Sabtu, 28 Maret 2015

Seorang Kakak

Bukan, ini bukan tulisan roman tak jelas. Bukan juga cerpen indah menggugah hati, hanya curahan hati tentang hari ini.

Dulu sering denger bahwa cinta bisa mengubah seseorang jadi lebih kuat. Inget ada kisah seorang anak yang bisa angkat mobil sendirian ketika ayahnya kejepit ketika lagi benerin mobil. Dulu sih mikir, ah masa sih anak 5 taun bisa sekuat itu. Tapi ternyata... hari ini kita merasakan bahwa kekuatan cinta itu memang luar biasa.

Hari ini masyaAllah, luar biasa sekali. Dimana empat orang akhwat yang terpaksa menjadi kakak, benar-benar harus "break the limit". Seandainya tadi kita lupa bahwa kita adalah "seorang kakak", mungkin kita sudah menyalahkan kondisi dan menyerah saja dengan keadaan. Tapi kekuatan "seorang kakak" mengalahkan semuanya.

Semua itu bermula ketika hujan mulai deras, mulai panik karena tak tega lihat 65 adik kehujanan di tengah hutan. Panik karena tak ada yang bisa menjamin mereka baik-baik saja. Panik karena bisa saja ada yang tiba-tiba pingsan lagi. Panik karena biasanya ada alumni lain yang ikut bertanggung jawab ketika ada kejadian seperti ini. Panik karena kita sadar bahwa kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga mereka. Panik. Serius panik.

Namun tiba-tiba hujan terasa tak dingin lagi. Sebisa mungkin kita harus bisa menjaga mereka, apapun yang terjadi. Meski hanya sepasang mata yang bisa memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Dulu, kadang kesel kalau teteh-teteh udah ngorbanin diri sendiri buat kita. Mulai dari pengorbanan kecil, sampai yang bikin pengen nangis saking segitunya. Tapi ternyata.... memang begitu adanya. Ketika kita benar-benar menjadi kakak, rasa khawatir tentang adik-adik kita itu lebih "membunuh" daripada kekhawatiran tentang diri sendiri.

Nah dari hujan besar itu ternyata ada tantangan lain yang belum selesai.

Pernah ngerasain pasrah yang pasrah banget?
Yang bener-bener request pertolongan ke Allah "Ya Allah, tolong kita" saking gatau harus gimana..
Dan luar biasa, hari ini akhirnya dapat kesempatan untuk rasain keajaiban pertolongan Allah.

Jadi setelah adik-adik turun semua, kita tanpa mikir panjang (ini yang salah -_-) memutuskan untuk jalan ke bawah bertiga. Awalnya ide ini kedengeran gila, tapi setelah liat kendaraan sudah penuh sesak maka ini satu-satunya ide terbaik yang ada. Naik motor juga udah ga mungkin, itu malah bikin masalah baru karena masih trauma juga naik motor di turunan kaya gitu.

Dengan bismillah kita berangkat. Tadinya tanpa mikir (lagi), kita mau sewa angkot aja di bawah. Padahal ga jelas ada atau engganya. Kita udah bayangin tuh ide konyol itu, haha.
Dan dipikir-pikir romantis juga ya tadi kita bertiga (minus si bungsu yang jagain di angkot) menikmati hujan sambil cerita-cerita. Malah jauh lebih lega karena masalah kepulangan adik-adik sudah selesai. Kita cuma lanjutin jalan sambil menyelipkan doa. Sampe-sampe kita bilang
"Hmm, Allah bakal nolong kita dengan cara apa ya? Ayo kita tunggu pertolongan Allah sambil jalan"
 Iya, itu titik kepasrahan kita yang emang beneran gatau gimana lagi biar bisa sampai ke bawah dengan selamat.

Lalu...

Sekitar sepuluh menit kemudian ada yang klaksonin kita, kaget dikira ada mobil yang remnya blong. Eh ternyata ada bapak tentara yang nyamperin pake mini truk sambil bukain pintunya nyuruh kita masuk. Aaaaaaa, udah pengen nangis. Terharu banget sama cara Allah nolong kita. Bener-bener kontan. Langsung. Lucunya kita serempak ngeh "ini pertolongan Allah!" pas mau naik mobil itu karena saking ga nyangkanya bakal ada mobil lewat.

Tapi...  karena kita ga enak duduk di dengan basah kuyup, akhirnya duduk di belakang deh, bersatu bersama tangki tangki oli. Kita ketawa-ketawa disitu, bener-bener legaaaa banget. Semakin yakin kalau pertolongan Allah itu pasti..

Alhamdulillah, kita berhasil kebawah dengan selamat berkat bapak itu (duh pak terimakasih banyak pak beneran ini mah). Setelahnya naik motor deh sesuai rencana awal (sebelumnya dititipin ke ikhwan sampe jalan terjalnya beres).

Di jalan udah pengen nangis banget. Merasa Allah begitu dekat. Begitu dekat...

Sebelumnya pas acara berlangsung kita banyak banget ngobrol, salah satu obrolan adalah tentang ukhuwah di keluarga kita ini. Disitu aku bilang "Apapun yang terjadi dengan aku, selama pergi bareng kalian sih aku tenang aja. Karena aku tahu itu kalian, bukan orang lain". Tiga ukhti kesayangan itu mengiyakan dan memang benar sih, selama ini memang nyaman aja ada di kondisi seburuk apapun.

Ternyata terbukti, aku tenang tenang aja bareng mereka di kondisi kaya gitu. Padahal belum jelas bisa pulang atau engga. Maka disini izinkan saya untuk berterimakasih pada seluruh sahabat-sahabat luar biasa yang selalu berhasil menghadirkan rasa nyaman di hati. Alhamdulillah..

Terimakasih untuk HKPI yang sudah memberikan kita kesempatan untuk belajar. Maafkan belum bisa maksimal. Hari ini jadi bahan evaluasi pribadi untuk kami berempat yang sedang belajar menjadi "seorang kakak". Semoga kedepannya kita bisa berhasil ya..

"BERBUAT YANG TERBAIK, BERIKAN YANG TERBAIK. ALLAHU AKBAR!"

Share:

Senin, 23 Maret 2015

Kamu.

Oke, saya menyerah.

Ini sudah hari keempat yang penuh perjuangan untuk menahan air mata. Sudah hari keempat saya merasa hancur. Biarkan saya menghancurkan diri malam ini, tenggelam dalam air mata sendiri.

Iya, saya hancur karena kamu.

Kamu, yang dulu dekat sekali dengan saya bukan?
Kamu yang membuat saya sadar akan banyak hal.
Kamu yang kehadirannya dapat menyembuhkan luka.
Kamu yang keadaannya selalu membuat saya khawatir.
Kamu yang beberapa kali membuat saya ikut mengejarmu yang sedang kacau sampai ke depan rumah, hanya untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat.
Kamu yang seringkali buat saya panik ketika temanmu mengabarkan kamu pingsan lagi.
Kamu yang sering buat saya terharu dengan hadiah kecil disaat yang tak terduga.
Kamu yang sering buat saya bangkit dengan kalimat pemacu semangat yang kadang sangat menampar.
Kamu yang buat saya bingung harus kasih apa, bahkan sejak H-60 tanggal miladmu.
Kamu yang sering buat bahu saya basah dengan air matamu.
Kamu yang sering hanya baca pesan saya tanpa ada balasan.
Kamu yang dulu tak pernah bosan menceritakan semua hal yang terjadi padamu.
Kamu yang berteriak kegirangan lewat telepon setahun yang lalu.
Kamu yang kesuksesannya menjadi salah satu dari 100 daftar impianku.
Kamu yang pernah menangis minta maaf karena telah melewati batas prinsip yang telah kita buat, katanya kamu takut aku marah. Nyatanya saya tak bisa marah. Lagi dan lagi.
Kamu, yang buat saya tak pernah lelah untuk mendoakan kebaikanmu.

Kamu kenapa?
KAMU KENAPA?!

Bukankah 4 tahun yang lalu kita sudah sepakat untuk punya prinsip yang sama?
Bukankah kau yang bilang akan menjaga hatimu hanya untuk pangeranmu?

Saya marah. Saya kecewa. Saya gemetar melihatnya. Hati saya sakit menahan air mata. Sakit...

Bahkan sekarang saya bingung harus bagaimana. Jelas ini suatu kesedihan yang luar biasa,
Sejujurnya saya punya skenario terburuk, tapi apa yang terjadi jauh lebih buruk daripada yang bisa saya bayangkan..

Tolong saya, saya harus bagaimana?
Semoga berpaket-paket doa yang kami kirimkan sampai dengan selamat..
Semoga berpaket-paket kebaikan sampai padamu.
Semoga setiap tetes air mata kami yang jatuh, akan menjadi harga yang sesuai untuk membuatmu kembali pada kami.

Kami tak akan pernah lelah padamu, sebagaimana kamu yang tak lelah mendoakan kebaikan 'untuknya'. Bahkan mungkin lebih. Bahkan tak akan ada ujungnya.

Dulu kamu bilang takut akan perpisahan, sebenarnya saya yang lebih takut. Ini yang saya takuti.
Kembalilah, karena di mataku dan mereka yang menyayangimu tak akan pernah ada orang baik yang pantas mendampingimu jika tidak dengan cara yang baik. Sabarlah, tunggu pangeranmu datang dengan kuda putihnya. Yang tak akan mengganggumu ataupun hatimu.

Sahabatku sayang...
Maafkan aku, maafkan kami yang tidak ada disisimu sehingga kau mencari yang lain.
Aku mohon, kembalilah...
Share: