Selasa, 24 Februari 2015

Pejuang yang pengecut.

Ini sudah tulisan ketiga setelah dua tulisan sebelumnya yang berhenti ditengah jalan. Entah kenapa sulit melanjutkan, apa karena topik tentang kalian sudah terlalu sering aku tulis?
Bahkan tulisan ini pun aku tak tahu akan berhenti lagi atau sukses hingga aku klik tombol publikasikan.

Aku sedang khawatir. Padahal bisa aku bilang kondisi keluarga kita sedang beranjak stabil. Para pejuangnya sedang bersama-sama melakukan renovasi besar-besaran. Seperti mimpi kita bersama, bukan?

Jalanku dan jalan kita disini memang tidak selalu mulus, banyak liku dan terjal jalannya. Kadang aku hanya bisa tertawa dalam hati mendengar orang-orang yang mencemooh apa yang kita lakukan disini. Ibaratnya tanda jasa, kita memang tidak punya wahai kawanku sayang. Lebih tepatnya tidak perlu.
Entahlah, sampai-sampai aku harus memutar otak bagaimana caranya agar poin keaktifan organisasiku di kampus tetap cukup hingga bisa wisuda. Dikala orang lain sudah punya seratus tujuh belas poin, aku hanya punya duapuluh empat dari semester satu hingga sekarang. Bagaimanalah, waktuku di kampus hanya senin-kamis (itupun full kuliah), sisanya aku habiskan bersama kalian. Tak terasa, dua tahun aku jalani hidup seperti ini. Sendirian di kampus, menanti datangnya hari jum'at agar bisa kembali hidup.

Kau kira ini mudah? Tidak.
Hei, aku pun gusar! Mendengar nasihat dari teman-teman disini, dari mulai yang lembut hingga terasa seperti gertakan. Aku tak punya banyak waktu untuk bersosialisasi disini. Atau aku yang sudah lelah dan menyerah? Entahlah.

Kau kira aku yakin sudah memilih dengan benar? Tidak, akupun masih ragu apakah ini hadiah atau ujian. Aku tak pernah punya kesempatan untuk menjauh meski hanya sekejap. Bagaimana bisa, jika ketika aku menyampaikan niatku, ada juga yang malah menyampaikan bahwa ia akan turut menjauh. Bagaimanalah ini? Padahal aku hanya ingin berpikir sejenak, sebentar saja hilang dari hingar bingar ini. Berdiskusi denganNya untuk menentukan jalan mana yang harus aku pilih.

Aku takut, kawanku sayang. Aku takut menjadi pejuang yang pengecut. Tidak berani keluar dengan alasan yang sebenarnya aku buat sendiri.

Aku juga takut, kalau ternyata pemikiran ini salah.

Serba salah.

Aku sudah diskusikan ini dengan beberapa orang, tapi tak ada yang menanggapi serius. Hei, aku serius! Aku serius ketika aku mengatakan rindu akan merasakan rindu. Aku butuh meyakinkan diri sendiri, sebentar saja..

Dan ternyata tulisan ini selesai. Maafkan ke-random-an ini.
Share:

Senin, 02 Februari 2015

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Seseorang : "Wah daebak!"
Azmi : "Daebak itu yang bahasa komputer itu kan?"
Nisa : "Oooh Debug!"
Aku : "Debug itu yang ada di kamar mandi"
Semua : "GAYUUUUNG!!!" *ga ada kalem-kalemnya*
Aku : "Ih terharu! Kalian kok masih inget sih?!"
Bungsu : "Hah?! Apa hubungannya sama gayung?!"
Jaim : "Ih masa gatau sih, sama kamandeu mah apa-apa jadi ke gayung"
Bungsu : *Masih mikir hubungan debug sama gayung*
Itu sepenggal kisah yang melekat di hati dari rihlah perdana kemarin. Gimana ga melekat coba, candaan garing khas gue banget dari bertahun lalu itu masih diinget mereka. Pas mereka jawab dengan kompak dan senada (alias teriak), kata "gayung" jadi begitu mengharukan. Siapa sih yang ga bahagia ketika hal kecil bahkan ga penting dari dirinya diingat oleh orang lain?

Mereka emang tercinta. Sejak 5 tahun lalu sampai sekarang ternyata ga ada yang berubah. Tema rihlah "Remember When.." kemarin sukses banget bawa banyak memori. Dinginnya hujan serta pekatnya kabut yang turun kalah telak dengan kehangatan mereka.

Sebenernya rihlah kemarin itu penuh dengan kekhawatiran, khawatir ikhwannya ga ada yang ikut lah, khawatir akhwatnya cuma berlima lah, khawatir hujan deras dan berbagai kekhawatiran logis maupun ga logis. Belum lagi dengan kisah survey yang bombastis. Pokoknya bener-bener deg-degan sekaligus antusias gitu. Alhamdulillah, peserta rihlah 29 orang (LANGIT LENGKAP BERSEPULUH GITU LOH!). Dan Rencana Allah memang yang terbaik, dengan segini peserta justru rihlahnya jadi ngena banget. Sepanjang jalan ga ada yang ngeluh, ga ada yang protes, semuanya nikmatin perjalanan..

Di rihlah ini kita main game susun puzzle gitu, puzzle yang harus disusun adalah potongan dari logo HKPI. Kebayang lah ya riweuhnya akhwat apalagi Santi. Dari berbelas potong, ternyata hilang dua. Tahukah kamu? Akhwat-akhwat kreatif ini maksa banget gambar sendiri potongan logo yang hilang itu. Nih jadinya begini :


Nah, esensi dari game ini dalem banget..
"Masing-masing dari kita itu punya posisi masing-masing. Dan seperti puzzle, setiap potongannya tidak bisa saling menggantikan. Hilang satu maka tak lengkaplah kita"
Setelah main game dan shalat, lalu kita makan siang. Alhamdulillah, hujan turun ketika itu. Itu artinya kehebohan akan terjadi lagi. Dan benar saja, lihatlah kelakuan akhwat-akhwat ini..


yang kalau diliat dari atas jadi kaya gini...


Ga ada yang terlalu memalukan kalau bersama mereka, hehe.

Sampai saat ini, tempat ini masih cukup ajaib untukku. Cukup bawa diri saja, maka kamu akan pulang dengan kenyang, tidak kehujanan dan tidak kedinginan. Kalaupun kamu terpaksa kehujanan, maka yang lain juga dipastikan kehujanan pula bersamamu. Entahlah, tempat ini terlalu banyak bidadarinya, yang lebih rela kesakitan daripada melihat saudaranya sakit. Ini sudah hampir 3 tahun berlalu, tapi keajaibannya tidak hilang sedikitpun.

Kebanyakan dari kita punya pertanyaan yang sama, kenapa Allah baik sekali menempatkan kita disini, dengan orang-orang yang penuh kesabaran dalam membimbing kita untuk tetap di jalan-Nya. Karena memang dari sinilah kami paham bahwa dakwah itu cinta.

Masih ragu?
Bahkan setiap orang disini biasanya membawa makanan yang porsinya bisa untuk beberapa orang, ada juga yang membawa kaus kaki ganti lebih untuk berjaga-jaga barangkali ada yang tidak bawa, ada yang membawa slayer lebih dari tiga, ada yang membawa ponco sekaligus jas hujan tambahan, ada yang membeli oxycan padahal tidak ada yang asma, ada yang bilang sudah kenyang agar rotinya bisa diberikan ke temannya, ada yang melepas jaketnya untuk temannya, ada yang mengulurkan tangan hangatnya untuk menggenggam tangan saudaranya yang menggigil kedinginan, ada yang kehujanan untuk sekedar memakaikan jaket saudaranya, ada yang berebut memberikan minum ketika saudaranya kehausan, ada yang rela tertinggal jauh di belakang untuk menemani saudaranya yang harus berjalan pelan-pelan, ada yang tidak bosan-bosannya menanyakan "kamu gapapa?" di sepanjang perjalanan...... dan masih banyak hal yang tidak tertangkap mata maupun indra lainnya. Hanya hati yang dapat merasakan..

Terkadang memang terasa berat dan sendirian menanggung semuanya, namun seperti kata Teh Ndu..
Seperti permainan menjatuhkan diri. Kita memang sendirian saat berdiri, tidak bisa melihat siapapun. Namun ketika jatuh? Lihatlah, ada tangan-tangan saudaramu yang dengan sigap menangkapmu agar kamu tak terluka..
Meskipun begitu, ada banyak yang berguguran dari jalan dakwah ini. Ada banyak yang sudah lupa dan berpaling dari jalan ini.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Dengan kondisi iman yang seadanya, Allah beri mereka untuk menguatkan. Allah ulurkan tangan-tanganNya lewat mereka, hingga hati ini semakin jatuh cinta padaNya.
“Seandainya kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena jatuh cinta berkali-kali, sedalam-dalamnya kepadaNya.”

Share: