Sabtu, 26 Desember 2015

Hai pejuang 21, aku rindu!

Malam ini aku sedikit berdiskusi dengan seorang adik yang hebat, yang aku banyak belajar darinya. Dan dari segala kisahnya, sukses membawaku pada kisah tiga tahun yang lalu. Saat aku dipertemukan dengan orang-orang luar biasa dalam satu barisan kepengurusan.

Tidak, kepengurusan angkatan kita jauh dari kata sempurna. Namun segala ketidaksempurnaan ini, menjadi kenangan yang lebih dari sempurna bagiku.

Jika ada yang bilang angkatan kita damai, salah besar! Masih terpatri jelas saat-saat perang dingin ikhwan-akhwat selama berbulan-bulan dan bahkan hampir seluruhnya memilih untuk mencari "rumah" baru. Padahal itu masih di awal kepengurusan bukan? hahaha. Saat itu aku berpikir, peduli amat angkatan kita hancur, yang penting generasi setelahnya ga boleh hancur. Tapi Allah berkata lain, dengan bantuan alumni yang luar biasa bijak, kita kembali dipersatukan sebagai satu super team #eaaa (akhwat, lupakan adegan dimana kita ingin lempar helm ke mereka dari balik hijab ya)

Jika ada yang bilang angkatan kita anti baper, salah juga! Tapi alhamdulillah, kita tidak terlahir di zaman dimana kata baper jadi sesuatu yang negatif bahkan berujung maksiat. Kapan lagi liat ikhwan ngegalau bikin status fb pas mau sertijab? Butuh screenshootnya? haha. Hmm, bahkan kabarnya ada yang menitikkan air mata gitu pas sertijab. Sayangnya yang ini kurang bukti :(

Jika ada yang bilang angkatan kita teratur, BOHONG INI SEMUA BOHONG! Kalian harus tahu betapa ngeselinnya rapat-rapat kita yang ga kondusif karena belum dapet ide. Ikhwan-ikhwan dengan santainya ga nyahut karena ketiduran di balik hijab dan harus ada yang beli bacol dulu biar melek (maklum, bacol sriwijaya itu terbaik di zamannya). Akhwat-akhwat yang harus ditegur dengan "assalamu'alaikum akhwat" biar fokus lagi. Tapi... aku masih ingat rapat-rapat kita yang penuh semangat, sampai dimarahin Pak ****** karena bikin ga khusyu shalat cenah. Wow, aku rindu sekali suasana rapat kita, meski novia tetap diam hingga akhir hayat (piss, novia piss), novia tetap ikut tertawa bersama kita.

Jika ada yang bilang angkatan kita ga so sweet. Hmm, ada benernya kali ya. Tapi entah mengapa kita dianugerahi adik-adik yang sweet banget. Adik-adik yang kerjaannya kepoin rapat pengurus tiap minggu sampe bikin ikhwannya kesel. Adik-adik yang padahal udah diusir, malah balik lagi bawa kue sambil bilang "Nih, kita mah baik udah diusir akang-teteh juga malah ngasih kue. Makanya jangan galak-galak". Dan tak lupa, mereka adik-adik hebat yang bikin kita nangis hebat pas sertijab dengan "surprise"nya yang bikin NI banjir air mata, sampai-sampai Dzihni Andiasari melambaikan tangan ala uji nyali sambil berkata "Udah... Udah... Udahan atuh kalian jahat banget sampe segininya" sembari menangis sesenggukan layaknya mau disuntrungin ke solokan tangga 99 (piss, jih piss)

Jika ada yang bilang angkatan kita angkatan wacana, EMANG BENER! Apaan kita mah wacana banget mau reuni juga. Alhamdulillah sih, taun ini terlaksana juga meski gara-gara ga mau kalah sama angkatan bawah yang sukses reunian plus foto (huh). Tapi ajaibnya, bersama kalian aku yakin, bahwa Allah akan selalu selamatkan agenda kita yang terancam garing haha. 

Masih banyak poin ketidaksempurnaan yang kita miliki, tapi.... aku bangga bisa lahir di tahun yang sama (atau mungkin hampir sama) dengan kalian. Meski jalan dan prioritas yang kita ambil sekarang sudah berbeda, kekagumanku pada kalian tetap belum memudar.

Sama seperti dulu, saat kita mulai membagi amanah di sekolah, kita sama-sama belajar untuk paham, dimanapun kita berada, disitu kita harus tetap menjunjung tinggi agamaNya. Dan tak ubahnya dengan kita sekarang, dimanapun kita berada, semoga kita selalu diliputi kebaikanNya, aamiin.

Tak terasa sudah tiga tahun kita mengambil jalan yang berbeda. Dan malam ini aku tertawan rindu akan nafas perjuangan kita dahulu. Kalian orang hebat, aku masih tak sabar menanti wajah-wajah kalian muncul di layar televisi sebagai calon presiden, anggota legislatif, penemu alat canggih, penggagas ide hebat, relawan kemanusiaan atau bahkan seorang ibu rumah tangga yang menginspirasi. Ah, jadi apapun kita, tetaplah menjadi baik, kawan..

Bersamaan ini juga aku mau minta maaf sebesar-besarnya. Aku sadar dulu banyak memakan korban karena temperamen yang cukup sering tak terkendali. Semoga masih bisa dimaafkan ya hehehe.

Sampai jumpa di ujung skenario, kawan. Syurga masih jadi destinasi kita bukan? Semoga perjalanan kita diberkahi hingga masa istirahat nanti. Sekali lagi terimakasih telah menjadi sepotong episode yang sempurna dalam hidupku :)
Share:

Selasa, 22 Desember 2015

Kebun Bungaku

Ada tiga macam bunga yang tumbuh di kebunku, bunga mawar, melati dan dahlia. Ketiga bunga ini tumbuh dengan begitu cantiknya sehingga membuat banyak orang jatuh cinta dengan keindahannya.

Aku dan teman-temanku sayang sekali dengan bunga-bunga ini. Kami rawat dan kami pupuk setiap harinya, tak lupa mereka tumbuh kuat dengan bantuan hujan yang turun.

Ketiga bunga ini tumbuh berdampingan setiap harinya, membuat kebun bungaku semakin indah dipandang.

Kau tahu? Setiap kali aku memandang kebun bunga ini, aku selalu ingat pada tiga hal penting dalam hidup.
Merahnya mawar mengingatkanku pada keberanian, putihnya melati menyadarkanku pada kesucian hati serta warna-warni dahlia mengajarkanku tentang kebahagiaan.
Dalam hatiku, ada keyakinan bahwa ketiga bunga ini tak akan pernah layu. Mungkin kelopaknya akan gugur suatu hari, tapi akan selalu ada bibit baru yang menggantikannya. 

Bunga-bungaku, terimakasih telah tumbuh seindah ini.
Share:

Jumat, 27 November 2015

Tabayyun

Jadi ceritanya pekan ini adalah pekan yang penuh dengan tamparan.

Tekanan dimulai dari pekan lalu saat sebuah isu mulai menyebar tanpa ampun. Bukan tentangku, tapi tentang seseorang yang begitu kucintai. Prasangka semakin membunuh setiap harinya tanpa ada keberanian untuk tabayyun (klarifikasi). Terus saja berkutat dengan kemungkinan terburuk, hingga akhirnya... aku memutuskan untuk menyerah.

Ya, saat itu aku benar-benar menyerah. Memasrahkan segala kemungkinan padaNya. Menjadi pengecut dengan tidak mau memikirkan tentang hal itu lagi. Padahal semuanya bohong, aku bakan terbangun dengan rasa khawatir yang tak hilang meski dibawa terpejam semalaman. Ternyata aku masih belum bisa mencintai perasaan kehilangan (karena sejatinya manusia tak akan pernah kehilangan).

Lalu aku memutuskan untuk memberanikan diri, menemuinya dengan berbekal sedikit kepercayaan diri. Kau tahu? Ternyata tabayyun tidak semudah itu. Orang yang menjadi target tabayyun pun tak selalu mengetahui bahwa orang yang sedang mencoba berbicara dengannya justru menyimpan luka dan harapan yang sama besarnya. Luka karena apa yang telah terjadi, serta harapan akan sebuah perubahan di masa depan.

Aku sungguh mencintai orang yang ada di hadapanku saat itu. Dia seorang adik yang sungguh tak ternilai harganya, entah sejak dan sampai kapan. Sejenak aku kehabisan kata, namun sepucuk surat darinya mutlak menjelaskan problema besarku berminggu-minggu itu.

Prasangka yang kubangun adalah : dia tak peduli denganku, maka ia bisa saja pergi kapanpun dengan keputusannya.

Kenyataan yang terjadi adalah : ia meminta maaf tanpa banyak alasan. Akupun meminta maaf. Allah memang yang terbaik, dikala aku sibuk dengan kekhawatiranku sendiri, justru orang dihadapanku sedang mencoba memperbaiki segalanya dan ingin menyembuhkan lukaku.

Kau tahu? Ini kisah tabayyun yang terbaik bagiku. Manusia dihadapanku ini memang berbeda. Kekhawatiranku akan kepergiannya mutlak sirna.

Bahkan sebelum berpisah, kami saling melambaikan tangan pada masalah dan berjanji akan kembali berkomunikasi seperti sedia kala. Sisanya.. tugas kami saling menjaga dan mendoakan.

Untukmu yang meskipun kemungkinan membuka blog ini sangatlah kecil, jika suatu hari nanti kau baca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku mencintaimu karenaNya. Semoga aku masih sempat menghapus setiap luka yang tak sengaja kugoreskan. Terimakasih telah memutuskan untuk kembali. Kita memang tak tahu apa yang akan terjadi, tapi kali ini, aku putuskan untuk mempercayaimu sekali lagi. Atau mungkin berkali-kali lagi? Entahlah :)
Share:

Kamis, 12 November 2015

Sedang ingin pergi

Ya, aku lelah. Tapi lebih dari itu, aku tak ingin pergi karena menghindari lelah.
Aku ingin pergi ketika justru semangat sedang menggebu-gebu. Akankah segera terwujud?

Aku bosan. Tapi aku tak ingin pergi karena terbunuh kebosanan.
Aku ingin pergi ketika aku sedang antusias. Akankah segera terwujud?

Aku sedang kecewa. Tapi aku tak mau pergi karena parade rasa kecewa dan sakit hari.
Aku ingin pergi ketika aku sedang bangga pada mereka. Akankah segera terwujud?

Aku mungkin terluka. Tapi aku tak mau pergi dengan alasan menyembuhkan luka.
Aku ingin pergi ketika luka ini sudah mengering. Akankah segera terwujud?

Hai, aku sedang ingin pergi. Tapi tidak dengan keadaan seperti ini.
Aku ingin pergi ketika segala sesuatu sudah menuju tempatnya. Akankah segera terwujud?

Karena seorang kakak tak boleh pergi hanya karena lelah, bosan, kecewa, terluka atau bahkan hanya sedang ingin pergi.
Share:

Selasa, 27 Oktober 2015

Selasa, 29 September 2015

Bukannya tidak rindu

Bukan, bukannya tidak rindu. Jujur saja, hati ini bahkan sudah ada dalam titik lelah merindu, saking sering digunakan untuk membunuh rindu.

Hai~
Sebenernya akhir-akhir ini lagi anti baper. Sedang tak tertarik juga untuk membicarakan rindu, namun secarik surat di amplop coklat menggugahku untuk menuliskan ini.

Penulis surat itu meminta maaf, katanya sedang merasa jauh atau mungkin ia yang menjauh.
Kau tahu? Pada kenyataannya, akulah yang menarik diri. Sejak kejadian heboh tempo hari yang cukup melukai banyak orang, aku memilih untuk membatasi diri, tidak berlebihan dalam menanggapi apapun, termasuk rasa rindu. Ah, kau tahu pasti, aku ini orangnya mudah trauma oleh luka, maka jika ada kesempatan, akan segera aku ambil untuk menghindari setiap luka yang kemungkinan akan datang.

Bukan hanya padamu, tapi mungkin juga pada yang lain. Aku sedang berjuang mati-matian untuk tidak lagi mengharapkan apapun dari manusia. Termasuk dari kalian.

Saat ini, aku sudah tak tertarik membicarakan agenda liburan, agenda sosial, agenda apapun itu. Simpel saja, aku akan jadi orang yang akan hadir jika diundang, tidak akan hadir jika tidak diundang. Jangan harap "kamandeu yang ini"  akan se-antusias dahulu ketika membicarakan liburan bersama, haha.

Semua pasti ada alasan, itu jelas. Entahlah, kecewa mungkin iya, entah kecewa pada siapa, mungkin juga pada diri sendiri. Complicated banget pokoknya -_-

Jangankan orang lain, aku sendiripun merasa ada perubahan drastis. Tapi aku selalu merasa kembali jadi diri yang dulu kalau sedang bersama bidadari-bidadari kecil itu dan juga dua orang yang sejak enam bulan lalu jadi saksi untuk setiap luka.

Dulu kita pernah bingung karena rasanya semua orang mengganti urutan prioritasnya, tak ada lagi istilah gampang ngumpul bareng. Dan maafkan, rasa-rasanya sekarang prioritasku juga sudah berubah. Ada puluhan bidadari kecil yang sukses merebut jatah prioritasku, yang rasanya aku rela lakukan apapun untuk mereka. Kau tahu? Senyuman mereka menyembuhkan.

Mereka juga salah satu faktor dimana aku tak bisa terus-terusan tenggelam dalam rasa rindu. Mereka, sangat sangat tidak boleh melihatku bersedih. Aku tak boleh membawa awan hitam dari tempat lain menuju singgasana milik mereka. Maka biarlah aku kubur dalam-dalam luka dan rindu ini, agar tak sedikitpun bisa mereka temukan. Mereka, adalah prioritas penting bagiku, mungkin VVVVIP kali ya.

Untukmu dan untuk delapan orang lainnya, aku sudah ikhlas. Seperti kata Abi, akan ada saatnya raga kita berpisah, dan mungkin ini saatnya. Aku akan coba memiliki cinta yang melepaskan dan aku juga sedang mencoba untuk tetap menumbuhkan cinta dalam hati dan doa. Satu permintaanku, aku ingin punya sembilan sahabat yang sedang berjuang di jalanNya, dimanapun mereka berada.

Mungkin aku egois, tapi aku sedang ingin dimaklumi (atau mungkin dibiarkan saja dulu). Please.
Share:

Kamis, 24 September 2015

Selamat Milad?

Haha, mungkin judul postingan ini harusnya "menyenangkan diri sendiri" kali ya. Sebenernya bukan maksud jadi fakir ucapan, kado, dsb. Hanya saja momen yang orang sebut "milad" ini selalu berhasil membangkitkan kenangan untukku.

Jujur sih, tahun ini bisa dibilang paling "flat", paling ga ngeharepin apapun itu (padahal tiap taun juga gitu). Tapi itu semua bukan tanpa alasan. Yaa begitulah, aku rasa tahun ini aku sendiri sedang merenggangkan banyak hubungan "persahabatan". Aku sedang belajar untuk tidak mengharapkan apapun dari manusia jenis apapun. Juga ingin tahu, sebenarnya apakah hubungan yang kita jalin selama bertahun-tahun ini apakah memang karenaNya atau bukan.


Teringat pada umur 17 tahun. Saat itu Allah berikan kesempatan untuk sedikit berbagi kebahagiaan di rumah, yaa sekedar makan bareng akhwat rohis tiga angkatan. Kau tahu? Aku bahagia sekali saat itu. Bukan karena bingkisan yang aku dapat, tapi karena ada satu momen yang selalu kuingat. Saat itu kalian dengan hebohnya mengikatku dengan tali sedemikian rupa dan nyanyikan lagu Jalan Kehidupan plus Mars keluarga kita. Anehnya, kok malah kalian yang berurai air mata? :")
Saat itu ada sebuah keyakinan muncul, bahwa nyantanya.... ada cinta untukku. Videonya masih ada lho, dan aku masih tak sanggup menontonnya lagi.


Dua tahun lalu... Kebahagiaan memang seringnya hadir dalam bentuk sesederhana mungkin. Sesederhana novia yang tiba-tiba minta ajarin bikin poster (padahal jelas ini skenario). Sesederhana tiba-tiba langit ngajak ke ciburuy yang akhirnya ke kota baru jalan-jalan ga jelas. Sesederhana tiba-tiba santi+dzihni jatuh dari motor. Sesederhana kalian yang tiba-tiba kasih sebuah scrapbook yang isinya bikin baper menahun, mana ada surat dari ummi lagi ToT Lalu aku bisa apa kalau inget ini? Cuma bisa berharap kalian baik-baik aja, berharap kalian juga disibukkan dengan agenda-agenda di jalanNya. FYI aja, aku udah ga berani berharap bisa kumpul lagi deh, beneran. Mungkin hanya pernikahan dan kematian seseorang aja yang bisa ngumpulin kita lagi :')

Lalu tahun lalu.... Hmm, kalau yang ini agak beda kisahnya. Karena baru pertama kali dikasih kejutan yang bener-bener mengejutkan dan jadi pikiran sejak H-3 -____- Bidadari-bidadari kecilku ini memang sangat spesial, entah gimana caranya mereka bisa bikin panik sepanik-paniknya. Pas tragedi mereka katanya susah payah nahan ketawa, lah aku justru susah payah nahan diri biar ga terjun dari lantai 2 *lebay*. Yap, fyi lagi, aku ga rela kalau kejadian itu beneran terjadi. Ga rela di awal kepengurusan kalian udah berantem kaya gitu, hih. Tapi so sweet ya kaya di film film, kalian ujug-ujug bikin tulisan "HAPPY BIRTHDAY" dari lapangan, terus aku yang liat dari lantai 2 langsung duduk lemas saking lega karena ini semua hanya skenario haha. Aku tahu mungkin ini egois, tapi ya kok aku sayang banget sama kalian :") Sekarang kalian udah pada mau lulus, udah mulai sibuk luar biasa dan jarang ke mesjid. Dan aku mulai.... kehilangan. Tapi tak apa, kehilangan adalah rutinitas yang bisa dipastikan aku rasakan setiap akhir periode. Semoga Allah berikan hati yang lebih ikhlas untuk melepas kalian nantinya :")))

Mungkin 3 event itu yang paling berkesan kali ya. Meski tahun ini mungkin aja akan dihadiahkan berbagai kehilangan. Tapi bukankah semua ini memang milikNya? Maka wajar saja...

Ah, rindu sekali. Belum lagi tahun ini bapak sama ibu lagi di Tanah Suci, makin aja ngerasa sepi..

Nah kan baper. Beginilah, nostalgia ga akan pernah jadi solusi, tapi setidaknya aku yakin bahwa masih ada cinta. Kalau bukan sekarang, ya setidaknya dulu. 

Karena kata "setidaknya", mungkin bentuk syukur yang paling sederhana dari diri ini.

Barakallahu fii umrik, angka 21 sudah hadir. Berapa kali increment lagi yang bisa didapat? No one knows :")
Share:

Rabu, 09 September 2015

Orang aneh

Kau adalah topik yang sudah enggan orang-orang ini bahas karena terlalu menyakitkan.
Namun entah berapa juta paket doa diam-diam sudah dikirim untukmu.

Kau adalah orang yang mampu membuat orang-orang ini kecewa tak ada habisnya.
Namun kami tetap menangis saat tahu kau makin menjauh.

Kau adalah yang pertama yang sukses membuat banyak orang menangis di waktu yang sama
Namun aku tak habis pikir, orang-orang ini masih tak rela jika kamu disakiti.

Bahkan seandainya kau kembali, aku yakin orang-orang yang terluka ini akan menyambutmu dengan pelukan hangatnya, bahkan mungkin bonus tangisan haru. Orang-orang ini akan mampu lupakan lukanya yang terlanjur dalam karenamu.

Karena cinta mereka untukmu luar biasa.



Ah, malam ini sunyi karena akhirnya aku temukan lagi tulisanmu. Aku boleh minta satu hal?
Aku ingin sekali ada dalam satu tulisanmu, setidaknya sekali sebelum Allah panggil salah satu dari kita.

Karena aku ingin tahu, apakah pernah ada "kita" dalam hidupmu?
Share:

Sabtu, 05 September 2015

Tentang luka

Kamu tahu?


Ketika kamu terlanjur mencintai sesuatu dengan begitu dalam, terkadang kamu lupa apa yang menjadi alasan untuk mencintainya. Apakah itu memang karenaNya, atau justru malah karena hal lainnya.

Kamu terlanjur menikmati kinerja seorang pecinta sejati. Sehingga kamu melupakan hal penting,  yaitu landasannya. Maka dari itu, kecewa akan menjadi akhir dari segalanya.

Hari ini.. sudah lama tak merasakan sakit seperti ini. Bagi orang yang sudah mengenalku, tak mengucapkan sepatah katapun adalah tanda luka. Aku bukan orang yang mudah diam, aku orang yang akan terus berbicara. Namun ketika terluka oleh seseorang yang amat aku cintai, aku akan diam seribu bahasa. Aku akan menangis sendirian. Ya, menangis. Tanpa ada seorangpun yang tahu.

Sore ini aku memutuskan untuk bersandar sejenak di rumah kedua. Sekuat tenaga menahan tangis agar tak tumpah dengan seenaknya. Bagaimana bisa seorang kakak menangis di depan adik-adiknya karena luka yang sedang ia rasakan?

Hei, mungkin tak banyak yang tahu. Aku seringkali memukul diri sendiri agar sadar bahwa masih ada luka lain yang bisa aku rasakan, aku harus mengalihkan fokusku. Aku tak akan bisa tidur, jika tidur pun mimpiku seringnya berisi tentang luka yang aku rasakan.

Dan semua luka yang timbul adalah karena setiap harap yang aku pupuk pada MANUSIA.

Aku bukan remaja labil yang sering tersakiti karena masalah gangguan lelaki kurang kerjaan. Aku cenderung terluka ketika kepercayaanku dikhianati. Itu menyakitkan bukan? Untuk orang yang sulit mempercayai orang sepertiku, itu sangat sangat menyakitkan.

Aku tak bisa marah, karena sahabatku jauh lebih berharga daripada segala jenis amarah. Aku juga tak bisa mengatakan bahwa aku kecewa, karena aku tahu sakitnya mengecewakan orang. Jadilah aku hanya diam, tertawa menutupi luka yang kian menyakitkan.


Namun hari ini aku bertekad untuk mengambil langkah pasti. Aku tak peduli lagi pada pahitnya rasa kecewa, karena luka yang ditimbulkan hanya akan terasa olehku bukan?
Aku memilih untuk berbicara. Membicarakan luka yang aku rasakan, menyampaikan kecewa dalam bentuk lainnya. Aku memohon ia untuk segera kembali, memperbaiki segalanya dengan cara apapun. Aku tak peduli, walau bayarannya aku harus pergi. Lukaku tak seberapa, dibanding luka yang akan ia terima jika masalah ini tak diselesaikan. Andai ia tahu, bagaimanapun, aku tak akan pernah rela jika ia yang harus terluka.


Mungkin hari ini ia juga sedang terluka atas caraku membicarakan luka. Tapi aku tak punya pilihan lain, maafkan aku, Aku lebih tak rela kau terluka karena tuduhan banyak orang. Aku bahkan tak tahu... jika sampai itu terjadi, apa aku masih bisa menjagamu atau tidak.

Baik-baiklah, sahabatku sayang, aku akan tunggu perkataanmu untuk mengakhiri segalanya.
Share:

Sabtu, 22 Agustus 2015

Momen perbaikan

Kami kesal hari ini. Mungkin tepatnya, kecewa...
Dan saya kesal kenapa saya masih bisa merasakan kecewa sebagai pertanda tak tercapainya harapan, padahal saya tahu jelas, berharap pada manusia itu mustahil bisa membahagiakan.

Hari ini mereka memang tersenyum, tapi jelas hati ini merasa ada yang salah. Kemana mereka?
Nampaknya ada identitas dan prioritas yang harus dipertanyakan.

Kami ingin marah. Tapi kami tahu ini semua tak ada gunanya karena "saudara" tidak seperti itu.

Astaghfirullah, jagalah hati ini dari berbagai prasangka ya Allah..
Sampai jumpa dalam momen perbaikan, kawan.

Share:

Selasa, 11 Agustus 2015

Catatan Perjalanan : Anti Wacana "Backpacker" Bandung - Jogja (part 2 -end)

Oke, kita lanjut ke kisah berikutnya ya!
*Baca part 1 di : http://kamandeu.blogspot.com/2015/08/catatan-perjalanan-anti-wacana.html

Teman perjalanan melintasi gunung dan lautan

Setelah kalibiru berhasil dicapai dan puas foto-foto disana, kita mulai bergerak lagi menuju gua kiskendo. Setelah tanya-tanya sana sini ternyata jarak ke kedung pedut lebih deket daripada ke gua kiskendo. Backpacker-an berarti siap menghadapi ketidakpastian bukan? haha

Akhirnya karena kita males pakai GPS, ngikutin saran dari orang-orang sana aja. Sebenernya ada jalan menuju gua kiskendo yang lebih dekat dari kalibiru, tapi katanya jalannya curam. Saya sarankan buat yang mau ke kedung pedut ikutin aja jalan keatas itu, karena jauh lebih dekat. Kalau turun lagi ternyata jalannya jauuuh banget, bagai melintasi gurun dan samudra (maaf alay). Tips 4 : Jangan takut mencoba, semangat!

Oh ya, sekedar selingan, orang-orang di kulonprogo itu ramah-ramah ya :") Kita sebagai turis domestik dibikin kagum terus sepanjang jalan. Jadi jalan menuju kedung pedut itu masuk ke pedesaan yang rumahnya masih jarang-jarang gitu, mayoritas penduduknya kerja sebagai petani. Jalanan menuju sana masih sepi, motor juga cuma beberapa yang lewat. Kebanyakan anak-anak sekolah yang naik sepeda gitu. Lucu deh, ngeliatnya jadi senyum-senyum sendiri. Dikala di negeri Cimahi anak SMA sibuk dengan hape ipon terbaru, anak-anak di kulonprogo masih bisa bercanda bersama sahabat-sahabatnya sambil mengayuh sepeda ontel. Aku dan partner perjalananku bersyukur masih bisa lihat pemandangan kaya gini.

Hati-hati ya berkendara kesana, jalannya mulus kok, tapi tanjakannya ga nahaaan! Pas turunnya sih yang lebih ga tahan, sampe sampe tahan nafas gitu berharap bisa mengurangi beban, haha. Tips 5 : Nggak usah cape-cape nahan nafas pas turunan, nggak ngaruh. Dan jangan aneh juga, patok patok menuju kawasan kedung pedut masih jarang, jalanan semakin sepi dan orang-orang disana full pakai bahasa jawa. Mau nanya-nanya jalan kadang masih ragu, karena takut ngobrol pakai bahasa kalbu.

Setelah satu jam berkendara, akhirnya kita sampai juga di kedung pedut. Awalnya sih hopeless, abis sepanjang jalan sungainya lagi pada kering gitu. Eh pas semakin jauh jalan, mulailah tumbuh harapan karena suara air mulai terdengar. Semakin turun lagi, mulailah terlihat air terjun yang berwarna biru dari kejauhan. 

Kedung pedut dari kejauhan
Pas liat ini udah mulai speechless karena pertama kalinya liat air biru kaya gitu dari kejauhan. Pas semakin mendekat, semakin terbengong-bengong karena kedungnya baguuus banget. Meski lagi kemarau dan airnya agak surut, tapi warna birunya tetap mencuri perhatian.




Bagus khaand? Pas kita kesini pengunjungnya bisa dihitung jari dan pulang sebelum kita sampai, akhirnya berasa punya berdua deh haha. Oh ya, tiket masuk ke kedung pedut ini 6K per orang dan parkir 2K :)

Setelah puas main dan foto-foto tentunya, kita break dzuhur dulu. Didekat sana ada mesjid kok. Barulah setelah istirahat sejenak, kita langsung tanya-tanya jalan menuju gua kiskendo. Kata mas-mas disana sih "Deket mbak, cuma 3 km dari sini". Iya sih lumayan deket, tapi jalan semakin nanjak dan..... sepi. Tapi sekali lagi, kita kan ceritanya lagi backpackeran, masa berhenti tengah jalan haha.

Ada kisah menegangkan di tengah jalan. Motor tiba-tiba mati pas turunan. Dan tidak mau menyala lagi. Udah deg-degan tuh sebenernya, tapi mengingat motor matic emang suka gitu jadi berusaha untuk tenang. Yap, disinilah peran partner perjalanan. Untungnya partnerku ini nggak panikan, kita malah nyemangatin motornya. Alhamdulillah, setelah istirahat sepuluh menit, motornya bisa nyala lagi :")) Nggak jadi ngetok-ngetok rumah warga buat numpang nginep deh, haha. Tips 6 : Jangan panik! Tenang dulu, berdoa dan coba selesaikan masalah perlahan.

Dilanjutlah ke gua kiskendo, tapi kok sepi ya? Ah mungkin cuma perasaan aja. Pas masuk disambut oleh ibu-ibu pedagang di kios dekat sana. Bayar tiket cuma 3K per orang dan parkir 2K. Lalu masuklah kita ke dalam, tempatnya sejuk dan masih terbilang rapi sih. Tapi ada kejadian lucu disini. Pas kita mulai masuk ke pintu masuk gua nya, ada yang nggak beres. Gua nya gelaaaaap banget, horor lah. Mana bonus kelelawar terbang sana sini lagi. 

Pintu masuk menuju Gua Kiskendo

Bagian depan Gua Kiskendo

Setelah maju mundur, aku yang penakut sangat hati-hati ini, nggak mau masuk ke dalam haha. Ternyata orang-orang yang kesana juga nggak berani masuk, cuma duduk-duduk aja di pondok.

Ini gua paling berkesan, karena paling susah ditempuh tapi paling bikin surprise gara-gara nggak bisa masuk. Padahal udah ngebayangin mau caving gitu :""))

Setelah dari sana, kita menuju waduk sermo. Tapi sekali lagi : backpacker-an berarti harus siap dengan ketidakpastian. Jalan menuju waduk sermo nggak terdeteksi GPS, akhirnya setelah diantar oleh mas-mas yang baru pulang kerja (baik banget emang orang jogja ini), kita memutuskan untuk langsung ke pantai glagah. Sekitar 10 menit awal jalannya masih batu-batu gitu dan luar biasa sepi, agak ngeri juga. Tapi alhamdulillah kesananya mulus lagi, ramai pula.

Tiket masuk ke pantai glagah ini 4K per orang dan 3K untuk parkir. Setelah shalat ashar, kita langsung menuju dermaga pantai glagah. Alhamdulillah, Allah Maha Sempurna. Matahari yang bersiap untuk sembunyi terlihat sangat gagah saat itu. Pantai disana emang bukan untuk berenang, ombaknya tinggi dan anginnya kencang. Tempat yang sempurna buat mengagumi KeagunganNya.

Sunset Pantai Glagah

Tempat instagramable di Pantai Glagah

Rencananya sih jam 5 maunya udah pulang, tapi apa daya, keindahan sunset disana bikin kita lupa diri. Setelah memaksa diri, akhirnya jam setengah 6 kita beranjak dengan berat hati.

Di perjalanan pulang kita sempet nyasar, mana jalanan gelap banget pula. Alhamdulillah, tetap bisa sampai ke pusat kota jogja lagi sekitar jam 8 malam. Tips 7 : Jangan asal nebak jalan kalau nggak tau, ikutin GPS aja biar aman. Dari sana, tenaga kita masih nyisa nih. Akhirnya kita kejar lah kuliner mblusuk yang katanya hits di jogja, namanya Bakmi Mbah Mo. Lokasinya di Desa Code, sekitar 30 menit dari Malioboro. Mblusuknya beneran mblusuk lewat sawah dan hutan, tapi.... yang makan disana banyak yang bermobil mewah, menandakan kalau tempat makan itu emang ngehits. Harga bakmi disini 17K dengan rasa yang mantap!

Bakmi Mbah Mo
Yap, berakhirlah malam terakhir kita di Jogja dengan kisah yang amat manis. Esok harinya kita jalan-jalan di dalam kota, mengingat harus sudah menuju stasiun jam 12 untuk pulang ke Bandung.

Setelah sarapan Gudeg Yu Djum (finally), kita menuju Museum Benteng Vredeburg. Lokasinya setelah Pasar Beringharjo. Tiket masuknya hanya 2K dengan koleksi diorama yang bikin melek sejarah. 

Dari museum, kita lewat malioboro lagi untuk beli oleh-oleh. Yap, perjalanan kita di jogja berakhir juga. Kita berangkat dari losmen pukul 12,30 menuju stasiun Lempuyangan untuk naik Kereta Pasundan Express pukul 14.00. Di kereta, kita LDR-an beberapa jam karena kepisah duduknya, akhirnya ngungsi deh ke gerbong kantin haha. Kereta ekonomi sekarang udah full AC dengan tiket 100K. Tapi penuuh banget..

Pukul 23.19 kita sampai di Stasiun Kiaracondong. Resmi sudah perjalanan kita ini berakhir dengan banyak memori indah dan tentu saja dengan membawa semangat yang baru untuk kembali mengurusi hidup yang rumit ini, haha.

Terimakasih jogja! Meski hanya tiga hari tapi bener-bener dapat pengalaman luar biasa dari pedalaman jogja. Apalagi pengalaman merasakan langsung keramahan orang kulon progo yang bahkan selalu nyapa duluan di jalan meski nggak kenal. Belum lagi dengan ketertiban masyarakatnya di lalu lintas, aaaah rasanya ingin punya tempat tinggal disana :"

Dan tak lupa untuk partner perjalananku... terimakasih banyak. Terimakasih untuk tidak mengurungkan niat untuk tetap berangkat meski hanya berdua. Maafkan kalau aku terlalu banyak bicara dan mengeluh sepanjang perjalanan. Ah, semakin bertambah rasa syukurku karena bisa lebih mengenalmu lewat perjalanan ini. Semoga nggak kapok yaa, sampai jumpa di perjalanan berikutnya!
Meski malu kuucapkan, tapi... ana uhibbuki fillah <3 p="">

Tips terakhir yang paling penting : Pastikan partner perjalananmu ikhlas jalan-jalan sama kamu.


Berikut rincian cost 3d 2n di Jogja :


Share:

Senin, 10 Agustus 2015

Catatan Perjalanan : Anti Wacana "Backpacker" Bandung - Jogja (part 1)

Destinasi backpacker 3d 2n di jogja

Bermula dari wacana ingin rehat dari urusan hidup yang sudah semakin rumit, akhirnya jadi juga kita berangkat backpackeran. Awalnya nggak kepikiran jogja, malah inginnya ke lumajang atau bahkan kepikiran keliling jakarta aja deh daripada wacana beneran cuma wacana -_-

Saat itu cuma kepikiran "pokoknya harus jadi pergi, entah sama siapa aja atau kemana, pokoknya harus pergi". Alhamdulillah, meski tadinya yang mau ikut berempat, endingnya cuma berdua. Tapi luar biasa, Allah justru kasih partner yang sangat baik untuk perjalanan 3 hari ini. Partner yang nggak gampang panik, nggak pernah ngeluh dan jago baca peta. Apalah daya diri ini yang buta arah jika tidak diingatkan "Teh, 500 meter lagi belok kanan". Kalimat itu masih terngiang-ngiang sampai sekarang, haha.

Oke, jadi dua minggu sebelum berangkat, kita (tepatnya aku yang nggak bisa tenang kalau belum bikin plan) udah siapin itinerary dan baca-baca catatan perjalanan orang. Cost perjalanan juga udah dihitung, termasuk lokasi-lokasi yang mau dikunjungi, penginapan, sewa motor, dsb. Tips 1 : plan kaya gini tetep penting, minimal perhitungkan baik-baik rencana perjalanannya, jadi pas sampai di kota tujuan udah tau mau kemana aja dan sudah siap akomodasinya. Kalau udah siap gitu kan enak, tinggal siap-siap buat jelajah kota.

Kita berangkat pukul 07.20 dari Stasiun Bandung dengan kereta Lodaya Pagi. Kita terpaksa beli tiket kelas Bisnis karena kehabisan tiket kelas Ekonomi. Tips 2 : Beli tiket kereta api dari jauh-jauh hari. Karena untuk seorang backpacker, 20 ribu juga sangat berarti. Keretanya nyaman, toiletnya juga bersih, banyak bule nya juga (ya terus kenapa). Dan pelayanan petugasnya juga ramah. Oh ya, harga tiket kelas bisnis termurah 140K, ekonomi 100K. Nggak jauh beda ya? Tapi kalau dari aku prefer kelas Bisnis karena lebih nyaman dan lebih cepat sekitar 2 jam dari kelas ekonomi. Yap, dengan syarat beli tiketnya harus dari jauh-jauh hari ya biar nggak kehabisan.

Yeah, Finally setelah 8 jam perjalanan, akhirnya kita sampai pukul 15.20 di Stasiun Tugu Yogyakarta. Excited banget karena masih nggak nyangka aja kita berdua bisa menjadikan wacana jadi kenyataan, haha. Setelah shalat, kita langsung hubungi penyewa motor yang sebelumnya udah kita kontak untuk sewa motor selama dua hari. Di jogja kayanya udah nggak aneh ya delivery motor sewa kaya gini, jadi kita tinggal nunggu orangnya sampai di Stasiun Tugu, lakukan pembayaran dan administrasi lainnya, lalu cuss deh cari penginapan. Harga sewa motor ini 70K/hari. Kita sewa dua hari untuk keperluan jelajah kota karena memang lebih efisien pakai motor dibanding harus naik bis berkali-kali mengingat destinasi kita lumayan jauh dari pusat kota Jogja.

Oh ya! Backpackeran kita kali ini didukung penuh oleh Waze, sang penyedia layanan GPS terbaik haha. Dibantu dengan waze, akhirnya kita menuju jalan Sosrowijayan yang disebut-sebut sebagai kampung turis karena semua jenis losmen ada disana, khususnya yang murah-murah. Sebelumnya kita punya rencana untuk menginap di Hotel Indonesia Jl, Sosrowijayan no,9, tapi karena kedodolan aku yang males booking ulang, akhirnya kehabisan kamar -_- Tips 3 : Jangan malas cari info dan booking hotel. FYI, Hotel Indonesia ini tergolong murah (banget). Harga termurah permalamnya 70K, termahal 210K (AC). Tapi alhamdulillah, di depan hotel ada bapak-bapak yang bantuin cari hotel lain. Setelah survey, diputuskanlah untuk menginap selama dua hari di losmen Nuri. Losmennya walau sederhana tapi bersih dan nyaman, kita pakai yang double bed dan kamar mandi dalam seharga 125K semalam.

Losmen Nuri Jl. Sosrowijayan

Setelah sampai di losmen, istirahat sejenak untuk membersihkan diri. Ba'da Isya keluar lagi untuk cari makan di daerah malioboro. Sejak baca peta dari yogyes udah ngeceng gudeg Yu Djum yang tenar itu, tapi gudegnya habis :( Akhirnya tetap makan malam di Jl.Dagen, lumayan banyak lesehan yang nyaman di Jl.Dagen itu.

Malam menjelang, lalu setelah jalan-jalan di Malioboro kita pulang ke losmen, ceritanya hemat tenaga untuk esok hari. Oh ya, dalam dua malam itu kita selalu rencanakan perjalanan kita untuk esoknya, semacam briefing gitu deh. Dan tak lupa juga untuk membahas "mereka" sebagai penghangat suasana.

Plan yang kita buat malam itu adalah : Berangkat subuh ke prambanan untuk lihat sunrise - waduk sermo - kalibiru - gua kiskendo - kedung pedut - pantai glagah. Destinasi kita memang kulonprogo dari awal, mengingat daerah lain sudah mainstream, jadi kita mencoba jadi backpacker anti mainstream gitu deh.

But you know lah ya, suatu saat plan akan tetap sekedar menjadi plan. Kita baru berangkat pukul 05.30, akhirnya lihat sunrise depan losmen. Kita langsung menuju prambanan saat itu, dan sampai sekitar pukul 06.30. Tapi... kita nggak jadi masuk karena nggak begitu tertarik. Cukup jalan-jalan aja dan check in path -_- Lucunya kita malah nongkrong di sebrang kandang rusa, nontonin rusa hidup yang mirip patung karena jarang gerak.

Setelah itu, kita langsung bersiap menuju wates, kulonprogo. Perjalanan kesana memakan waktu sekitar 1,5 jam (karena dari prambanan). Jalannya mulus, tapi jalan menuju kalibiru agak sempit dan agak curam. Selain itu sepiiii banget. Oh ya, kita sempatkan diri untuk sarapan Soto Pak Imo di wates (asli deh, jalan-jalan bikin lupa makan). You know what? Sotonya enak dan murah, haha. Seporsi soto daging cuma 9500 rupiah. Padahal tempat makannya lumayan besar dan banyak cabang, kalau di bandung sih pasti udah rate 25K keatas :"

Soto Pak Imo

Perjalanan ke waduk sermo kita batalkan mengingat ternyata lebih dekat ke kalibiru. Jalannya sepiii banget, hati-hati dengan kendaraan dari arah berlawanan karena kadang nggak keliatan. Tapi yang bikin kita salut, jogja ini luar biasa penataan lokasi wisatanya, jalanan mulus jadi nggak perlu khawatir berlebih. Meski menyeramkan pas turun tanjakan, hiiii.

Selama di perjalanan disuguhkan pemandangan hutan yang keren, sejuk pula. Tapi sekali lagi... sepi. Untunglah partner perjalananku setia mendengarkan segala ocehan yang tak penting itu :"

Jalan menuju kalibiru


Sebenarnya ada dua jalur menuju kalibiru, tapi waze berkata bahwa jalur sentolo itu lebih cepat daripada harus melewati waduk sermo dulu. Dari RM Soto Pak Imo menuju kalibiru hanya sekitar 25 menit kok.

By the way, kalibiru itu masih agak asing di telingat kita. Kita memantapkan tekad untuk kesana setelah baca-baca review orang. Ini nih fotonya :

Tempat instagrammable di kalibiru

Indah banget kan? Awalnya kita ingin ikutan foto juga diatas dipan itu, tapi karena satu dan lain hal akhirnya kita mengurungkan niat dan cukup menikmati pemandangan yang luar biasa indah. Waduk sermo terlihat gagah dari kejauhan, langitnya cerah, udaranya sejuk, pokoknya keren deh! Untuk masuk ke kawasan wisata kalibiru hanya butuh 5K untuk tiket masuk dan 2K untuk parkir. Kalau mau foto diatas bayar lagi 10K. Disana juga ada flying fox dan beberapa game outbound lainnya.

Oh ya, di daerah kalibiru ini juga disewakan pondok-pondok. Denger-denger rate harganya sekitar 150K-250K semalam. Bisa untuk lima orang deh kayanya. Pokoknya asique kalau bisa dapet sunrise atau sunset disini :"


Nah untuk kisah-kisah selanjutnya di kedung pedut, gua kiskendo, pantai glagah beserta rincian costnya akan diposting selanjutnya. See you ^_^

Share:

Senin, 20 Juli 2015

Bidadari-bidadari kecilku

Sebenarnya sudah lama ingin tulis ini, sejak malam takbiran rasanya ingin sekali segera menulis. Entah kenapa, bayangan tentang mereka terus berkelebat. Dan seperti biasa tulisan adalah satu-satunya jalan untuk membekukan memori. Entah akhirnya mereka membaca tulisan ini ataupun tidak, tak masalah bagiku.

Sampai saat ini, kata "mereka" memang selalu refers to orang yang berbeda-beda. Yap, karena hingga saat ini, aku dikelilingi oleh banyak "mereka" yang sangat kucintai. Yang setiap "mereka" memiliki kisah spesial tersendiri.

Dan kali ini... "mereka" adalah akhwat-akhwat tangguh yang darinya aku belajar untuk bangkit kembali. Untuk berani mencintai dan bertindak seperti seorang pecinta kembali.

Sudah hampir dua tahun kita bersama, bidadari-bidadari kecilku. Aku yang sejak awal tak mengharapkan apapun, justru kembali menjadi seseorang yang penuh harap. Menanti tumbuh dan berkembangnya kalian layaknya seorang kakak kandung. Aku yang seringnya habis kesabaran, terus berlatih untuk bersabar bersama kalian. Ada sebuah kekuatan besar yang membuatku terus percaya bahwa "suatu saat, kalian pasti akan jadi orang hebat" hingga pada akhirnya aku tak pernah sampai hati untuk menyerah.

Kalian sukses merebut urutan prioritasku. Aku bahkan rela kesampingkan jadwal reuni tahunanku demi hadir ke agenda kalian. Aku pupuk harapan itu dengan menyaksikan kalian tumbuh. Sekali lagi, aku percaya bahwa kalian-lah generasi pengganti yang ditunggu itu. Maka akan selalu ada effort besar yang harus dikeluarkan bukan?

Aku pernah salah langkah dalam membina, mungkin tak begitu melibatkanNya dan hanya mengikuti ego semata. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi sekarang. Aku berusaha untuk begitu berhati-hati bersama kalian. Aku berdoa padaNya agar terus melimpahkan kebaikan pada kalian.

Bidadari-bidadari kecilku, sejak awal bertemu, kalian sudah sukses merebut hatiku. Aku senang sekali melihat setiap perubahan kecil kalian. Aku masih ingat benar kalian yang masih begitu polos menceritakan beratnya hari-hari kalian di sekolah. Aku juga masih ingat bagaimana kalian mencoba untuk memanjangkan kerudung kalian dan menunjukkannya padaku di hari jum'at. Aku ingat ketika kalian bangga memakai kaus kaki kemanapun. Aku ingat kalian mulai senang mengenakan rok, bahkan ketika dramus/padus yang notabene agak sulit memperjuangkan busana syar'i. Aku masih ingat, kalian yang tak pernah malu untuk habiskan makanan bahkan ketika mentoring baru berjalan 15 menit. Aku masih ingat jelas, beberapa dari kalian yang pernah diam sepanjang mentoring karena sedang gundah memikirkan si dia, haha. Aku masih ingat, saat-saat dimana kalian rengkuh pundakku untuk sekedar menumpahkan gundah. Aku masih ingat mata berbinar kalian ketika kongkows sudah dekat. Aku masih ingat saat kalian terbata-bata menjelaskan dengan perasaan bersalah ketika kalian terpaksa dibonceng lelaki, padahal aku sama sekali tak menanyakan hal itu. Aku ingat sekali, kalian begitu antusias untuk mengajak teman-teman lain bergabung dengan lingkaran kita, hingga akhirnya lebih dari 40 orang bersedia ikut mentoring. Aku... masih mengingat banyak hal tentang kalian. Dan mengulang memori tentang kalian tak pernah membosankan bagiku.

Tak semua hal menjadi mudah memang. Tentu saja ada banyak hambatan. Tentu saja sabar ini sempat hilang kendali. Namun berkali-kali aku ingin menyerah, berkali-kali juga tawa kalian menyadarkan.

Lalu... semakin hari, rasa cinta itu semakin besar
Aku semakin senang menyaksikan hal-hal kecil dari kalian, lalu tersenyum sendirian. Ah, percayalah, bukan hanya aku yang merasakan. Bahkan ada dua-tiga kawanku yang selalu bahagia melihat kalian tumbuh.

Aku sungguh mencintai kalian.

Dan cinta yang baik, bukanlah cinta yang mengekang bukan?

Terbanglah. Kembangkan sayap kebermanfaatmu, bidadari-bidadari kecilku. Seperti prinsip kita, berbuat yang terbaik dan berikan yang terbaik. Jadikan rumah kita ini sebagai tempat istirahat yang nyaman setiap pekannya. Silahkan berjuang, habiskan tenagamu. Malaikat-malaikatNya akan menyambutmu yang kelelahan memperjuangkan agamaNya. Jangan mundur saat lelah, ada Allah, ada surgaNya yang menantimu.

Dan... sadarkah kalian? Saat ini, fungsi keluarga kita sudah mulai berjalan dengan baik. Kalian sukses membangunkan keluarga yang sedang tertidur secara perlahan namun pasti. Sistem kaderisasi mulai membaik, kajian mulai sering diadakan, tilawah al-qur'an semakin tak asing lagi, semakin banyak yang tertarik memperbaiki shalat wajib dan sunnahnya, kelompok mentoring lanjutan sudah lebih dari 13 kelompok, itu mungkin pertanda bahwa keluarga kita sudah mulai tak dianggap eksklusif lagi. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Kami, para alumni yang tersisa hanya bisa mengucapkan syukur setiap kali kalian mengabarkan berita baru dengan berapi-api. Kalian seperti tak ada lelahnya, walau flu bahkan demam, kalian tetap datang untuk berjuang dengan wajah pucat dan berkeringat. Kita hanya bisa berucap, "akhirnya...".

.....

Dahulu, aku dan yang lainnya datang kembali karena ingin berjuang bersama untuk merapikan kembali pondasi rumah kita. Bismillah, mungkinkah sekarang perbaikannya sudah mencapai 80%?
Jika iya, maka artinya sudah saatnya mundur perlahan. Saatnya regenerasi. Saatnya kalian ambil alih sepenuhnya. Saatnya kawan-kawan lain bahagia karena akhirnya wajah-wajah tua pengganggu ini mulai hilang perlahan, hehe.

Tapi tenang saja, kami akan selalu menanti cerita seru kalian. Seperti biasa, saat kalian bercerita dengan meledak-ledak (entah itu senang atau marah haha) aku akan genggam tangan kalian sembari menatap mata kalian dan tersenyum lebar. Aku akan dengan senang hati meminjamkan bahu ini jika kalian butuh.

Bidadari-bidadari kecilku, berjanjilah untuk setidaknya tetap ada di jalanNya. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya untukNya dan tentu saja untuk diri kalian sendiri. Dimanapun kalian berada, jangan lepaskan prinsip yang kalian punya. Aku mohon...

Aku sungguh mencintai kalian.. dan semoga rasa ini memang selalu karenaNya hingga ukhuwah ini bisa menjadi syafaat di yaumul akhir nanti.

Senin, 20 Juli 2015 01.54
Share:

Senin, 13 Juli 2015

.


Selamat malam, adikku sayang.

Terimakasih telah menghapus mini blogmu, terimakasih telah membuatku masuk di hidden list timelinemu, terimakasih sudah blok instagramku. Sudah berjalan selama beberapa bulan bukan?

Maka sempurna lah aku tak tahu kabarmu. Hanya bisa mencuri kabar tentangmu dari yang lain. Sejujurnya, sakit hati ini ketika harus menyapamu dan bertindak seakan-akan orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Tapi aku sadar, aku tak bisa membuat dirimu tak nyaman dengan apa yang aku tahu.

Padahal aku tak akan membencimu. Seorang kakak yang baik tak akan meninggalkan adiknya seperti itu. Baiklah, kau yang memutuskan untuk berjalan seperti ini.


Saranku, jangan buat dirimu lelah sendirian. Santai saja. Aku disini tak mengharapkan banyak hal, hanya sedang berharap doa-doa ini selalu sampai padamu.

Tak bosan kukatakan, entah tahun lalu, kemarin, hari ini bahkan detik ini, aku akan selalu mencintaimu. Dan semoga cinta ini memang selalu karenaNya. Karena aku ingin berkumpul denganmu lagi di syurgaNya nanti.

Kembalilah. Bahkan jika untuk terakhir kalinya.
Share:

Jumat, 03 Juli 2015

Terimakasih telah membuat segalanya terasa lebih mudah, kawan.

"Sebaik-baik teman adalah yang mengingatkan kita kepada Allah, Lisannya menambah ilmu dan yang amalannya mengingatkan kita akan akhirat." (HR. Ath Thabrani)

Jadi mau curhat tentang hari ini (padahal isi blognya curhat semua). Luar biasa, hari ini grasak grusuk banget rasanya. Kejar-kejaran sama waktu mulai pulang kantor kemarin. Sebenernya sengaja izin hari ini karena harus ke kampus ngurus sesuatu dan yang terpenting sih karena ada gebyar ramadhan. Entah kayanya kok gereget banget pengen dateng. Tapi nyatanya, hari ini....... alhamdulillah luar biasa Allahu Akbar!

Dari pagi berangkat ke kampus, rekor banget cimahi-dakol cuma setengah jam. Saking pengen dateng cepet ke gebyar :") Tibalah saat di kampus mengurus "sesuatu". Sesuatu yang dua minggu terakhir ini bikin dag dig dug karena menyangkut salah satu mimpi besar dari jaman bareto. Sesuatu yang bikin HHC (bahasa jadul banget). Sesuatu yang bikin buka email menjadi terasa sangat spesial. Sesuatu yang sukses bikin senyam senyum sendiri kalau bayangin bakal beneran tercapai.

Tapi nyatanya..

Allah berkehendak lain. Aku memutuskan untuk membatalkan si sesuatu ini karena banyak pertimbangan dari segala aspek.

Sebenernya udah siap dengan skenario ini dari awal, karena ga berani memastikan si sesuatu ini bakal beneran tercapai tahun ini. Dan apa salahnya juga, ini udah pecobaan ke sekian kali, besok besok kan bisa nyoba lagi :3 Hanya saja sesuatu yang ini bikin greget, karena ga pernah sampai tahap sejauh ini. Akhirnya dengan bismillah dan dengan keyakinan bahwa ini yang terbaik, aku kirimkan email konfirmasi pembatalan atas si sesuatu itu.

Singkat cerita urusan di kampus belum beres, makin panjang malah. Akhirnya mutusin buat balik aja ke acara karena belum jelas juga urusannya. Dan tahukah? Gerbang parkiran motor dikunci karena keburu jumatan T__T Akhirnya balik lagi deh, sendirian guling-guling di gedung F, bohong deng ga guling-guling juga. Seudah gerbang dibuka, balik lagi ke tukang fotokopian ngambil fotokopian yang dititipin. Dan tahukah? Fotokopiannya masih tutup, emang-emangnya harcos banget T__T

Belum beres urusan sama emang fotokopi, hati ini merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu tertujulah mata ini pada tumpukan sertifikat. Dan tahukah? Sertifikatnya kurang, salah bilang jumlahnya ke si mba-mba percetakan T___T *iya aku tau ini dodol banget*

Karena sadar harus balik lagi ke percetakan, akhirnya makin kesel sama si emang-emang fotokopian yang tidak kunjung datang. Akhirnya, berkah ramadhan ya, setelah nunggu setengah jam, datanglah si emang-emang itu. Berangkatlah ke percetakan untuk menyelesaikan urusan sertifikat yang belum kelar.

Tiba-tiba di jalan jadi baper. Ada satu rasa bergemuruh dalam hati. Mungkin hanya efek samping dari pengambilan keputusan tentang si "sesuatu" itu. Di jalan udah pengen cepet-cepet nyampe, pengen numpahin semua kegelisahan.

Dan tahukah?
Sesampainya disana, liat adik-adik lagi heboh bikin parsel. Eh.... seketika aku lupa apa yang lagi aku rasakan. Bener kata seseorang, selalu gagal buat sedih kalau lagi bareng mereka.

Lalu sepertinya Allah berikan sedikit kejutan hari ini. Tiba-tiba ada seorang adik mentee yang menghampiri, memeluk erat tanpa kata, lama dan eraaat sekali. Dan secara tak sadar, aku menarik nafas dalam-dalam, melepaskan sisa beban yang tertumpuk dalam hati. Ia menangis, terharu karena lama tak bertemu ujarnya.

MasyaAllah.. Setelahnya hanya bisa tersenyum lebar dan berterimakasih pada Allah. Bener-bener rasanya udah ga ragu lagi. Mungkin ini salah satu caranya untuk menghilangkan beban di hati :")

Sepanjang acara dihabiskan dengan kegembiraan. Berasa reunian juga sama alumni-alumni, belum lagi dengan jokes ala sopi yang selalu sukses bikin ketawa. Rasanya bahagia banget bisa ketawa-ketawa kaya tadi. Apalagi liat adik-adik di acara tadi, bahagia aja gatau kenapa.

Allah benar-benar baik, menitipkan mereka sebagai penyejuk hati, alhamdulillah :")

Terimakasih telah membuat segalanya terasa lebih mudah, kawan.
Share:

Senin, 04 Mei 2015

Bumerang.

Rasanya seperti melempar gelas kaca lalu dilempar balik dengan mata pisau yang tajam.

Memang saya salah, saya yang memulai luka malam ini dengan alasan yang tak bisa diterima oleh siapapun. Tapi saya mencintai mereka, apapun yang terjadi. Lalu malam ini saya meragukan semuanya. Benarkah semuanya seperti itu?

Hari ini bahkan saya tutup jendela chatting dengan segera bila ada pesan baru. Saya kira itu akan menyakitkan, ternyata terlalu menyakitkan. Saya tidak tahu akan ada rasa sakit seperti ini. Rasanya sakit, mengetahui bahwa mereka mampu berspekulasi seperti itu. Hmm, jika mereka membaca ini mungkin mereka tak akan menerima alasan yang aku tuliskan disini. Lalu izinkan saya bertanya, benarkah cinta itu ada? Jika benar, tolong dengarkan saya dulu.

Ukhuwah kita akan jalan 7 tahun. Tak terhitung bahagia dan rasa sakit yang kita alami. Tapi ini yang paling menyakitkan menurutku. Seingat saya, saya diam saja, saya menyaksikan setiap spekulasi yang mereka buat. Saya memancing dengan sedikit trigger dan dhuarrr, meledak semuanya. Saya... tidak tahu akan ada kalimat-kalimat seperti itu yang muncul. 

Saya tahu, saya penjahatnya malam ini. Tapi penjahat ini justru menangis di kamarnya dan tak sadar terus mengatakan "sakit.. sakit..". Penjahat ini menyadari bahwa cintanya.... mungkin masih belum nyata untuk mereka sehingga bisa terjadi hal seperti ini. Bahwa penjahat ini mungkin saja akan dihujat ketika melakukan sebuah kesalahan yang lebih besar daripada ini. Penjahat ini sebenarnya sedang ingin didengarkan. Tapi nyatanya penjahat ini semakin sakit saja hatinya. Penjahat ini menerima hukumannya langsung setelah menyakiti saudaranya. Tolong.. tolong maafkan penjahat ini.

Semoga Allah anugrahkan lupa untuk memori hari ini. Semoga Allah maafkan atas segala kesalahan malam ini. Semoga kedepannya kecintaan seseorang tak bisa diukur dari pengorbanannya untuk memahami. Semoga.

Jika saya jatuh ke jurang, adakah tangan mereka yang akan menarik terlebih dahulu?

Share:

Jumat, 10 April 2015

Lagi.

Menjadi kakak itu tidak boleh egois. Benarkah? Entahlah, seperti ada suatu tembok penghalang dalam hatimu ketika keegoisan mulai menyerang di hati.

Hari ini... aku sedikit kesal. Boleh kan aku bercerita disini?

Ya, akhir-akhir ini rasanya lelah (lagi). Rasanya sepi, sendirian, bingung mau sharing sama siapa. Dan sayangnya, kondisi "disana" tak begitu mendukung. Ada saja yang membuatmu harus mengelus dada. Bersabar untuk sekian kalinya. Sebenarnya... bukan itu masalahnya. Kesal ini datang karena sabar mulai hilang. Karena berbagai macam "harapan" mulai menyerang tanpa ampun.

Kamu lelah. Kamu bingung harus bereskan tugas ini darimana. Kamu ingin mereka bisa paham secepat mungkin agar beban ini berkurang. Tapi kamu kehilangan cara untuk bersabar. Sekali lagi, kamu kehilangan sosok-sosok yang bisa menguatkanmu. Kamu kehilangan sosok-sosok yang rela mendengarkan perkembangan adik-adikmu hingga kamu tak merasa sendirian membimbing mereka.

Kamu mulai kehabisan cara untuk membenahi kondisi ini. Kamu.. untuk pertama kalinya merasa berjuang sendiri. Menjadi superman yang mengurusi segala hal sendiri.

Kamu... mulai jauh dariNya. Lagi dan lagi :"(

Sebenarnya, kita tidak pernah benar-benar sendiri bukan? Ada Allah yang selalu menemani..
Seandainya diri ini tak jauh dariNya, maka perihal kesepian ini bukanlah masalah. Seandainya hati ini terus diliputi iman yang kuat, maka lelah ini bukanlah pengganggu.

Mungkin kamu hanya khawatir. Sebab kamu tahu persis, kemampuanmu terbatas. Tidak akan banyak yang bisa kamu atasi jika sendirian. Kamu merindukan mereka yang aksi nyatanya bisa sangat membantu membenahi kondisi ini.

Tapi mereka juga sedang sibuk :')
Aku hanya akan menambah beban saja jika meminta ini itu.

Bukankah perjuangan akan benar-benar terasa ketika kita sudah melewati fase "sendirian"?
Maka biarlah, biar aku coba untuk lewati ini semampunya, tentu saja dengan memohon pertolonganNya.
"Jika ada seonggok kemanusiaan terkapar, siapa mengaku bertanggung jawab, jika semua pihak menghindar, maka biarlah aku yang menanggungnya sebagian atau seluruhnya" (Ust. Rachmat Abdullah)
Allah, kuatkan...

*Semoga sebelum pergi masih bisa berbenah dulu. Yuk, bangkit! =D
Share:

Rabu, 01 April 2015

Menjaga Sebuah Generasi

Sebenarnya tulisan ini request-an seorang adik kesayangan sebulan lalu. Tapi gapapa telat deh ya, better late than never :p


Jadi waktu itu ngisi mentoring tentang team building dan masuklah ke bahasan menjaga sebuah generasi ini. Sebenernya udah agak-agak lupa sih, tapi dicoba deh ya mengulas tentang ini.
Yaa, mungkin ujungnya juga jadi curhat tentang alasan besar mengapa kami pilih untuk ada disini.


Sebenarnya, yang namanya dakwah itu ya sama. Mau dimana juga sama. Mau kamu kuliah keluar negeri terus kamu sebarkan tentang kebaikan islam, mau kamu jadi akademisi dan membuat orang orang percaya bahwa ternyata al qur'an sudah membuktikan tentang banyak fenomena alam, mau kamu ajak seisi geng motor buat ikut pengajian, mau kamu jadi aktivis kampus yang masyaAllah agendanya bisa lebih dari 24jam sehari (?), mau kamu membaur di kelas dan ajak temen-temen buat ikut mentoring, mau kamu kembali jadi remaja agar bisa masuk ke dunia anak-anak SMA, bahkan mau kamu berbuat kebaikan sekecil apapun dan terus menerus ya itu bentuk dakwah kamu.

Inget kata seorang sahabat, sebut saja inisialnya widdy. Beliau yang sekarang sudah jadi "ibu negara", yang waktunya habis digunakan untuk berdakwah di kampus selalu bilang bahwa dakwah itu dimana aja bakal berat. Yap. Dimanapun bakal berat.

Seperti kata quotes yang selalu menusuk ini :
Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung & membuat orang gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara kontinu kecuali atas pertolongan Allah.
Nah, balik lagi ke menjaga generasi. Kenapa kami memilih untuk kembali dan tidak memilih untuk berkecimpung di dunia yang baru? Apa kami terlalu pemillih? Apa kami ga mau berbaur dengan yang lain? Apa kami ga suka ada diluar sana? Apa kami menganggap disini lebih ringan? Hmm, jawabannya tidak. Meskipun mungkin yang terlihat "iya".


Sampai sekarang, bahkan kita sering dapet pertanyaan "Teteh kuliahnya ga sibuk ya? Kok asik sih masih bisa kesini" atau "Ih teteh kuliahnya nyantai ya? Aku juga pengen kaya gitu". Sekali lagi, jawaban pertama atas pertanyaan-pertanyaan itu ya senyum hehe.
Kalau dibilang nyantai sih engga :'( Siapa sih yang ga pengen kuliahnya nyantai kaya di pantai dan bisa PP rumah-kampus? Loh, terus kalau ga nyantai kenapa bisa masih ke tempat itu?



Karena.... prioritas.


Karena menjaga sebuah generasi di rumah ini adalah prioritas untuk kami. Sama halnya dengan kawan-kawan kami yang membangun generasi di kampusnya. Kami hanya memilih ladang yang berbeda, dengan tugas yang mungkin sama beratnya.

Seorang teman di kampus menanyakan (lagi), katanya "Man, kamu kok masih disana aja sih? Kapan mau balik kesininya?". Seperti biasa, aku jawab pake senyum aja dan bilang kalau memang di rumah kita ini belum rapi. Lalu dia menambahkan lagi "Kamu inget ga, kalau individu yang baik itu akan muncul kalau gen yang sudah matang dicabut? Mungkin itu alasan mereka ga berkembang, karena kamu terlalu lama disitu".

Ugh. Jleb. Sakit sih sebenernya. Dan untuk yang ini agak ga terima. Meskipun ga bohong agak kepikiran juga. Akhirnya curhatlah aku ke sahabat-sahabat lain. Bilang tentang "hukum kromosom" itu. Eeh tak disangka-sangka yang kuliah di jurusan biologi angkat bicara dan membawa "hukum kromosom" yang kontra.

Jadi, menurut dia (sebut saja dzihni) :
Salah, bukan seperti itu. Individu baru yang baik itu muncul karena ada gen pembawa sifat baik dalam kromosom. Ketika gen itu dicabut, maka yang terjadi malah mutasi, kelainan gen. Begitu juga dengan organisasi, ketika generasi yang sudah matang dihilangkan secara paksa, maka generasi baru akan kehilangan contoh. Kehadiran generasi yang lebih dulu ada ini akan berfungsi sebagai contoh.
Setelah denger itu jadi legaaa banget. Bukan pembenaran sih, tapi akhirnya dapat alasan kuat kenapa kita harus bertahan disini. Alasannya adalah : menjaga generasi.

Kenapa kok lebay banget? Karena kami pernah merasakan sakitnya kehilangan sebuah generasi. Sakitnya tuh gimana ya, berasa bersalah aja dan ngerasa "kemana aja kamu ketika adik-adik kamu kehilangan pegangan kaya gini?".

==== to be continued======
Share:

Sabtu, 28 Maret 2015

Seorang Kakak

Bukan, ini bukan tulisan roman tak jelas. Bukan juga cerpen indah menggugah hati, hanya curahan hati tentang hari ini.

Dulu sering denger bahwa cinta bisa mengubah seseorang jadi lebih kuat. Inget ada kisah seorang anak yang bisa angkat mobil sendirian ketika ayahnya kejepit ketika lagi benerin mobil. Dulu sih mikir, ah masa sih anak 5 taun bisa sekuat itu. Tapi ternyata... hari ini kita merasakan bahwa kekuatan cinta itu memang luar biasa.

Hari ini masyaAllah, luar biasa sekali. Dimana empat orang akhwat yang terpaksa menjadi kakak, benar-benar harus "break the limit". Seandainya tadi kita lupa bahwa kita adalah "seorang kakak", mungkin kita sudah menyalahkan kondisi dan menyerah saja dengan keadaan. Tapi kekuatan "seorang kakak" mengalahkan semuanya.

Semua itu bermula ketika hujan mulai deras, mulai panik karena tak tega lihat 65 adik kehujanan di tengah hutan. Panik karena tak ada yang bisa menjamin mereka baik-baik saja. Panik karena bisa saja ada yang tiba-tiba pingsan lagi. Panik karena biasanya ada alumni lain yang ikut bertanggung jawab ketika ada kejadian seperti ini. Panik karena kita sadar bahwa kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga mereka. Panik. Serius panik.

Namun tiba-tiba hujan terasa tak dingin lagi. Sebisa mungkin kita harus bisa menjaga mereka, apapun yang terjadi. Meski hanya sepasang mata yang bisa memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Dulu, kadang kesel kalau teteh-teteh udah ngorbanin diri sendiri buat kita. Mulai dari pengorbanan kecil, sampai yang bikin pengen nangis saking segitunya. Tapi ternyata.... memang begitu adanya. Ketika kita benar-benar menjadi kakak, rasa khawatir tentang adik-adik kita itu lebih "membunuh" daripada kekhawatiran tentang diri sendiri.

Nah dari hujan besar itu ternyata ada tantangan lain yang belum selesai.

Pernah ngerasain pasrah yang pasrah banget?
Yang bener-bener request pertolongan ke Allah "Ya Allah, tolong kita" saking gatau harus gimana..
Dan luar biasa, hari ini akhirnya dapat kesempatan untuk rasain keajaiban pertolongan Allah.

Jadi setelah adik-adik turun semua, kita tanpa mikir panjang (ini yang salah -_-) memutuskan untuk jalan ke bawah bertiga. Awalnya ide ini kedengeran gila, tapi setelah liat kendaraan sudah penuh sesak maka ini satu-satunya ide terbaik yang ada. Naik motor juga udah ga mungkin, itu malah bikin masalah baru karena masih trauma juga naik motor di turunan kaya gitu.

Dengan bismillah kita berangkat. Tadinya tanpa mikir (lagi), kita mau sewa angkot aja di bawah. Padahal ga jelas ada atau engganya. Kita udah bayangin tuh ide konyol itu, haha.
Dan dipikir-pikir romantis juga ya tadi kita bertiga (minus si bungsu yang jagain di angkot) menikmati hujan sambil cerita-cerita. Malah jauh lebih lega karena masalah kepulangan adik-adik sudah selesai. Kita cuma lanjutin jalan sambil menyelipkan doa. Sampe-sampe kita bilang
"Hmm, Allah bakal nolong kita dengan cara apa ya? Ayo kita tunggu pertolongan Allah sambil jalan"
 Iya, itu titik kepasrahan kita yang emang beneran gatau gimana lagi biar bisa sampai ke bawah dengan selamat.

Lalu...

Sekitar sepuluh menit kemudian ada yang klaksonin kita, kaget dikira ada mobil yang remnya blong. Eh ternyata ada bapak tentara yang nyamperin pake mini truk sambil bukain pintunya nyuruh kita masuk. Aaaaaaa, udah pengen nangis. Terharu banget sama cara Allah nolong kita. Bener-bener kontan. Langsung. Lucunya kita serempak ngeh "ini pertolongan Allah!" pas mau naik mobil itu karena saking ga nyangkanya bakal ada mobil lewat.

Tapi...  karena kita ga enak duduk di dengan basah kuyup, akhirnya duduk di belakang deh, bersatu bersama tangki tangki oli. Kita ketawa-ketawa disitu, bener-bener legaaaa banget. Semakin yakin kalau pertolongan Allah itu pasti..

Alhamdulillah, kita berhasil kebawah dengan selamat berkat bapak itu (duh pak terimakasih banyak pak beneran ini mah). Setelahnya naik motor deh sesuai rencana awal (sebelumnya dititipin ke ikhwan sampe jalan terjalnya beres).

Di jalan udah pengen nangis banget. Merasa Allah begitu dekat. Begitu dekat...

Sebelumnya pas acara berlangsung kita banyak banget ngobrol, salah satu obrolan adalah tentang ukhuwah di keluarga kita ini. Disitu aku bilang "Apapun yang terjadi dengan aku, selama pergi bareng kalian sih aku tenang aja. Karena aku tahu itu kalian, bukan orang lain". Tiga ukhti kesayangan itu mengiyakan dan memang benar sih, selama ini memang nyaman aja ada di kondisi seburuk apapun.

Ternyata terbukti, aku tenang tenang aja bareng mereka di kondisi kaya gitu. Padahal belum jelas bisa pulang atau engga. Maka disini izinkan saya untuk berterimakasih pada seluruh sahabat-sahabat luar biasa yang selalu berhasil menghadirkan rasa nyaman di hati. Alhamdulillah..

Terimakasih untuk HKPI yang sudah memberikan kita kesempatan untuk belajar. Maafkan belum bisa maksimal. Hari ini jadi bahan evaluasi pribadi untuk kami berempat yang sedang belajar menjadi "seorang kakak". Semoga kedepannya kita bisa berhasil ya..

"BERBUAT YANG TERBAIK, BERIKAN YANG TERBAIK. ALLAHU AKBAR!"

Share:

Senin, 23 Maret 2015

Kamu.

Oke, saya menyerah.

Ini sudah hari keempat yang penuh perjuangan untuk menahan air mata. Sudah hari keempat saya merasa hancur. Biarkan saya menghancurkan diri malam ini, tenggelam dalam air mata sendiri.

Iya, saya hancur karena kamu.

Kamu, yang dulu dekat sekali dengan saya bukan?
Kamu yang membuat saya sadar akan banyak hal.
Kamu yang kehadirannya dapat menyembuhkan luka.
Kamu yang keadaannya selalu membuat saya khawatir.
Kamu yang beberapa kali membuat saya ikut mengejarmu yang sedang kacau sampai ke depan rumah, hanya untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat.
Kamu yang seringkali buat saya panik ketika temanmu mengabarkan kamu pingsan lagi.
Kamu yang sering buat saya terharu dengan hadiah kecil disaat yang tak terduga.
Kamu yang sering buat saya bangkit dengan kalimat pemacu semangat yang kadang sangat menampar.
Kamu yang buat saya bingung harus kasih apa, bahkan sejak H-60 tanggal miladmu.
Kamu yang sering buat bahu saya basah dengan air matamu.
Kamu yang sering hanya baca pesan saya tanpa ada balasan.
Kamu yang dulu tak pernah bosan menceritakan semua hal yang terjadi padamu.
Kamu yang berteriak kegirangan lewat telepon setahun yang lalu.
Kamu yang kesuksesannya menjadi salah satu dari 100 daftar impianku.
Kamu yang pernah menangis minta maaf karena telah melewati batas prinsip yang telah kita buat, katanya kamu takut aku marah. Nyatanya saya tak bisa marah. Lagi dan lagi.
Kamu, yang buat saya tak pernah lelah untuk mendoakan kebaikanmu.

Kamu kenapa?
KAMU KENAPA?!

Bukankah 4 tahun yang lalu kita sudah sepakat untuk punya prinsip yang sama?
Bukankah kau yang bilang akan menjaga hatimu hanya untuk pangeranmu?

Saya marah. Saya kecewa. Saya gemetar melihatnya. Hati saya sakit menahan air mata. Sakit...

Bahkan sekarang saya bingung harus bagaimana. Jelas ini suatu kesedihan yang luar biasa,
Sejujurnya saya punya skenario terburuk, tapi apa yang terjadi jauh lebih buruk daripada yang bisa saya bayangkan..

Tolong saya, saya harus bagaimana?
Semoga berpaket-paket doa yang kami kirimkan sampai dengan selamat..
Semoga berpaket-paket kebaikan sampai padamu.
Semoga setiap tetes air mata kami yang jatuh, akan menjadi harga yang sesuai untuk membuatmu kembali pada kami.

Kami tak akan pernah lelah padamu, sebagaimana kamu yang tak lelah mendoakan kebaikan 'untuknya'. Bahkan mungkin lebih. Bahkan tak akan ada ujungnya.

Dulu kamu bilang takut akan perpisahan, sebenarnya saya yang lebih takut. Ini yang saya takuti.
Kembalilah, karena di mataku dan mereka yang menyayangimu tak akan pernah ada orang baik yang pantas mendampingimu jika tidak dengan cara yang baik. Sabarlah, tunggu pangeranmu datang dengan kuda putihnya. Yang tak akan mengganggumu ataupun hatimu.

Sahabatku sayang...
Maafkan aku, maafkan kami yang tidak ada disisimu sehingga kau mencari yang lain.
Aku mohon, kembalilah...
Share:

Selasa, 24 Februari 2015

Pejuang yang pengecut.

Ini sudah tulisan ketiga setelah dua tulisan sebelumnya yang berhenti ditengah jalan. Entah kenapa sulit melanjutkan, apa karena topik tentang kalian sudah terlalu sering aku tulis?
Bahkan tulisan ini pun aku tak tahu akan berhenti lagi atau sukses hingga aku klik tombol publikasikan.

Aku sedang khawatir. Padahal bisa aku bilang kondisi keluarga kita sedang beranjak stabil. Para pejuangnya sedang bersama-sama melakukan renovasi besar-besaran. Seperti mimpi kita bersama, bukan?

Jalanku dan jalan kita disini memang tidak selalu mulus, banyak liku dan terjal jalannya. Kadang aku hanya bisa tertawa dalam hati mendengar orang-orang yang mencemooh apa yang kita lakukan disini. Ibaratnya tanda jasa, kita memang tidak punya wahai kawanku sayang. Lebih tepatnya tidak perlu.
Entahlah, sampai-sampai aku harus memutar otak bagaimana caranya agar poin keaktifan organisasiku di kampus tetap cukup hingga bisa wisuda. Dikala orang lain sudah punya seratus tujuh belas poin, aku hanya punya duapuluh empat dari semester satu hingga sekarang. Bagaimanalah, waktuku di kampus hanya senin-kamis (itupun full kuliah), sisanya aku habiskan bersama kalian. Tak terasa, dua tahun aku jalani hidup seperti ini. Sendirian di kampus, menanti datangnya hari jum'at agar bisa kembali hidup.

Kau kira ini mudah? Tidak.
Hei, aku pun gusar! Mendengar nasihat dari teman-teman disini, dari mulai yang lembut hingga terasa seperti gertakan. Aku tak punya banyak waktu untuk bersosialisasi disini. Atau aku yang sudah lelah dan menyerah? Entahlah.

Kau kira aku yakin sudah memilih dengan benar? Tidak, akupun masih ragu apakah ini hadiah atau ujian. Aku tak pernah punya kesempatan untuk menjauh meski hanya sekejap. Bagaimana bisa, jika ketika aku menyampaikan niatku, ada juga yang malah menyampaikan bahwa ia akan turut menjauh. Bagaimanalah ini? Padahal aku hanya ingin berpikir sejenak, sebentar saja hilang dari hingar bingar ini. Berdiskusi denganNya untuk menentukan jalan mana yang harus aku pilih.

Aku takut, kawanku sayang. Aku takut menjadi pejuang yang pengecut. Tidak berani keluar dengan alasan yang sebenarnya aku buat sendiri.

Aku juga takut, kalau ternyata pemikiran ini salah.

Serba salah.

Aku sudah diskusikan ini dengan beberapa orang, tapi tak ada yang menanggapi serius. Hei, aku serius! Aku serius ketika aku mengatakan rindu akan merasakan rindu. Aku butuh meyakinkan diri sendiri, sebentar saja..

Dan ternyata tulisan ini selesai. Maafkan ke-random-an ini.
Share:

Senin, 02 Februari 2015

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Seseorang : "Wah daebak!"
Azmi : "Daebak itu yang bahasa komputer itu kan?"
Nisa : "Oooh Debug!"
Aku : "Debug itu yang ada di kamar mandi"
Semua : "GAYUUUUNG!!!" *ga ada kalem-kalemnya*
Aku : "Ih terharu! Kalian kok masih inget sih?!"
Bungsu : "Hah?! Apa hubungannya sama gayung?!"
Jaim : "Ih masa gatau sih, sama kamandeu mah apa-apa jadi ke gayung"
Bungsu : *Masih mikir hubungan debug sama gayung*
Itu sepenggal kisah yang melekat di hati dari rihlah perdana kemarin. Gimana ga melekat coba, candaan garing khas gue banget dari bertahun lalu itu masih diinget mereka. Pas mereka jawab dengan kompak dan senada (alias teriak), kata "gayung" jadi begitu mengharukan. Siapa sih yang ga bahagia ketika hal kecil bahkan ga penting dari dirinya diingat oleh orang lain?

Mereka emang tercinta. Sejak 5 tahun lalu sampai sekarang ternyata ga ada yang berubah. Tema rihlah "Remember When.." kemarin sukses banget bawa banyak memori. Dinginnya hujan serta pekatnya kabut yang turun kalah telak dengan kehangatan mereka.

Sebenernya rihlah kemarin itu penuh dengan kekhawatiran, khawatir ikhwannya ga ada yang ikut lah, khawatir akhwatnya cuma berlima lah, khawatir hujan deras dan berbagai kekhawatiran logis maupun ga logis. Belum lagi dengan kisah survey yang bombastis. Pokoknya bener-bener deg-degan sekaligus antusias gitu. Alhamdulillah, peserta rihlah 29 orang (LANGIT LENGKAP BERSEPULUH GITU LOH!). Dan Rencana Allah memang yang terbaik, dengan segini peserta justru rihlahnya jadi ngena banget. Sepanjang jalan ga ada yang ngeluh, ga ada yang protes, semuanya nikmatin perjalanan..

Di rihlah ini kita main game susun puzzle gitu, puzzle yang harus disusun adalah potongan dari logo HKPI. Kebayang lah ya riweuhnya akhwat apalagi Santi. Dari berbelas potong, ternyata hilang dua. Tahukah kamu? Akhwat-akhwat kreatif ini maksa banget gambar sendiri potongan logo yang hilang itu. Nih jadinya begini :


Nah, esensi dari game ini dalem banget..
"Masing-masing dari kita itu punya posisi masing-masing. Dan seperti puzzle, setiap potongannya tidak bisa saling menggantikan. Hilang satu maka tak lengkaplah kita"
Setelah main game dan shalat, lalu kita makan siang. Alhamdulillah, hujan turun ketika itu. Itu artinya kehebohan akan terjadi lagi. Dan benar saja, lihatlah kelakuan akhwat-akhwat ini..


yang kalau diliat dari atas jadi kaya gini...


Ga ada yang terlalu memalukan kalau bersama mereka, hehe.

Sampai saat ini, tempat ini masih cukup ajaib untukku. Cukup bawa diri saja, maka kamu akan pulang dengan kenyang, tidak kehujanan dan tidak kedinginan. Kalaupun kamu terpaksa kehujanan, maka yang lain juga dipastikan kehujanan pula bersamamu. Entahlah, tempat ini terlalu banyak bidadarinya, yang lebih rela kesakitan daripada melihat saudaranya sakit. Ini sudah hampir 3 tahun berlalu, tapi keajaibannya tidak hilang sedikitpun.

Kebanyakan dari kita punya pertanyaan yang sama, kenapa Allah baik sekali menempatkan kita disini, dengan orang-orang yang penuh kesabaran dalam membimbing kita untuk tetap di jalan-Nya. Karena memang dari sinilah kami paham bahwa dakwah itu cinta.

Masih ragu?
Bahkan setiap orang disini biasanya membawa makanan yang porsinya bisa untuk beberapa orang, ada juga yang membawa kaus kaki ganti lebih untuk berjaga-jaga barangkali ada yang tidak bawa, ada yang membawa slayer lebih dari tiga, ada yang membawa ponco sekaligus jas hujan tambahan, ada yang membeli oxycan padahal tidak ada yang asma, ada yang bilang sudah kenyang agar rotinya bisa diberikan ke temannya, ada yang melepas jaketnya untuk temannya, ada yang mengulurkan tangan hangatnya untuk menggenggam tangan saudaranya yang menggigil kedinginan, ada yang kehujanan untuk sekedar memakaikan jaket saudaranya, ada yang berebut memberikan minum ketika saudaranya kehausan, ada yang rela tertinggal jauh di belakang untuk menemani saudaranya yang harus berjalan pelan-pelan, ada yang tidak bosan-bosannya menanyakan "kamu gapapa?" di sepanjang perjalanan...... dan masih banyak hal yang tidak tertangkap mata maupun indra lainnya. Hanya hati yang dapat merasakan..

Terkadang memang terasa berat dan sendirian menanggung semuanya, namun seperti kata Teh Ndu..
Seperti permainan menjatuhkan diri. Kita memang sendirian saat berdiri, tidak bisa melihat siapapun. Namun ketika jatuh? Lihatlah, ada tangan-tangan saudaramu yang dengan sigap menangkapmu agar kamu tak terluka..
Meskipun begitu, ada banyak yang berguguran dari jalan dakwah ini. Ada banyak yang sudah lupa dan berpaling dari jalan ini.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Dengan kondisi iman yang seadanya, Allah beri mereka untuk menguatkan. Allah ulurkan tangan-tanganNya lewat mereka, hingga hati ini semakin jatuh cinta padaNya.
“Seandainya kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena jatuh cinta berkali-kali, sedalam-dalamnya kepadaNya.”

Share:

Sabtu, 24 Januari 2015

Entahlah

Entahlah, hari ini bikin mikir banyak. Banyak banget.
Mau cerita boleh yaaa hehe..

Jadi ceritanya hari ini diajakin survey tempat rihlah fitrah, tempat yang di survey itu kaki gunung burangrang. Hmm, awalnya ragu sih karena motor yang tangguh banget, yang udah diajak keliling indonesia (eh bohong deng) udah dibawa ke kosan dan motor yang ada di rumah itu udah ga bisa diharapkan banget buat nanjak. Huft banget.
Makin deg-degan lah setelah H-1 keberangkatan, sang motor gagal naik di tanjakan pas nganter vero kerumah. Vero udah nanya "Mandeu, nanti kamu gimana besok?". Jreng jreeeng, kepikiran juga, iya ya besok gimana? Pada akhirnya mantepin niat dan mikir kalau aku kenapa-kenapa juga lagi bareng mereka.

Tibalah hari-H, karena beberapa orang nggak bisa ikut jadi diputuskanlah tukeran motor. Karena kondisinya tuh motor aku ini ga mungkin bisa nanjak kalau boncengan. Akhirnya aku pakai motor Dzihni, Dzihni pakai motor ikhwan dan yang ikhwan pakai motor aku. Awalnya sih damai banget di jalan, alhamdulillah sampai dengan selamat di check point yang pertama alias mesjid di perkampungan burangrang.

Dan petualangan pun dimulai..............

Ternyata jalan setelah mesjid itu lumayan menantang, ga cuma nanjak doang, tapi berbatu dan licin. Ga lama setelah kita jalan lagi menuju tempat yang dituju, munculah tragedi pertama. Motor dzihni dan nisa mundur di tanjakan -__________-
Kebayang lah, gimana wajah paniknya dia ngerem tapi ga berhenti motornya. Buru-buru lah teh inas turun dari motor, nahan motor dari belakang. Motor yang gagal nanjak itu ternyata macet giginya, ga bisa ganti gigi dan alhamdulillah normal lagi setelah didorong ke atas.
Okey, tragedi pertama berhasil dilalui meski deg-degan setengah mati.

Lanjutlah kita jalan lagi menuju finish. Feeling agak ga enak nih, abis jalannya tuh ga banget, bisa memakan korban kapanpun.
Dari sana aku yang bonceng nisa bawa motor pelan-pelan dan ada ikhwan di belakang. Eeh belum sepuluh menit jalan, di depan udah ada motor yang tergeletak dengan mengenaskan dan dua orang yang sedang berusaha angkat lagi motornya. Dan motor itu adalah motor dzihni dan teh inas -_-
Kagetlah kita, buru-buru kesana dan bantuin. Bibirnya dzihni jadi korban, nyium tanah hehe (gapapalah ya jih, kenang-kenangan). Panik juga pas itu, karena jalan super licin tapi finish masih jauh. Ya karena takut kenapa-kenapa, gantian motor lagi deh. Aku sama nisa sekarang pakai motor yang abis jatuh itu.

Alhamdulillah, puji syukur bagi Allah, kita sampai ke check point terakhir tanpa tragedi apapun, yaa paling dorong-dorong motor dikitlah ya. Seudah itu shalat, lalu lanjut jalan kaki masuk ke burangrang.
Tapi disamping itu aku ngerasa hangat aja di tengah derasnya hujan. Abis sepanjang jalan sahabat-sahabat aku ini terdengar sibuk nanyain kabar satu sama lain. "Sakit nggak lukanya?",  "Ih kamu kok basa jaketnya! Sebentar, nih pakai jaket aku (lalu kita maksa pakein jaketnya)", "Bawa kaos kaki ganti nggak?", "Tadi serius lukanya ga sakit?". Dan banyak pertanyaan yang bikin hangat aja di dihati. 
Dan setelah nyampe finish kondisinya nggak banget. Mulai ragu deh pokoknya, khawatir nanti kalau rihlah kesini anak-anak gimana, bahaya ga ya, betah ga ya, kedinginan ga ya. Dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskanlah ganti tempat. Iya, ganti tempat.

Setelah ambil keputusan, niatnya pengen lanjut survey ke tempat kedua. Jadi langsung turun deh.
Sepanjang jalan mau turun itu udah khawatir ga jelas, bayangin kalau pulang lewat jalan tadi pasti ada apa-apa lagi. Ah, sudahlah, bismillah..

Ban belakang motor kempes, bawa motor jadi agak ga stabil. Dan di awal perjalanan udah wanti-wanti ke nisa, "Nisa, kalau ada apa-apa pokoknya gimana caranya nisa jatuhnya lawan arah motor jatoh ya", konyol sih ya lagian mana bisa ngeh eta motor mau jatuhnya kemana -_- tapi oh tapi, di bayangan aku cuma kepikiran gimana caranya ini nisa jangan sampe luka. Ngeri banget bayangin ada yang luka lagi di perjalanan ini dengan kondisi jalan yang jauh lebih parah.

Pelaaaaaan banget bawa motor, tapi sepelan apa juga tetep aja nyampe ke daerah yang aku takutin banget. Nisa sama teh inas jalan kaki, aku dan yang lain bawa motor sambil tahan nafas asli serius ini mah saking deg-degannya. Jalanan kondisinya turun banget, bebatuan tajam dan licin.

Ban motor slip, rem ga bisa dikendaliin. Karena udah yakin banget bakal jatuh, akhirnya pasrah aja jatuhin badan ke kiri daripada terus kebawah kan ngeri. Bodohnya ya, refleks aku kayanya jelek banget, udah berapa detik jatuh, kaca spion pecah dan badan gogoleran di jalan turunan, baru ngeh kalo aku tuh lagi jatuh pas motornya diangkat sama nisa dan teh inas.
Alhamdulillah, nggak luka dan ga panik karena aku tahu aku lagi sama mereka, bukan orang lain.

Dari situ akhirnya akhwat jalan kaki ke bawah turunan, ikhwan bolak balik nurunin motor kita. Punten ya jadi ngerepotin..

Dan dasar si melankolis, lagi kaya gitu malah terharu. Kita jadi semakin sibuk ngejagain satu sama lain. Belum lagi nisa minta maaf, katanya maafin cuma dia yang ga kenapa-kenapa, harusnya tadi dia aja yang jatuh. Serius, aku baru nemuin orang-orang macem begini :"

Di jalan jadi mikir banget, kadang ketawa sendiri kadang jleb sendiri. Dulu aku sering nanya, kalau ada sesuatu yang terjadi sama aku, apa ada ya yang mengkhawatirkan seonggok daging tak berguna kaya gini? Hiks, setelah hari ini jadi ngerasa kufur nikmat banget.. Ya Allah, mereka itu perhiasan yang ga bisa dibeli sama apapun. Ga bisa dituker dengan apapun :"(

Ngeliat mereka luka itu sakiiiiiit banget. Lebih sakit dari luka yang aku rasain sendiri. Sekarang aku ngerti, kenapa dulu teteh-teteh sering bilang "Sini, kasih aja sakitnya ke aku". Ternyata ini toh yang dirasain... Karena sakitnya mereka jauh lebih menyiksa,

Sekarang, aku paham apa itu itsar.

Jaga diri baik-baik ya, aku mohon :')
Share: