknya. Mereka sungguh sudah tak peduli akan diri mereka sendiri. Sepulang dari sana, mereka menyusun permohonan maaf karena tak begitu baik menjaga adik-adiknya. Mereka begitu merasa bersalah melihat adik-adiknya harus menerjang hujan yang lebat selama itu.

Dan mereka adalah seorang kakak.

===

"Aku paling ga suka kalau ada kakak-kakak. Mereka itu..."

Begitu ujar adik-adik. Mungkin matanya terhalang dari sejuta kebaikan, karena satu kesalahan manusia bernama "kakak" yang terlahir dari ibu yang berbeda.

Kamu, kalian, sungguh boleh hancurkan aku. Tapi tidak dengan mereka yang ada pada kisah-kisah nyata diatas. Mereka adalah kawan-kawan terbaikku, kakak-kakakmu.
Seandainya kau tahu lima puluh persen saja cinta mereka padamu, maka kau tak akan sanggup menanggungnya. Percaya padaku.




Aku tak peduli, silahkan sakiti aku. Sungguh, aku bahkan rela jika harus ada makian padaku. Aku rela menerima segala macam tuduhan tak berarah. Aku rela jika harus dilempar dengan segala macam kesalahpahaman. Aku siap pergi KAPANPUN, jika memang perbaikan sudah pasti akan hadir jika aku tak ada.
Tapi jangan sentuh adik-adikku, yang seharusnya juga adikmu, adik kalian semua. Jangan sekali-kali buat mereka menangis lagi. Karena aku... jauh lebih sakit jika mereka yang sakit.
Sekian dan terimakasih.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar