Minggu, 11 Mei 2014

Jadi introvert itu...

Kadang kesel, karena harus memendam perasaannya sekuat mungkin. Hingga orang lain tak ada yang tahu bahwa kita sedang bersedih, marah, kecewa, dsb. Ga jarang malah jadi penyakit.

Kadang bikin pusing, karena sulit untuk mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Terlalu banyak kekhawatiran yang hadir sebelum bertindak.

Kadang merepotkan, karena seringnya dapet insting berlebih tentang kondisi orang-orang terdekatnya.
Introvert ini sering terpengaruh kondisi orang lain, ketika orang lain sedih, maka dia lebih sedih, ketika orang lain bahagia, maka dia jauh lebih bahagia.

Tapi aku bersyukur memiliki kepribadian seperti ini. Tak semua orang punya dan tak semua orang mampu.
Ketika orang lain sibuk berbicara, terkadang introvert hanya perlu diam sejenak untuk memahami keadaan, bahkan perasaan orang lain. Ditambah lagi dengan tipikal golongan darah A, lengkap sudah ke-introvert-an ini. Kadang malah timbul pertanyaan, kenapa nggak jadi psikolog aja kaya mimpi terdahulu? Haha, sudahlah.

Kalau pengalaman aku selama 19 taun ini, ke-introvert-an ini bikin aku jauh lebih peka. Sering liat banyak orang yang marah karena nggak suka ketika orang lain nggak dengerin dia, ada juga yang marah ketika dia merasa tidak dilibatkan karena nggak pernah ngerti masalah orang lain. Aku bingung, sebenernya apa yang salah? Ketika hati kita bekerja dengan baik, terkadang ketidak tahuan pun menjadi lebih baik dibandingkan mengganggu orang lain.

Lalu aku kembali bersyukur menjadi seorang introvert. Meski terkadang terbatas dalam hal komunikasi, tapi rasanya nyaman selalu bekerja dengan hati. Tak apalah, rasa sakit yang sering dirasakan mungkin menjadi bayaran yang pas untuk sebuah 'kepekaan'.

Selalu menyenangkan bisa memahami orang lain, mendengar ceritanya, lalu menyimpulkan apa yang sedang dia rasakan untuk menjadi bahan evaluasi diri dalam memperlakukan orang lain. Memperhatikan orang-orang terdekat memang menjadi sebuah kebahagiaan yang teramat sangat, apalagi ketika bisa membahagiakan mereka. Seperti kata pepatah, hal pertama yang dilakukan oleh seorang pecinta adalah memberikan perhatian. Lelah? itu konsekuensi.

Terimakasih Allah, telah memberikan kepribadian seperti ini :')
Share: