Selasa, 29 September 2015

Bukannya tidak rindu

Bukan, bukannya tidak rindu. Jujur saja, hati ini bahkan sudah ada dalam titik lelah merindu, saking sering digunakan untuk membunuh rindu.

Hai~
Sebenernya akhir-akhir ini lagi anti baper. Sedang tak tertarik juga untuk membicarakan rindu, namun secarik surat di amplop coklat menggugahku untuk menuliskan ini.

Penulis surat itu meminta maaf, katanya sedang merasa jauh atau mungkin ia yang menjauh.
Kau tahu? Pada kenyataannya, akulah yang menarik diri. Sejak kejadian heboh tempo hari yang cukup melukai banyak orang, aku memilih untuk membatasi diri, tidak berlebihan dalam menanggapi apapun, termasuk rasa rindu. Ah, kau tahu pasti, aku ini orangnya mudah trauma oleh luka, maka jika ada kesempatan, akan segera aku ambil untuk menghindari setiap luka yang kemungkinan akan datang.

Bukan hanya padamu, tapi mungkin juga pada yang lain. Aku sedang berjuang mati-matian untuk tidak lagi mengharapkan apapun dari manusia. Termasuk dari kalian.

Saat ini, aku sudah tak tertarik membicarakan agenda liburan, agenda sosial, agenda apapun itu. Simpel saja, aku akan jadi orang yang akan hadir jika diundang, tidak akan hadir jika tidak diundang. Jangan harap "kamandeu yang ini"  akan se-antusias dahulu ketika membicarakan liburan bersama, haha.

Semua pasti ada alasan, itu jelas. Entahlah, kecewa mungkin iya, entah kecewa pada siapa, mungkin juga pada diri sendiri. Complicated banget pokoknya -_-

Jangankan orang lain, aku sendiripun merasa ada perubahan drastis. Tapi aku selalu merasa kembali jadi diri yang dulu kalau sedang bersama bidadari-bidadari kecil itu dan juga dua orang yang sejak enam bulan lalu jadi saksi untuk setiap luka.

Dulu kita pernah bingung karena rasanya semua orang mengganti urutan prioritasnya, tak ada lagi istilah gampang ngumpul bareng. Dan maafkan, rasa-rasanya sekarang prioritasku juga sudah berubah. Ada puluhan bidadari kecil yang sukses merebut jatah prioritasku, yang rasanya aku rela lakukan apapun untuk mereka. Kau tahu? Senyuman mereka menyembuhkan.

Mereka juga salah satu faktor dimana aku tak bisa terus-terusan tenggelam dalam rasa rindu. Mereka, sangat sangat tidak boleh melihatku bersedih. Aku tak boleh membawa awan hitam dari tempat lain menuju singgasana milik mereka. Maka biarlah aku kubur dalam-dalam luka dan rindu ini, agar tak sedikitpun bisa mereka temukan. Mereka, adalah prioritas penting bagiku, mungkin VVVVIP kali ya.

Untukmu dan untuk delapan orang lainnya, aku sudah ikhlas. Seperti kata Abi, akan ada saatnya raga kita berpisah, dan mungkin ini saatnya. Aku akan coba memiliki cinta yang melepaskan dan aku juga sedang mencoba untuk tetap menumbuhkan cinta dalam hati dan doa. Satu permintaanku, aku ingin punya sembilan sahabat yang sedang berjuang di jalanNya, dimanapun mereka berada.

Mungkin aku egois, tapi aku sedang ingin dimaklumi (atau mungkin dibiarkan saja dulu). Please.
Share:

Kamis, 24 September 2015

Selamat Milad?

Haha, mungkin judul postingan ini harusnya "menyenangkan diri sendiri" kali ya. Sebenernya bukan maksud jadi fakir ucapan, kado, dsb. Hanya saja momen yang orang sebut "milad" ini selalu berhasil membangkitkan kenangan untukku.

Jujur sih, tahun ini bisa dibilang paling "flat", paling ga ngeharepin apapun itu (padahal tiap taun juga gitu). Tapi itu semua bukan tanpa alasan. Yaa begitulah, aku rasa tahun ini aku sendiri sedang merenggangkan banyak hubungan "persahabatan". Aku sedang belajar untuk tidak mengharapkan apapun dari manusia jenis apapun. Juga ingin tahu, sebenarnya apakah hubungan yang kita jalin selama bertahun-tahun ini apakah memang karenaNya atau bukan.


Teringat pada umur 17 tahun. Saat itu Allah berikan kesempatan untuk sedikit berbagi kebahagiaan di rumah, yaa sekedar makan bareng akhwat rohis tiga angkatan. Kau tahu? Aku bahagia sekali saat itu. Bukan karena bingkisan yang aku dapat, tapi karena ada satu momen yang selalu kuingat. Saat itu kalian dengan hebohnya mengikatku dengan tali sedemikian rupa dan nyanyikan lagu Jalan Kehidupan plus Mars keluarga kita. Anehnya, kok malah kalian yang berurai air mata? :")
Saat itu ada sebuah keyakinan muncul, bahwa nyantanya.... ada cinta untukku. Videonya masih ada lho, dan aku masih tak sanggup menontonnya lagi.


Dua tahun lalu... Kebahagiaan memang seringnya hadir dalam bentuk sesederhana mungkin. Sesederhana novia yang tiba-tiba minta ajarin bikin poster (padahal jelas ini skenario). Sesederhana tiba-tiba langit ngajak ke ciburuy yang akhirnya ke kota baru jalan-jalan ga jelas. Sesederhana tiba-tiba santi+dzihni jatuh dari motor. Sesederhana kalian yang tiba-tiba kasih sebuah scrapbook yang isinya bikin baper menahun, mana ada surat dari ummi lagi ToT Lalu aku bisa apa kalau inget ini? Cuma bisa berharap kalian baik-baik aja, berharap kalian juga disibukkan dengan agenda-agenda di jalanNya. FYI aja, aku udah ga berani berharap bisa kumpul lagi deh, beneran. Mungkin hanya pernikahan dan kematian seseorang aja yang bisa ngumpulin kita lagi :')

Lalu tahun lalu.... Hmm, kalau yang ini agak beda kisahnya. Karena baru pertama kali dikasih kejutan yang bener-bener mengejutkan dan jadi pikiran sejak H-3 -____- Bidadari-bidadari kecilku ini memang sangat spesial, entah gimana caranya mereka bisa bikin panik sepanik-paniknya. Pas tragedi mereka katanya susah payah nahan ketawa, lah aku justru susah payah nahan diri biar ga terjun dari lantai 2 *lebay*. Yap, fyi lagi, aku ga rela kalau kejadian itu beneran terjadi. Ga rela di awal kepengurusan kalian udah berantem kaya gitu, hih. Tapi so sweet ya kaya di film film, kalian ujug-ujug bikin tulisan "HAPPY BIRTHDAY" dari lapangan, terus aku yang liat dari lantai 2 langsung duduk lemas saking lega karena ini semua hanya skenario haha. Aku tahu mungkin ini egois, tapi ya kok aku sayang banget sama kalian :") Sekarang kalian udah pada mau lulus, udah mulai sibuk luar biasa dan jarang ke mesjid. Dan aku mulai.... kehilangan. Tapi tak apa, kehilangan adalah rutinitas yang bisa dipastikan aku rasakan setiap akhir periode. Semoga Allah berikan hati yang lebih ikhlas untuk melepas kalian nantinya :")))

Mungkin 3 event itu yang paling berkesan kali ya. Meski tahun ini mungkin aja akan dihadiahkan berbagai kehilangan. Tapi bukankah semua ini memang milikNya? Maka wajar saja...

Ah, rindu sekali. Belum lagi tahun ini bapak sama ibu lagi di Tanah Suci, makin aja ngerasa sepi..

Nah kan baper. Beginilah, nostalgia ga akan pernah jadi solusi, tapi setidaknya aku yakin bahwa masih ada cinta. Kalau bukan sekarang, ya setidaknya dulu. 

Karena kata "setidaknya", mungkin bentuk syukur yang paling sederhana dari diri ini.

Barakallahu fii umrik, angka 21 sudah hadir. Berapa kali increment lagi yang bisa didapat? No one knows :")
Share:

Rabu, 09 September 2015

Orang aneh

Kau adalah topik yang sudah enggan orang-orang ini bahas karena terlalu menyakitkan.
Namun entah berapa juta paket doa diam-diam sudah dikirim untukmu.

Kau adalah orang yang mampu membuat orang-orang ini kecewa tak ada habisnya.
Namun kami tetap menangis saat tahu kau makin menjauh.

Kau adalah yang pertama yang sukses membuat banyak orang menangis di waktu yang sama
Namun aku tak habis pikir, orang-orang ini masih tak rela jika kamu disakiti.

Bahkan seandainya kau kembali, aku yakin orang-orang yang terluka ini akan menyambutmu dengan pelukan hangatnya, bahkan mungkin bonus tangisan haru. Orang-orang ini akan mampu lupakan lukanya yang terlanjur dalam karenamu.

Karena cinta mereka untukmu luar biasa.



Ah, malam ini sunyi karena akhirnya aku temukan lagi tulisanmu. Aku boleh minta satu hal?
Aku ingin sekali ada dalam satu tulisanmu, setidaknya sekali sebelum Allah panggil salah satu dari kita.

Karena aku ingin tahu, apakah pernah ada "kita" dalam hidupmu?
Share:

Sabtu, 05 September 2015

Tentang luka

Kamu tahu?


Ketika kamu terlanjur mencintai sesuatu dengan begitu dalam, terkadang kamu lupa apa yang menjadi alasan untuk mencintainya. Apakah itu memang karenaNya, atau justru malah karena hal lainnya.

Kamu terlanjur menikmati kinerja seorang pecinta sejati. Sehingga kamu melupakan hal penting,  yaitu landasannya. Maka dari itu, kecewa akan menjadi akhir dari segalanya.

Hari ini.. sudah lama tak merasakan sakit seperti ini. Bagi orang yang sudah mengenalku, tak mengucapkan sepatah katapun adalah tanda luka. Aku bukan orang yang mudah diam, aku orang yang akan terus berbicara. Namun ketika terluka oleh seseorang yang amat aku cintai, aku akan diam seribu bahasa. Aku akan menangis sendirian. Ya, menangis. Tanpa ada seorangpun yang tahu.

Sore ini aku memutuskan untuk bersandar sejenak di rumah kedua. Sekuat tenaga menahan tangis agar tak tumpah dengan seenaknya. Bagaimana bisa seorang kakak menangis di depan adik-adiknya karena luka yang sedang ia rasakan?

Hei, mungkin tak banyak yang tahu. Aku seringkali memukul diri sendiri agar sadar bahwa masih ada luka lain yang bisa aku rasakan, aku harus mengalihkan fokusku. Aku tak akan bisa tidur, jika tidur pun mimpiku seringnya berisi tentang luka yang aku rasakan.

Dan semua luka yang timbul adalah karena setiap harap yang aku pupuk pada MANUSIA.

Aku bukan remaja labil yang sering tersakiti karena masalah gangguan lelaki kurang kerjaan. Aku cenderung terluka ketika kepercayaanku dikhianati. Itu menyakitkan bukan? Untuk orang yang sulit mempercayai orang sepertiku, itu sangat sangat menyakitkan.

Aku tak bisa marah, karena sahabatku jauh lebih berharga daripada segala jenis amarah. Aku juga tak bisa mengatakan bahwa aku kecewa, karena aku tahu sakitnya mengecewakan orang. Jadilah aku hanya diam, tertawa menutupi luka yang kian menyakitkan.


Namun hari ini aku bertekad untuk mengambil langkah pasti. Aku tak peduli lagi pada pahitnya rasa kecewa, karena luka yang ditimbulkan hanya akan terasa olehku bukan?
Aku memilih untuk berbicara. Membicarakan luka yang aku rasakan, menyampaikan kecewa dalam bentuk lainnya. Aku memohon ia untuk segera kembali, memperbaiki segalanya dengan cara apapun. Aku tak peduli, walau bayarannya aku harus pergi. Lukaku tak seberapa, dibanding luka yang akan ia terima jika masalah ini tak diselesaikan. Andai ia tahu, bagaimanapun, aku tak akan pernah rela jika ia yang harus terluka.


Mungkin hari ini ia juga sedang terluka atas caraku membicarakan luka. Tapi aku tak punya pilihan lain, maafkan aku, Aku lebih tak rela kau terluka karena tuduhan banyak orang. Aku bahkan tak tahu... jika sampai itu terjadi, apa aku masih bisa menjagamu atau tidak.

Baik-baiklah, sahabatku sayang, aku akan tunggu perkataanmu untuk mengakhiri segalanya.
Share: