Sabtu, 27 Agustus 2016

Sepotong Episode (Episode Akar)

Ada satu bagian dari pohon yang sangat krusial, akar. Akar jadi penentu apakah pohon itu akan tumbuh dengan baik atau tidak. Tapi berapa orang sih yang peduli dengan rupa dari si akar? Kadang kita teralihkan pada hijaunya dedaunan, lalu lupa pada akar yang menguatkan meski tak terlihat.

Dan episode kali ini tentang akar.

Ah, kok susah ya nulis episode ini?

Dulu awal kenal akar pas akar kelas 10, masih belum berhijab dan keliatannya bandel banget deh ampun -_- Kalau ga salah dulu ngasihin bunga pas dramus ke kelasnya dan asli shock banget liat akar haha.

Tapi sekaget-kagetnya lihat akar dulu, masih lebih kaget lihat perubahannya. Akar ini konsisten jika sudah punya prinsip. Aku masih inget dulu dicegat pas mau pulang (beneran masih diatas motor loh), lalu akar ceritakan kalau ia ga rela lepas rok dan pakai celana di satu penampilan klasikal. Aku kaget, ini anak keren banget, masih kelas 10 tapi keinginannya untuk berubah udah keren banget. Dan ya, jadilah akar dan seorang kawannya setia pada rok panjangnya pada penampilan klasikal itu.

Haru rasanya, punya adik sekeren akar.

Selain kaget karena prinsipnya, aku juga kaget ternyata akar ini berisik banget. Berisik banget lah pokoknya (penekanan ceritanya). Dari yang awal pas kongkows 2 masih malu-malu ga jelas gitu, sampai sekarang kayanya kalau diem mimisan :') Tapi aku tetap suka akar yang sekarang, lebih powerful dan jauh lebih berpengaruh.

Aku berutung sekali punya adik seperti akar yang tanggap banget pada tugas-tugas dakwahnya. Ia rela menghentikan aktivitasnya untuk sekedar ceritakan kondisi adik-adiknya. Akar juga sering begadang kalau ada event-event penting. Ia lelah, tapi lelahnya Lillah.

Dan untuk adik-adik, kalian berutung punya teteh sebaik akar.
Kalian mungkin tak tahu, seberapa sering akar mikirin kalian sepanjang pekan. Kalian mungkin juga tak tahu, seberapa dalam luka yang akar simpan untuk tetap terlihat ceria di hadapan kalian.
Kalian juga mungkin tak pernah lihat betapa akar kelelahan mengusahakan yang terbaik untuk kalian hingga saat ini.
Akar bahkan sering rekam pembicaraan kalian, untuk di review kembali bareng-bareng, dicarikan solusinya satu-satu. Kalau kamu belum pernah berterimakasih pada akar, ambil handphone-mu sekarang juga, ucapkan meski hanya sekedar kata terimakasih. Karena sungguh... rasa cinta akar pada kalian jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada diri sendiri.
Bahas tentang pengorbanan akar untuk kalian ga akan cukup hanya dalam satu tulisan.

Akar, kamu juga mentor terbaik yang pernah aku lihat.
Siapa lagi selain akar yang rela keliling kelas jemputin adiknya satu-satu sambil bagiin bingkisan kecil lalu endingnya yang dateng cuma setengahnya?
Aku masih ingat jelas wajah akar yang berseri-seri dan bilang "iih akhirnya mereka dateng meski hanya bertiga",

Jleb.

Aku yang kadang masih ngeluh hanya karena mentee ga full team, ngerasa tertampar banget dengan ikhlasnya akar membina adik-adiknya. Memang benar, kadang umur bukan patokan kedewasaan. Jelas aku kalah dewasa dari akar dalam memandang masalah ini.

Akar...
Terus sekarang aku harus gimana?
Dua hari lagi kamu pergi. Memang hanya sementara, tapi cukup berjarak.
Aku ga bisa asal peluk kamu kalau rindu tiba-tiba datang.


Ah, aku masih ga sanggup nulisnya. Kok episode ini bikin sesak di dada ya?

Aku.. harus gimana tanpa kamu di pojokan NI?
Siapa lagi yang bisa nyatuin adik-adik dalam satu lingkaran kalau bukan kamu?
Aku harus hubungi siapa kalau butuh bantuan bikin bunga?
Aku mesti cari siapa kalau butuh sosok yang bisa masuk ke dunia adik-adik?
Coba bilang, aku harus gimana membiasakan diri tanpa kamu?

Akar harus tahu, aku sayang akar banget, banget, banget...

Emang sih ga bisa dibuktikan kalau hanya dengan kata-kata, tapi ada rasanya ada yang hilang dari hati kalau inget akar akan pergi sementara.

Akar..
Matamu bengkak, hidungmu merah hari ini.
Ketika aku tanya kenapa, kamu malah membuang muka, berbalik ke arah tembok dan AKU TAHU KAMU MENANGIS LAGI.
Akar, kamu bisa menangis di hadapanku. Aku akan pinjamkan bahuku, dan mungkin akan menangis juga bersamamu. Aku tahu kamu sedang "apa-apa" bukan hanya "nggak papa" seperti yang kamu bilang sepanjang hari. It's okay not to be okay, right?

Dan akhir kata...

Kita tak harus selalu bersama untuk jadi bermakna.

Aku tahu, saat-saat ini akan datang. Aku harus melepas satu per satu bidadari kecilku untuk pergi menjemput impiannya. Mungkin ini waktumu, akar.
Terbanglah, kembangkan sayap kebermanfaatanmu disana. Jadilah mata air untuk keberlangsungan dakwah di tempatmu yang baru.

Kalau kamu mulai lelah, pulanglah akar. Pulanglah ke rumah kita yang tak lekang oleh waktu.
Aku sungguh mencintaimu, dan semoga selalu karenaNya. Karena sungguh aku ingin punya saudara sepertimu di SugaNya nanti.

Doakan aku diberikan keikhlasan untuk menerima sepinya NI tanpa dirimu, akar.
Share:

2 komentar: