Jumat, 30 September 2016

Tulisan Emosi (2)

Them.

Aku percaya, setiap orang punya tugas dan peran masing-masing dalam satu lingkaran persaudaraan. bahkan yang besar sekalipun. Ada yang bertugas sebagai leader, ada yang harus dilindungi, ada yang bertugas untuk tegas mengingatkan, ada yang tersenyum riang sepanjang hari, ada yang harus dikuatkan, ada yang memberi perhatian dan lain sebagainya.

Dan untukku, tak perlu semua orang punya level perhatian atau kekhawatiran yang sama. Bisa gonjang-ganjing dunia jika semua punya level kekhawatiran se-berlebihan diri ini. Dan aku pun selalu yakinkan diri ini bahwa aku, tak butuh perhatian semacam ini. Aku butuh mereka untuk tetap baik-baik saja. Aku sungguh butuh mereka dalam kondisi terbaik mereka. Tidak sakit dan tidak kurang apapun jua. Aku butuh merasa tenang dengan melihat mereka baik-baik saja. Bagiku, cukup aku lakukan tugasku untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja. 

Mungkin, ada yang salah dengan semua ini. Ada perhatian yang salah arah. Ada kekhawatiran yang justru mengancam kebebasan mereka. Ada tindakan-tindakan dibawah alam sadar yang membuat mereka merasa terbatasi.

Maafkan aku. Jelas aku egois sekali saat ini. Aku hanya bisa lakukan yang terbaik alias menjaga mereka hingga segalanya terlihat baik-baik saja dimataku. Aku mau lakukan apapun agar mereka berada dalam kondisi baik-baik saja, atau bahkan dalam kondisi terbaik.

Sekali lagi, aku butuh merasa tenang dengan melihat mereka baik-baik saja.

Mungkin ini semua bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri yang egois tak terkira ini. Aku tahu jelas, aku tak bisa tanpa mereka. Maka sudah selayaknya aku menjaga apa yang pada nyatanya hanya dititipkan padaku. Aku bertindak seakan-akan semua ini untukku. Aku tak siap, tak pernah siap jika tiba-tiba mereka hilang. Padahal apalah hak diri ini untuk menahan mereka disini? Nol. Nihil.

Sejatinya aku lupa, bahwa kita sesekali perlu merasa tidak baik-baik saja. Bahwa terkadang, ketidak baikan ini akan menjadi satu kebaikan tersendiri untuk kita.

Kita perlu momen sesak penuh sepi untuk bisa mendekat padaNya, bukan?

Maka izinkan aku untuk memohon maaf pada mereka, pada kalian yang mungkin sering merasa terkekang dengan aturan-aturan tak resmi yang notabene sering keluar dari mulut ini. Aku bukan orang baik, semoga Allah sibukkan diri ini agar terus menjadi lebih baik.

Sungguh, maafkan aku. 

Semoga rasa cinta ini tak lagi salah arah, hingga ketika saatnya kau dan kau dan kau pergi bahkan tak ada satupun yang tersisa lagi, maka ikhlas akan tetap memenuhi hati ini. Aku sungguh mencintai kalian semua, tapi aku masih tak tahu harus bagaimana agar cinta ini tak jadi satu hal yang mengikat sayapmu untuk terbang. Maafkan aku.


Ditulis ditengah-tengah gelombang perasaan bersalah pada banyak orang, pada adik-adik, pada kakak-kakak, mungkin pada semuanya. Ah, aku lupa, gelombang rasa sakit dalam ulu hatiku juga masih belum menghilang.
Share:

Rabu, 28 September 2016

Sepotong hati yang hilang

Sumber

Pekan ini kembali jadi pekan gloomy (yhaa blog ini akhirnya jadi blog galau lagi setelah sok asik nulis catatan travelling -_-), gimana ga gloomy kalau orang-orang terdekat jatuh sakit :'(

Dari dulu, duluuuuu banget, diri ini paling ga sanggup liat orang-orang terdekat sakit. Entah itu di rumah atau saudara-saudara seperjuangan, adik-adik, siapapun deh yang memang sudah tinggalkan jejak di hati. Rasanya aneh aja gitu, yang biasanya bercanda tiap hari di grup jadi tiba-tiba sepi. Yang biasanya makan ga perlu di reminder, jadi khawatir banget kalau mereka belum makan.

Sama kaya kemarin, paginya dapat kabar yang isinya minta maaf karena harus cancel agenda bareng pagi itu, katanya beliau tiba-tiba sakit. Dan sebenernya mulai deg-degan pas jam 10 pagi belum ada kabar lagi. Ini nih, ini dia yang masih bikin bingung sampai sekarang. Terkadang suka dapet feeling khawatir ga menentu gitu. Dan biasanya ini feeling ga hanya sekedar feeling, tapi beneran ada apa-apa :(
Yap, tiba-tiba sorenya tahu kalau beliau sampai diinfus. Waaah, kaget, hampir-hampir telfon mamanya dan rasanya ingin langsung ke rumahnya saat itu juga (jangan ditiru kegegabahan ini, haha). Masih ga tega rasanya ketika beliau bilang sakit atau sulit makan, atau lihat wajah pucatnya. Padahal biasanya aku gangguin tiap hari. Ah ga tega pokoknya. Tapi aku tahu kamu kuat, sebentar lagi penyakitmu akan hilang. Toh tadi bahkan kita bisa diskusi berjam-jam bukan? Sabarlah sebentar, sungguh sebentar lagi (Sepertinya justru ini nasihat untukku, ya).

Beneran deh, kita harus bersyukur atas nikmat sehat yang Allah kasih pada kita, atau orang-orang terdekat kita. 

Karena setiap pancaran kebahagiaan dari wajah mereka, menular pada kita juga bukan? Dan bukankah dengan mereka ada dan baik-baik saja kita jadi merasa tenang?

Dulu juga pernah, semalaman uring-uringan karena tumben-tumbennya nungguin kabar dari seorang adik, bahkan sampai bikin tulisan sedih banget padahal gatau kenapa sedihnya. Biasanya feeling gini tuh hilang setelah tidur, eeeh subuh tetep khawatir bahkan sampai siang juga tetep khawatirin dia. Tiba-tiba siangnya dapat sms "Maaf kamandeu, aku kecelakaan semalem. Maaf ga bisa ikut rapat ini". Deg. Langsung saat itu juga percepat rapat dan pergi ke rumahnya. Hancur sekali lihat kondisinya saat itu, rasanya ingin gantikan posisinya. Karena tetap sih, aku lebih sakit kalau lihat mereka sakit.

Pernah juga tiba-tiba ingin bertemu seorang teteh dulu, sampai tumben banget keliling daci biar memperbesar kemungkinan ketemu. Dan tahukah? Teteh tsb. ternyata sakit cukup parah dan ga masuk sekolah berminggu-minggu. Dulu sampai nengok rame-rame banget konvoi angkot dan motor, sampe ada acara baca puisi juga sambil nangis bareng-bareng. Kadang suka lucu kalau inget, akhwat angkatan kita kok baperan banget ya guys. Ih jadi kangen deh :')

Feeling gini juga ga cuma dirasain sendiri lho. Dulu (lagi-lagi bahas masa lalu), setelah upacara selesai, aku dan seorang kawan tiba-tiba ingin jalan-jalan kedepan lab fisika. Tahukah kamu? Ternyata ada seorang adik kita tercinta pingsan di kelasnya pas banget kita lagi lewat. Tanpa pikir panjang langsung berdua masuk ke kelasnya dan gotong dia ke UKS. Kebetulan kah? Engga, ini pasti rencana Allah.

Pernah juga bersama kawanku satu lagi, tiba-tiba kita khawatirin seorang adik ditengah pelajaran biologi. Tiba-tiba muncul SMS dari teman sekelas sang adik yang bilang kalau sang adik kambuh asmanya dan lumayan parah. Langsung kita izin ke WC padahal lari ke UKS dan ga balik-balik lagi sampai akhir pelajaran, haha. Akhirnya nganter sampai rumah beliau dan nyeker ga pakai sepatu karena lupa ga pakai sepatu dari UKS (Lagi-lagi jangan tiru kebodohan kami ini). Karena ga bawa sepatu itu, akhirnya dijemput sama bidadari-bidadari penghuni NI, mana hujan-hujanan lagi. Kurang so sweet apa? :') LAH KOK INI JADI FLASHBACK YAK.

Sekarang, salah seorang kawan terbaikku, yang dulu kerjaannya gotong-gotongin adik-adik yang pingsan juga sedang sakit. Aku coba untuk tolak sebuah pemikiran bahwa sakitnya kali ini memang parah. Tapi sejenak ada keyakinan bahwa Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. 

Memang, ada rasa perih dalam hati ketika lihat kau menangis tempo hari seraya berkata bahwa kepalamu begitu sakit. Tapi kamu adalah orang yang kuat, aku tahu itu. Ibumu bilang kamu itu kuat. Ayahmu juga. Lalu apa yang membuatku pantas merasa pesimis atas penyakitmu? Kamu pasti sehat, sebentar lagi. Aku mohon, sabarlah sebentar lagi, kawan. Maafkan aku lalai berbulan-bulan ini. Sibuk dengan amanahku sampai lupa bahwa saudaraku, amanahku.

Jadi mari kita pejamkan mata sejenak, bersyukur atas nikmat sehat yang Allah beri pada kita dan pada orang-orang di sekitar kita. Jangan pelit, berikan doa terbaikmu untuk mereka yang sedang sakit. Oh ya kawan, aku titip doa terbaik untuk mereka ya. Rasanya sepotong hatiku hilang jika terus begini.


*Aku tahu, tulisan ini berantakan bangeeet. Jenis tulisan kaya gini akan muncul kalau sedang sedih tapi bingung salurkannya gimana. Meski begitu, menulis itu melegakan, separah apapun tulisannya. Alhamdulillah..
Share:

Senin, 19 September 2016

Catatan Backpacker Tiga Negara Malaysia, Thailand dan Singapore (Part 1 : Malaysia - Thailand)



Setelah beberapa bulan ini blog isinya tulisan galau semua, alangkah baiknya mulai kristalkan memori perjalanan kemarin kali ya. Tadinya mau tulis dulu yang jogja (lagi), tapi karena perjalanan yang ini lebih rumit kayanya mending kejar tayang ini dulu hehe.

Yap, bermula dari Tante yang beli tiket promo Air Asia pada September 2015 lalu dipenuhi dengan drama-drama kehidupan yang bikin aku yakin buat cancel trip ini, tapi endingnya Allah takdirkan untuk tetep berangkat. Packing seadanya banget dan tenang banget, malah rasanya lebih rusuh pas packing ke jogja. Mungkin karena persiapannya cuma buat diri sendiri aja kali ya, ga ngerasa nanggung hidup orang lain jadi lebih enjoy, toh kalau kurang kan yang rugi cuma diri sendiri haha.

Packing buat tujuh hari ini bisa dibilang ga begitu ribet sih. Bersyukur banget ga bawa banyak baju, ternyata backpackeran itu ga bisa sok idealis mandi dua kali sehari (Tips 1 : Asumsikan satu hari cukup satu stel pakaian, bawahan rok bisa dipakai lebih dari satu kali). Meski seadanya, jangan lupakan barang-barang dibawah ini ya guys :

  1. Charger HP, Kamera, dsb
  2. Colokan universal (Kalau negara tujuan singapura/malaysia/thailand bisa beli yang tiga lubang) Seandainya lupa beli, bisa beli di malaysia seharga 5 RM (Sekitar 15 ribu)
  3. Tisu (Basah/Kering)
  4. Obat-obatan pribadi
  5. Handuk kecil
  6. Fotocopy Passport
  7. Goody Bag (yang tipis aja, ga perlu terlalu besar)
Yakin deh barang-barang diatas bakal kamu butuhin disana. Karena rugi juga kalau mesti beli di negara tujuan, kadang harga turis jadi lebih mahal guyss. Oh ya, kemarin aku bawa satu koper dan satu ransel. Koper disimpan di penitipan koper, nah ranselnya nemenin jalan-jalan deh. Tapi kalau boleh milih sih lebih milih pakai carrier aja daripada koper, beraaaaat geret-geret dijalan, mending digendong kemana-mana T__T (Tips 2 : Sesuaikan jenis tas dengan rencana perjalanan)


Teman setia sepanjang perjalanan
Oke balik lagi ke cerita backpacker, jadi sampai di Kuala Lumpur sekitar jam 10.45 di Bandara KLIA2 dan langsung cuss ke KL Central dengan bis-bis yang berjajar di gate keluar. Tiket bisa dibeli di counter ticket bis seharga 11 RM (Sekitar 33 ribuan). Bisnya sekelas bis pariwisata di Indonesia kok, bisa dibilang nyaman lah ya. Perjalanan ke KL Central sekitar 60 menit (Agak macet).

Sesampainya di KL Central, kita naik bis dalam kota (aduh apa ya namanya? -_-) tujuan ke puduraya buat titip koper (Koper besar perhari 3 RM). Tapi ini kesalahan pertama, untuk kamu yang mau langsung berangkat ke Thailand via jalur darat, lebih baik titip koper langsung di TBS (Terminal Bersepadu Selatan. Btw ini terminal besar banget hehe). Belum tau sih berapa harganya, tapi yang jelas ini bisa hemat waktu banget (Tips 3 : Cari info sebanyak-banyaknya tentang penitipan tas di tempat yang kamu tuju). 

Setelah titip tas di puduraya, istirahat gelindingan bentar di mesjidnya. Nah ini yang aku cinta dari Malaysia, hampir semua masjid/musholanya bener-bener terpisah ikhwan-akhwat (mana bersih dan ber-ac lagi), jadi buat kita para akhwat bener-bener bisa enjoy disana. Bisa istirahat juga ngadem-ngadem cantik hehe.

Setelah istirahat dan makan bekal (backpackeran itu harus irit guys), kita langsung berangkat ke TBS untuk menuju ke Hatyai - Thailand. Waktu itu kita pakai Konsortium Bus seharga 58,5 RM (Sekitar 176k). Ini bis asli nyamaaaan banget, space kursinya luas dan ada sandaran kakinya, di sebelah kanan ada charger USB, selain itu ada wifi on board juga looh. Kita berangkat pukul 23.00 dari TBS dan sampai di Hatyai pukul 09.00 pagi. (Tips 4 : Perhatikan perbedaan waktu setiap negara, Thailand sama dengan Indonesia).


Interior Konsortium Bus
Oh ya, selain by bus, bisa juga pakai kereta (KTM), ada yang tipe kursi biasa dan ada juga sleeper train (pake kasur gitu deh), tapi perjalanan jauh lebih lama katanya. Tentang ini bisa browsing pengalaman orang yaa, masih penasaran juga soalnya hehe.

Selama perjalanan, bis beberapa kali berhenti untuk nurunin penumpang. Dan sekitar jam 5.30, bis berhenti di Changloon, disini abang-abang supirnya minta kumpulin passport buat didata gitu deh untuk keperluan di imigrasi nanti. Setelah sekitar 30 menit berhenti, bis mulai jalan lagi dan masuk ke perbatasan Malaysia di Bukit Kayu hitam. Disini kita harus turun untuk cek paspor, antriannya ga begitu panjang kok dan lumayan cepat juga.

Ujian besar itu datang di perbatasan Thailand - Sadao (10 menit dari perbatasan Malaysia tadi). Ga ngerti lagi ini border kenapa bisa seramai itu, antrian juga semrawut deh banyak yang asal nyerobot gitu. Cuma di kedua perbatasan ini enjoy sih ga ada masalah tertentu, ga kaya di perbatasan Singapura yang rada ribet (ceritanya menyusul di part 2). Setelah antri sekitar 1,5 jam barulah bisa terlepas dari dekapan antrian tak berujung ini.

 Ramainya perbatasan Thailand-Sadao :"
Alhamdulillah, meski tinggal aku dan tante berdua di bis, abang supirnya ga ninggalin (lagi-lagi ga kaya perjalanan ke singapura, haha). Meski abang supirnya kalau ngomong kaya lagi ngajak duel, tapi hatinya baik :3

Setelah dari border Thailand, kita dibawa lagi untuk menuju Hatyai. Perjalanan sekitar 1 jam dari perbatasan dan jalannya mulussss, belum lihat jalan bolong-bolong selama backpackeran ini hehe. 

Dan akhirnya sampailah kita di Hatyai, Thailand!
Kita turun pas di depan counter bis Konsortium, tepatnya di dekat Kim Yong Market. Karena kita ga berencana nginep disini, kita langsung beli tiket pulang termalam (jam 7 malam) untuk balik ke KL. Harga tiket pulangnya 450 Baht (180k).

Counter Konsortium Bus
Kalau aku pribadi excited gitu disini, dibanding malaysia dan singapura rasanya Hatyai ini lebih kerasa budaya negaranya. Selain bahasanya yang bikin kita pengen pake bahasa kalbu aja daripada berusaha ngartiin, lingkungannya juga asik karena terasa masih asing kali ya.
Mungkin yang harus diperhatikan disini tuh MAKANAN, karena tulisan Thailand meringkel-ringkel entah apa artinya, kita jadi sama sekali ga bisa baca menu yang dia sediakan. Jadi, wajib banget buat muslim untuk tanya dulu ke penjualnya "No Pork? ". Amannya sih tanya aja ke warga disana "Halal Food" dimana, alhamdulillah kemarin ada yang nunjukkin tempat makan tom yum halal gitu, yang jualnya juga berjilbab jadi tenang makannya dan santai aja kalau kamu mau asal tunjuk menu haha. Harganya juga cukup terjangkau sih, satu porsi tom yum sekitar 100 THB (40 ribu rupiah) dan bisa untuk makan berdua-bertiga. Thai tea satu gelas besarnya seharga 8000an.

Seafood Tomyum

Yap, makanan disini emang ga begitu mahal. Cukup keluarkan uang 10k juga udah cukup sebenernya. Sosis bakar dan makanan-makanan berbahan dasar ikan disini cuma 150 Baht (6k), kalau di Indonesia bisa sampe 15k kan ya :( Jadi sekali lagi, di Thailand ini asik buat..... MAKAN!

Lupa nama nasinya apa, yang jelas enak deh.

Snack murmer 6000an

Di thailand selain wisata kuliner yang asik, tempat wisatanya juga asik karena free hehehe. Jadi disana kita sewa tuktuk (semacam angkot terbuka lah ya) yang sebenernya muat buat bersepuluh, agak rugi juga sih nyewa berdua. Ini kudu nego banget, kalau ga nego bisa kena charge gede bangeet. Dengan tujuan ke taman Hatyai (di taman ini banyak objek wisatanya, ada cable car juga tapi ga sempet nyoba kemarin), Wat Hat Yai Nai dan Diana Plaza harganya 400 THB (160k). Mungkin sekitar 5 jam sewa kali ya. (Tips 5 : Supir tuktuk disini jarang bisa bahasa inggris/melayu, jadi pakai kalkulator hp/tulisan untuk tawar harga ya!)

Hatyai Municipal Park
Wat Hat Yai Nai (Ini tante btw -_-)
Masih Wat Hat Yai Nai

Untuk referensi tempat wisata bisa lihat disini.

Sekali lagi, seluruh tempat wisata yang aku kunjungi di Hat yai ini gratisss. Cable car kabarnya sekitar 200 THB (80k). Agak rugi juga kalau buat aku, mending buat beli oleh-oleh hehehe. Taman Hatyai itu semacam areal hutan gitu jadi adeem, enak buat istirahat (dan mandi) hehe. Bagi para backpacker yang mau mandi bisa pakai toilet di bawah counter ticket cable car. Sepi dan lumayan bersih, ada lahan kosong yang bisa dipakai buat shalat juga. Perjalanan jauh kan tidak menggugurkan kewajiban kita untuk shalat ^^

Masih Hatyai Municipal Park

Bagi yang ingin tahu tentang taman hatyai (Hatyai Municipal Park) bisa browsing ok atau klik ini.

Setelah mandi dan keliling-keliling Kim Yong Market buat beli oleh-oleh (Tips 6 : Jangan beli coklat! Pedagang coklat di pasar ini bilang kalau semua coklat disini ngambilnya dari Malaysia. Jadi mending beli langsung di Malaysia aja, lebih murah jatuhnya. Usul sih beli jamur buat tom yum, disini harganya murah), kita nunggu bis sambil lihat pameran gitu didepan Lee Garden Plaza (Salah satu mall besar yang jadi icon Hatyai). Kalau cape juga bisa istirahat di mall ini, banyak spot kursi-kursi yang sepi gitu di lantai atas, bisa sambil charge gadget juga hehe.

Setelah istirahat bentar, langsung menuju counter bis konsortium lagi buat wudhu dan shalat maghrib. Ruang tunggunya lumayan banyak dan ada toilet gratis (bisa mandi juga disini). Duh jiwa saya memang jiwa penyuka gratisan, haha.

Perjalanan pulang lancar, turun juga dua kali di border Thailand dan Malaysia. Alhamdulillah border pulang ini ga seganas pas datang, cenderung cepat jadi harus lari-lari karena takut ditinggal bis. Hal lain-lain juga lancar kok. Lama perjalanan Hatyai - KL (TBS) sekitar 10 jam. Sesampainya di KL sambil nunggu bis mulai beroperasi menuju hotel di chinatown, kita shalat subuh dulu di TBS (Subuh di Malaysia mulai jam 6an btw). Oh ya, dari TBS ini buat menuju pusat kota bisa pakai bis dalam kota atau LRT, monggo pilih nyamannya yang mana. Kalau saya pribadi memang lebih suka di LRT, tapi serius deh masih bingung sama LRT KL, perpindahan antar LRT nya itu bikin gempor bangeet, harus naik turun tangga gitu. Atau karena belum ngeh jalurnya kali ya? Tapi entahlah, soalnya kalau di singapura jalur MRT nya rapi banget, jadi ga perlu nanya juga ga akan nyasar hehe. (Tips 7 : Usahakan sudah pelajari jalur LRT/MRT biar ga kebingungan nanti)

Sekian kisah Backpacker tiga negara part Hatyai - Thailand, insyaAllah part selanjutnya akan segera ditulis. Seandainya ada yang butuh informasi dari saya yang juga masih newbie ini bisa tanya di kolom komentar ya, tinggalkan email juga agar bisa dibalas via email ^^

===Selalu ada kisah dari setiap perjalanan===
Share:

Sabtu, 10 September 2016

Karena mereka adalah seorang kakak

"Afwan saya terlambat, baru pulang dari kantor. Sudah sampai mana bahasannya?" ucap seseorang dalam sebuah grup. Lalu mulailah ia sampaikan ide-ide briliannya. Tak lupa ia tanyakan kabar adik-adiknya. Kecintaannya pada mereka sungguh terlihat, meski kesempatannya untuk sekedar bertemu dengan adik-adiknya sudah terenggut, cintanya masih tak berkurang sedikitpun.


Dan ia adalah seorang kakak.


===

"Alhamdulillah, akhirnya hari ini mereka datang mentoring. Aku seneeeeng banget liat mereka datang" ujarnya setelah selesai mengisi mentoring. Kau tahu berapa yang datang? Tiga orang. Dan ia bahagia seakan-akan tiga puluh orang datang pada pertemuan itu.

Di sela-sela kesibukannya, ia sempatkan untuk main ke masjid. Ia singkirkan sejuta kesedihannya demi melihat adik-adiknya tertawa bersamanya.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Hari itu, ia sedang jatuh sakit. Tubuhnya demam tinggi dan menggigil. Membuka matanya pun tak sanggup, apalagi harus bangun dari tidurnya.

Lalu siangnya ia terperanjat, membaca sms di handphonenya yang mengabari bahwa ada adiknya yang pingsan di sekolah. Ia panik, ia coba hubungi siapapun yang bisa dihubungi untuk memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja. Ia menyesal mengapa hari itu tak memaksakan diri ke sekolah. Ia pikir, setidaknya jika ada ia, maka adiknya yang pingsan tersebut bisa ia temani di UKS.

Ia lupa bahwa untuk berdiri pun, ia tak sanggup.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Dalam sebuah kondisi, sekumpulan orang sedang sibuk menyusun rencana karena ada sebuah kesalahpahaman besar yang disebabkan oleh adiknya. Mereka tak sampai hati jika harus melimpahkan tanggungjawab pada adik tersebut seorang diri. Karena apapun yang terjadi, adik tersebut tetaplah adik mereka.

Sedangkan adiknya tak tahu, bahwa ada yang harus menanggung kecerobohannya. Bahkan bisa jadi ia tak sadar kecerobohan apa yang sudah ia perbuat juga akibat yang harus ia tanggung. Ia tak akan tahu, karena sudah ada orang lain yang menanggungnya, kakaknya sendiri.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Ada seseorang yang hingga saat ini sudah tak menampakkan batang hidungnya. Namun setiap bulan masih rutin mengirimkan uang yang ia sisihkan dari uang jajannya untuk membantu adik-adiknya yang terhambat masalah ekonomi, maupun untuk kepentingan agenda dakwah adik-adiknya. Ia rela mengurangi jatah makannya untuk mereka.

Ia masih terus rutin melakukannya, meski tak ada satupun adiknya yang tahu tentang ia, bahkan sekedar mengenal namanya.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

"Guys, adik A lagi kena musibah kehilangan barang nih. Ayo kita bantu bareng-bareng." begitu bunyi jarkoman seseorang di sebuah grup. Ia tidak bercanda, selama dua hari penuh ia coba untuk kumpulkan donasi dari banyak orang yang mengenal adik A tersebut. Dan tahukah kamu? Uang sebanyak itu terkumpul dalam waktu 48 jam. Ia singkirkan ego dan rasa malunya demi lihat adiknya tersenyum lagi tanpa beban yang berat.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil kedinginan. Jaket tebal yang mereka bawa sudah mereka pakaikan pada adik-adik yang tak membawa jaket. Begitu juga dengan payung dan jas hujannya yang sudah menyebar entah di barisan ikhwan atau akhwat. Dalam derasnya hujan, mereka terus memandu barisan untuk bisa pulang dengan aman dari hutan yang cukup lebat.

Mereka panik, takut adik-adik mereka sakit. Mereka lupa akan kaki yang hampir kram di tengah jalan. Mereka coba hilangkan pening di kepalanya yang terus dipenuhi kebingungan yang luar biasa. Mereka tak peduli akan luka di lutut mereka karena terjatuh di jalan, demi memastikan bahwa adik-adiknya baik-baik saja.

Mereka terdiam, dalam hati terus berdoa agar Allah jaga adik-adiknya. Mereka sungguh sudah tak peduli akan diri mereka sendiri. Sepulang dari sana, mereka menyusun permohonan maaf karena tak begitu baik menjaga adik-adiknya. Mereka begitu merasa bersalah melihat adik-adiknya harus menerjang hujan yang lebat selama itu.

Dan mereka adalah seorang kakak.

===

"Aku paling ga suka kalau ada kakak-kakak. Mereka itu..."

Begitu ujar adik-adik. Mungkin matanya terhalang dari sejuta kebaikan, karena satu kesalahan manusia bernama "kakak" yang terlahir dari ibu yang berbeda.

Kamu, kalian, sungguh boleh hancurkan aku. Tapi tidak dengan mereka yang ada pada kisah-kisah nyata diatas. Mereka adalah kawan-kawan terbaikku, kakak-kakakmu.
Seandainya kau tahu lima puluh persen saja cinta mereka padamu, maka kau tak akan sanggup menanggungnya. Percaya padaku.




Aku tak peduli, silahkan sakiti aku. Sungguh, aku bahkan rela jika harus ada makian padaku. Aku rela menerima segala macam tuduhan tak berarah. Aku rela jika harus dilempar dengan segala macam kesalahpahaman. Aku siap pergi KAPANPUN, jika memang perbaikan sudah pasti akan hadir jika aku tak ada.
Tapi jangan sentuh adik-adikku, yang seharusnya juga adikmu, adik kalian semua. Jangan sekali-kali buat mereka menangis lagi. Karena aku... jauh lebih sakit jika mereka yang sakit.
Sekian dan terimakasih.
Share:

Selasa, 06 September 2016

Kau yakin itu cinta?

Kok kamu kaya gini sih ke aku? Ga kaya kamu ke dia. Aku juga ingin diperlakukan sama kaya dia.

Ups maaf agak alay, perlu diketahui itu bukan naskah sinetron ya, haha.
Kadang kita sering meminta lebih pada orang-orang yang kita sayang.

Tanpa kita tahu, bahwa ada orang-orang yang punya cara sendiri untuk tunjukkan kasih sayangnya.

Seandainya kita ada di posisi itu, coba pikir lagi, itu sayang beneran apa gimana? Kok bisa-bisanya berani meminta lebih seakan diri ini sudah banyak sekali memberi. Seakan orang di hadapan kita tak pernah bisa membalas kebaikan kita.

Dear, itu belum masuk level cinta.
Kalau kamu benar cinta, maka cukup lihat orang-orang yang kita cinta bahagia meski tak sedang bersama kita juga sudah menciptakan kebahagiaan tersendiri.

Kalau kamu benar cinta, maka melihat yang tercinta selalu ada dalam kebaikan meski kebaikan itu tak selalu datang darimu ya tetap sudah lebih dari cukup.

Bahkan Pak Anis Matta dalam bukunya menyebutkan bahwa cinta adalah hal yang agung dan hanya bisa ditanggung oleh orang-orang kuat saja

Dulu aku juga begitu, sering merasa bahwa apa yang aku lakukan terlalu besar sehingga merasa berhak meminta lebih, merasa berhak untuk protes akan sikapnya yang dirasa tak sebanding. Kamu lupa, lupa kenyataan bahwa orang yang kamu cinta, tak pernah meminta apa-apa.

Lalu seiring waktu, aku temukan orang-orang hebat dengan rasa ikhlas yang juara. Mereka terus memberi, tanpa peduli kebaikannya dilihat atau tidak. Bahkan sama sekali tak peduli posisinya dimana.

"Kalau benar cinta karenaNya, maka tak ada hal yang lebih penting selain kebaikan untuknya." Ujar sahabatku.

Lelah pasti, kalau tidak lelah ya bukan cinta. Tapi ga masalah kalau lelahnya jadi Lillah. Sama kaya tulisan emosi tempo lalu, itu akibatnya kalau lelahnya tidak Lillah, hehe.

Disclaimer : Tulisan ini bukan untuk mendukung cinta yang tak halal. Cinta yang begitu sih buang ke laut aja, haha.

Share: