Jumat, 27 November 2015

Tabayyun

Jadi ceritanya pekan ini adalah pekan yang penuh dengan tamparan.

Tekanan dimulai dari pekan lalu saat sebuah isu mulai menyebar tanpa ampun. Bukan tentangku, tapi tentang seseorang yang begitu kucintai. Prasangka semakin membunuh setiap harinya tanpa ada keberanian untuk tabayyun (klarifikasi). Terus saja berkutat dengan kemungkinan terburuk, hingga akhirnya... aku memutuskan untuk menyerah.

Ya, saat itu aku benar-benar menyerah. Memasrahkan segala kemungkinan padaNya. Menjadi pengecut dengan tidak mau memikirkan tentang hal itu lagi. Padahal semuanya bohong, aku bakan terbangun dengan rasa khawatir yang tak hilang meski dibawa terpejam semalaman. Ternyata aku masih belum bisa mencintai perasaan kehilangan (karena sejatinya manusia tak akan pernah kehilangan).

Lalu aku memutuskan untuk memberanikan diri, menemuinya dengan berbekal sedikit kepercayaan diri. Kau tahu? Ternyata tabayyun tidak semudah itu. Orang yang menjadi target tabayyun pun tak selalu mengetahui bahwa orang yang sedang mencoba berbicara dengannya justru menyimpan luka dan harapan yang sama besarnya. Luka karena apa yang telah terjadi, serta harapan akan sebuah perubahan di masa depan.

Aku sungguh mencintai orang yang ada di hadapanku saat itu. Dia seorang adik yang sungguh tak ternilai harganya, entah sejak dan sampai kapan. Sejenak aku kehabisan kata, namun sepucuk surat darinya mutlak menjelaskan problema besarku berminggu-minggu itu.

Prasangka yang kubangun adalah : dia tak peduli denganku, maka ia bisa saja pergi kapanpun dengan keputusannya.

Kenyataan yang terjadi adalah : ia meminta maaf tanpa banyak alasan. Akupun meminta maaf. Allah memang yang terbaik, dikala aku sibuk dengan kekhawatiranku sendiri, justru orang dihadapanku sedang mencoba memperbaiki segalanya dan ingin menyembuhkan lukaku.

Kau tahu? Ini kisah tabayyun yang terbaik bagiku. Manusia dihadapanku ini memang berbeda. Kekhawatiranku akan kepergiannya mutlak sirna.

Bahkan sebelum berpisah, kami saling melambaikan tangan pada masalah dan berjanji akan kembali berkomunikasi seperti sedia kala. Sisanya.. tugas kami saling menjaga dan mendoakan.

Untukmu yang meskipun kemungkinan membuka blog ini sangatlah kecil, jika suatu hari nanti kau baca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku mencintaimu karenaNya. Semoga aku masih sempat menghapus setiap luka yang tak sengaja kugoreskan. Terimakasih telah memutuskan untuk kembali. Kita memang tak tahu apa yang akan terjadi, tapi kali ini, aku putuskan untuk mempercayaimu sekali lagi. Atau mungkin berkali-kali lagi? Entahlah :)
Share:

Kamis, 12 November 2015

Sedang ingin pergi

Ya, aku lelah. Tapi lebih dari itu, aku tak ingin pergi karena menghindari lelah.
Aku ingin pergi ketika justru semangat sedang menggebu-gebu. Akankah segera terwujud?

Aku bosan. Tapi aku tak ingin pergi karena terbunuh kebosanan.
Aku ingin pergi ketika aku sedang antusias. Akankah segera terwujud?

Aku sedang kecewa. Tapi aku tak mau pergi karena parade rasa kecewa dan sakit hari.
Aku ingin pergi ketika aku sedang bangga pada mereka. Akankah segera terwujud?

Aku mungkin terluka. Tapi aku tak mau pergi dengan alasan menyembuhkan luka.
Aku ingin pergi ketika luka ini sudah mengering. Akankah segera terwujud?

Hai, aku sedang ingin pergi. Tapi tidak dengan keadaan seperti ini.
Aku ingin pergi ketika segala sesuatu sudah menuju tempatnya. Akankah segera terwujud?

Karena seorang kakak tak boleh pergi hanya karena lelah, bosan, kecewa, terluka atau bahkan hanya sedang ingin pergi.
Share: