Sabtu, 05 September 2015

Tentang luka

Kamu tahu?


Ketika kamu terlanjur mencintai sesuatu dengan begitu dalam, terkadang kamu lupa apa yang menjadi alasan untuk mencintainya. Apakah itu memang karenaNya, atau justru malah karena hal lainnya.

Kamu terlanjur menikmati kinerja seorang pecinta sejati. Sehingga kamu melupakan hal penting,  yaitu landasannya. Maka dari itu, kecewa akan menjadi akhir dari segalanya.

Hari ini.. sudah lama tak merasakan sakit seperti ini. Bagi orang yang sudah mengenalku, tak mengucapkan sepatah katapun adalah tanda luka. Aku bukan orang yang mudah diam, aku orang yang akan terus berbicara. Namun ketika terluka oleh seseorang yang amat aku cintai, aku akan diam seribu bahasa. Aku akan menangis sendirian. Ya, menangis. Tanpa ada seorangpun yang tahu.

Sore ini aku memutuskan untuk bersandar sejenak di rumah kedua. Sekuat tenaga menahan tangis agar tak tumpah dengan seenaknya. Bagaimana bisa seorang kakak menangis di depan adik-adiknya karena luka yang sedang ia rasakan?

Hei, mungkin tak banyak yang tahu. Aku seringkali memukul diri sendiri agar sadar bahwa masih ada luka lain yang bisa aku rasakan, aku harus mengalihkan fokusku. Aku tak akan bisa tidur, jika tidur pun mimpiku seringnya berisi tentang luka yang aku rasakan.

Dan semua luka yang timbul adalah karena setiap harap yang aku pupuk pada MANUSIA.

Aku bukan remaja labil yang sering tersakiti karena masalah gangguan lelaki kurang kerjaan. Aku cenderung terluka ketika kepercayaanku dikhianati. Itu menyakitkan bukan? Untuk orang yang sulit mempercayai orang sepertiku, itu sangat sangat menyakitkan.

Aku tak bisa marah, karena sahabatku jauh lebih berharga daripada segala jenis amarah. Aku juga tak bisa mengatakan bahwa aku kecewa, karena aku tahu sakitnya mengecewakan orang. Jadilah aku hanya diam, tertawa menutupi luka yang kian menyakitkan.


Namun hari ini aku bertekad untuk mengambil langkah pasti. Aku tak peduli lagi pada pahitnya rasa kecewa, karena luka yang ditimbulkan hanya akan terasa olehku bukan?
Aku memilih untuk berbicara. Membicarakan luka yang aku rasakan, menyampaikan kecewa dalam bentuk lainnya. Aku memohon ia untuk segera kembali, memperbaiki segalanya dengan cara apapun. Aku tak peduli, walau bayarannya aku harus pergi. Lukaku tak seberapa, dibanding luka yang akan ia terima jika masalah ini tak diselesaikan. Andai ia tahu, bagaimanapun, aku tak akan pernah rela jika ia yang harus terluka.


Mungkin hari ini ia juga sedang terluka atas caraku membicarakan luka. Tapi aku tak punya pilihan lain, maafkan aku, Aku lebih tak rela kau terluka karena tuduhan banyak orang. Aku bahkan tak tahu... jika sampai itu terjadi, apa aku masih bisa menjagamu atau tidak.

Baik-baiklah, sahabatku sayang, aku akan tunggu perkataanmu untuk mengakhiri segalanya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar