Jumat, 25 Maret 2016

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta?

Di segala hiruk pikuk kepenatan menjadi seorang kakak, kisah tentang mereka selalu jadi penghibur dan penghangat dalam hati. Bagaimana tidak, jika dalam hidup ini aku bisa kasih penghargaan kakak terbaik, maka mereka tentunya akan dapat penghargaan itu.

Sampai saat ini setiap kali pulang ke masjid bercat hijau lantai dua yang disebut Nurul Ihsan, selalu ada sebuah kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Yap, enam tahun yang lalu, aku selalu merasa ada taman surga di masjid mungil itu. Oh ya, ini juga salah satu alasan kenapa alumni selalu otomatis duduk di pojokan kanan deket lemari meski gelap dan rame, karena dari dulu pojokan NI itu saksi hidup banget, dari mulai belajar tilawah sampe ngegosip diskusi bareng.

Saat itu, tak akan ada yang pernah berhasil mempertahankan kesedihannya disana. Kamu datang sambil nangis-nangis, marah-marah, bahkan teriak-teriak, akan ada bidadari yang peluk kamu dengan kata-katanya yang menenangkan. Lalu kamu keluar dari tempat itu dengan wajah yang berseri-seri.

Bidadari itu kita sebut "teteh-teteh".

Teteh-teteh ini jago banget ngambil hati kita, mulai dari anak yang paling bawel nggak bisa diem (kalo diem mimisan kayanya) sampe yang hemat suara banget (cuma ngomong kalau ditanya). Dan kerennya apa coba? Kita semua betah berlama-lama bareng teteh-teteh. Bahkan percayalah, dahulu, akhwat-akhwat angkatanku yang hanya berdua belas itu mudah sekali menangis kalau sudah bicara tentang teteh-teteh. Kita selalu takut bicara tentang perpisahan dengan mereka.

Oh ya, dulu masjid Nurul Ihsan tak pernah sepi enam hari dalam seminggu dari pagi sampai menjelang maghrib. Tak ada yang rela ketinggalan meski satu hari pun, karena besok-besoknya pasti jadi orang paling kudet kalau udah bahas keseruan sebuah agenda -_-

Aku selalu bangga menceritakan tentang mereka pada adik-adikku, aku akan katakan bahwa mereka adalah contoh kakak yang baik. Mereka memang tidak sempurna, namun ketidaksempurnaan itu tetap membuat aku jatuh cinta.

Tapi... Ah, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta..

Mereka tak pernah absen untuk menasihati kita ketika kita butuh. Selalu siap sedia bakan di detik-detik tersibuknya. Mereka yang dengan sabarnya mengatakan bahwa Allah sangat mencintai kita. Bukankah teman yang baik adalah teman yang membantu kita untuk semakin mencintaiNya?

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta..


Mereka yang mengenalkan kita sebagai "adiknya" di hadapan kawan-kawannya. Mereka yang sempat-sempatnya mampir ke kelas hanya untuk sekedar pamit pulang duluan. Mereka yang mau-maunya pulang terakhir kalau ada adiknya yang belum dijemput. Mereka itu... baik banget. (ah kan jadi baper)

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta..

Mereka seringnya simpan kesedihannya sendirian, berusaha tampil dengan kondisi terbaik di depan adik-adiknya. Dan itu kadang bikin aku merasa lemah karena tak bisa berbuat apapun untuk sekedar memberi kebahagiaan pada mereka. Aku belajar untuk jadi kakak yang kuat ya dari mereka ini.

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta..

Menurutku, sebuah persahabatan belum sempurna kalau kita belum berani pundung alias ngambek. Jadi, kalau kamu kenal aku sebagai sosok yang riang dan penyabar, berarti kamu belum kenal aku seratus persen, percayalah, ada kondisi dimana aku berubah jadi sosok yang paling menyebalkan seisi dunia haha.

Dan aku dulu..... rajin banget merajuk sama teteh-teteh :( *asli ini aib banget, jangan ditiru*
Aku kadang mikir, teteh-teteh ini kayanya udah khatam banget ngeliat gerak-gerik adik-adiknya, sampe tau kapan kita marah, kecewa, sedih dsb. Bahkan kerennya, pernah aku lagi mikirin suatu hal yang bikin dongkol. Padahal aku bersikap biasa aja, orang lain juga ngerasa biasa aja. Lalu tiba-tiba ada seorang teteh yang dikenal tercuek seisi dunia nanya : "hayoo, ka mandeu kenapa? diapain? lagi marah sama siapa?". Lalu aku tertawa, malu karena tak bisa sembunyikan perasaan seremeh itu, haha.

Selain itu, dahulu saat aku ada di titik terlemahku, sesosok teteh hadir untuk menenangkan. Meyakinkan bahwa semua ini justru bentuk cinta dariNya. Dan seluruh kisahku murni terjaga, tak ada yang keluar sedikitpun dari mulutnya.

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta..

Itsar, tingkatan ukhuwah tertinggi tak bisa dilakukan hanya dengan kata. Kita belajar untuk mendahulukan kepentingan saudara seiman. Kita jadi terbiasa rebutan lepas jaket dan kasihin ke akhwat lain yang lupa bawa, terbiasa rebutan nawarin diri duluan untuk jinjing barang tambahan selama rihlah, terbiasa jalan paling belakang agar bisa jagain barisan, terbiasa bawa makanan untuk porsi banyak orang. Kita jadi terbiasa membagi apapun yang kita punya :")

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta..

Bersama mereka itu bukan hanya tawa yang kamu dapat. Mereka pandai membimbing kita untuk selalu mendekat padanya. Setiap ada waktu luang, mereka ajak untuk muhasabah, maka dari itu hampir di setiap event pasti ada sesi nangis barengnya. Oh ya, aku juga inget dulu belajar i'tikaf bareng teteh-teteh. Mereka sabar banget nyemangatin kita buat tetep kuat berdiri shalat 3 juz di habib yang level hard itu. Mereka juga bimbing kita untuk rajin tilawah dan mulai menghafal quran. Maka dari itu, HKPI saat itu benar-benar jadi rumah kedua untuk kami.

FYI, akhwat angkatan aku ini bener-bener memulai semuanya dari nol ketika SMA. Mulai belajar ngaji, belajar pakai jilbab syar'i, belajar pakai rok dan segalanya. Beberapa bahkan baru pakai jilbab kelas X atau XI, jadi kehadiran teteh-teteh ini memang terasa sekali dari awal bujukin kita buat masuk HKPI. Hampir semua anak punya teteh andalan dan kita baru tau ternyata mereka memang melakukan pendekatan khusus sejak awal, kurang niat apa sih mereka -_-

Coba beri tahu aku, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta?








Maafin aku ya teteh-teteh atas semua kesalahan yang masih sering aku ulang hingga saat ini. Tapi jujur, aku rindu sekali. Agak menyesal juga kenapa dulu tak perlakukan teteh-teteh lebih baik lagi, dan bersyurkur lebih sering lagi.

Aku akui aku akhirnya "terjebak" di tempat itu. Aku terjebak dan mencintai dunia dakwah ini. Aku terjebak karena kelembutan kalian yang buat aku semakin sadar kalau Allah memang Maha Baik dengan segala keromantisanNya.

Akhir kata, terimakasih telah menjadi sosok yang membuatku lebih dekat padaNya :")

***Uhibbukum fillah teh lija, teteh wangi, teteh baik, teh yeyeh, teh alpi, mba ika, teh mano, teh ilma, teh amel, teh tiwi, teh ririn, teh winda dan teteh-teteh lain yang telah meninggalkan jejak indah di hati. Semoga bisa kumpul lagi di surga aamiin. Rasanya aku ingin ulang kisah ini sekali lagi. Salam rindu dari kejauhan :"))
Share:

Selasa, 15 Maret 2016

Pentingnya Komunitas Kebaikan

A : "Eh kamu hafalan quran udah berapa juz?"
B : "Ada deeeh! Tuh si itu tuh udah nyampe 5 juz"
C : "Halah, aku sih satu juz butuh waktu setaun. Lama bangett"
Yap, itu obrolan yang semalam jadi perdebatan tentang siapa yang paling cepat progress ngapalin quran selama ini. Ssst ah, jangan bilang ini pencitraan dulu, haha. Yang ingin saya angkat dari obrolan itu adalah..... betapa nikmatnya punya komunitas kebaikan.

Iya, masing-masing dari kita pasti punya versi "komunitas kebaikan" sendiri. Ada yang menganggap komunitas kebaikan itu teman-teman rohisnya, teman satu lab, himpunan atau bahkan geng sekelas. Macem-macem deh pokoknya.

Tapi yang jelas, komunitas kebaikan ini bukan sembarang kumpulan orang yang punya visi duniawi yang sama, tapi juga harus bervisi surgawi.

Semalam saat mabit bersama dua bidadari, saya banyak berpikir bahwa nikmat Allah itu tiada duanya. Dari mulai hal paling sederhana hingga yang luar biasa terasa. Salah satu nikmatNya yang sering kita lupakan adalah : teman baik.

Lalu sampailah saya pada satu pemikiran. Selama 21 tahun ini, sejak SMP, Allah tidak pernah mencabut saya yang hina ini dari orang-orang baik yang senantiasa ikut menjaga saya. Entah itu 20 orang, hingga hanya 2-3 orang. Orang-orang ini bervisi surgawi, yang cita-citanya sungguh mulia : ingin masuk surga bersama-sama.

Mungkin terlihat sederhana, tapi mari kita lihat lebih jauh. Banyak orang yang lupa bersyukur tentang nikmat yang satu ini sehingga melalaikan teman baiknya. Contohnya, ada orang yang sibuk mengejar mimpi duniawinya, ingin masuk univ keren, ingin kuliah di LN, ingin kerja di PT A, dsb. Hal yang disayangkan bukan mimpinya yang besar, tapi karena kesibukan yang luar biasa akhirnya ia menghindar dari kumpulan orang shalih, menutup telinga dari berbagai nasihat karena disibukkan dengan urusan duniawi. Sejatinya ia sedang lupa, bahwa justru teman baiknya adalah salah satu yang senantiasa mendoakan ia agar sukses dan kembali lagi ke lingkaran surga.

Lalu apa yang ia dapat? Ya, mungkin ia berhasil ada di tempat yang ia kejar, tapi terlanjur jauh dari komunitas kebaikan. Lalu apa yang membuat ia yakin akan bertahan sendirian?

Ah, sedih.

Saya selalu terharu dengan cara Allah menjaga saya. Begitu lembut..
Salah satunya adalah melalui teman baik yang Allah titipkan.

Saya sadar, saya lebih butuh teman yang grasak-grusuk nyuruh saya shalat tepat waktu, daripada yang ngingetin saya untuk hedon tiap pekan. Saya juga butuh teman yang menangis di samping saya ketika sedang bermuhasabah bersama, dibanding dengan yang ikut menangis ketika saya sedih. Saya butuh teman yang dengan ngeselinnya nantang buat menghapal quran lebih cepat dibanding yang nyuruh ngerjain TA cepat cepat (canda deng, itu juga butuh -_-).

Ini ada quotes dari Teh Fufu yang jadi salah satu quotes favorit saya :
Iman itu memang naik turun, maka disitulah fungsinya sosial, untuk memilah dan memilih orang yang berada di sekitar kita. Perlu komunitas kebaikan yang akan selalu menjadi pengingat. Betapa banyak dari kita juga lupa bersyukur, akan nikmat iman dan islam, serta bersyukur mendapat kawan yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Karena bila kita sendirian, kita tak pernah tahu apakah yang dilakukan kita adalah "kebenaran", ataukah hanya "pembenaran" -Teh fufu

Lalu sudahkah kita bersyukur padaNya? Sudahkah berterimakasih pada mereka? :")
Semoga Allah tempatkan kita selalu pada komunitas kebaikan, aamiin.

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Share:

Kamis, 10 Maret 2016

Mereka tahu tidak ya?

Seperti malam-malam jum'at biasanya, tepat jam delapan malam aku kirimkan deretan sms yang mengajak mereka untuk duduk melingkar barang setengah jam. Tapi tak seperti biasanya, malam ini sangat minim balasan. Dari 13+10 orang, hanya 1+2 orang yang merespon.

Mereka tahu tidak ya?
Bahwa orang yang mereka anggap kakak mereka ini melakukan segala cara untuk mendengar jawaban "iya" dari mereka.
Bahwa orang yang terlihat punya waktu luang ini, setiap malam jum'at sibuk merasa khawatir akan hadir atau tidaknya mereka di lingkaran esok harinya.
Bahwa orang yang tidak sanggup untuk marah ini sejatinya manusia juga, bisa kecewa, bisa putus asa.
Bahwa orang-orang ini (tidak hanya satu) sudah berkorban banyak untuk sekedar bisa melihat senyuman mereka di setiap pekannya.

Mungkin ini alasan mengapa "membina" tidak semudah yang dibayangkan. Hanya orang-orang berhati luas saja yang bisa bertahan.

Aku kenal baik seorang adik, yang bahkan rela keliling kelas membagi-bagikan snack pada adik binaannya di sela-sela kesibukannya. Untuk apa? Untuk mendatangkan mereka ke lingkaran syurga yang berlangsung hanya 30 menit sampai 1 jam setiap pekannya. Apa balasannya? Sebagian hadir, sebagian tetap tidak ada kabar. Lalu apa yang dia lakukan? Dia tersenyum seharian, bahagia karena akhirnya setengah kelompok bisa hadir.

Menyedihkan? Tidak, ini mengharukan.
Bahwa ternyata memang benar, yang lemah adalah yang paling mencintai. Yang paling mencintai-lah yang akan rela melakukan segalanya. Lalu, sudahkah aku melakukan segala hal untuk mereka?

Bismillah, mohon doanya agar saya dan kawan-kawan dapat terus memperbaiki diri dan istiqomah menjadi mentor. Karena sungguh, amanah ini bukan amanah yang ringan.

Mungkin segala ujian ini juga karena diri saya yang belum pantas dan bergelimangan dosa..
Share: