Kamis, 22 Desember 2016

Ini Jum'atku, mana Jum'atmu?



Kau tahu rasanya jatuh cinta? Atau lebih spesifik lagi, kau tahu bukan bagaimana rasanya ada kupu-kupu terbang di perutmu ketika melihat si dia yang kau cinta? 

Ah, aku rasakan hal itu setiap jum'at.

Beruntung sekali bukan? Aku tak perlu menunggu momen spesial untuk merasakan kupu-kupu terbang ala orang yang sedang jatuh cinta. Aku juga tak perlu membayar mahal untuk bisa merasakan rindu layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Aku juga tak perlu menambah-nambah dosa hanya untuk bertingkah seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Aku selalu jatuh cinta di hari Jum'at.
Aku bahkan sudah rindu mereka sesaat setelah jum'at berakhir.

Apakah benar ini cinta?
Bahkan hatiku dengan mudahnya bilang "iya".

===


Mereka tahu tidak ya? Betapa seluruh peluh rasanya hilang di hari jum'at, tepat ketika senyuman mereka terlihat di jendela masjid berwarna hijau.
Mereka tahu tidak ya? Setiap tingkah mereka selalu sukses jadi hiburan tersendiri dikala penat.
Mereka tahu tidak ya? Keberadaan mereka membuat diri ini merasa berharga, setidaknya untuk duabelas bidadari dunia seperti mereka.
Mereka tahu tidak ya? Setiap respon positif mereka selama mentoring menambah keyakinan bahwa akan ada satu generasi yang akan merubah segalanya.

Ah, mungkin mereka tak akan pernah tahu dan sebenarnya tak perlu tahu. 

Mereka juga tak perlu tahu ada seseorang yang saat ini sedang memikirkan mereka. Orang ini senang sekali bercerita tentang mereka kepada siapapun karena ia bangga sekali pada mereka. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering memikirkan mereka dimanapun dan kapanpun. Apakah karena ia rasa perpisahan semakin dekat? Entahlah, yang jelas rasa cinta yang ia rasakan pada mereka semakin besar setiap harinya hingga ia memutuskan untuk menuliskan cintanya (meski tak akan pernah cukup) lewat tulisan malam ini.

Dan orang itu adalah aku.

Aku yang tak pernah habis pikir mengapa Allah menitipkan bidadari-bidadari dunia dengan sayap indahnya pada diri yang penuh dengan dosa ini.

Aku sungguh malu, malu sekali padaNya, pada mereka.

Aku malu pada Aisyah, pada hatinya yang selembut jingga di sore hari, pada matanya yang selalu memancarkan kebersihan hati yang hakiki. Aku malu pada Fazla, pada prinsipnya yang menghujam kuat dalam jiwa, pada keagungan sikap yang memancarkan kekokohan hati. Aku malu pada Asyel, pada kemampuan syiar dakwahnya yang menyentuh lapisan sosial yang tak pernah bisa aku sentuh bahkan hingga detik ini. Aku malu pada Atha, pada itsarnya yang tak pandang bulu, pada pengorbanan untuk saudaranya yang tak kasat mata. Aku malu pada Zarin, pada semangatnya yang melahirkan kekuatan untuk saudaranya, pada senyuman yang tak pernah hilang seterhimpit apapun kondisinya. Aku malu pada Djihan, pada air mata solidaritas, pada rasa peduli yang tak terucap. Aku malu pada Firaas, pada loyalitasnya yang tinggi untuk saudara sendiri, pada kemampuannya memimpin tanpa membuat orang merasa kehilangan posisi. Aku malu pada Meta, pada kegigihan diri, pada pembuktian kasih sayang yang sungguh luar biasa tanpa harus banyak kata. Aku malu pada Nabila, pada kekhawatiran hati yang selalu timbul saat kesalahan sedang terjadi di sekitarnya, pada kelapangan hati dalam menerima mahalnya permata nasihat. Aku malu pada Shafira, pada keberaniannya mengatakan bahwa yang benar adalah benar, pada tegaknya kaki meski harus berdiri sendiri. Aku malu pada Sinda, pada jernihnya lisan dan akal untuk menerima luasnya samudera ilmu, pada kemauan berubah yang sangat tinggi. Aku malu pada Yaaquta, pada kesetiaan dalam diam, pada ingatan baiknya tentang saudara-saudaranya.

Aku ingin peluk mereka satu persatu malam ini dan katakan terimakasih telah membuat diri ini sanggup merasakan cinta sedemikian hebatnya :')
Tak bosan aku katakan, semoga cinta ini memang hanya karenaNya dan selalu karenaNya.
Dan jika cinta ini memang benar ikhlas karenaNya, seharusnya tak ada lagi kekhawatiran akan pertemuan dan perpisahan di dunia. Cukuplah pertemuan kekal di surgaNya nanti..

Umar Bin Khattab radhiAllahu ‘anhu pernah berkata : “Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini, kecuali karena tiga hal; keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya, repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail, dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.”

Adik-adik surgaku, jangan lelah perbaiki diri agar Allah hadiahi pertemuan hakiki di surgaNya nanti. Uhibbukum Fillah, Mandeu's.



Bandung, 22 Desember 2016 01:07 WIB.
Ditulis sambil mendengarkan nasyid senandung ukhuwah dan untukmu teman yang begitu syahdu dalam hati.
Share:

Selasa, 13 Desember 2016

Jangan lupa untuk bercermin

Jangan lupa untuk bercermin. 
Begitu nasihat dari ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya.

Aku seringkali kecewa pada orang-orang terdekatku. Sebegitu merasa kecewanya hingga aku yang keras ini bisa menangis sesenggukan dan memberitakan seluruh luka padaNya. Merasa begitu sakitnya hingga pergi menenangkan diri seharian agar tak merasa kalut. Padahal, apa yang membuatku pantas merasa kecewa? Bukankah aku hanya dikelabui oleh harapan pribadi lalu merasa harapan-harapan itu menjadi tanggung jawab orang lain?

Egois bukan?

Aku merasa berhak untuk membalas dan melakukan protes dengan diam dalam waktu yang tak dapat ditentukan. Hingga seseorang mengetuk pintu dengan perlahan dan bertanya dengan lembut "Ada apa?".

Aku luluh, lalu aku tersadar bahwa aku lupa untuk bercermin.

Aku sibuk menilai dunia dan seisinya ini hanya dari kacamata sendiri. Aku menolak sikap acuh tak acuh dari orang lain, padahal ia hanya melihat dunia dari kacamatanya persis dengan apa yang aku lakukan. Aku seringkali merasa kecil, merasa bukan siapa-siapa karena sikap dari orang-orang yang tercinta. Padahal bukankah ungkapan cinta itu berbeda dari setiap insan? Bisa jadi doa yang ia kirimkan jauh lebih banyak jika dikalkulasikan. Aku sering terbunuh rasa khawatir, marah jika seseorang memberikan kesempatan pada prasangka untuk menampakkan batang hidungnya. Lupa, bahwa khawatir yang berlebihan itu datangnya dari syaitan.

Aku sungguh lupa untuk bercermin.
Aku lengah dan sibuk menilai orang lain tanpa mengevaluasi diri sendiri. Sibuk menerima energi negatif dari orang lain tanpa sadar bahwa aku masih punya energi positif untuk dibagi. Aku lengah menangkap kebaikan dari orang lain namun lihai merasa kecewa atas kesalahannya.

Bukankah sejatinya kita sedang bercermin ketika melihat satu kesalahan pada saudara kita? Bisa jadi, rasa sakit yang kita ukir pada hatinya jauh lebih dalam daripada apa yang kita rasakan saat itu juga. Bisa jadi, ia yang saat itu torehkan luka justru sedang berusaha untuk jadi sosok yang lebih baik untuk kita. Bisa jadi, ia yang buat kita menangis sesenggukan malah sedang berbincang denganNya, tentang kita. Bukankah hudnuzhan akan membuat diri ini lebih tenang?

Maafkan aku.
Sungguh, maafkan aku.
Share:

Minggu, 27 November 2016

Ini aku yang terlalu kuno atau dunia memang sudah memaksa manusia untuk berubah?

Aku seringnya tak nyaman menghadapi saudara-saudara yang terjebak dengan cinta yang semu, karena menasihati dan dinasihati tentang cinta bukanlah hal yang mudah.
Aku tahu, sungguh aku tahu sekali bahwa diri ini pun jauh dari kata sempurna apalagi suci dari dosa. Bahkan mungkin diri ini jauh lebih berdosa dibandingkan mereka.
Tapi sekotor-kotornya diri dan hati ini, ada rasa sakit yang tak asing ketika melihat orang-orang terdekatku bermain-main dengan apa yang mereka sebut dengan cinta.

Benarkah itu cinta?
Bagaimana bisa mereka yakin bahwa apa yang menjerumuskan mereka adalah cinta?
Bagaimana bisa mereka begitu percaya diri bahwa ia yang senantiasa memberikan perhatian semu 24/7 adalah cinta?
Bagaimana bisa mereka merasa paham benar bahwa lelaki yang sejatinya tak punya hubungan darah dengannya itu berhak mengatur hidupnya atas nama cinta?
Bagaimana mungkin mereka merelakan prinsipnya, hatinya, bahkan tangannya untuk disentuh oleh seseorang yang mereka sebut itu cinta?
Bagaimana bisa mereka bangga bisa berfoto berdua bersandingan dengan lelaki yang selalu tampak gagah dan tercinta di matanya? Memandangi foto itu setiap malam dan mengaminkan agar mereka bisa memadu cinta di kehidupan selanjutnya?

Aku. Sungguh. Tak. Paham. Lagi.
Ini aku yang terlalu kuno atau dunia memang sudah memaksa manusia untuk berubah?

Aku sering mendengar kisah cinta, mulai dari yang semu hingga yang kisahnya begitu indah dan aktornya begitu bercahaya karena keimanan yang meledak-ledak dalam hati.

Ada yang terjebak dan menolak segala nasihat karena sang cinta terlalu indah di matanya.
Ada yang terjebak dan menerima nasihat, lalu besoknya kembali terjebak, lalu kembali, lalu terjebak lagi dan begitu seterusnya.
Tapi ada juga yang terjebak, namun tepat pada obrolan pertama ia memutuskan untuk kembali padaNya.

Dear, aku tahu ini berat. Urusan hati seperti ini memang tak akan pernah jadi ringan untuk kita.
Bahkan mungkin orang yang terlihat garang bisa saja menangis di sepertiga malam karena rasa sakit di hatinya yang disebabkan oleh "cinta".
Perasaan yang abstrak ini memang seringnya melemahkan, maka dari itu aku selalu terharu jika ada yang dengan begitu mudahnya berbalik memuarakan cinta padaNya. Mengikhlaskan segala nafsu dalam dada karena takut padaNya, meski sakit, meski sulit. Aku sungguh cemburu dengan bidadari-bidadari dunia seperti mereka :')

Ayo kita berubah bersama-sama. Membentengi diri dari sosok manusia yang bahkan memuliakan kesucian hati kita pun tak bisa. 

Bagaimana mungkin kita bisa yakin bahwa mereka (yang kita kira itu cinta) akan muliakan diri kita jika sekedar menjaga kesucian hati kita pun tak bisa?

Lupakan keshalihannya yang terlihat begitu memesona jika menahan dirinya untuk tidak "mengganggu" via chat saja tidak bisa. Semua ada batasannya dan apa-apa yang berlebihan selalu berakhir dengan tidak baik.

Dan tak lupa, kita akan kuat jika bersama. Semoga kita bisa senantiasa menjadi sosok yang hangat untuk saudara kita sendiri, hingga ia tak lagi membutuhkan rumah baru yang tak halal untuk hatinya.

ps:terimakasih untuk kalian, yang senantiasa mengisi hati ini dengan kehangatan ukhuwah yang luar biasa. Sungguh, kisah kita ini jauh lebih mengasyikkan untuk diarungi dan digali sampai habis masanya, daripada menelusuri labirin kisah yang semu.
Share:

Selasa, 22 November 2016

Kita perlu berhenti sejenak

Sudah hampir dua pekan terakhir rasanya ingin makan orang uring-uringan karena beban pikiran yang bercabang-cabang layaknya mind mapping kehidupan yang nggak ada habisnya. Mungkin ketika ketemu orang banyak langsung lupa seketika, tapi kalau sudah sendiri mulailah masa-masa "semedi", melamun tentang apa yang harus dilakukan kedepannya.


Baru kerasa sekarang, ternyata cinTA itu memang melelahkan. Bukan hanya tenaga, tapi pikiran juga terkuras habis untuk mikirin "gimana caranya menuntaskan tanggung jawab pada orang tua" yang satu ini. Sulit, apalagi harus membagi ruangan di otak dan hati untuk memikirkan hal lain yang jadi prioritas juga. Alhasil semua dipikirin (dipikirin doang, dikerjainnya ntaran aja) sampai lelah, sampai tubuh mengeluarkan sinyal-sinyalnya untuk berhenti, untuk istirahat sejenak.


Sejujurnya... tepat dua hari yang lalu saat rasanya ingin menyerah dan ingin menikah saja, aku minta sakit pada Allah. Saat itu kurang lebih aku bilang gini dalam hati "Ya Allah, aku udah ga kuat, aku minta sakit aja, sakit yang benar-benar sakit hingga orang-orang memaklumi aku kalau tanggung jawab ini ga selesai tepat waktu lagi". Iya, aku tahu ini hal yang bodoh. Biasanya aku tak kenal kata menyerah, tapi malam itu aku sungguh ingin menyerah setelah sebelum-sebelumnya juga terbersit rasa untuk menyerah.

Tapi Allah Maha Baik. Ia kabulkan doa itu, esoknya (benar-benar esok harinya setelah aku minta sakit) dada mulai sesak dan tumbanglah diri ini karena demam tinggi. Dan tahukah? Ini jadwal aku penelitian. Pilihannya cuma dua, benar-benar menyerah dan menjadi beban lagi atau lanjutkan perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Ya, aku memilih untuk lanjutkan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Dengan tubuh menggigil dan demam yang tinggi beserta teman-temannya, aku coba untuk kuatkan diri dan yakinkan diri bahwa segalanya pasti akan berlalu.

Aku sadar, meminta sakit adalah hal yang bodoh (tolong jangan ikuti di rumah). Kebayang nggak sih, untung cuma dikasih sakit begini, gimana coba kalau Allah kabulkan permintaan dengan "penyakit yang benar-benar sakit" itu? Tapi Allah tahu, Allah tahu aku mampunya menangung sakit yang begini aja. Allah sedang uji, apakah aku akan menyerah atau berjuang? Dan setelah memutuskan untuk berjuang, Allah beri kenikmatan berjuang ditengah berbagai himpitan masalah, alhamdulillah :')

Ketika segalanya terasa berat, kita perlu berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, kawan. Karena jarak solusi dari masalah adalah sedekat dahi kita dari tempat sujud.

Dan tak lupa, terimakasih banyak pada bidadari-bidadari tak bersayap, yang walau raga tak selalu nampak namun hati ini rasanya selalu dekat. Terimakasih sudah buat aku menyerah malam ini karena dimarahin rame-rame hanya karena sekedar malas makan. Tthx banget loh untuk seseorang yang dengan seenaknya aja membagikan informasi kredensial bahwa aku sedang malas makan ini -_-. Eh nggak deng, gitu-gitu juga beliau yang buat aku memilih untuk tetap berjuang.

Semoga semesta senantiasa mendukung agar amanah ini tuntas tahun ini, mohon doanya ya ^^
Share:

Sabtu, 05 November 2016

Ngekos?

Akhir-akhir ini sedang malas tulis yang berat-berat, jadi mau berkisah yang kurang penting aja :3

Ngekos? Siapa cobaa yang belum pernah ngerasain ngekos?
Mungkin kalau bicara suka duka udah pada hafal kali ya, mulai dari persahabatan yang romantis antara anak kosan dengan ind*mie dan pr*maag di akhir bulan haha. Tapi bukan itu yang ingin aku sampaikan di malam yang dingin gerlong ini.

Kalau bisa dibilang, rekor banget nih aku udah pindah kosan 5x dalam lima tahun berturut-turut. Dari mulai ngekos di kosan cewe, ngontrak rumah rame-rame, ngekos di rumah orang sampai akhirnya khilaf dan kembali ngekos sendirian lagi di tahun keempat. Dan dengan kejadian tak terduga (baca saja : TA belum beres) akhirnya mutusin buat ngekos lagi, kabur dari Dayeuh Kolot dengan alasan referensi yang banyak di UPI (padahal sih emang lebih fokus disini aja).


Dan kamu tahu apa yang paling berkesan dari ngekos untukku?

Kesendiriannya.


Kalau orang lain suka hedon-hedon sama temen kosan, aku sih boro-boro... Selama empat tahun di kampus bisa dibilang cuma tahun kedua yang benar-benar punya teman kosan karena ngontrak rame-rame. Itupun masih agak kagok karena emang diri ini selalu butuh waktu yang lebih lama untuk bisa adaptasi sepenuhnya. Jadi meski ramai, kadang masih ngerasa sepi #kiw.

Kenapa aku bilang berkesan?
Karena hadirnya Allah dan titipanNya jadi begitu berarti.

Yang awalnya sering ga betah di rumah, eh di kosan malah paling ga bisa kalau udah nonton film atau denger kajian tentang orang tua, pasti langsung cirambay.
Yang seringnya kesel dengerin ocehan adik di rumah, tiap pulang malah ga sadar nyariin dia duluan meski tetep kesel kalau udah cerewet, haha.
Yang dulu suka ngeluh kenapa amanah di kota asal terasa amat membebani, malah bikin ingin pulang secepat mungkin karena rindu.

Ini tantangannya buat yang semi merantau dan harus membagi fokus karena amanahnya masih ada di kota asal. Berat, buat aku sungguh berat di tahun pertama untuk memilih skala prioritas. Jadinya harus dug-dag tiap weekend pulang demi mengejar cinta-cintaku yang menunggu dengan senyum lebarnya tiap pekan. Lelah? Jelas. Tapi gapapa, semoga Lillah..

Balik lagi ke urusan ngekos.

Karena kesendirian itu, hadirnya Allah jadi makin terasa. Beberapa kali aku ada dalam kondisi urgent yang butuh pertolongan, tapi ga ada yang bisa dimintain tolong :"
Dulu pernah kaki berdarah-darah karena kecerobohan yg bodoh lah pokoknya, terus ga bisa minta tolong sama siapapun karena belum punya teman di kosan, nelfonin orang juga ga ada yang angkat. Rasanya itu... sediiih banget. Kerasa banget ga punya siapa-siapa selain Allah. Andai Allah ga tolong, entah gimana jadinya waktu itu. Alhamdulillah, sepasang malaikat di dunia langsung datang malam-malam kala itu :")


Nah itu. Aku jadi sadar kalau titipanNya juga sangat berarti dan wajib disyukuri.
Teman kosan. Ini salah satu nikmat yang harus banget disyukuri.
Apalagi kalau kamu punya temen kosan yang baik, shaleh, bisa jaga kamu biar ga salah jalan.

Mungkin aku yang telat bersyukur kali ya, sempet punya temen-temen kontrakan yang shalihah, yang subuhnya selalu tepat waktu dan ngajak berjamaah, yang tiap malam kamarnya ramai dengan murajaah, yang hari-harinya selalu super produktif untuk berdakwah, yang hafalannya masyaAllah mungkin bentar lagi jadi hafizhah itu mah. Dan tak lupa, IP nya nyaris sempurna broooh :"
Ah, aku termakan oleh rasa sakit yang padahal sepele, sampai lupa betapa hebatnya mereka. Dan baru menyesal sekarang karena kurang bersyukur sama Allah udah dikasih malaikat penjaga sekaligus tiga, hebat-hebat lagi :"

Dengan punya teman kosan, kita belajar jadi semanusia-manusianya manusia yang harus memanusiakan manusia. Kita diuji, sejauh mana bisa membagi apa yang kita punya? Sejauh mana bisa mendahulukan kepentingan mereka? Sejauh mana bisa memberikan pertolongan terbaik kala mereka butuh? Karena orientasinya sudah bukan hanya kita sendiri, tapi juga mereka. Ya bayangin aja, kita bisa bareng mereka 24x7 yang bahkan jadi lebih lama daripada dengan keluarga di rumah. Semua aib mungkin akan terkuak perlahan, tahan ga tuh kalau udah saling keluar jelek-jeleknya? Belum lagi kalau ada yang sakit, disitu kepekaan kita diuji. Dan ini.. bukan hal yang mudah, kawan.

Alhamdulillah wa syukurillah, di tahun kelima ini Allah titipkan lagi teman kosan yang insyaAllah shalihah. Kadang masih ga nyangka kalau takdir Allah pertemukan kita lagi sampai jadi teman kosan yang tiap hari ketemu, padahal sempet loss contact sejak pisah di SMA. Who knows? Barangkali mulai dari kamar kosan ini akan lahir ide-ide luar biasa untuk dakwah kedepannya, aamiin.

Mungkin karena udah kenal lama kali ya, jadinya kosan sekarang lebih nyaman, lebih hidup. Aku yang ngerasa normal-normal aja, jadi tahu kebiasaan buruk yang malah teman kosan-ku ini yang duluan tahu, haha. Kalau dulu masih jaim-jaiman, sekarang tiap malem rebutan selimut yang lebih dingin karena ga mau temannya kedinginan. 

Beliau ini memang dilabeli sebagai makhluk Allah yang amat sangat ga peka (ini asli deh bener -_-), tapi gimana dong, kayanya bentar lagi label itu runtuh. Aku bingung kenapa ia bisa hafal semua gelagat buruk yang bahkan aku sendiri ga sadar. Sekarang, ia tahu persis kapan aku "tidak baik-baik saja" dan ini kadang buat aku ga enak karena pasti muka aku betein banget kalo diliat -_- Ia juga tak segan-segan bilang takut kalau aku mulai "kambuh". Ia jadi orang yang pertama negur kalau aku salah sikap diluar sana. Oh ya, tak lupa juga ia yang setia nasihati "yang sabar..." tiap mulut ini ga bisa nahan buat ngedumel.

Ah, kalau udah gini susah nanti kalau pisah, bukan hanya "kehilangan" teman yang paling tahu siapa kita, tapi juga kehilangan cermin yang jadi tempat ngaca paling jujur.

Qadarullah, beliau sedang terbaring sakit. Rasanya ga nyaman ya ternyata, khawatir setiap suhu tubuhnya naik di malam hari atau mulai ga mau makan. Suka HHC (Maaf aja, anaknya emang suka pake singkatan jadul) alias harap-harap cemas kalau udah cek dahinya, takut demam lagi. Meski ia bilang gapapa (dengan mata merah dan wajah pucatnya), tapi nyatanya tetep ga tega mau ninggalin, berasa punya anak gituu deh pokoknya (so mantap banget, padahal belum pernah punya juga -_-). Syafakillah yaa ukhti, semoga Allah segera sehatkan, biar bisa aku gangguin lagiii haha.

Bagaimanapun juga, berjamaah akan lebih menguatkan dibanding sendirian. Jangan sok kuat dan sok mantap maunya sendirian mulu, apalagi untukmu yang merantau nun jauh disana. Carilah teman-teman shaleh yang bisa membawamu terbang dengan sayap-sayap kebaikan. Karena Syurga, terlalu luas untuk ditempati sendirian.
Share:

Jumat, 28 Oktober 2016

Sesuatu


Banyak orang mengeluhkan tak punya teman yang bisa jadi sandaran ketika butuh, tapi nggak sadar, kamunya udah jadi teman yang bisa jadi sandaran belum?


Banyak orang yang sedih karena tak punya teman yang bisa ajak ke jalan kebaikan, tapi nggak sadar kalau dirinya memang lebih asyik berkecimpung dengan komunitas gaulnya.

Banyak orang yang ketika sedang dirundung masalah merasa bahwa temannya tak ada yang setia, menganggap mereka hanya menumpang payung ketika hujan dan hilang ketika hujan reda. Tapi kau yakin tak jadi teman yang hanya menumpang payung orang lain saja?


Karena beginilah hidup bukan?
Kita akan ditemukan dengan orang-orang yang sebenarnya adalah cerminan diri kita.


Jika boleh jujur, terkadang aku pun mengeluh tentang ukhuwah. Rasanya memang menyakitkan ketika angan tentang kisah ukhuwah yang begitu menggugah seakan hanya manis diujung lidah belaka. Kemana itsar yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah di jamannya?

Tapi tidak, mataku tertutup atas jutaan kebaikan mereka oleh sedikit kesalahan yang dengan khilaf ia  (baca : partner sehari-hariku) lakukan, sungguh sedikit saja.

Aku dengan mudahnya marah saat ia meng-cancel agenda, tapi aku lupa bahwa ia selalu memaafkan diri ini dengan begitu sederhana sebesar apapun kesalahannya.

Aku kecewa saat merasa bahwa ia tak peduli, sering lupa bahwa beberapa kali ia meminta switch tempat tidur dengan alasan "kasian dingin dibawah".

Aku sering protes dengan tidak pekanya ia, tapi aku terlupa bahwa ia hafal makanan yang tak bisa aku makan, daftar penyakit yang sering kambuh dan kebiasaanku yang lupa mengunci pintu kosan yang bahkan bisa jadi orang tua-ku pun sudah tak sehafal ini.

Aku sering kesal dengan tingkahnya yang sulit diatur, tapi sungguh aku lupa bahwa ia satu-satunya yang tahan dengan kebawelan tingkat tinggi ini. Ia hanya protes sambil tertawa, tanpa sekalipun marah karena aku melanggar privasinya.

Aku sering meminta pada Allah untuk dititipkan saudara yang baik dan bisa saling menjaga, tapi aku sungguh lupa bahwa ia-lah yang setia mengingatkan selama ini. Lupa bahwa justru bisa jadi ia yang Allah titipkan, ia yang jadi jawaban doa selama ini.

Sekarang aku sadar, bahwa memiliki seseorang yang paham akan diri kita adalah "sesuatu".
Punya orang yang tahu persis kita sedang marah dan butuh waktu untuk tenang, bahkan dengan sabarnya mau jadi pelampiasan adalah "sesuatu".
Punya orang yang selalu protes dengan bawelnya kita juga "sesuatu".
Dikelilingi oleh orang yang bahkan tak tega melihat kita kedinginan juga "sesuatu".
Dilindungi oleh seseorang yang tahu kelemahan kita itu "sesuatu".

Dan sesuatu ini tak harus ditemui dengan cara yang tak benar atau melawan ketentuanNya.
Coba buka matamu, "sesuatu" ini setia ada di sisimu. Entah di tempat yang kau singgahi 7 hari dalam seminggu atau di tempat lainnya yang mungkin luput dari perhatianmu.

Atau kau masih yakin bahwa kau tak punya "sesuatu" tersebut?
Maka jadilah "sesuatu" itu.
Share:

Jumat, 07 Oktober 2016

...

Jangan macem-macem. Udah, ikutin aja alurnya. Nanti kalau ga sesuai yang diharapkan, kamu yang ga akan kuat nanggung sendirian.

Ini semua rasanya jadi semakin serius, ya. Aku jadi semakin serius berpura-pura bahagia, begitu juga dengan kamu yang semakin hebat dalam menyembunyikan rasa, berpura-pura baik-baik saja setelah apa yang terjadi.

Bagiku, kau itu teman terbaikku. Kau, orang yang paling sering kutemui setelah keluargaku di rumah. Jadi sebenarnya percuma saja kalau kau pasang topeng dengan senyum terbaik, satu paket dengan kalimat "Aku nggak apa-apa kok, malas mikirinnya juga". Dear, aku tetap masih rasakan ada yang salah.

Kau mungkin tak tahu, saat itu aku tersungkur menangis hingga pukul 4.30 pagi karena merasa sangat bersalah padamu. Tepat setelah kamu ceritakan semuanya malam itu. Aku hancur, merasa begitu bodohnya telah berikan sumbangsih terbesar pada rasa sakitmu saat ini. Dan kau, dengan begitu bijaknya berkata bahwa kau lega jika aku ikhlas.

Aku harus bagaimana?
Jika lukamu yang ini terulang lagi, rasanya aku yang tak sanggup hadapi kenyataan, bukan kamu.
Aku yang tak tahan membayangkan perihnya luka yang harus kau sembuhkan lagi, bukan kamu.
Karena sendiri pun, kau tetap kuat. Aku tahu, kau akan tetap kuat. 
Aku yang tak sekuat itu.

Semoga Allah kuatkan pundakmu untuk hadapi segalanya. Seperti yang selalu kau bilang, "kita ikuti aja alurNya.."
Share:

Selasa, 04 Oktober 2016

.

Waktunya sudah dekat. Dan kisah ini, akan segera menjadi lagu untukku sendiri.
Tapi bukankah seharusnya aku bahagia? Seharusnya malam ini aku menangis penuh rasa syukur.
Namun apalah ini, aku malah mengeluarkan banyak energi untuk menahan tangis... karena sakit,

Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku, Yaa Rabb..
Share:

Jumat, 30 September 2016

Tulisan Emosi (2)

Them.

Aku percaya, setiap orang punya tugas dan peran masing-masing dalam satu lingkaran persaudaraan. bahkan yang besar sekalipun. Ada yang bertugas sebagai leader, ada yang harus dilindungi, ada yang bertugas untuk tegas mengingatkan, ada yang tersenyum riang sepanjang hari, ada yang harus dikuatkan, ada yang memberi perhatian dan lain sebagainya.

Dan untukku, tak perlu semua orang punya level perhatian atau kekhawatiran yang sama. Bisa gonjang-ganjing dunia jika semua punya level kekhawatiran se-berlebihan diri ini. Dan aku pun selalu yakinkan diri ini bahwa aku, tak butuh perhatian semacam ini. Aku butuh mereka untuk tetap baik-baik saja. Aku sungguh butuh mereka dalam kondisi terbaik mereka. Tidak sakit dan tidak kurang apapun jua. Aku butuh merasa tenang dengan melihat mereka baik-baik saja. Bagiku, cukup aku lakukan tugasku untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja. 

Mungkin, ada yang salah dengan semua ini. Ada perhatian yang salah arah. Ada kekhawatiran yang justru mengancam kebebasan mereka. Ada tindakan-tindakan dibawah alam sadar yang membuat mereka merasa terbatasi.

Maafkan aku. Jelas aku egois sekali saat ini. Aku hanya bisa lakukan yang terbaik alias menjaga mereka hingga segalanya terlihat baik-baik saja dimataku. Aku mau lakukan apapun agar mereka berada dalam kondisi baik-baik saja, atau bahkan dalam kondisi terbaik.

Sekali lagi, aku butuh merasa tenang dengan melihat mereka baik-baik saja.

Mungkin ini semua bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri yang egois tak terkira ini. Aku tahu jelas, aku tak bisa tanpa mereka. Maka sudah selayaknya aku menjaga apa yang pada nyatanya hanya dititipkan padaku. Aku bertindak seakan-akan semua ini untukku. Aku tak siap, tak pernah siap jika tiba-tiba mereka hilang. Padahal apalah hak diri ini untuk menahan mereka disini? Nol. Nihil.

Sejatinya aku lupa, bahwa kita sesekali perlu merasa tidak baik-baik saja. Bahwa terkadang, ketidak baikan ini akan menjadi satu kebaikan tersendiri untuk kita.

Kita perlu momen sesak penuh sepi untuk bisa mendekat padaNya, bukan?

Maka izinkan aku untuk memohon maaf pada mereka, pada kalian yang mungkin sering merasa terkekang dengan aturan-aturan tak resmi yang notabene sering keluar dari mulut ini. Aku bukan orang baik, semoga Allah sibukkan diri ini agar terus menjadi lebih baik.

Sungguh, maafkan aku. 

Semoga rasa cinta ini tak lagi salah arah, hingga ketika saatnya kau dan kau dan kau pergi bahkan tak ada satupun yang tersisa lagi, maka ikhlas akan tetap memenuhi hati ini. Aku sungguh mencintai kalian semua, tapi aku masih tak tahu harus bagaimana agar cinta ini tak jadi satu hal yang mengikat sayapmu untuk terbang. Maafkan aku.


Ditulis ditengah-tengah gelombang perasaan bersalah pada banyak orang, pada adik-adik, pada kakak-kakak, mungkin pada semuanya. Ah, aku lupa, gelombang rasa sakit dalam ulu hatiku juga masih belum menghilang.
Share:

Rabu, 28 September 2016

Sepotong hati yang hilang

Sumber

Pekan ini kembali jadi pekan gloomy (yhaa blog ini akhirnya jadi blog galau lagi setelah sok asik nulis catatan travelling -_-), gimana ga gloomy kalau orang-orang terdekat jatuh sakit :'(

Dari dulu, duluuuuu banget, diri ini paling ga sanggup liat orang-orang terdekat sakit. Entah itu di rumah atau saudara-saudara seperjuangan, adik-adik, siapapun deh yang memang sudah tinggalkan jejak di hati. Rasanya aneh aja gitu, yang biasanya bercanda tiap hari di grup jadi tiba-tiba sepi. Yang biasanya makan ga perlu di reminder, jadi khawatir banget kalau mereka belum makan.

Sama kaya kemarin, paginya dapat kabar yang isinya minta maaf karena harus cancel agenda bareng pagi itu, katanya beliau tiba-tiba sakit. Dan sebenernya mulai deg-degan pas jam 10 pagi belum ada kabar lagi. Ini nih, ini dia yang masih bikin bingung sampai sekarang. Terkadang suka dapet feeling khawatir ga menentu gitu. Dan biasanya ini feeling ga hanya sekedar feeling, tapi beneran ada apa-apa :(
Yap, tiba-tiba sorenya tahu kalau beliau sampai diinfus. Waaah, kaget, hampir-hampir telfon mamanya dan rasanya ingin langsung ke rumahnya saat itu juga (jangan ditiru kegegabahan ini, haha). Masih ga tega rasanya ketika beliau bilang sakit atau sulit makan, atau lihat wajah pucatnya. Padahal biasanya aku gangguin tiap hari. Ah ga tega pokoknya. Tapi aku tahu kamu kuat, sebentar lagi penyakitmu akan hilang. Toh tadi bahkan kita bisa diskusi berjam-jam bukan? Sabarlah sebentar, sungguh sebentar lagi (Sepertinya justru ini nasihat untukku, ya).

Beneran deh, kita harus bersyukur atas nikmat sehat yang Allah kasih pada kita, atau orang-orang terdekat kita. 

Karena setiap pancaran kebahagiaan dari wajah mereka, menular pada kita juga bukan? Dan bukankah dengan mereka ada dan baik-baik saja kita jadi merasa tenang?

Dulu juga pernah, semalaman uring-uringan karena tumben-tumbennya nungguin kabar dari seorang adik, bahkan sampai bikin tulisan sedih banget padahal gatau kenapa sedihnya. Biasanya feeling gini tuh hilang setelah tidur, eeeh subuh tetep khawatir bahkan sampai siang juga tetep khawatirin dia. Tiba-tiba siangnya dapat sms "Maaf kamandeu, aku kecelakaan semalem. Maaf ga bisa ikut rapat ini". Deg. Langsung saat itu juga percepat rapat dan pergi ke rumahnya. Hancur sekali lihat kondisinya saat itu, rasanya ingin gantikan posisinya. Karena tetap sih, aku lebih sakit kalau lihat mereka sakit.

Pernah juga tiba-tiba ingin bertemu seorang teteh dulu, sampai tumben banget keliling daci biar memperbesar kemungkinan ketemu. Dan tahukah? Teteh tsb. ternyata sakit cukup parah dan ga masuk sekolah berminggu-minggu. Dulu sampai nengok rame-rame banget konvoi angkot dan motor, sampe ada acara baca puisi juga sambil nangis bareng-bareng. Kadang suka lucu kalau inget, akhwat angkatan kita kok baperan banget ya guys. Ih jadi kangen deh :')

Feeling gini juga ga cuma dirasain sendiri lho. Dulu (lagi-lagi bahas masa lalu), setelah upacara selesai, aku dan seorang kawan tiba-tiba ingin jalan-jalan kedepan lab fisika. Tahukah kamu? Ternyata ada seorang adik kita tercinta pingsan di kelasnya pas banget kita lagi lewat. Tanpa pikir panjang langsung berdua masuk ke kelasnya dan gotong dia ke UKS. Kebetulan kah? Engga, ini pasti rencana Allah.

Pernah juga bersama kawanku satu lagi, tiba-tiba kita khawatirin seorang adik ditengah pelajaran biologi. Tiba-tiba muncul SMS dari teman sekelas sang adik yang bilang kalau sang adik kambuh asmanya dan lumayan parah. Langsung kita izin ke WC padahal lari ke UKS dan ga balik-balik lagi sampai akhir pelajaran, haha. Akhirnya nganter sampai rumah beliau dan nyeker ga pakai sepatu karena lupa ga pakai sepatu dari UKS (Lagi-lagi jangan tiru kebodohan kami ini). Karena ga bawa sepatu itu, akhirnya dijemput sama bidadari-bidadari penghuni NI, mana hujan-hujanan lagi. Kurang so sweet apa? :') LAH KOK INI JADI FLASHBACK YAK.

Sekarang, salah seorang kawan terbaikku, yang dulu kerjaannya gotong-gotongin adik-adik yang pingsan juga sedang sakit. Aku coba untuk tolak sebuah pemikiran bahwa sakitnya kali ini memang parah. Tapi sejenak ada keyakinan bahwa Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. 

Memang, ada rasa perih dalam hati ketika lihat kau menangis tempo hari seraya berkata bahwa kepalamu begitu sakit. Tapi kamu adalah orang yang kuat, aku tahu itu. Ibumu bilang kamu itu kuat. Ayahmu juga. Lalu apa yang membuatku pantas merasa pesimis atas penyakitmu? Kamu pasti sehat, sebentar lagi. Aku mohon, sabarlah sebentar lagi, kawan. Maafkan aku lalai berbulan-bulan ini. Sibuk dengan amanahku sampai lupa bahwa saudaraku, amanahku.

Jadi mari kita pejamkan mata sejenak, bersyukur atas nikmat sehat yang Allah beri pada kita dan pada orang-orang di sekitar kita. Jangan pelit, berikan doa terbaikmu untuk mereka yang sedang sakit. Oh ya kawan, aku titip doa terbaik untuk mereka ya. Rasanya sepotong hatiku hilang jika terus begini.


*Aku tahu, tulisan ini berantakan bangeeet. Jenis tulisan kaya gini akan muncul kalau sedang sedih tapi bingung salurkannya gimana. Meski begitu, menulis itu melegakan, separah apapun tulisannya. Alhamdulillah..
Share:

Senin, 19 September 2016

Catatan Backpacker Tiga Negara Malaysia, Thailand dan Singapore (Part 1 : Malaysia - Thailand)



Setelah beberapa bulan ini blog isinya tulisan galau semua, alangkah baiknya mulai kristalkan memori perjalanan kemarin kali ya. Tadinya mau tulis dulu yang jogja (lagi), tapi karena perjalanan yang ini lebih rumit kayanya mending kejar tayang ini dulu hehe.

Yap, bermula dari Tante yang beli tiket promo Air Asia pada September 2015 lalu dipenuhi dengan drama-drama kehidupan yang bikin aku yakin buat cancel trip ini, tapi endingnya Allah takdirkan untuk tetep berangkat. Packing seadanya banget dan tenang banget, malah rasanya lebih rusuh pas packing ke jogja. Mungkin karena persiapannya cuma buat diri sendiri aja kali ya, ga ngerasa nanggung hidup orang lain jadi lebih enjoy, toh kalau kurang kan yang rugi cuma diri sendiri haha.

Packing buat tujuh hari ini bisa dibilang ga begitu ribet sih. Bersyukur banget ga bawa banyak baju, ternyata backpackeran itu ga bisa sok idealis mandi dua kali sehari (Tips 1 : Asumsikan satu hari cukup satu stel pakaian, bawahan rok bisa dipakai lebih dari satu kali). Meski seadanya, jangan lupakan barang-barang dibawah ini ya guys :

  1. Charger HP, Kamera, dsb
  2. Colokan universal (Kalau negara tujuan singapura/malaysia/thailand bisa beli yang tiga lubang) Seandainya lupa beli, bisa beli di malaysia seharga 5 RM (Sekitar 15 ribu)
  3. Tisu (Basah/Kering)
  4. Obat-obatan pribadi
  5. Handuk kecil
  6. Fotocopy Passport
  7. Goody Bag (yang tipis aja, ga perlu terlalu besar)
Yakin deh barang-barang diatas bakal kamu butuhin disana. Karena rugi juga kalau mesti beli di negara tujuan, kadang harga turis jadi lebih mahal guyss. Oh ya, kemarin aku bawa satu koper dan satu ransel. Koper disimpan di penitipan koper, nah ranselnya nemenin jalan-jalan deh. Tapi kalau boleh milih sih lebih milih pakai carrier aja daripada koper, beraaaaat geret-geret dijalan, mending digendong kemana-mana T__T (Tips 2 : Sesuaikan jenis tas dengan rencana perjalanan)


Teman setia sepanjang perjalanan
Oke balik lagi ke cerita backpacker, jadi sampai di Kuala Lumpur sekitar jam 10.45 di Bandara KLIA2 dan langsung cuss ke KL Central dengan bis-bis yang berjajar di gate keluar. Tiket bisa dibeli di counter ticket bis seharga 11 RM (Sekitar 33 ribuan). Bisnya sekelas bis pariwisata di Indonesia kok, bisa dibilang nyaman lah ya. Perjalanan ke KL Central sekitar 60 menit (Agak macet).

Sesampainya di KL Central, kita naik bis dalam kota (aduh apa ya namanya? -_-) tujuan ke puduraya buat titip koper (Koper besar perhari 3 RM). Tapi ini kesalahan pertama, untuk kamu yang mau langsung berangkat ke Thailand via jalur darat, lebih baik titip koper langsung di TBS (Terminal Bersepadu Selatan. Btw ini terminal besar banget hehe). Belum tau sih berapa harganya, tapi yang jelas ini bisa hemat waktu banget (Tips 3 : Cari info sebanyak-banyaknya tentang penitipan tas di tempat yang kamu tuju). 

Setelah titip tas di puduraya, istirahat gelindingan bentar di mesjidnya. Nah ini yang aku cinta dari Malaysia, hampir semua masjid/musholanya bener-bener terpisah ikhwan-akhwat (mana bersih dan ber-ac lagi), jadi buat kita para akhwat bener-bener bisa enjoy disana. Bisa istirahat juga ngadem-ngadem cantik hehe.

Setelah istirahat dan makan bekal (backpackeran itu harus irit guys), kita langsung berangkat ke TBS untuk menuju ke Hatyai - Thailand. Waktu itu kita pakai Konsortium Bus seharga 58,5 RM (Sekitar 176k). Ini bis asli nyamaaaan banget, space kursinya luas dan ada sandaran kakinya, di sebelah kanan ada charger USB, selain itu ada wifi on board juga looh. Kita berangkat pukul 23.00 dari TBS dan sampai di Hatyai pukul 09.00 pagi. (Tips 4 : Perhatikan perbedaan waktu setiap negara, Thailand sama dengan Indonesia).


Interior Konsortium Bus
Oh ya, selain by bus, bisa juga pakai kereta (KTM), ada yang tipe kursi biasa dan ada juga sleeper train (pake kasur gitu deh), tapi perjalanan jauh lebih lama katanya. Tentang ini bisa browsing pengalaman orang yaa, masih penasaran juga soalnya hehe.

Selama perjalanan, bis beberapa kali berhenti untuk nurunin penumpang. Dan sekitar jam 5.30, bis berhenti di Changloon, disini abang-abang supirnya minta kumpulin passport buat didata gitu deh untuk keperluan di imigrasi nanti. Setelah sekitar 30 menit berhenti, bis mulai jalan lagi dan masuk ke perbatasan Malaysia di Bukit Kayu hitam. Disini kita harus turun untuk cek paspor, antriannya ga begitu panjang kok dan lumayan cepat juga.

Ujian besar itu datang di perbatasan Thailand - Sadao (10 menit dari perbatasan Malaysia tadi). Ga ngerti lagi ini border kenapa bisa seramai itu, antrian juga semrawut deh banyak yang asal nyerobot gitu. Cuma di kedua perbatasan ini enjoy sih ga ada masalah tertentu, ga kaya di perbatasan Singapura yang rada ribet (ceritanya menyusul di part 2). Setelah antri sekitar 1,5 jam barulah bisa terlepas dari dekapan antrian tak berujung ini.

 Ramainya perbatasan Thailand-Sadao :"
Alhamdulillah, meski tinggal aku dan tante berdua di bis, abang supirnya ga ninggalin (lagi-lagi ga kaya perjalanan ke singapura, haha). Meski abang supirnya kalau ngomong kaya lagi ngajak duel, tapi hatinya baik :3

Setelah dari border Thailand, kita dibawa lagi untuk menuju Hatyai. Perjalanan sekitar 1 jam dari perbatasan dan jalannya mulussss, belum lihat jalan bolong-bolong selama backpackeran ini hehe. 

Dan akhirnya sampailah kita di Hatyai, Thailand!
Kita turun pas di depan counter bis Konsortium, tepatnya di dekat Kim Yong Market. Karena kita ga berencana nginep disini, kita langsung beli tiket pulang termalam (jam 7 malam) untuk balik ke KL. Harga tiket pulangnya 450 Baht (180k).

Counter Konsortium Bus
Kalau aku pribadi excited gitu disini, dibanding malaysia dan singapura rasanya Hatyai ini lebih kerasa budaya negaranya. Selain bahasanya yang bikin kita pengen pake bahasa kalbu aja daripada berusaha ngartiin, lingkungannya juga asik karena terasa masih asing kali ya.
Mungkin yang harus diperhatikan disini tuh MAKANAN, karena tulisan Thailand meringkel-ringkel entah apa artinya, kita jadi sama sekali ga bisa baca menu yang dia sediakan. Jadi, wajib banget buat muslim untuk tanya dulu ke penjualnya "No Pork? ". Amannya sih tanya aja ke warga disana "Halal Food" dimana, alhamdulillah kemarin ada yang nunjukkin tempat makan tom yum halal gitu, yang jualnya juga berjilbab jadi tenang makannya dan santai aja kalau kamu mau asal tunjuk menu haha. Harganya juga cukup terjangkau sih, satu porsi tom yum sekitar 100 THB (40 ribu rupiah) dan bisa untuk makan berdua-bertiga. Thai tea satu gelas besarnya seharga 8000an.

Seafood Tomyum

Yap, makanan disini emang ga begitu mahal. Cukup keluarkan uang 10k juga udah cukup sebenernya. Sosis bakar dan makanan-makanan berbahan dasar ikan disini cuma 150 Baht (6k), kalau di Indonesia bisa sampe 15k kan ya :( Jadi sekali lagi, di Thailand ini asik buat..... MAKAN!

Lupa nama nasinya apa, yang jelas enak deh.

Snack murmer 6000an

Di thailand selain wisata kuliner yang asik, tempat wisatanya juga asik karena free hehehe. Jadi disana kita sewa tuktuk (semacam angkot terbuka lah ya) yang sebenernya muat buat bersepuluh, agak rugi juga sih nyewa berdua. Ini kudu nego banget, kalau ga nego bisa kena charge gede bangeet. Dengan tujuan ke taman Hatyai (di taman ini banyak objek wisatanya, ada cable car juga tapi ga sempet nyoba kemarin), Wat Hat Yai Nai dan Diana Plaza harganya 400 THB (160k). Mungkin sekitar 5 jam sewa kali ya. (Tips 5 : Supir tuktuk disini jarang bisa bahasa inggris/melayu, jadi pakai kalkulator hp/tulisan untuk tawar harga ya!)

Hatyai Municipal Park
Wat Hat Yai Nai (Ini tante btw -_-)
Masih Wat Hat Yai Nai

Untuk referensi tempat wisata bisa lihat disini.

Sekali lagi, seluruh tempat wisata yang aku kunjungi di Hat yai ini gratisss. Cable car kabarnya sekitar 200 THB (80k). Agak rugi juga kalau buat aku, mending buat beli oleh-oleh hehehe. Taman Hatyai itu semacam areal hutan gitu jadi adeem, enak buat istirahat (dan mandi) hehe. Bagi para backpacker yang mau mandi bisa pakai toilet di bawah counter ticket cable car. Sepi dan lumayan bersih, ada lahan kosong yang bisa dipakai buat shalat juga. Perjalanan jauh kan tidak menggugurkan kewajiban kita untuk shalat ^^

Masih Hatyai Municipal Park

Bagi yang ingin tahu tentang taman hatyai (Hatyai Municipal Park) bisa browsing ok atau klik ini.

Setelah mandi dan keliling-keliling Kim Yong Market buat beli oleh-oleh (Tips 6 : Jangan beli coklat! Pedagang coklat di pasar ini bilang kalau semua coklat disini ngambilnya dari Malaysia. Jadi mending beli langsung di Malaysia aja, lebih murah jatuhnya. Usul sih beli jamur buat tom yum, disini harganya murah), kita nunggu bis sambil lihat pameran gitu didepan Lee Garden Plaza (Salah satu mall besar yang jadi icon Hatyai). Kalau cape juga bisa istirahat di mall ini, banyak spot kursi-kursi yang sepi gitu di lantai atas, bisa sambil charge gadget juga hehe.

Setelah istirahat bentar, langsung menuju counter bis konsortium lagi buat wudhu dan shalat maghrib. Ruang tunggunya lumayan banyak dan ada toilet gratis (bisa mandi juga disini). Duh jiwa saya memang jiwa penyuka gratisan, haha.

Perjalanan pulang lancar, turun juga dua kali di border Thailand dan Malaysia. Alhamdulillah border pulang ini ga seganas pas datang, cenderung cepat jadi harus lari-lari karena takut ditinggal bis. Hal lain-lain juga lancar kok. Lama perjalanan Hatyai - KL (TBS) sekitar 10 jam. Sesampainya di KL sambil nunggu bis mulai beroperasi menuju hotel di chinatown, kita shalat subuh dulu di TBS (Subuh di Malaysia mulai jam 6an btw). Oh ya, dari TBS ini buat menuju pusat kota bisa pakai bis dalam kota atau LRT, monggo pilih nyamannya yang mana. Kalau saya pribadi memang lebih suka di LRT, tapi serius deh masih bingung sama LRT KL, perpindahan antar LRT nya itu bikin gempor bangeet, harus naik turun tangga gitu. Atau karena belum ngeh jalurnya kali ya? Tapi entahlah, soalnya kalau di singapura jalur MRT nya rapi banget, jadi ga perlu nanya juga ga akan nyasar hehe. (Tips 7 : Usahakan sudah pelajari jalur LRT/MRT biar ga kebingungan nanti)

Sekian kisah Backpacker tiga negara part Hatyai - Thailand, insyaAllah part selanjutnya akan segera ditulis. Seandainya ada yang butuh informasi dari saya yang juga masih newbie ini bisa tanya di kolom komentar ya, tinggalkan email juga agar bisa dibalas via email ^^

===Selalu ada kisah dari setiap perjalanan===
Share:

Sabtu, 10 September 2016

Karena mereka adalah seorang kakak

"Afwan saya terlambat, baru pulang dari kantor. Sudah sampai mana bahasannya?" ucap seseorang dalam sebuah grup. Lalu mulailah ia sampaikan ide-ide briliannya. Tak lupa ia tanyakan kabar adik-adiknya. Kecintaannya pada mereka sungguh terlihat, meski kesempatannya untuk sekedar bertemu dengan adik-adiknya sudah terenggut, cintanya masih tak berkurang sedikitpun.


Dan ia adalah seorang kakak.


===

"Alhamdulillah, akhirnya hari ini mereka datang mentoring. Aku seneeeeng banget liat mereka datang" ujarnya setelah selesai mengisi mentoring. Kau tahu berapa yang datang? Tiga orang. Dan ia bahagia seakan-akan tiga puluh orang datang pada pertemuan itu.

Di sela-sela kesibukannya, ia sempatkan untuk main ke masjid. Ia singkirkan sejuta kesedihannya demi melihat adik-adiknya tertawa bersamanya.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Hari itu, ia sedang jatuh sakit. Tubuhnya demam tinggi dan menggigil. Membuka matanya pun tak sanggup, apalagi harus bangun dari tidurnya.

Lalu siangnya ia terperanjat, membaca sms di handphonenya yang mengabari bahwa ada adiknya yang pingsan di sekolah. Ia panik, ia coba hubungi siapapun yang bisa dihubungi untuk memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja. Ia menyesal mengapa hari itu tak memaksakan diri ke sekolah. Ia pikir, setidaknya jika ada ia, maka adiknya yang pingsan tersebut bisa ia temani di UKS.

Ia lupa bahwa untuk berdiri pun, ia tak sanggup.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Dalam sebuah kondisi, sekumpulan orang sedang sibuk menyusun rencana karena ada sebuah kesalahpahaman besar yang disebabkan oleh adiknya. Mereka tak sampai hati jika harus melimpahkan tanggungjawab pada adik tersebut seorang diri. Karena apapun yang terjadi, adik tersebut tetaplah adik mereka.

Sedangkan adiknya tak tahu, bahwa ada yang harus menanggung kecerobohannya. Bahkan bisa jadi ia tak sadar kecerobohan apa yang sudah ia perbuat juga akibat yang harus ia tanggung. Ia tak akan tahu, karena sudah ada orang lain yang menanggungnya, kakaknya sendiri.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Ada seseorang yang hingga saat ini sudah tak menampakkan batang hidungnya. Namun setiap bulan masih rutin mengirimkan uang yang ia sisihkan dari uang jajannya untuk membantu adik-adiknya yang terhambat masalah ekonomi, maupun untuk kepentingan agenda dakwah adik-adiknya. Ia rela mengurangi jatah makannya untuk mereka.

Ia masih terus rutin melakukannya, meski tak ada satupun adiknya yang tahu tentang ia, bahkan sekedar mengenal namanya.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

"Guys, adik A lagi kena musibah kehilangan barang nih. Ayo kita bantu bareng-bareng." begitu bunyi jarkoman seseorang di sebuah grup. Ia tidak bercanda, selama dua hari penuh ia coba untuk kumpulkan donasi dari banyak orang yang mengenal adik A tersebut. Dan tahukah kamu? Uang sebanyak itu terkumpul dalam waktu 48 jam. Ia singkirkan ego dan rasa malunya demi lihat adiknya tersenyum lagi tanpa beban yang berat.

Dan ia adalah seorang kakak.

===

Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil kedinginan. Jaket tebal yang mereka bawa sudah mereka pakaikan pada adik-adik yang tak membawa jaket. Begitu juga dengan payung dan jas hujannya yang sudah menyebar entah di barisan ikhwan atau akhwat. Dalam derasnya hujan, mereka terus memandu barisan untuk bisa pulang dengan aman dari hutan yang cukup lebat.

Mereka panik, takut adik-adik mereka sakit. Mereka lupa akan kaki yang hampir kram di tengah jalan. Mereka coba hilangkan pening di kepalanya yang terus dipenuhi kebingungan yang luar biasa. Mereka tak peduli akan luka di lutut mereka karena terjatuh di jalan, demi memastikan bahwa adik-adiknya baik-baik saja.

Mereka terdiam, dalam hati terus berdoa agar Allah jaga adik-adiknya. Mereka sungguh sudah tak peduli akan diri mereka sendiri. Sepulang dari sana, mereka menyusun permohonan maaf karena tak begitu baik menjaga adik-adiknya. Mereka begitu merasa bersalah melihat adik-adiknya harus menerjang hujan yang lebat selama itu.

Dan mereka adalah seorang kakak.

===

"Aku paling ga suka kalau ada kakak-kakak. Mereka itu..."

Begitu ujar adik-adik. Mungkin matanya terhalang dari sejuta kebaikan, karena satu kesalahan manusia bernama "kakak" yang terlahir dari ibu yang berbeda.

Kamu, kalian, sungguh boleh hancurkan aku. Tapi tidak dengan mereka yang ada pada kisah-kisah nyata diatas. Mereka adalah kawan-kawan terbaikku, kakak-kakakmu.
Seandainya kau tahu lima puluh persen saja cinta mereka padamu, maka kau tak akan sanggup menanggungnya. Percaya padaku.




Aku tak peduli, silahkan sakiti aku. Sungguh, aku bahkan rela jika harus ada makian padaku. Aku rela menerima segala macam tuduhan tak berarah. Aku rela jika harus dilempar dengan segala macam kesalahpahaman. Aku siap pergi KAPANPUN, jika memang perbaikan sudah pasti akan hadir jika aku tak ada.
Tapi jangan sentuh adik-adikku, yang seharusnya juga adikmu, adik kalian semua. Jangan sekali-kali buat mereka menangis lagi. Karena aku... jauh lebih sakit jika mereka yang sakit.
Sekian dan terimakasih.
Share:

Selasa, 06 September 2016

Kau yakin itu cinta?

Kok kamu kaya gini sih ke aku? Ga kaya kamu ke dia. Aku juga ingin diperlakukan sama kaya dia.

Ups maaf agak alay, perlu diketahui itu bukan naskah sinetron ya, haha.
Kadang kita sering meminta lebih pada orang-orang yang kita sayang.

Tanpa kita tahu, bahwa ada orang-orang yang punya cara sendiri untuk tunjukkan kasih sayangnya.

Seandainya kita ada di posisi itu, coba pikir lagi, itu sayang beneran apa gimana? Kok bisa-bisanya berani meminta lebih seakan diri ini sudah banyak sekali memberi. Seakan orang di hadapan kita tak pernah bisa membalas kebaikan kita.

Dear, itu belum masuk level cinta.
Kalau kamu benar cinta, maka cukup lihat orang-orang yang kita cinta bahagia meski tak sedang bersama kita juga sudah menciptakan kebahagiaan tersendiri.

Kalau kamu benar cinta, maka melihat yang tercinta selalu ada dalam kebaikan meski kebaikan itu tak selalu datang darimu ya tetap sudah lebih dari cukup.

Bahkan Pak Anis Matta dalam bukunya menyebutkan bahwa cinta adalah hal yang agung dan hanya bisa ditanggung oleh orang-orang kuat saja

Dulu aku juga begitu, sering merasa bahwa apa yang aku lakukan terlalu besar sehingga merasa berhak meminta lebih, merasa berhak untuk protes akan sikapnya yang dirasa tak sebanding. Kamu lupa, lupa kenyataan bahwa orang yang kamu cinta, tak pernah meminta apa-apa.

Lalu seiring waktu, aku temukan orang-orang hebat dengan rasa ikhlas yang juara. Mereka terus memberi, tanpa peduli kebaikannya dilihat atau tidak. Bahkan sama sekali tak peduli posisinya dimana.

"Kalau benar cinta karenaNya, maka tak ada hal yang lebih penting selain kebaikan untuknya." Ujar sahabatku.

Lelah pasti, kalau tidak lelah ya bukan cinta. Tapi ga masalah kalau lelahnya jadi Lillah. Sama kaya tulisan emosi tempo lalu, itu akibatnya kalau lelahnya tidak Lillah, hehe.

Disclaimer : Tulisan ini bukan untuk mendukung cinta yang tak halal. Cinta yang begitu sih buang ke laut aja, haha.

Share:

Selasa, 30 Agustus 2016

Perasaan Kehilangan

"Kalau kita ga bisa ketemu lagi gimana?"

Pertanyaan simpel yang kadang terlontar dari mulut kita tanpa tedeng aling-aling.
Iya itu pertanyaan serius sebenernya. Seandainya detik itu, saat itu juga adalah waktu terakhir kita bisa lihat dia yang ada di hadapan kita gimana? Entah kita atau dia yang pergi duluan.

Gimana? Mau apa?

Kalau aku sendiri.. aku selalu benci dengan "perasaan kehilangan". Yap, hanya perasaan karena sejatinya manusia tak akan pernah benar-benar kehilangan. Semua yang kita punya hanya titipan dariNya bukan?

Perasaan kehilangan itu menyakitkan sekali. Bukan ketika sesuatu itu hilang, tapi ketika perlahan kita sadar bahwa ada kebiasaan yang hilang. Sadar bahwa sedikit demi sedikit, ada rasa sepi yang terpaksa datang.

Sejujurnya, aku belum pernah merasa kehilangan yang benar-benar kehilangan. Selama ini aku pikir, lebih baik aku yang hilang duluan, daripada merasa kehilangan orang-orang yang aku sayang. Wah lihat mereka pingsan atau terluka saja tubuhku sudah gemetar tak karuan dan rasanya ingin gantikan posisi mereka. Lalu apa kabarnya jika aku benar-benar merasa kehilangan mereka?

Egois bukan?
Selama ini aku pikir, lebih baik aku yang terluka daripada harus mereka yang rasakan luka.
Lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu, daripada lihat mereka lambaikan tangan untuk selamanya. Toh siapa aku? Tak akan ada yang berubah jika harus aku yang pergi duluan.

Tapi aku lupa. Memangnya apa yang akan aku bawa jika harus aku yang pergi duluan?
Apa yang akan aku tunjukkan padaNya?
Bagaimana bisa aku lebih takut merasakan kehilangan daripada mempertanggungjawabkan apa yang aku lakukan selama di dunia?
Apa yang membuatku begitu percaya diri untuk menginginkan "pergi duluan" demi menghindari rasa sakit dari perasaan kehilangan?

Sudahlah..
Jika memang aku yang harus pergi duluan, semoga Allah ampuni seluruh dosa :"(
Jika memang mereka yang harus pergi duluan, semoga Allah berikan kekuatan pada diri ini dan yakinkan lagi bahwa bagaimanapun hanya Allah tempat bertumpu, selamanya.

Dan jika kamu tak temukan aku di surgaNya nanti, tolong... tolong... tolong cari aku sampai ketemu ya? Tolong panggil aku ke surgaNya juga. Tolong doakan aku, jangan lupakan aku dalam setiap sujudmu.

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
Share:

Senin, 29 Agustus 2016

Mandeu's

Mandeu's, beginilah hidup. Kita tak akan pernah tahu akan dibawa kemana, yang bisa kita lakukan adalah tetap percaya bahwa keputusanNya adalah yang terbaik.
Kalian pasti masih ingat bukan? Jika kalian buka botol kecil itu maka sudah saatnya kita berpisah.

Ini memang sudah selesai untukku.
Tapi tidak dengan kalian.
InsyaAllah kalian akan tetap bersama dengan dikomandoi oleh seorang nahkoda yang jauh lebih baik daripada aku.

Sungguh, ini tulisan yang paling berat untuk diselesaikan karena menandai bahwa lingkaran kita telah selesai. Tapi meski lingkaran kita telah selesai, ukhuwah ini tak akan pernah selesai hingga jannahNya bukan? Aamiin.

Aisyah, Fazla, Asyel, Atha, Zarin, Djihan, Firaas, Meta, Nabila, Shafira, Sinda, Yaaquta, terima kasih banyak untuk semuanya. Hadiah saat mabit yang lalu adalah salah satu hadiah terbaik sepanjang masa. Tidak, kehadiran kalian saja sudah jadi hadiah terbaik dariNya. Maaf belum bisa jadi kakak yang baik untuk kalian :")

Silahkan buka video ini, kirim emoji hati merah (seperti laporan tilawah) ke grup line mandeu's ya kalau sudah tonton sampai selesai. Bersikaplah seakan-akan kita belum akan berpisah, setidaknya sampai rabu nanti, oke? ^^ InsyaAllah, semuanya akan dijelaskan rabu nanti.

Link : https://youtu.be/Irt1R3u8maM


Share:

Sabtu, 27 Agustus 2016

Sepotong Episode (Episode Akar)

Ada satu bagian dari pohon yang sangat krusial, akar. Akar jadi penentu apakah pohon itu akan tumbuh dengan baik atau tidak. Tapi berapa orang sih yang peduli dengan rupa dari si akar? Kadang kita teralihkan pada hijaunya dedaunan, lalu lupa pada akar yang menguatkan meski tak terlihat.

Dan episode kali ini tentang akar.

Ah, kok susah ya nulis episode ini?

Dulu awal kenal akar pas akar kelas 10, masih belum berhijab dan keliatannya bandel banget deh ampun -_- Kalau ga salah dulu ngasihin bunga pas dramus ke kelasnya dan asli shock banget liat akar haha.

Tapi sekaget-kagetnya lihat akar dulu, masih lebih kaget lihat perubahannya. Akar ini konsisten jika sudah punya prinsip. Aku masih inget dulu dicegat pas mau pulang (beneran masih diatas motor loh), lalu akar ceritakan kalau ia ga rela lepas rok dan pakai celana di satu penampilan klasikal. Aku kaget, ini anak keren banget, masih kelas 10 tapi keinginannya untuk berubah udah keren banget. Dan ya, jadilah akar dan seorang kawannya setia pada rok panjangnya pada penampilan klasikal itu.

Haru rasanya, punya adik sekeren akar.

Selain kaget karena prinsipnya, aku juga kaget ternyata akar ini berisik banget. Berisik banget lah pokoknya (penekanan ceritanya). Dari yang awal pas kongkows 2 masih malu-malu ga jelas gitu, sampai sekarang kayanya kalau diem mimisan :') Tapi aku tetap suka akar yang sekarang, lebih powerful dan jauh lebih berpengaruh.

Aku berutung sekali punya adik seperti akar yang tanggap banget pada tugas-tugas dakwahnya. Ia rela menghentikan aktivitasnya untuk sekedar ceritakan kondisi adik-adiknya. Akar juga sering begadang kalau ada event-event penting. Ia lelah, tapi lelahnya Lillah.

Dan untuk adik-adik, kalian berutung punya teteh sebaik akar.
Kalian mungkin tak tahu, seberapa sering akar mikirin kalian sepanjang pekan. Kalian mungkin juga tak tahu, seberapa dalam luka yang akar simpan untuk tetap terlihat ceria di hadapan kalian.
Kalian juga mungkin tak pernah lihat betapa akar kelelahan mengusahakan yang terbaik untuk kalian hingga saat ini.
Akar bahkan sering rekam pembicaraan kalian, untuk di review kembali bareng-bareng, dicarikan solusinya satu-satu. Kalau kamu belum pernah berterimakasih pada akar, ambil handphone-mu sekarang juga, ucapkan meski hanya sekedar kata terimakasih. Karena sungguh... rasa cinta akar pada kalian jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada diri sendiri.
Bahas tentang pengorbanan akar untuk kalian ga akan cukup hanya dalam satu tulisan.

Akar, kamu juga mentor terbaik yang pernah aku lihat.
Siapa lagi selain akar yang rela keliling kelas jemputin adiknya satu-satu sambil bagiin bingkisan kecil lalu endingnya yang dateng cuma setengahnya?
Aku masih ingat jelas wajah akar yang berseri-seri dan bilang "iih akhirnya mereka dateng meski hanya bertiga",

Jleb.

Aku yang kadang masih ngeluh hanya karena mentee ga full team, ngerasa tertampar banget dengan ikhlasnya akar membina adik-adiknya. Memang benar, kadang umur bukan patokan kedewasaan. Jelas aku kalah dewasa dari akar dalam memandang masalah ini.

Akar...
Terus sekarang aku harus gimana?
Dua hari lagi kamu pergi. Memang hanya sementara, tapi cukup berjarak.
Aku ga bisa asal peluk kamu kalau rindu tiba-tiba datang.


Ah, aku masih ga sanggup nulisnya. Kok episode ini bikin sesak di dada ya?

Aku.. harus gimana tanpa kamu di pojokan NI?
Siapa lagi yang bisa nyatuin adik-adik dalam satu lingkaran kalau bukan kamu?
Aku harus hubungi siapa kalau butuh bantuan bikin bunga?
Aku mesti cari siapa kalau butuh sosok yang bisa masuk ke dunia adik-adik?
Coba bilang, aku harus gimana membiasakan diri tanpa kamu?

Akar harus tahu, aku sayang akar banget, banget, banget...

Emang sih ga bisa dibuktikan kalau hanya dengan kata-kata, tapi ada rasanya ada yang hilang dari hati kalau inget akar akan pergi sementara.

Akar..
Matamu bengkak, hidungmu merah hari ini.
Ketika aku tanya kenapa, kamu malah membuang muka, berbalik ke arah tembok dan AKU TAHU KAMU MENANGIS LAGI.
Akar, kamu bisa menangis di hadapanku. Aku akan pinjamkan bahuku, dan mungkin akan menangis juga bersamamu. Aku tahu kamu sedang "apa-apa" bukan hanya "nggak papa" seperti yang kamu bilang sepanjang hari. It's okay not to be okay, right?

Dan akhir kata...

Kita tak harus selalu bersama untuk jadi bermakna.

Aku tahu, saat-saat ini akan datang. Aku harus melepas satu per satu bidadari kecilku untuk pergi menjemput impiannya. Mungkin ini waktumu, akar.
Terbanglah, kembangkan sayap kebermanfaatanmu disana. Jadilah mata air untuk keberlangsungan dakwah di tempatmu yang baru.

Kalau kamu mulai lelah, pulanglah akar. Pulanglah ke rumah kita yang tak lekang oleh waktu.
Aku sungguh mencintaimu, dan semoga selalu karenaNya. Karena sungguh aku ingin punya saudara sepertimu di SugaNya nanti.

Doakan aku diberikan keikhlasan untuk menerima sepinya NI tanpa dirimu, akar.
Share:

Kamis, 25 Agustus 2016

Tulisan random

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Nyatanya melihat ia terdiam dengan tatapan kosong tetap membuatku bertanya "Kenapa?"

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Tapi membaca setiap balasan singkat darinya membuatku bertanya "Ada apa?"

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Namun seluruh tubuhku gemetar saat melihat ia pingsan, terjatuh dari shalatnya. Jantungku berpacu lebih cepat dan lebih cepat.

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Tapi ada amarah yang muncul dalam hati, mendengar kisahnya bahwa ia dilukai teramat dalam oleh seorang ikhwan yang bahkan tak pantas untuk dipertimbangkan.

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Tapi kenapa mataku tak bisa terlepas darinya di sepanjang jalan setelah ia terjatuh dan terluka? Seakan hal itu bisa terulang lagi dan lagi.

Kukira.. aku sudah terbiasa.
Lalu aku sadar semua itu hanya bohong belaka.
Ada segumpal daging yang tak pernah bisa dikelabui, sekuat apapun aku mencoba tak peduli.
Namun kondisimu, kondisinya, kondisi kalian semua, jelas masih mempengaruhiku.

Jaga dirimu baik-baik, karena sepotong kebahagiaanku ada pada kebahagiaanmu.
Share:

Senin, 08 Agustus 2016

Sepotong Episode (Episode Hujan)

Kenapa hujan?
Karena hujan selalu dinanti bagi sekian banyak orang. Mungkin memang ada yang tak suka, namun tetap saja hakikat hujan adalah berkah. Tak peduli untuk yang suka, maupun tak suka.

Begitupun dengannya. Ia adalah berkah untuk orang-orang di sekelilingnya.
Ia orang baik, saya yakin itu.

Tanpa perlu banyak dideskripsikan, sepertinya episode ini akan jadi episode yang paling mudah ditebak siapa tokoh utamanya. Ya nggak aneh sih, tokoh utamanya sudah sering jadi tokoh utama di kehidupan orang banyak, hehe.

Dulu kenal hujan dari suatu organisasi eksternal. Kesan pertamanya? Serem.
Setelah kenal lumayan lama di SMA, kesan aku masih ga berubah, tetep serem -_-
Tapi.. saya tahu ia orang baik. Kalau ia nggak baik, nggak akan ada chatting-chatting ga penting tiap malam, yang bahkan masih berlanjut sampai saat ini. Andai hujan tahu, chatting ga penting itu sukses membunuh kesepianku.

Apa yang spesial dari hujan? Banyak.
Tapi ada satu yang sangat spesial. Aku berani merajuk padanya (damai ya, haha). Dan begitupun sebaliknya, ia bisa diam seharian, tak membalas setiap pesan. Aku pun bisa menghindari tatapan matanya seharian. Kukira, ia tak akan tahu, sampai ia bilang "Iiiih, aku salah apa sih? Coba bilang aku salah apa". Lalu biasanya aku nahan ketawa karena nggak tega -_-

Hey, aku bukan orang yang serta merta menunjukkan ketidaksukaanku pada seseorang atau bahkan sebuah kondisi. Bisa dibilang, aku ini selektif sekali dalam urusan menunjukkan perasaan sebenarnya. Tapi bersamanya, aku sungguh bisa jadi versi yang paling menyebalkan. Dekat dengannya, buat aku merasa kembali jadi manusia dan berteman dengan manusia juga. Percayalah, kadang kamu bingung ketika seluruh saudaramu rasanya suci dari dosa, boro-boro bisa berantem, salah sedikit juga rasanya jadi yang paling berdosa di seluruh dunia. Padahal berantem itu kan seruuu, hanya bisa dilakukan oleh insan-insan yang yakin bahwa partner berantemnya akan memaaafkan ia meski habis gontok-gontokan.

Ia orang baik. Meski ia sering hanya read chat dariku atau balas chat dengan kata-kata super singkat atau hanya kirim stiker nangis tanpa mau cerita apapun atau menghilang dari suatu agenda atau tiba-tiba diam sepanjang hari. Saya yakin, ia tetap orang baik.

Ada satu hal yang paling aku tak suka dari Hujan. Aku benci ketika ia terluka. Benci sekali ketika ada orang-orang yang seenaknya saja lukai dirinya. Mungkin ia anggap ini gurauan semata, tapi sungguh, lukanya tempo lalu juga sempurna jadi lukaku. Aku kira itu kesalahan terbesarku padamu, tak sanggup menjagamu dari kebodohan orang lain. Ah, aku bahkan masih kesal jika kau bahas tentang ini -_-

Karena sungguh, kau tak pantas untuk dilukai.

Aku sering pikir Hujan ini ga ada so sweet so sweetnya sekarang. Malah lebih so sweet dulu pas SMA. Tapi sekali lagi, mencintai itu bukan pekerjaan yang cocok bagi orang yang hanya senang berbicara. Maka Hujan membuktikan bahwa cinta itu bukan hanya kata.

Ia tahu kapan harus bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia hafal tentang siksaan alergi dinginku yang bisa kambuh suatu waktu. Ia tahu kapan saatnya menunggu. Ia paham bahwa ketika aku terluka, maka aku butuh bicara. Ah, ia tak pernah memaksaku untuk menatapnya ketika sedang membicarakan luka, Karena aku.. tak pernah sanggup memandang mata siapapun ketika sedang membagi kesedihan. Bisa-bisa bulir-bulir air mata keluar tiada henti hehe.

Aku memang punya banyak teman yang baik. Namun Hujan jadi salah satu yang berani menegurku jika mulai keluar arah. Dan percayalah, teman yg berani menegur kita itu priceless. Apalagi yang otomatis negur kalau kamu ngebut di jalan atau nggak keliatan masuk lubang haha.

Sampai saat ini, aku masih berusaha untuk jadi saudara yang sekufu bagi Hujan. Aku ingin sekali jadi saudara yang berguna untuknya, ingin sekali jadi saudara yang kehadirannya dapat membawa kebaikan untuknya, ingin sekali jadi saudara yang bisa hilangkan kesedihannya. Sayang, saat ini aku hanya jadi saudara yang menguji iman karena tak henti-hentinya keluarkan lelucon konyol.

Aku, tak pernah tahu posisiku untuknya. Dan aku tak peduli.
Hujan adalah seseorang yang punya banyak orang yang setia disisinya. Biarlah aku ada di belakangnya, aku yang akan dorong jika dia jatuh atau berjalan mundur. Meski hujan tak akan pernah menengok ke belakang, aku tetap tak akan menyerah untuk mendoakannya agar ia diberikan pundak yang kuat olehNya.

Karena kawan baikku bilang :

 Jika kita ikhlas, maka segalanya, selain kebaikan untuknya jadi tak penting lagi.

Hujan, aku tahu kamu akan pergi suatu hari nanti.
Aku tahu semuanya akan kembali menjadi kisah untukku sendiri.
Kamu, akan berlari, bahkan terbang hingga aku tak bisa lagi berjaga-jaga dibelakangmu.
Kemarahanku atas orang-orang yang melukaimu juga akan pergi, seiring dengan kepergianmu.

Tapi sekali lagi.. tak apa. Sungguh tak apa.
Perpisahan itu hal yang biasa. Seharusnya.
Yang jadi masalah itu aku, yang selalu terjebak dalam 'kebiasaan'.

Ah, Hujan, mengapa kau kembali dan menciptakan rasa nyaman bagi kami?
Kau otomatis jadi pembuat keputusan saat kami tak bisa memutuskan.
Kau jadi teman bicara saat tak satupun bisa diajak bicara.
Kau jadi orang pertama yang diserbu berbagai pertanyaan fiqh, aqidah bahkan ilmu duniawi.
Kau sama sekali tak pernah menolak untuk membagi ilmu.
Kau orang baik, yang kehadirannya selalu dinantikan oleh adik-adik.

Jadi, bagaimana kami bisa membiasakan diri lagi tanpamu?

*ps : bagi yang baca ini, dan tahu Hujan itu siapa. Nggak usah heboh kasih tahu ke orangnya ya. Biarkan alurNya yang membawa Hujan untuk baca tulisan ini :')
Share:

Sabtu, 25 Juni 2016

Tolonglah, aku lelah..

Kau orang baik. Saya tahu itu.
Tapi saya benci jika kamu menghilang seperti ini.

Terserah. Jika kau memang sedang tak nyaman, silahkan saja menghilang.
Asal satu hal. Kau tetap baik-baik saja.

Ini sudah hampir 72 jam, dan kau masih tak memberi kabar.
Melewati agenda besar dengan konfirmasi yang nihil.
Saya tahu. Saya tahu persis bahwa saya bukan siapa-siapa.
Saya tahu persis bahwa kau berhak untuk pergi sementara, atau bahkan selamanya.

Tapi apa susahnya berikan sepatah dua patah kata pada saudaramu yang kau tahu jelas bahwa level kekhawatirannya diatas rata-rata?
Apa susahnya membalas pesan-pesan singkat yang dikirim lewat berbagai media sosial?
Aku akan sangat hargai meski itu hanya satu karakter saja.

Kau jelas tak tahu mataku sudah basah saat menulis ini.
Kau boleh tak peduli.
Tapi tolong.. jangan lagi seperti ini.

Andai saja bisa kau rasakan hidup sehari saja sebagai aku. Maka kau akan tahu bahwa kekhawatiranku, bukan hanya permainan belaka.
Aku takut sesuatu terjadi padamu, dan aku sama sekali tak tahu.
Lalu apa yang akan aku pertanggung jawabkan padaNya nanti?
Karena aku tak mau jadi saudara yang hanya ada ketika kamu baik-baik saja.

Mungkin memang salahku yang belum masuk kualifikasi saudara yang dapat menanggung beban.
Aku akan coba upgrade diri, agar setidaknya berhak untuk dapat sedikit kabar tentangmu.
Kau tahu? Aku hanya ingin pastikan kau tak terluka.

Tolonglah. Aku lelah.
Share: