Kamis, 09 Juni 2016

Cinta adalah kata kerja

“Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih tandas karena takdirNya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang sangat besar dan agung: MENCINTAI.” -Anis Matta


Cinta itu.. sederhana bukan?
Tetiba malam ini terpikir hal-hal sederhana dari para pecinta.


Kemarin malam, saat saya dan adik saya sedang tarawih, hujan besar turun. Dan ternyata bukan sekedar hujan biasa, tapi hujan lebat dan angin yang demikian besar. Saat itu, kami tak membawa payung dan memutuskan untuk menunggu saja lah. Bahkan saya sudah mengambil posisi duduk di masjid untuk melanjutkan tilawah meski tetap saja khawatir tidak bisa pulang. Dan kondisi saat itu tidak ada yang membawa handphone untuk menghubungi orang di rumah.


Lalu kau tahu?
Sesosok pria tertampan di dunia ini datang menjemput membawa dua payung untuk kami. Ia menerjang hujan deras tanpa tahu posisi saya dan adik saya dimana. Untuk apa? Hanya untuk memastikan bahwa kami bisa pulang ke rumah dengan aman.


Pria itu kebasahan sesampainya dirumah. Dan ia.. Ayah saya.

Itu cinta bukan?

Lalu malam ini juga saya menonton video yang sedang viral di media sosial. Video dimana ada sebuah tragedi ketidaksengajaan yang membuat seorang wanita terkena api dari ledakan balon. Entah apa yang terjadi karena teman-temannya sibuk berteriak-teriak.

Ah saya jadi ingat, beberapa malam yang lalu, saya juga melakukan suatu kebodohan. Tepatnya saat kongkows kemarin, saat saya sedang berusaha menyalakan api untuk barbeque, saya lalai menyalakan api hingga apinya hampir mengenai saya dan membakar tempat minyak tanah.

Ada dua saudara saya disana yang sedang memurajaah hafalannya, yang satu berlari kedalam (yang saya yakin dia mau mengambil peralatan dari dalam villa untuk memadamkan api), yang satu lagi langsung berlari menghampiri saya dan mematikan api (entah dengan cara apa). Saya sendiri berlari membawa tempat minyak tanah sejauh-jauhnya dari sumber api.

Alhamdulillah, tidak ada yang terjadi. Saya tak tahu bagaimana saudara saya yang satu itu berhasil memadamkan api tanpa memegang alat apapun.


Apakah mereka melontarkan kalimat "menyalahkan"?
Ajaibnya, tidak sama sekali. Mereka hanya berkata "untung tempat minyak tanahnya langsung dipindahin".


Lalu setelahnya, mereka duduk melanjutkan murajaah kembali.
Tanpa tahu saya sedang tertegun melihat "aksi" mereka. Ini dramatis, sungguh lebih dramatis dibandingkan adegan menarik orang yang akan tertabrak mobil di sinetron.

Mereka tahu tidak sih? Apa yang mereka lakukan bisa saja jadi bahaya untuk mereka sendiri.
Tapi mereka berlari, tanpa peduli apa yang akan terjadi.
Saya jadi berpikir, membayangkan apakah yang akan saya lakukan jika saya yang ada di posisi mereka? Apakah saya akan berlari menolong atau malah menyelamatkan diri?

Disitu saya sadar bahwa.. inilah cinta.


Kawan, singkirkan kisah cinta roman picisanmu.
Masih banyak cinta-cinta hebat diluar sana yang luput dari perhatian kita.

Cinta bagi Umar bin Khattab adalah sebuah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kata kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar