Sabtu, 08 November 2014

Betapa teguran Allah begitu lembut

Subhanalllah, tiga minggu ini luar biasa. Lelah iya, sakit jelas. Sempat terlintas mundur sajalah, toh tanpa aku pun akan banyak orang lain yang turun menggantikan, toh tanpa aku pun semuanya akan baik-baik saja. Biarlah kali ini aku egois, mengikuti keinginan diri. Ingin terbang, lepas dari semuanya. Ingin memulai hidup yang baru, tanpa berbagai pikiran tentang amanah disana. Pasti asyik, pikirku.

Tak terhitung berapa malam dilewati dengan air mata, tanpa jelas apa dan mengapa. Tak ada tempat lari, tak ada tempat bersembunyi. Sungguh ingin pergi, tapi senyuman mereka terus menghantui. Mampukah aku melihat mereka terluka? Tidak, batinku.
Sekali lagi, aku memutuskan untuk bertahan..

Lalu segalanya menjadi lebih rumit, menguras pikiran dan perasaan. Bukan, bukan serangan dari orang lain yang membuatmu jatuh. Tapi kesakitan yang timbul karena orang-orang yang dicintailah yang kian menyiksa, karena aku tahu jelas bahwa aku tak sampai hati untuk sekedar berbicara. Berbagai prasangka mulai menyerang. Allah, aku ingin mundur saja..
Tapi tidak, tidak bisa. Seharusnya aku lebih kuat, ini bukan kali pertama. Lalu aku batalkan semua pikiran itu, ya, sekali lagi.
Sampailah pada satu titik dimana semuanya meledak. Dan tahukah?
Betapa aku malu.
Betapa teguran Allah hadir dengan begitu lembutnya..
Kata-kata ummi pagi itu masih belum bisa aku lupakan sampai sekarang. Ummi bilang..

"Bukan, bukan karena kalian yang tersisa. Bukan karena hanya ada kalian. Bukan karena kalian tidak pantas di tempat lain. Hanya saja Allah yang memilih kalian. Allah maunya kalian yang ada disana, bukan orang lain. Allah percayakan amanah ini pada pundak kalian."

Sakit ngga sih?
Malu ngga sih?

Betapa teguran Allah begitu lembut, simpel dan ngena di hati. Datang dengan cara yang tidak terduga..

Sesudah dengar kalimat itu rasanya langsung dapat sumber kekuatan yang jauh lebih besar. Bahwa kami tidak sendirian, ada Allah dan masih ada pasukan yang tersisa. Iya, sejatinya kita tak pernah benar-benar sendirian.Ada Allah.. Ada Allah..

Selama ini jungkir balik cari solusi. Padahal urusannya simpel, jauh sekali diri ini dariNya. Hitam dan kotor sekali hati ini..

Allah, aku malu..


*Lalu puter lagu edcoustic,
”..aku ingin mendekatiMu, selamanya, sehina apapun diriku..”
Share:

0 komentar:

Posting Komentar