Senin, 08 Agustus 2016

Sepotong Episode (Episode Hujan)

Kenapa hujan?
Karena hujan selalu dinanti bagi sekian banyak orang. Mungkin memang ada yang tak suka, namun tetap saja hakikat hujan adalah berkah. Tak peduli untuk yang suka, maupun tak suka.

Begitupun dengannya. Ia adalah berkah untuk orang-orang di sekelilingnya.
Ia orang baik, saya yakin itu.

Tanpa perlu banyak dideskripsikan, sepertinya episode ini akan jadi episode yang paling mudah ditebak siapa tokoh utamanya. Ya nggak aneh sih, tokoh utamanya sudah sering jadi tokoh utama di kehidupan orang banyak, hehe.

Dulu kenal hujan dari suatu organisasi eksternal. Kesan pertamanya? Serem.
Setelah kenal lumayan lama di SMA, kesan aku masih ga berubah, tetep serem -_-
Tapi.. saya tahu ia orang baik. Kalau ia nggak baik, nggak akan ada chatting-chatting ga penting tiap malam, yang bahkan masih berlanjut sampai saat ini. Andai hujan tahu, chatting ga penting itu sukses membunuh kesepianku.

Apa yang spesial dari hujan? Banyak.
Tapi ada satu yang sangat spesial. Aku berani merajuk padanya (damai ya, haha). Dan begitupun sebaliknya, ia bisa diam seharian, tak membalas setiap pesan. Aku pun bisa menghindari tatapan matanya seharian. Kukira, ia tak akan tahu, sampai ia bilang "Iiiih, aku salah apa sih? Coba bilang aku salah apa". Lalu biasanya aku nahan ketawa karena nggak tega -_-

Hey, aku bukan orang yang serta merta menunjukkan ketidaksukaanku pada seseorang atau bahkan sebuah kondisi. Bisa dibilang, aku ini selektif sekali dalam urusan menunjukkan perasaan sebenarnya. Tapi bersamanya, aku sungguh bisa jadi versi yang paling menyebalkan. Dekat dengannya, buat aku merasa kembali jadi manusia dan berteman dengan manusia juga. Percayalah, kadang kamu bingung ketika seluruh saudaramu rasanya suci dari dosa, boro-boro bisa berantem, salah sedikit juga rasanya jadi yang paling berdosa di seluruh dunia. Padahal berantem itu kan seruuu, hanya bisa dilakukan oleh insan-insan yang yakin bahwa partner berantemnya akan memaaafkan ia meski habis gontok-gontokan.

Ia orang baik. Meski ia sering hanya read chat dariku atau balas chat dengan kata-kata super singkat atau hanya kirim stiker nangis tanpa mau cerita apapun atau menghilang dari suatu agenda atau tiba-tiba diam sepanjang hari. Saya yakin, ia tetap orang baik.

Ada satu hal yang paling aku tak suka dari Hujan. Aku benci ketika ia terluka. Benci sekali ketika ada orang-orang yang seenaknya saja lukai dirinya. Mungkin ia anggap ini gurauan semata, tapi sungguh, lukanya tempo lalu juga sempurna jadi lukaku. Aku kira itu kesalahan terbesarku padamu, tak sanggup menjagamu dari kebodohan orang lain. Ah, aku bahkan masih kesal jika kau bahas tentang ini -_-

Karena sungguh, kau tak pantas untuk dilukai.

Aku sering pikir Hujan ini ga ada so sweet so sweetnya sekarang. Malah lebih so sweet dulu pas SMA. Tapi sekali lagi, mencintai itu bukan pekerjaan yang cocok bagi orang yang hanya senang berbicara. Maka Hujan membuktikan bahwa cinta itu bukan hanya kata.

Ia tahu kapan harus bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia hafal tentang siksaan alergi dinginku yang bisa kambuh suatu waktu. Ia tahu kapan saatnya menunggu. Ia paham bahwa ketika aku terluka, maka aku butuh bicara. Ah, ia tak pernah memaksaku untuk menatapnya ketika sedang membicarakan luka, Karena aku.. tak pernah sanggup memandang mata siapapun ketika sedang membagi kesedihan. Bisa-bisa bulir-bulir air mata keluar tiada henti hehe.

Aku memang punya banyak teman yang baik. Namun Hujan jadi salah satu yang berani menegurku jika mulai keluar arah. Dan percayalah, teman yg berani menegur kita itu priceless. Apalagi yang otomatis negur kalau kamu ngebut di jalan atau nggak keliatan masuk lubang haha.

Sampai saat ini, aku masih berusaha untuk jadi saudara yang sekufu bagi Hujan. Aku ingin sekali jadi saudara yang berguna untuknya, ingin sekali jadi saudara yang kehadirannya dapat membawa kebaikan untuknya, ingin sekali jadi saudara yang bisa hilangkan kesedihannya. Sayang, saat ini aku hanya jadi saudara yang menguji iman karena tak henti-hentinya keluarkan lelucon konyol.

Aku, tak pernah tahu posisiku untuknya. Dan aku tak peduli.
Hujan adalah seseorang yang punya banyak orang yang setia disisinya. Biarlah aku ada di belakangnya, aku yang akan dorong jika dia jatuh atau berjalan mundur. Meski hujan tak akan pernah menengok ke belakang, aku tetap tak akan menyerah untuk mendoakannya agar ia diberikan pundak yang kuat olehNya.

Karena kawan baikku bilang :

 Jika kita ikhlas, maka segalanya, selain kebaikan untuknya jadi tak penting lagi.

Hujan, aku tahu kamu akan pergi suatu hari nanti.
Aku tahu semuanya akan kembali menjadi kisah untukku sendiri.
Kamu, akan berlari, bahkan terbang hingga aku tak bisa lagi berjaga-jaga dibelakangmu.
Kemarahanku atas orang-orang yang melukaimu juga akan pergi, seiring dengan kepergianmu.

Tapi sekali lagi.. tak apa. Sungguh tak apa.
Perpisahan itu hal yang biasa. Seharusnya.
Yang jadi masalah itu aku, yang selalu terjebak dalam 'kebiasaan'.

Ah, Hujan, mengapa kau kembali dan menciptakan rasa nyaman bagi kami?
Kau otomatis jadi pembuat keputusan saat kami tak bisa memutuskan.
Kau jadi teman bicara saat tak satupun bisa diajak bicara.
Kau jadi orang pertama yang diserbu berbagai pertanyaan fiqh, aqidah bahkan ilmu duniawi.
Kau sama sekali tak pernah menolak untuk membagi ilmu.
Kau orang baik, yang kehadirannya selalu dinantikan oleh adik-adik.

Jadi, bagaimana kami bisa membiasakan diri lagi tanpamu?

*ps : bagi yang baca ini, dan tahu Hujan itu siapa. Nggak usah heboh kasih tahu ke orangnya ya. Biarkan alurNya yang membawa Hujan untuk baca tulisan ini :')
Share:

0 komentar:

Posting Komentar