Kamis, 24 April 2014

Laa Tahzan

Hari ini, adalah pertemuan ke tujuh antara saya dan mereka. Ya, bisa dibilang, sudah 7 minggu saya mengenal mereka. Dan sudah tujuh minggu pula saya menyerahkan jum’at saya disini. Di tempat yang kenangannya tak pernah habis.

Mengenal mereka adalah sebuah kebahagiaan, kebanggaan tersendiri. Setelah satu tahun saya ‘menduakan’ tempat ini, saya memilih untuk kembali. Dan tak disangka-sangka, mereka layaknya ‘welcome drink’ yang menyejukkan. Yang kesejukannya tak lekas hilang..
Ya, Allah kembali menitipkan hadiah yang begitu indah.

Saya sudah cukup kenyang dengan banyak nasihat bahwa saya harus lebih berani berkembang, harus keluar dari zona nyaman, harus melihat dunia luar. Namun kenyataannya saya tak tega untuk ‘travelling’ ke tempat lain ketika justru ‘rumah’ saya sedang berantakan. Ketika tamu yang berkunjung tidak betah untuk tinggal. Sungguh, saya tidak nyaman. Read more..



Saya ingin berbenah, ingin kembali mengasah intuisi saya disini. Merendahkan ego, mencoba untuk menghangatkan rumah ini agar nyaman menjadi tempat pulang bagi para penghuninya.
Sekian tentang hal itu, saya ingin menghibur diri saya sejenak dengan mengingat adik-adik saya yang lucu :)

Saya tidak menyangka, tujuh minggu ini ternyata begitu luar biasa. Yang awalnya semangat saya mulai luntur, tapi mereka berhasil menyumbangkan pundi-pundi semangat pada saya. Pertemuan kita memang hanya 2-3 jam per minggu, namun rasanya 2-3 jam itulah yang paling ditunggu-tunggu setiap harinya.

Dari awal saya dan kawan-kawan yang memutuskan untuk kembali telah bertekad, bahwa dalam satu tahun ini kami akan mencoba untuk totalitas, untuk tidak main-main disini. Kita sama seperti mereka yang keren di kampus, kita sama-sama sedang mencoba untuk menebarkan kebaikan seluas mungkin.

Dan sungguh, disamping kesulitan pasti ada kemudahan. Allah begitu baik..

Ketika rasanya canggung untuk kembali, mereka sambut kami dengan rangkulan hangat. Malu rasanya, kemana saja saya selama ini?

Akhirnya, lahirlah nama ‘Laa Tahzan’. Kocak sih awalnya, lucu ketika bilang ‘Ayo kita kumpul, Laa Tahzan. Cepet sini melingkar’ XD
Tapi mereka bilang, mereka pilih nama itu alasannya karena..
Laa Tahzan itu artinya jangan bersedih kan teh? Jadi ketika kita mentoring, kita melupakan berbagai kesedihan kita disini.
Jleb. Pertemuan kedua rasanya udah mulai tumbuh benih-benih cinta. Luar biasa mereka..
Dan dimulailah jum’at saya yang berwarna. Saya yang sering telat ini selalu terharu liat mereka dengan sabarnya menunggu di NI. Sejak saat itulah standar kebahagiaan saya menjadi semakin sederhana. Tak perlulah yang muluk-muluk, lihat mereka hadir mentoring aja jadi kebahagiaan tersendiri :’)

Ka mandeu, ini hukumnya gimana ya?Ka mandeu, di kelas aku punya temen gini..Ka mandeu, mau cerita..Ka mandeu, kalau ada kasus kaya gini, aku harus gimana?Ka mandeu..Ka mandeu..
Hiks. Pertanyaan sederhana mereka membawa saya kembali saat saya yang ada di posisi mereka. Dulu saya bangga sekali punya teteh-teteh yang selalu ada, yang selalu bersedia untuk berbagi waktu. Bidadari beransel itu nyata keberadaannya. Dan sekarang, giliran kami.

Seiring waktu berlalu, sharing dengan mereka seperti candu. Take and Give. Saya dapat banyak hal baru dari mereka. Mereka gaul banget, cocok untuk saya yang cupu dan kuper, haha.

Seringnya saya terharu, ketika mereka mau menyempatkan hadir di setiap agenda melingkar kita. Kok bisa? Kok mau? Kok rela?
Memang semuanya kuasa Allah. Subhanallah..

Yuk, kita buktikan apa yang bisa kita lakukan selama satu tahun ini. Tinggal sekitar 9-10 bulan lagi, semangaaaaaat :’)))

Ketahuilah Laa Tahzan, bukan hanya kalian yang lupa akan kesedihannya setiap kali melingkar, aku pun tertular dengan sempurna.
Uhibbukum Fillah, adik-adikku sayang..


Tulisan ini diambil dari tumblr saya tanggal 21 Maret 2014
Share:

0 komentar:

Posting Komentar