Jumat, 10 April 2015

Lagi.

Menjadi kakak itu tidak boleh egois. Benarkah? Entahlah, seperti ada suatu tembok penghalang dalam hatimu ketika keegoisan mulai menyerang di hati.

Hari ini... aku sedikit kesal. Boleh kan aku bercerita disini?

Ya, akhir-akhir ini rasanya lelah (lagi). Rasanya sepi, sendirian, bingung mau sharing sama siapa. Dan sayangnya, kondisi "disana" tak begitu mendukung. Ada saja yang membuatmu harus mengelus dada. Bersabar untuk sekian kalinya. Sebenarnya... bukan itu masalahnya. Kesal ini datang karena sabar mulai hilang. Karena berbagai macam "harapan" mulai menyerang tanpa ampun.

Kamu lelah. Kamu bingung harus bereskan tugas ini darimana. Kamu ingin mereka bisa paham secepat mungkin agar beban ini berkurang. Tapi kamu kehilangan cara untuk bersabar. Sekali lagi, kamu kehilangan sosok-sosok yang bisa menguatkanmu. Kamu kehilangan sosok-sosok yang rela mendengarkan perkembangan adik-adikmu hingga kamu tak merasa sendirian membimbing mereka.

Kamu mulai kehabisan cara untuk membenahi kondisi ini. Kamu.. untuk pertama kalinya merasa berjuang sendiri. Menjadi superman yang mengurusi segala hal sendiri.

Kamu... mulai jauh dariNya. Lagi dan lagi :"(

Sebenarnya, kita tidak pernah benar-benar sendiri bukan? Ada Allah yang selalu menemani..
Seandainya diri ini tak jauh dariNya, maka perihal kesepian ini bukanlah masalah. Seandainya hati ini terus diliputi iman yang kuat, maka lelah ini bukanlah pengganggu.

Mungkin kamu hanya khawatir. Sebab kamu tahu persis, kemampuanmu terbatas. Tidak akan banyak yang bisa kamu atasi jika sendirian. Kamu merindukan mereka yang aksi nyatanya bisa sangat membantu membenahi kondisi ini.

Tapi mereka juga sedang sibuk :')
Aku hanya akan menambah beban saja jika meminta ini itu.

Bukankah perjuangan akan benar-benar terasa ketika kita sudah melewati fase "sendirian"?
Maka biarlah, biar aku coba untuk lewati ini semampunya, tentu saja dengan memohon pertolonganNya.
"Jika ada seonggok kemanusiaan terkapar, siapa mengaku bertanggung jawab, jika semua pihak menghindar, maka biarlah aku yang menanggungnya sebagian atau seluruhnya" (Ust. Rachmat Abdullah)
Allah, kuatkan...

*Semoga sebelum pergi masih bisa berbenah dulu. Yuk, bangkit! =D
Share:

Rabu, 01 April 2015

Menjaga Sebuah Generasi

Sebenarnya tulisan ini request-an seorang adik kesayangan sebulan lalu. Tapi gapapa telat deh ya, better late than never :p


Jadi waktu itu ngisi mentoring tentang team building dan masuklah ke bahasan menjaga sebuah generasi ini. Sebenernya udah agak-agak lupa sih, tapi dicoba deh ya mengulas tentang ini.
Yaa, mungkin ujungnya juga jadi curhat tentang alasan besar mengapa kami pilih untuk ada disini.


Sebenarnya, yang namanya dakwah itu ya sama. Mau dimana juga sama. Mau kamu kuliah keluar negeri terus kamu sebarkan tentang kebaikan islam, mau kamu jadi akademisi dan membuat orang orang percaya bahwa ternyata al qur'an sudah membuktikan tentang banyak fenomena alam, mau kamu ajak seisi geng motor buat ikut pengajian, mau kamu jadi aktivis kampus yang masyaAllah agendanya bisa lebih dari 24jam sehari (?), mau kamu membaur di kelas dan ajak temen-temen buat ikut mentoring, mau kamu kembali jadi remaja agar bisa masuk ke dunia anak-anak SMA, bahkan mau kamu berbuat kebaikan sekecil apapun dan terus menerus ya itu bentuk dakwah kamu.

Inget kata seorang sahabat, sebut saja inisialnya widdy. Beliau yang sekarang sudah jadi "ibu negara", yang waktunya habis digunakan untuk berdakwah di kampus selalu bilang bahwa dakwah itu dimana aja bakal berat. Yap. Dimanapun bakal berat.

Seperti kata quotes yang selalu menusuk ini :
Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung & membuat orang gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara kontinu kecuali atas pertolongan Allah.
Nah, balik lagi ke menjaga generasi. Kenapa kami memilih untuk kembali dan tidak memilih untuk berkecimpung di dunia yang baru? Apa kami terlalu pemillih? Apa kami ga mau berbaur dengan yang lain? Apa kami ga suka ada diluar sana? Apa kami menganggap disini lebih ringan? Hmm, jawabannya tidak. Meskipun mungkin yang terlihat "iya".


Sampai sekarang, bahkan kita sering dapet pertanyaan "Teteh kuliahnya ga sibuk ya? Kok asik sih masih bisa kesini" atau "Ih teteh kuliahnya nyantai ya? Aku juga pengen kaya gitu". Sekali lagi, jawaban pertama atas pertanyaan-pertanyaan itu ya senyum hehe.
Kalau dibilang nyantai sih engga :'( Siapa sih yang ga pengen kuliahnya nyantai kaya di pantai dan bisa PP rumah-kampus? Loh, terus kalau ga nyantai kenapa bisa masih ke tempat itu?



Karena.... prioritas.


Karena menjaga sebuah generasi di rumah ini adalah prioritas untuk kami. Sama halnya dengan kawan-kawan kami yang membangun generasi di kampusnya. Kami hanya memilih ladang yang berbeda, dengan tugas yang mungkin sama beratnya.

Seorang teman di kampus menanyakan (lagi), katanya "Man, kamu kok masih disana aja sih? Kapan mau balik kesininya?". Seperti biasa, aku jawab pake senyum aja dan bilang kalau memang di rumah kita ini belum rapi. Lalu dia menambahkan lagi "Kamu inget ga, kalau individu yang baik itu akan muncul kalau gen yang sudah matang dicabut? Mungkin itu alasan mereka ga berkembang, karena kamu terlalu lama disitu".

Ugh. Jleb. Sakit sih sebenernya. Dan untuk yang ini agak ga terima. Meskipun ga bohong agak kepikiran juga. Akhirnya curhatlah aku ke sahabat-sahabat lain. Bilang tentang "hukum kromosom" itu. Eeh tak disangka-sangka yang kuliah di jurusan biologi angkat bicara dan membawa "hukum kromosom" yang kontra.

Jadi, menurut dia (sebut saja dzihni) :
Salah, bukan seperti itu. Individu baru yang baik itu muncul karena ada gen pembawa sifat baik dalam kromosom. Ketika gen itu dicabut, maka yang terjadi malah mutasi, kelainan gen. Begitu juga dengan organisasi, ketika generasi yang sudah matang dihilangkan secara paksa, maka generasi baru akan kehilangan contoh. Kehadiran generasi yang lebih dulu ada ini akan berfungsi sebagai contoh.
Setelah denger itu jadi legaaa banget. Bukan pembenaran sih, tapi akhirnya dapat alasan kuat kenapa kita harus bertahan disini. Alasannya adalah : menjaga generasi.

Kenapa kok lebay banget? Karena kami pernah merasakan sakitnya kehilangan sebuah generasi. Sakitnya tuh gimana ya, berasa bersalah aja dan ngerasa "kemana aja kamu ketika adik-adik kamu kehilangan pegangan kaya gini?".

==== to be continued======
Share: