Selasa, 30 Agustus 2016

Perasaan Kehilangan

"Kalau kita ga bisa ketemu lagi gimana?"

Pertanyaan simpel yang kadang terlontar dari mulut kita tanpa tedeng aling-aling.
Iya itu pertanyaan serius sebenernya. Seandainya detik itu, saat itu juga adalah waktu terakhir kita bisa lihat dia yang ada di hadapan kita gimana? Entah kita atau dia yang pergi duluan.

Gimana? Mau apa?

Kalau aku sendiri.. aku selalu benci dengan "perasaan kehilangan". Yap, hanya perasaan karena sejatinya manusia tak akan pernah benar-benar kehilangan. Semua yang kita punya hanya titipan dariNya bukan?

Perasaan kehilangan itu menyakitkan sekali. Bukan ketika sesuatu itu hilang, tapi ketika perlahan kita sadar bahwa ada kebiasaan yang hilang. Sadar bahwa sedikit demi sedikit, ada rasa sepi yang terpaksa datang.

Sejujurnya, aku belum pernah merasa kehilangan yang benar-benar kehilangan. Selama ini aku pikir, lebih baik aku yang hilang duluan, daripada merasa kehilangan orang-orang yang aku sayang. Wah lihat mereka pingsan atau terluka saja tubuhku sudah gemetar tak karuan dan rasanya ingin gantikan posisi mereka. Lalu apa kabarnya jika aku benar-benar merasa kehilangan mereka?

Egois bukan?
Selama ini aku pikir, lebih baik aku yang terluka daripada harus mereka yang rasakan luka.
Lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu, daripada lihat mereka lambaikan tangan untuk selamanya. Toh siapa aku? Tak akan ada yang berubah jika harus aku yang pergi duluan.

Tapi aku lupa. Memangnya apa yang akan aku bawa jika harus aku yang pergi duluan?
Apa yang akan aku tunjukkan padaNya?
Bagaimana bisa aku lebih takut merasakan kehilangan daripada mempertanggungjawabkan apa yang aku lakukan selama di dunia?
Apa yang membuatku begitu percaya diri untuk menginginkan "pergi duluan" demi menghindari rasa sakit dari perasaan kehilangan?

Sudahlah..
Jika memang aku yang harus pergi duluan, semoga Allah ampuni seluruh dosa :"(
Jika memang mereka yang harus pergi duluan, semoga Allah berikan kekuatan pada diri ini dan yakinkan lagi bahwa bagaimanapun hanya Allah tempat bertumpu, selamanya.

Dan jika kamu tak temukan aku di surgaNya nanti, tolong... tolong... tolong cari aku sampai ketemu ya? Tolong panggil aku ke surgaNya juga. Tolong doakan aku, jangan lupakan aku dalam setiap sujudmu.

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
Share:

Senin, 29 Agustus 2016

Mandeu's

Mandeu's, beginilah hidup. Kita tak akan pernah tahu akan dibawa kemana, yang bisa kita lakukan adalah tetap percaya bahwa keputusanNya adalah yang terbaik.
Kalian pasti masih ingat bukan? Jika kalian buka botol kecil itu maka sudah saatnya kita berpisah.

Ini memang sudah selesai untukku.
Tapi tidak dengan kalian.
InsyaAllah kalian akan tetap bersama dengan dikomandoi oleh seorang nahkoda yang jauh lebih baik daripada aku.

Sungguh, ini tulisan yang paling berat untuk diselesaikan karena menandai bahwa lingkaran kita telah selesai. Tapi meski lingkaran kita telah selesai, ukhuwah ini tak akan pernah selesai hingga jannahNya bukan? Aamiin.

Aisyah, Fazla, Asyel, Atha, Zarin, Djihan, Firaas, Meta, Nabila, Shafira, Sinda, Yaaquta, terima kasih banyak untuk semuanya. Hadiah saat mabit yang lalu adalah salah satu hadiah terbaik sepanjang masa. Tidak, kehadiran kalian saja sudah jadi hadiah terbaik dariNya. Maaf belum bisa jadi kakak yang baik untuk kalian :")

Silahkan buka video ini, kirim emoji hati merah (seperti laporan tilawah) ke grup line mandeu's ya kalau sudah tonton sampai selesai. Bersikaplah seakan-akan kita belum akan berpisah, setidaknya sampai rabu nanti, oke? ^^ InsyaAllah, semuanya akan dijelaskan rabu nanti.

Link : https://youtu.be/Irt1R3u8maM


Share:

Sabtu, 27 Agustus 2016

Sepotong Episode (Episode Akar)

Ada satu bagian dari pohon yang sangat krusial, akar. Akar jadi penentu apakah pohon itu akan tumbuh dengan baik atau tidak. Tapi berapa orang sih yang peduli dengan rupa dari si akar? Kadang kita teralihkan pada hijaunya dedaunan, lalu lupa pada akar yang menguatkan meski tak terlihat.

Dan episode kali ini tentang akar.

Ah, kok susah ya nulis episode ini?

Dulu awal kenal akar pas akar kelas 10, masih belum berhijab dan keliatannya bandel banget deh ampun -_- Kalau ga salah dulu ngasihin bunga pas dramus ke kelasnya dan asli shock banget liat akar haha.

Tapi sekaget-kagetnya lihat akar dulu, masih lebih kaget lihat perubahannya. Akar ini konsisten jika sudah punya prinsip. Aku masih inget dulu dicegat pas mau pulang (beneran masih diatas motor loh), lalu akar ceritakan kalau ia ga rela lepas rok dan pakai celana di satu penampilan klasikal. Aku kaget, ini anak keren banget, masih kelas 10 tapi keinginannya untuk berubah udah keren banget. Dan ya, jadilah akar dan seorang kawannya setia pada rok panjangnya pada penampilan klasikal itu.

Haru rasanya, punya adik sekeren akar.

Selain kaget karena prinsipnya, aku juga kaget ternyata akar ini berisik banget. Berisik banget lah pokoknya (penekanan ceritanya). Dari yang awal pas kongkows 2 masih malu-malu ga jelas gitu, sampai sekarang kayanya kalau diem mimisan :') Tapi aku tetap suka akar yang sekarang, lebih powerful dan jauh lebih berpengaruh.

Aku berutung sekali punya adik seperti akar yang tanggap banget pada tugas-tugas dakwahnya. Ia rela menghentikan aktivitasnya untuk sekedar ceritakan kondisi adik-adiknya. Akar juga sering begadang kalau ada event-event penting. Ia lelah, tapi lelahnya Lillah.

Dan untuk adik-adik, kalian berutung punya teteh sebaik akar.
Kalian mungkin tak tahu, seberapa sering akar mikirin kalian sepanjang pekan. Kalian mungkin juga tak tahu, seberapa dalam luka yang akar simpan untuk tetap terlihat ceria di hadapan kalian.
Kalian juga mungkin tak pernah lihat betapa akar kelelahan mengusahakan yang terbaik untuk kalian hingga saat ini.
Akar bahkan sering rekam pembicaraan kalian, untuk di review kembali bareng-bareng, dicarikan solusinya satu-satu. Kalau kamu belum pernah berterimakasih pada akar, ambil handphone-mu sekarang juga, ucapkan meski hanya sekedar kata terimakasih. Karena sungguh... rasa cinta akar pada kalian jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada diri sendiri.
Bahas tentang pengorbanan akar untuk kalian ga akan cukup hanya dalam satu tulisan.

Akar, kamu juga mentor terbaik yang pernah aku lihat.
Siapa lagi selain akar yang rela keliling kelas jemputin adiknya satu-satu sambil bagiin bingkisan kecil lalu endingnya yang dateng cuma setengahnya?
Aku masih ingat jelas wajah akar yang berseri-seri dan bilang "iih akhirnya mereka dateng meski hanya bertiga",

Jleb.

Aku yang kadang masih ngeluh hanya karena mentee ga full team, ngerasa tertampar banget dengan ikhlasnya akar membina adik-adiknya. Memang benar, kadang umur bukan patokan kedewasaan. Jelas aku kalah dewasa dari akar dalam memandang masalah ini.

Akar...
Terus sekarang aku harus gimana?
Dua hari lagi kamu pergi. Memang hanya sementara, tapi cukup berjarak.
Aku ga bisa asal peluk kamu kalau rindu tiba-tiba datang.


Ah, aku masih ga sanggup nulisnya. Kok episode ini bikin sesak di dada ya?

Aku.. harus gimana tanpa kamu di pojokan NI?
Siapa lagi yang bisa nyatuin adik-adik dalam satu lingkaran kalau bukan kamu?
Aku harus hubungi siapa kalau butuh bantuan bikin bunga?
Aku mesti cari siapa kalau butuh sosok yang bisa masuk ke dunia adik-adik?
Coba bilang, aku harus gimana membiasakan diri tanpa kamu?

Akar harus tahu, aku sayang akar banget, banget, banget...

Emang sih ga bisa dibuktikan kalau hanya dengan kata-kata, tapi ada rasanya ada yang hilang dari hati kalau inget akar akan pergi sementara.

Akar..
Matamu bengkak, hidungmu merah hari ini.
Ketika aku tanya kenapa, kamu malah membuang muka, berbalik ke arah tembok dan AKU TAHU KAMU MENANGIS LAGI.
Akar, kamu bisa menangis di hadapanku. Aku akan pinjamkan bahuku, dan mungkin akan menangis juga bersamamu. Aku tahu kamu sedang "apa-apa" bukan hanya "nggak papa" seperti yang kamu bilang sepanjang hari. It's okay not to be okay, right?

Dan akhir kata...

Kita tak harus selalu bersama untuk jadi bermakna.

Aku tahu, saat-saat ini akan datang. Aku harus melepas satu per satu bidadari kecilku untuk pergi menjemput impiannya. Mungkin ini waktumu, akar.
Terbanglah, kembangkan sayap kebermanfaatanmu disana. Jadilah mata air untuk keberlangsungan dakwah di tempatmu yang baru.

Kalau kamu mulai lelah, pulanglah akar. Pulanglah ke rumah kita yang tak lekang oleh waktu.
Aku sungguh mencintaimu, dan semoga selalu karenaNya. Karena sungguh aku ingin punya saudara sepertimu di SugaNya nanti.

Doakan aku diberikan keikhlasan untuk menerima sepinya NI tanpa dirimu, akar.
Share:

Kamis, 25 Agustus 2016

Tulisan random

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Nyatanya melihat ia terdiam dengan tatapan kosong tetap membuatku bertanya "Kenapa?"

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Tapi membaca setiap balasan singkat darinya membuatku bertanya "Ada apa?"

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Namun seluruh tubuhku gemetar saat melihat ia pingsan, terjatuh dari shalatnya. Jantungku berpacu lebih cepat dan lebih cepat.

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Tapi ada amarah yang muncul dalam hati, mendengar kisahnya bahwa ia dilukai teramat dalam oleh seorang ikhwan yang bahkan tak pantas untuk dipertimbangkan.

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Tapi kenapa mataku tak bisa terlepas darinya di sepanjang jalan setelah ia terjatuh dan terluka? Seakan hal itu bisa terulang lagi dan lagi.

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Lalu aku sadar semua itu hanya bohong belaka.
Ada segumpal daging yang tak pernah bisa dikelabui, sekuat apapun aku mencoba tak peduli.
Namun kondisimu, kondisinya, kondisi kalian semua, jelas masih mempengaruhiku.

Jaga dirimu baik-baik, karena sepotong kebahagiaanku ada pada kebahagiaanmu.
Share:

Senin, 08 Agustus 2016

Sepotong Episode (Episode Hujan)

Kenapa hujan?
Karena hujan selalu dinanti bagi sekian banyak orang. Mungkin memang ada yang tak suka, namun tetap saja hakikat hujan adalah berkah. Tak peduli untuk yang suka, maupun tak suka.

Begitupun dengannya. Ia adalah berkah untuk orang-orang di sekelilingnya.
Ia orang baik, saya yakin itu.

Tanpa perlu banyak dideskripsikan, sepertinya episode ini akan jadi episode yang paling mudah ditebak siapa tokoh utamanya. Ya nggak aneh sih, tokoh utamanya sudah sering jadi tokoh utama di kehidupan orang banyak, hehe.

Dulu kenal hujan dari suatu organisasi eksternal. Kesan pertamanya? Serem.
Setelah kenal lumayan lama di SMA, kesan aku masih ga berubah, tetep serem -_-
Tapi.. saya tahu ia orang baik. Kalau ia nggak baik, nggak akan ada chatting-chatting ga penting tiap malam, yang bahkan masih berlanjut sampai saat ini. Andai hujan tahu, chatting ga penting itu sukses membunuh kesepianku.

Apa yang spesial dari hujan? Banyak.
Tapi ada satu yang sangat spesial. Aku berani merajuk padanya (damai ya, haha). Dan begitupun sebaliknya, ia bisa diam seharian, tak membalas setiap pesan. Aku pun bisa menghindari tatapan matanya seharian. Kukira, ia tak akan tahu, sampai ia bilang "Iiiih, aku salah apa sih? Coba bilang aku salah apa". Lalu biasanya aku nahan ketawa karena nggak tega -_-

Hey, aku bukan orang yang serta merta menunjukkan ketidaksukaanku pada seseorang atau bahkan sebuah kondisi. Bisa dibilang, aku ini selektif sekali dalam urusan menunjukkan perasaan sebenarnya. Tapi bersamanya, aku sungguh bisa jadi versi yang paling menyebalkan. Dekat dengannya, buat aku merasa kembali jadi manusia dan berteman dengan manusia juga. Percayalah, kadang kamu bingung ketika seluruh saudaramu rasanya suci dari dosa, boro-boro bisa berantem, salah sedikit juga rasanya jadi yang paling berdosa di seluruh dunia. Padahal berantem itu kan seruuu, hanya bisa dilakukan oleh insan-insan yang yakin bahwa partner berantemnya akan memaaafkan ia meski habis gontok-gontokan.

Ia orang baik. Meski ia sering hanya read chat dariku atau balas chat dengan kata-kata super singkat atau hanya kirim stiker nangis tanpa mau cerita apapun atau menghilang dari suatu agenda atau tiba-tiba diam sepanjang hari. Saya yakin, ia tetap orang baik.

Ada satu hal yang paling aku tak suka dari Hujan. Aku benci ketika ia terluka. Benci sekali ketika ada orang-orang yang seenaknya saja lukai dirinya. Mungkin ia anggap ini gurauan semata, tapi sungguh, lukanya tempo lalu juga sempurna jadi lukaku. Aku kira itu kesalahan terbesarku padamu, tak sanggup menjagamu dari kebodohan orang lain. Ah, aku bahkan masih kesal jika kau bahas tentang ini -_-

Karena sungguh, kau tak pantas untuk dilukai.

Aku sering pikir Hujan ini ga ada so sweet so sweetnya sekarang. Malah lebih so sweet dulu pas SMA. Tapi sekali lagi, mencintai itu bukan pekerjaan yang cocok bagi orang yang hanya senang berbicara. Maka Hujan membuktikan bahwa cinta itu bukan hanya kata.

Ia tahu kapan harus bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia hafal tentang siksaan alergi dinginku yang bisa kambuh suatu waktu. Ia tahu kapan saatnya menunggu. Ia paham bahwa ketika aku terluka, maka aku butuh bicara. Ah, ia tak pernah memaksaku untuk menatapnya ketika sedang membicarakan luka, Karena aku.. tak pernah sanggup memandang mata siapapun ketika sedang membagi kesedihan. Bisa-bisa bulir-bulir air mata keluar tiada henti hehe.

Aku memang punya banyak teman yang baik. Namun Hujan jadi salah satu yang berani menegurku jika mulai keluar arah. Dan percayalah, teman yg berani menegur kita itu priceless. Apalagi yang otomatis negur kalau kamu ngebut di jalan atau nggak keliatan masuk lubang haha.

Sampai saat ini, aku masih berusaha untuk jadi saudara yang sekufu bagi Hujan. Aku ingin sekali jadi saudara yang berguna untuknya, ingin sekali jadi saudara yang kehadirannya dapat membawa kebaikan untuknya, ingin sekali jadi saudara yang bisa hilangkan kesedihannya. Sayang, saat ini aku hanya jadi saudara yang menguji iman karena tak henti-hentinya keluarkan lelucon konyol.

Aku, tak pernah tahu posisiku untuknya. Dan aku tak peduli.
Hujan adalah seseorang yang punya banyak orang yang setia disisinya. Biarlah aku ada di belakangnya, aku yang akan dorong jika dia jatuh atau berjalan mundur. Meski hujan tak akan pernah menengok ke belakang, aku tetap tak akan menyerah untuk mendoakannya agar ia diberikan pundak yang kuat olehNya.

Karena kawan baikku bilang :

 Jika kita ikhlas, maka segalanya, selain kebaikan untuknya jadi tak penting lagi.

Hujan, aku tahu kamu akan pergi suatu hari nanti.
Aku tahu semuanya akan kembali menjadi kisah untukku sendiri.
Kamu, akan berlari, bahkan terbang hingga aku tak bisa lagi berjaga-jaga dibelakangmu.
Kemarahanku atas orang-orang yang melukaimu juga akan pergi, seiring dengan kepergianmu.

Tapi sekali lagi.. tak apa. Sungguh tak apa.
Perpisahan itu hal yang biasa. Seharusnya.
Yang jadi masalah itu aku, yang selalu terjebak dalam 'kebiasaan'.

Ah, Hujan, mengapa kau kembali dan menciptakan rasa nyaman bagi kami?
Kau otomatis jadi pembuat keputusan saat kami tak bisa memutuskan.
Kau jadi teman bicara saat tak satupun bisa diajak bicara.
Kau jadi orang pertama yang diserbu berbagai pertanyaan fiqh, aqidah bahkan ilmu duniawi.
Kau sama sekali tak pernah menolak untuk membagi ilmu.
Kau orang baik, yang kehadirannya selalu dinantikan oleh adik-adik.

Jadi, bagaimana kami bisa membiasakan diri lagi tanpamu?

*ps : bagi yang baca ini, dan tahu Hujan itu siapa. Nggak usah heboh kasih tahu ke orangnya ya. Biarkan alurNya yang membawa Hujan untuk baca tulisan ini :')
Share: