Senin, 23 Maret 2015

Kamu.

Oke, saya menyerah.

Ini sudah hari keempat yang penuh perjuangan untuk menahan air mata. Sudah hari keempat saya merasa hancur. Biarkan saya menghancurkan diri malam ini, tenggelam dalam air mata sendiri.

Iya, saya hancur karena kamu.

Kamu, yang dulu dekat sekali dengan saya bukan?
Kamu yang membuat saya sadar akan banyak hal.
Kamu yang kehadirannya dapat menyembuhkan luka.
Kamu yang keadaannya selalu membuat saya khawatir.
Kamu yang beberapa kali membuat saya ikut mengejarmu yang sedang kacau sampai ke depan rumah, hanya untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat.
Kamu yang seringkali buat saya panik ketika temanmu mengabarkan kamu pingsan lagi.
Kamu yang sering buat saya terharu dengan hadiah kecil disaat yang tak terduga.
Kamu yang sering buat saya bangkit dengan kalimat pemacu semangat yang kadang sangat menampar.
Kamu yang buat saya bingung harus kasih apa, bahkan sejak H-60 tanggal miladmu.
Kamu yang sering buat bahu saya basah dengan air matamu.
Kamu yang sering hanya baca pesan saya tanpa ada balasan.
Kamu yang dulu tak pernah bosan menceritakan semua hal yang terjadi padamu.
Kamu yang berteriak kegirangan lewat telepon setahun yang lalu.
Kamu yang kesuksesannya menjadi salah satu dari 100 daftar impianku.
Kamu yang pernah menangis minta maaf karena telah melewati batas prinsip yang telah kita buat, katanya kamu takut aku marah. Nyatanya saya tak bisa marah. Lagi dan lagi.
Kamu, yang buat saya tak pernah lelah untuk mendoakan kebaikanmu.

Kamu kenapa?
KAMU KENAPA?!

Bukankah 4 tahun yang lalu kita sudah sepakat untuk punya prinsip yang sama?
Bukankah kau yang bilang akan menjaga hatimu hanya untuk pangeranmu?

Saya marah. Saya kecewa. Saya gemetar melihatnya. Hati saya sakit menahan air mata. Sakit...

Bahkan sekarang saya bingung harus bagaimana. Jelas ini suatu kesedihan yang luar biasa,
Sejujurnya saya punya skenario terburuk, tapi apa yang terjadi jauh lebih buruk daripada yang bisa saya bayangkan..

Tolong saya, saya harus bagaimana?
Semoga berpaket-paket doa yang kami kirimkan sampai dengan selamat..
Semoga berpaket-paket kebaikan sampai padamu.
Semoga setiap tetes air mata kami yang jatuh, akan menjadi harga yang sesuai untuk membuatmu kembali pada kami.

Kami tak akan pernah lelah padamu, sebagaimana kamu yang tak lelah mendoakan kebaikan 'untuknya'. Bahkan mungkin lebih. Bahkan tak akan ada ujungnya.

Dulu kamu bilang takut akan perpisahan, sebenarnya saya yang lebih takut. Ini yang saya takuti.
Kembalilah, karena di mataku dan mereka yang menyayangimu tak akan pernah ada orang baik yang pantas mendampingimu jika tidak dengan cara yang baik. Sabarlah, tunggu pangeranmu datang dengan kuda putihnya. Yang tak akan mengganggumu ataupun hatimu.

Sahabatku sayang...
Maafkan aku, maafkan kami yang tidak ada disisimu sehingga kau mencari yang lain.
Aku mohon, kembalilah...
Share:

0 komentar:

Posting Komentar