Sabtu, 21 Mei 2016

Berhentilah, kawan.

Terkadang, ada kondisi dimana kamu harus menjaga jarak dengan orang-orang yang kamu peduli. Layaknya bulan dan matahari, yang tak akan pernah bisa mendekat karena hanya akan saling menghancurkan.

Setiap kamu tanya kabarnya, kamu harus puas dengan jawaban "Baik-baik aja".
Setiap kamu tanya bagaimana harinya, kamu juga harus puas dengan jawaban "Biasa aja".
Setiap kamu tanya mengapa ia menangis, kamu harus percaya kata-kata "Nggak ada apa-apa, sakit mata". Lalu kamu tersenyum mengiyakan seluruh kebohongan.

Kamu terus tanya, dan ia hanya menjawab sekenanya. Begitu terus alurnya.
Untuk apa? Untuk menjaga komunikasi tetap hidup.

Bahkan terkadang kau membungkus setiap dosa menjadi hal yang manis. Untuk apa?
Agar kau dan dia setidaknya masih mengantongi label "teman".

Tidak. Sewaktu-waktu kau harus berhenti, kawan.
Biarkan saja ia dengan dunianya. Apa urusanmu?
Simpan pertanyaanmu dan kristalkan agar jadi doa abadi untuknya.
Menangislah, untuk yang terakhir kalinya, karena memang kamu bukan siapa-siapa untuknya.
Siapa yang tahu, bisa jadi setiap kebaikan untuknya adalah sumbangsih doa-doa kita yang tak berujung.
Aku tahu, itu sudah jadi hal yang membahagiakan untukmu.

Carilah kawan lain untuk bergerak, yang bersamanya kau memberi dan menerima. Bukan hanya terus memberi tanpa jelas apa yang kau terima. Habiskan energimu bersamanya untuk terus melakukan kebaikan.


Ah, ketulusanmu luar biasa kawan. Andai aku ada di posisinya, maka aku tak akan sanggup menatapmu lagi karena telah menyia-nyiakan jutaan kebaikan darimu :"
Share:

Rabu, 18 Mei 2016

Allah, dekap aku...

Aku sedang merasa "kecil" pekan ini.
Seakan segala jenis tekanan sedang mendekat dari berbagai sisi.
Sesak rasanya, tapi aku bukan orang yang mudah membicarakan luka.

Ah, andai mereka mengerti tanpa harus kujelaskan.
Semua ini menyesakkan, dan sesak tak harus tentang air mata.
Aku begini bukan karena tak peduli, namun karena sedemikiannya terluka.
Padahal tanpa hal ini juga ada hal lain yang membuatku ingin kibarkan bendera putih.

Andai itu bukan mereka, maka aku sudah menutup diri. Pasti.
Tolonglah mengerti, aku disini sedang berusaha memaafkan tanpa ada kata maaf sebenarnya. Sedang coba menyelamatkan diriku agar tak canggung ketika bertemu.

Lagipula, bagaimana mungkin kata-kata bisa sedemikian menyakitkannya bagiku :")

Iya aku memang salah dan merasa salah.
Tapi salahkah jika sang tersangka ini juga terluka?



Allah, dekap aku...
Share:

Rabu, 04 Mei 2016

Ini tulisan emosi.

[Warning, ini tulisan emosi. Jangan baca kalau ga mau kecewa.]

Kita memang ga bisa minta mau ada di prioritas ke berapa untuk orang lain, itu sama sekali ada diluar kendali kita.

Mungkin bagi seseorang, kita adalah dunianya. Tapi bagi kita, belum tentu orang itu jadi dunia kita.
Mungkin bagi kita, ada orang-orang yang kita jaga sepenuhnya, kita anggap mereka dunia kita. Tapi bagi orang itu? Kita bukan siapa-siapa.


Jahat bukan?
Tidak. Itu bukan bentuk kejahatan. Itu wajar, hati manusia itu sangaaat kompleks. Betul?

Hingga saat ini, saya sering ada di kedua posisi itu. Saya pernah merasa jahat, pernah juga merasa menjadi korban. Tapi tetap saja, sesering apapun, tidak menjadi prioritas bagi orang yang selalu kita prioritaskan adalah salah satu rasa sakit yang tak terperi.

Saya bukan orang yang senang bermain-main dengan kata cinta. Sekali saya ucapkan "uhibbuki fillah", maka saya akan pertanggungjawabkan kalimat tersebut. Saya akan coba untuk menjadi dunia bagi seseorang yang saya cintai, saya akan berkorban banyak untuk mereka, saya rela terluka sedahsyat apapun demi mereka, demi kebaikan mereka. Meski saya tahu, mereka tak peduli dengan apapun yang saya lakukan.

Saya tak suka bermain-main dengan prioritas. Sekali saya prioritaskan anda, maka sebagian besar waktu saya adalah milik anda. Ketika anda terluka, maka saya akan berlari menemui anda, untuk memastikan bahwa anda baik-baik saja.

[Sekali lagi, ini tulisan emosi, baiknya kamu tak perlu baca sampai akhir.]

Saya tak suka ingkar janji, begitu juga saya tidak suka orang yang ingkar janji. Maka ketika saya berjanji, segenap usaha akan saya lakukan untuk menggenapkan janji tersebut.

Saya pernah menemani orang-orang yang saya cintai untuk datang pada suatu event kecil, padahal saya sedang demam tinggi, keringat bercucuran seharian, untuk jalanpun susah. Sungguh rasanya ingin pulang, tapi janji adalah janji bukan? Jadilah saya ikut. Tapi nyatanya semua baik-baik saja, mereka tak tahu saya sedang sakit, mereka hanya sangka saya habis menangis karena mata saya yang memerah sepanjang hari.

Yang lebih ekstrim, saya pernah memaksakan diri ikut camping disaat sedang flu berat. H-1 keberangkatan saya diboyong ke dokter untuk minta resep khusus agar asma saya tak kambuh ketika acara. Ini semua untuk apa? Untuk menepati janji saya. Saya tahu mereka akan kecewa jika saya tidak hadir.

Saya pernah merelakan agenda sakral sahabat saya, demi menepati janji saya untuk menjaga adik-adik saya. Saya sudah berjanji pada mereka terlebih dahulu. Sahabat saya kecewa berat, tapi janji adalah janji bukan? Toh endingnya kita tetap baik-baik saja. Nah, saya jahat pada sahabat saya bukan?

Tapi saya juga pernah sakit hari karena ingkarnya janji orang lain. Sungguh, yang menyakitkan bukan batalnya janji tersebut. Tapi sadarnya saya bahwa saya bukan siapa-siapanya lah yang menyakitkan. Saya tahu, sejam kemudian saya akan memaafkannya. Dan bila orang tersebut ingkar lagi besoknya, saya akan memaafkannya lagi. Lagi dan lagi. Terus berulang hingga jadi kebiasaan.

Ah, bodohnya saya. Besok-besoknya, orang-orang ini tetap jadi orang penting untuk saya. Besok-besoknya, saya akan maklumi bila mereka tak tepati janji lagi. Besok-besoknya, saya yang minta maaf terlebih dahulu jika ada masalah. Besok-besoknya, saya akan ucapkan uhibbuki fillah pada mereka.

Apakah itu sebuah kebodohan? Ah mungkin tidak. Itu cinta. Karena yang paling mencintai-lah yang paling lemah.
Di dunia ini tak ada orang sibuk. Yang ada hanyalah urutan prioritas. Ada di urutan berapakah kita dalam daftar prioritas orang-orang tersebut?
Jika boleh saya minta satu hal. Saya ingin meminta pada seluruh saudara saya untuk tidak memberikan ruang suudzhan dalam hati saya. Jika sedang sakit, bilanglah sedang sakit. Jika sedang sedih, bilanglah sedang sedih. Jika sedang tak ingin diganggu, bilanglah sedang tak ingin diganggu. Toh saya akan coba mengerti, dan setidaknya saya tak akan berprasangka. Sesederhana itu.

Allah, mengapa seluruh kesakitan rasanya berkumpul malam ini :"
Share: