Rabu, 30 Juli 2014

Sepucuk surat untuk seorang kakak

Malam itu, ketika mungkin orang lain kelelahan setelah seharian beraktivitas, aku justru bersiap mengendarai si merah, melawan angin dengan senyuman lebar. Aku tahu persis saat itu, bahwa momen yang akan terjadi bukan momen yang biasa. Bahkan bisa jadi, hanya terjadi setahun sekali.

Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, di akhir bulan ramadhan, seperti sudah menjadi kebiasaan untuk i'tikaf di masjid Habiburrahman PTDI Bandung. Aku tak perlu repot mengajak teman, karena selain ada ratusan orang disana, ada juga seseorang yang akan menyambut dengan senyuman hangatnya. Aku sebut dia 'teteh baik'.

Teteh ini memang bukan sosok yang asing untukku. Sejak dulu, aku memang sangat menginginkan kehadiran seorang kakak. Dan alhamdulilah, semenjak masuk SMA, ada banyak sosok kakak yang Allah titipkan, salah satunya ya teteh baik ini.

Jika bicara tentang teteh baik, aku yakin, yang akan orang lain ingat pertama kali adalah kelembutan dan kesabarannya. Memang benar kok, sampai sekarang pun aku masih terkesan dengan sisi kelembutan dan kesabaran yang ia miliki. Dan yang membuat beliau begitu spesial di mataku adalah bagaimana ia membuat orang di dekatnya merasa begitu spesial. Lihat saja, ketika ia hadir di suatu acara reuni, pasti orang-orang berebut untuk ada di dekatnya, memeluknya, bahkan melarangnya untuk dekat dengan yang lain. Ini tidak berlebihan, ya memang ini yang terjadi -_-

Kadang aku kesal, ketika aku sedang sangat merindukannya, orang-orang juga sibuk berebut ada di dekatnya. Huh, memang ini resikonya, merindukan orang yang juga dirindukan orang banyak haha. Akhirnya aku mengalah, menelan kerinduanku sekali lagi.

Seringkali aku marah tanpa sebab padanya dan mungkin juga tanpa ia tahu. Tapi beberapa saat kemudian, aku sadar bahwa tak sepantasnya aku bersikap egois. Lalu aku merasa bersalah, lalu seketika gagal lah rencana untuk 'sok marah' sama teteh baik, haha.

Pelukan teteh baik ini menyembuhkan, menenangkan. Ketika sedang ada masalah, kadang aku hanya ingin sekedar memeluknya. Tapi apa boleh buat, kesibukan teteh baik ini tak ada duanya. Sampai seringkali aku nyerah, berfikir bahwa jatah pertemuan di dunia sama teteh baik ini udah habis.

Inget masa-masa SMA dulu, teteh baik ini sosok kakak yang sempurna buat aku. Yang setiap dhuha selalu ada di mesjid, yang selalu siap nyambut kita dengan senyuman terhangatnya, yang selalu siap siaga ketika ada yang bilang ingin curhat, yang selalu siap bahu untuk sekedar menenangkan aku yang naik pitam atau sedang dirundung masalah, yang kerjanya selalu maksimal, yang kata-katanya penuh makna namun tidak menggurui, yang selalu sabar membimbing adik-adiknya, dan segala sikapnya yang tak pernah bisa aku lupakan.

Jika boleh bilang, aku sayang sekali sama teteh baik.

Siapa lagi kalau bukan teteh baik yang selalu absen kabar bapa-ibu-adik setiap kita ketemu? Siapa lagi yang kadang dengan ajaibnya bisa tau apa yang bakal aku ceritain? Siapa lagi yang dengan sabarnya ngehadepin aku yang lagi uring-uringan? Siapa lagi yang mau cape-cape telfon tiap jumat sore cuma buat tanya kabar aku? Siapa lagi yang malah bilang "maaf aku ga perhatian" ketika aku cerita tentang apa yang sedang aku alami?

Cuma teteh baik. Cuma teteh baik.

Sejatinya, kita memang tak pernah kehilangan. Karena apapun yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah bukan? Tapi kadang aku takut, takut ga bisa lagi liat teteh baik.

Oh ya, sampai sekarang aku masih punya pertanyaan besar yang mungkin ga bakal pernah terjawab.
Aku ini siapa buat teteh baik?
Hehe, aku malu untuk nanya. Karena aku cukup tahu diri untuk ga minta macem-macem lagi.

Teteh baik, terimakasih untuk segalanya ya. Terimakasih telah kembali dikala aku memang benar-benar merindukan sosok seorang kakak.
Maafkan aku, aku terlalu sering merajuk, egois tanpa mengerti kondisi teteh baik. Maaf, maaf, maaf..

Terimakasih untuk segalanya..

Doakan aku agar bisa membersamaimu, membalas jasa kebaikanmu.
Semoga ketika jatah pertemuan di dunia sudah habis, kita bisa kumpul di syurgaNya yaa, aamiin..
Aku mencintai teteh baik karena Allah. 


**************
Oh iya teteh baik!
Masih inget pas kemarin dijalan aku ngomong ga jadi?
Sebenernya aku mau bilang makasih banyak. Sesi curhat di akhir waktu itu bikin aku sadar dan bikin aku makin terharu. Aku kira teteh baik bakal menanggapi seperti tanggapan orang banyak, tapi ternyata teteh baik malah dukung aku. Ah, andai teteh baik tahu, dukungan kaya gitu berarti banget buat aku yang selama ini seringnya dengerin 'apa kata orang'. Makasih :')
Dan sebenernya juga pas di masjid, pas pagi terakhir, aku sekuat hati nahan tangis. Ga tau kenapa, aku pengen peluk dan bilang makasih.. Tapi aku malu, jadi pura-pura sibuk sendiri deh v--
Share:

3 komentar:

  1. ana uhibbuki fillah sista <3 tanggungjawab kamandeu,,, aku nangis baca ini :') tapi kayanya berlebihan itu kamandeu,,, aku g seindah cerita ini, tapi jadi motivasi buat aku... aku sayang kamandeu karena Allah x)

    BalasHapus
  2. jazzakallahu ahsanul jazza... x)

    BalasHapus
  3. wah dibales, dibaca ternyata :O

    BalasHapus