Selasa, 15 Maret 2016

Pentingnya Komunitas Kebaikan

A : "Eh kamu hafalan quran udah berapa juz?"
B : "Ada deeeh! Tuh si itu tuh udah nyampe 5 juz"
C : "Halah, aku sih satu juz butuh waktu setaun. Lama bangett"
Yap, itu obrolan yang semalam jadi perdebatan tentang siapa yang paling cepat progress ngapalin quran selama ini. Ssst ah, jangan bilang ini pencitraan dulu, haha. Yang ingin saya angkat dari obrolan itu adalah..... betapa nikmatnya punya komunitas kebaikan.

Iya, masing-masing dari kita pasti punya versi "komunitas kebaikan" sendiri. Ada yang menganggap komunitas kebaikan itu teman-teman rohisnya, teman satu lab, himpunan atau bahkan geng sekelas. Macem-macem deh pokoknya.

Tapi yang jelas, komunitas kebaikan ini bukan sembarang kumpulan orang yang punya visi duniawi yang sama, tapi juga harus bervisi surgawi.

Semalam saat mabit bersama dua bidadari, saya banyak berpikir bahwa nikmat Allah itu tiada duanya. Dari mulai hal paling sederhana hingga yang luar biasa terasa. Salah satu nikmatNya yang sering kita lupakan adalah : teman baik.

Lalu sampailah saya pada satu pemikiran. Selama 21 tahun ini, sejak SMP, Allah tidak pernah mencabut saya yang hina ini dari orang-orang baik yang senantiasa ikut menjaga saya. Entah itu 20 orang, hingga hanya 2-3 orang. Orang-orang ini bervisi surgawi, yang cita-citanya sungguh mulia : ingin masuk surga bersama-sama.

Mungkin terlihat sederhana, tapi mari kita lihat lebih jauh. Banyak orang yang lupa bersyukur tentang nikmat yang satu ini sehingga melalaikan teman baiknya. Contohnya, ada orang yang sibuk mengejar mimpi duniawinya, ingin masuk univ keren, ingin kuliah di LN, ingin kerja di PT A, dsb. Hal yang disayangkan bukan mimpinya yang besar, tapi karena kesibukan yang luar biasa akhirnya ia menghindar dari kumpulan orang shalih, menutup telinga dari berbagai nasihat karena disibukkan dengan urusan duniawi. Sejatinya ia sedang lupa, bahwa justru teman baiknya adalah salah satu yang senantiasa mendoakan ia agar sukses dan kembali lagi ke lingkaran surga.

Lalu apa yang ia dapat? Ya, mungkin ia berhasil ada di tempat yang ia kejar, tapi terlanjur jauh dari komunitas kebaikan. Lalu apa yang membuat ia yakin akan bertahan sendirian?

Ah, sedih.

Saya selalu terharu dengan cara Allah menjaga saya. Begitu lembut..
Salah satunya adalah melalui teman baik yang Allah titipkan.

Saya sadar, saya lebih butuh teman yang grasak-grusuk nyuruh saya shalat tepat waktu, daripada yang ngingetin saya untuk hedon tiap pekan. Saya juga butuh teman yang menangis di samping saya ketika sedang bermuhasabah bersama, dibanding dengan yang ikut menangis ketika saya sedih. Saya butuh teman yang dengan ngeselinnya nantang buat menghapal quran lebih cepat dibanding yang nyuruh ngerjain TA cepat cepat (canda deng, itu juga butuh -_-).

Ini ada quotes dari Teh Fufu yang jadi salah satu quotes favorit saya :
Iman itu memang naik turun, maka disitulah fungsinya sosial, untuk memilah dan memilih orang yang berada di sekitar kita. Perlu komunitas kebaikan yang akan selalu menjadi pengingat. Betapa banyak dari kita juga lupa bersyukur, akan nikmat iman dan islam, serta bersyukur mendapat kawan yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Karena bila kita sendirian, kita tak pernah tahu apakah yang dilakukan kita adalah "kebenaran", ataukah hanya "pembenaran" -Teh fufu

Lalu sudahkah kita bersyukur padaNya? Sudahkah berterimakasih pada mereka? :")
Semoga Allah tempatkan kita selalu pada komunitas kebaikan, aamiin.

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar