Senin, 20 Juli 2015

Bidadari-bidadari kecilku

Sebenarnya sudah lama ingin tulis ini, sejak malam takbiran rasanya ingin sekali segera menulis. Entah kenapa, bayangan tentang mereka terus berkelebat. Dan seperti biasa tulisan adalah satu-satunya jalan untuk membekukan memori. Entah akhirnya mereka membaca tulisan ini ataupun tidak, tak masalah bagiku.

Sampai saat ini, kata "mereka" memang selalu refers to orang yang berbeda-beda. Yap, karena hingga saat ini, aku dikelilingi oleh banyak "mereka" yang sangat kucintai. Yang setiap "mereka" memiliki kisah spesial tersendiri.

Dan kali ini... "mereka" adalah akhwat-akhwat tangguh yang darinya aku belajar untuk bangkit kembali. Untuk berani mencintai dan bertindak seperti seorang pecinta kembali.

Sudah hampir dua tahun kita bersama, bidadari-bidadari kecilku. Aku yang sejak awal tak mengharapkan apapun, justru kembali menjadi seseorang yang penuh harap. Menanti tumbuh dan berkembangnya kalian layaknya seorang kakak kandung. Aku yang seringnya habis kesabaran, terus berlatih untuk bersabar bersama kalian. Ada sebuah kekuatan besar yang membuatku terus percaya bahwa "suatu saat, kalian pasti akan jadi orang hebat" hingga pada akhirnya aku tak pernah sampai hati untuk menyerah.

Kalian sukses merebut urutan prioritasku. Aku bahkan rela kesampingkan jadwal reuni tahunanku demi hadir ke agenda kalian. Aku pupuk harapan itu dengan menyaksikan kalian tumbuh. Sekali lagi, aku percaya bahwa kalian-lah generasi pengganti yang ditunggu itu. Maka akan selalu ada effort besar yang harus dikeluarkan bukan?

Aku pernah salah langkah dalam membina, mungkin tak begitu melibatkanNya dan hanya mengikuti ego semata. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi sekarang. Aku berusaha untuk begitu berhati-hati bersama kalian. Aku berdoa padaNya agar terus melimpahkan kebaikan pada kalian.

Bidadari-bidadari kecilku, sejak awal bertemu, kalian sudah sukses merebut hatiku. Aku senang sekali melihat setiap perubahan kecil kalian. Aku masih ingat benar kalian yang masih begitu polos menceritakan beratnya hari-hari kalian di sekolah. Aku juga masih ingat bagaimana kalian mencoba untuk memanjangkan kerudung kalian dan menunjukkannya padaku di hari jum'at. Aku ingat ketika kalian bangga memakai kaus kaki kemanapun. Aku ingat kalian mulai senang mengenakan rok, bahkan ketika dramus/padus yang notabene agak sulit memperjuangkan busana syar'i. Aku masih ingat, kalian yang tak pernah malu untuk habiskan makanan bahkan ketika mentoring baru berjalan 15 menit. Aku masih ingat jelas, beberapa dari kalian yang pernah diam sepanjang mentoring karena sedang gundah memikirkan si dia, haha. Aku masih ingat, saat-saat dimana kalian rengkuh pundakku untuk sekedar menumpahkan gundah. Aku masih ingat mata berbinar kalian ketika kongkows sudah dekat. Aku masih ingat saat kalian terbata-bata menjelaskan dengan perasaan bersalah ketika kalian terpaksa dibonceng lelaki, padahal aku sama sekali tak menanyakan hal itu. Aku ingat sekali, kalian begitu antusias untuk mengajak teman-teman lain bergabung dengan lingkaran kita, hingga akhirnya lebih dari 40 orang bersedia ikut mentoring. Aku... masih mengingat banyak hal tentang kalian. Dan mengulang memori tentang kalian tak pernah membosankan bagiku.

Tak semua hal menjadi mudah memang. Tentu saja ada banyak hambatan. Tentu saja sabar ini sempat hilang kendali. Namun berkali-kali aku ingin menyerah, berkali-kali juga tawa kalian menyadarkan.

Lalu... semakin hari, rasa cinta itu semakin besar
Aku semakin senang menyaksikan hal-hal kecil dari kalian, lalu tersenyum sendirian. Ah, percayalah, bukan hanya aku yang merasakan. Bahkan ada dua-tiga kawanku yang selalu bahagia melihat kalian tumbuh.

Aku sungguh mencintai kalian.

Dan cinta yang baik, bukanlah cinta yang mengekang bukan?

Terbanglah. Kembangkan sayap kebermanfaatmu, bidadari-bidadari kecilku. Seperti prinsip kita, berbuat yang terbaik dan berikan yang terbaik. Jadikan rumah kita ini sebagai tempat istirahat yang nyaman setiap pekannya. Silahkan berjuang, habiskan tenagamu. Malaikat-malaikatNya akan menyambutmu yang kelelahan memperjuangkan agamaNya. Jangan mundur saat lelah, ada Allah, ada surgaNya yang menantimu.

Dan... sadarkah kalian? Saat ini, fungsi keluarga kita sudah mulai berjalan dengan baik. Kalian sukses membangunkan keluarga yang sedang tertidur secara perlahan namun pasti. Sistem kaderisasi mulai membaik, kajian mulai sering diadakan, tilawah al-qur'an semakin tak asing lagi, semakin banyak yang tertarik memperbaiki shalat wajib dan sunnahnya, kelompok mentoring lanjutan sudah lebih dari 13 kelompok, itu mungkin pertanda bahwa keluarga kita sudah mulai tak dianggap eksklusif lagi. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Kami, para alumni yang tersisa hanya bisa mengucapkan syukur setiap kali kalian mengabarkan berita baru dengan berapi-api. Kalian seperti tak ada lelahnya, walau flu bahkan demam, kalian tetap datang untuk berjuang dengan wajah pucat dan berkeringat. Kita hanya bisa berucap, "akhirnya...".

.....

Dahulu, aku dan yang lainnya datang kembali karena ingin berjuang bersama untuk merapikan kembali pondasi rumah kita. Bismillah, mungkinkah sekarang perbaikannya sudah mencapai 80%?
Jika iya, maka artinya sudah saatnya mundur perlahan. Saatnya regenerasi. Saatnya kalian ambil alih sepenuhnya. Saatnya kawan-kawan lain bahagia karena akhirnya wajah-wajah tua pengganggu ini mulai hilang perlahan, hehe.

Tapi tenang saja, kami akan selalu menanti cerita seru kalian. Seperti biasa, saat kalian bercerita dengan meledak-ledak (entah itu senang atau marah haha) aku akan genggam tangan kalian sembari menatap mata kalian dan tersenyum lebar. Aku akan dengan senang hati meminjamkan bahu ini jika kalian butuh.

Bidadari-bidadari kecilku, berjanjilah untuk setidaknya tetap ada di jalanNya. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya untukNya dan tentu saja untuk diri kalian sendiri. Dimanapun kalian berada, jangan lepaskan prinsip yang kalian punya. Aku mohon...

Aku sungguh mencintai kalian.. dan semoga rasa ini memang selalu karenaNya hingga ukhuwah ini bisa menjadi syafaat di yaumul akhir nanti.

Senin, 20 Juli 2015 01.54
Share:

Senin, 13 Juli 2015

.


Selamat malam, adikku sayang.

Terimakasih telah menghapus mini blogmu, terimakasih telah membuatku masuk di hidden list timelinemu, terimakasih sudah blok instagramku. Sudah berjalan selama beberapa bulan bukan?

Maka sempurna lah aku tak tahu kabarmu. Hanya bisa mencuri kabar tentangmu dari yang lain. Sejujurnya, sakit hati ini ketika harus menyapamu dan bertindak seakan-akan orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Tapi aku sadar, aku tak bisa membuat dirimu tak nyaman dengan apa yang aku tahu.

Padahal aku tak akan membencimu. Seorang kakak yang baik tak akan meninggalkan adiknya seperti itu. Baiklah, kau yang memutuskan untuk berjalan seperti ini.


Saranku, jangan buat dirimu lelah sendirian. Santai saja. Aku disini tak mengharapkan banyak hal, hanya sedang berharap doa-doa ini selalu sampai padamu.

Tak bosan kukatakan, entah tahun lalu, kemarin, hari ini bahkan detik ini, aku akan selalu mencintaimu. Dan semoga cinta ini memang selalu karenaNya. Karena aku ingin berkumpul denganmu lagi di syurgaNya nanti.

Kembalilah. Bahkan jika untuk terakhir kalinya.
Share:

Jumat, 03 Juli 2015

Terimakasih telah membuat segalanya terasa lebih mudah, kawan.

"Sebaik-baik teman adalah yang mengingatkan kita kepada Allah, Lisannya menambah ilmu dan yang amalannya mengingatkan kita akan akhirat." (HR. Ath Thabrani)

Jadi mau curhat tentang hari ini (padahal isi blognya curhat semua). Luar biasa, hari ini grasak grusuk banget rasanya. Kejar-kejaran sama waktu mulai pulang kantor kemarin. Sebenernya sengaja izin hari ini karena harus ke kampus ngurus sesuatu dan yang terpenting sih karena ada gebyar ramadhan. Entah kayanya kok gereget banget pengen dateng. Tapi nyatanya, hari ini....... alhamdulillah luar biasa Allahu Akbar!

Dari pagi berangkat ke kampus, rekor banget cimahi-dakol cuma setengah jam. Saking pengen dateng cepet ke gebyar :") Tibalah saat di kampus mengurus "sesuatu". Sesuatu yang dua minggu terakhir ini bikin dag dig dug karena menyangkut salah satu mimpi besar dari jaman bareto. Sesuatu yang bikin HHC (bahasa jadul banget). Sesuatu yang bikin buka email menjadi terasa sangat spesial. Sesuatu yang sukses bikin senyam senyum sendiri kalau bayangin bakal beneran tercapai.

Tapi nyatanya..

Allah berkehendak lain. Aku memutuskan untuk membatalkan si sesuatu ini karena banyak pertimbangan dari segala aspek.

Sebenernya udah siap dengan skenario ini dari awal, karena ga berani memastikan si sesuatu ini bakal beneran tercapai tahun ini. Dan apa salahnya juga, ini udah pecobaan ke sekian kali, besok besok kan bisa nyoba lagi :3 Hanya saja sesuatu yang ini bikin greget, karena ga pernah sampai tahap sejauh ini. Akhirnya dengan bismillah dan dengan keyakinan bahwa ini yang terbaik, aku kirimkan email konfirmasi pembatalan atas si sesuatu itu.

Singkat cerita urusan di kampus belum beres, makin panjang malah. Akhirnya mutusin buat balik aja ke acara karena belum jelas juga urusannya. Dan tahukah? Gerbang parkiran motor dikunci karena keburu jumatan T__T Akhirnya balik lagi deh, sendirian guling-guling di gedung F, bohong deng ga guling-guling juga. Seudah gerbang dibuka, balik lagi ke tukang fotokopian ngambil fotokopian yang dititipin. Dan tahukah? Fotokopiannya masih tutup, emang-emangnya harcos banget T__T

Belum beres urusan sama emang fotokopi, hati ini merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu tertujulah mata ini pada tumpukan sertifikat. Dan tahukah? Sertifikatnya kurang, salah bilang jumlahnya ke si mba-mba percetakan T___T *iya aku tau ini dodol banget*

Karena sadar harus balik lagi ke percetakan, akhirnya makin kesel sama si emang-emang fotokopian yang tidak kunjung datang. Akhirnya, berkah ramadhan ya, setelah nunggu setengah jam, datanglah si emang-emang itu. Berangkatlah ke percetakan untuk menyelesaikan urusan sertifikat yang belum kelar.

Tiba-tiba di jalan jadi baper. Ada satu rasa bergemuruh dalam hati. Mungkin hanya efek samping dari pengambilan keputusan tentang si "sesuatu" itu. Di jalan udah pengen cepet-cepet nyampe, pengen numpahin semua kegelisahan.

Dan tahukah?
Sesampainya disana, liat adik-adik lagi heboh bikin parsel. Eh.... seketika aku lupa apa yang lagi aku rasakan. Bener kata seseorang, selalu gagal buat sedih kalau lagi bareng mereka.

Lalu sepertinya Allah berikan sedikit kejutan hari ini. Tiba-tiba ada seorang adik mentee yang menghampiri, memeluk erat tanpa kata, lama dan eraaat sekali. Dan secara tak sadar, aku menarik nafas dalam-dalam, melepaskan sisa beban yang tertumpuk dalam hati. Ia menangis, terharu karena lama tak bertemu ujarnya.

MasyaAllah.. Setelahnya hanya bisa tersenyum lebar dan berterimakasih pada Allah. Bener-bener rasanya udah ga ragu lagi. Mungkin ini salah satu caranya untuk menghilangkan beban di hati :")

Sepanjang acara dihabiskan dengan kegembiraan. Berasa reunian juga sama alumni-alumni, belum lagi dengan jokes ala sopi yang selalu sukses bikin ketawa. Rasanya bahagia banget bisa ketawa-ketawa kaya tadi. Apalagi liat adik-adik di acara tadi, bahagia aja gatau kenapa.

Allah benar-benar baik, menitipkan mereka sebagai penyejuk hati, alhamdulillah :")

Terimakasih telah membuat segalanya terasa lebih mudah, kawan.
Share: