Selasa, 10 Juli 2018

Lailatul Qadr

Serba salah.

Mendengar sang ustadz melantunkan doa qunut, sedang diri tak bisa ikut berdiri setelah rukuk dan pula ikut menangis.
Hanya duduk di selasar sembari jaga malam, dan menahan tangis yang ingin melesak keluar.

Seorang pendosa sepertiku, rasanya terlalu kotor untuk mendengarkan setiap lantunan doa. Perih sekali, tak bisa ikut berdiri disana.

Yaa Allah, sungguh, entah harus berapa lama berdiri meminta ampun untuk hapuskan dosa ini, agar Kau maafkan seluruh dosa pada hambamu ini sebelum kau panggil pulang 😭

Yaa Allah, aku ini sering bermaksiat, tapi Kau kumpulkan aku dengan orang-orang shalih. Kau tahu benar, bahwa diri ini harus dibersamai agar terjaga imannya.

Yaa Allah, diri ini terlalu banyak kufur nikmat, lalu kau tunjukkan kerabat dekat yang dicabut nikmat akal sehatnya. Kau tahu benar, bahwa tamparan keras justru aku dapat dalam kondisi terburuk.

Yaa Allah, aku harus bagaimana lagi. Kau begitu baik, aku tak tahu harus bagaimana agar dapat mencintaiMu sedalam-dalamnya, dicintaiMu, diberikan syafaat agar masuk ke syurgaMu bersama orang-orang shalih dan menemui Rasulullah dalam kondisi terbaik.

Ditulis di sepertiga malam terakhir pada masa-masa akhir Ramadhan. Menangis tertahan dalam dinginnya malam. Allah, masih adakah sisa Ramadhan dalam diri ini?

Share:

Minggu, 27 Mei 2018

.

Butuh.
Kekhawatiran.
Sakit.
Terkejut.
Penolakan.
Bertahan.
Bertahan.
Bertahan.
Tidak tahan.
Mencari tempat.
Sepi.
Bersujud.
Menangis.
Tersedu.
Mengapa?
Sesak.
Mengadu.
Memaafkan.
Memaafkan.
Belum bisa.
Allah.
Ingin pulang.
Daripada menyusahkan.
Membebani.
Mengganggu.
Merepotkan.
Satu-satunya.


Allah.
Share:

Senin, 07 Mei 2018

Yaa Rabb...

Memang benar, terkadang kontemplasi terbaik didapat saat kondisi sangat tak kondusif untuk sekedar melamun dan memikirkan apa yang terjadi, ya. Seperti hari ini, tamparan terbaik justru didapat saat raga sudah habis tenaga, saat pikiran sudah kacau tak beraturan. Mungkin mereka tak tahu, ada yang menangis di atas kendaraan roda duanya saat mengiringi mobil di depannya.

Karena jika ada manusia yang pantas disebut kufur nikmat, itu aku. Aku.

Masih dibersamai oleh keluarga yang hangat, masih memiliki saudara-saudara tidak sekandung apalagi sedarah namun sigap membela, masih diberkahi rizki yang cukup, tempat tinggal yang nyaman dan yang terpenting jiwa raga yang sehat. Namun apa? Manusia ini malah melakukan banyak maksiat, lupa akan nikmat yang ia terima tanpa sadar dariNya.

Begitulah Rabb ku, menegur dengan cara yang lembut sekali, hingga tetes air mata ini tak kuasa dibendung lagi.

Ia mungkin sakit, bahkan tak sadar sama sekali atas apa yang ia lakukan hari ini. Tapi aku yakin, pukulan, cakaran, cubitan atau apapun yang kami rasakan hari ini, jauh lebih ringan dibanding apa yang ia tanggung.

Aku tahu, tidak baik menganggap bahwa apa yang ia bicarakan hari ini adalah kebenaran, seharusnya anggap saja hanya angin lalu, toh ia pun bicara tanpa sadar. Tapi sungguh, saat ia berteriak "ka mandeu pembohong!" cukup membuatku merefleksikan diri, seberapa banyak luka yang aku torehkan di hatinya? Seberapa jauh aku tinggalkan saudaraku yang ini?

Aku ini berhati keras, tidak mudah menangis. Tapi dengan segala kerendahan hati, dengan segala sesak yang ada dalam dada, ada isak yang melesak tanpa permisi. Saat ia berteriak kesakitan dan berontak, saat kawanku yang lain menatapnya dengan cemas, aku memilih menghindar, menangis sendirian tanpa sebab yang pasti. Ada rasa sesak yang tak asing. Ada luka yang menganga kian lebar saat melihatnya tak berdaya dan menangis kian keras di ruangannya. Maka izinkan aku menangis terlebih dahulu hari ini.

Namun aku khawatir, tangisku akan melemahkan. Ku usap, lalu ku beranikan diri untuk menatap ke belakang lagi. Ternyata kedua sahabatku pun sedang sibuk dengan air mata masing-masing. Apalah daya, kami tak sampai hati menyaksikan kepiluan hari ini. (Lalu ku ingin menangis lagi menulis ini.............)

Bersyukurlah.
Bersyukurlah atas apa yang kita rasa hingga hari ini.
Bersyukurlah, atas setiap kekuatan yang Allah beri untuk menghadapi hari-hari di dunia yang fana ini.
Bersyukurlah, sungguh, bersyukurlah.

Kita tak pernah tahu, apa yang orang lain hadapi setiap harinya.
Berhentilah menilai,
dan bersyukurlah.
Share:

Rabu, 28 Maret 2018

Gusar.

Ini pekan ketiga, kedua kalinya tumbang sampai ingin rasanya menangis saat kesakitan di tengah malam. Merepotkan seseorang hingga batas maksimal.

Tapi kau tahu, sejauh apapun kamu pergi, hanya ada sepasang tangan yang senantiasa ingin kau temukan saat sakit. Tangan mereka, kedua orang tuamu.

Malam ini aku menyerah untuk tidur. Rasanya menyakitkan saat mata ini terpejam. Maka biarkan aku sedikit bercerita malam ini.

.....

Sepi.
Kukira "batasan" yang satu ini sudah pergi. Tapi mungkin ia abadi.
Sisa porak poranda kepercayaan diri belasan tahun yang lalu nyatanya masih berserakan hingga saat ini. Tidak pernah utuh dan sempurna jadi satu kesatuan.
Malam yang sunyi dan dingin, akan jadi pilihan dibanding siang yang riang dan ramai.
Ada rasa cemas dalam diri, bahwa cahaya akan menunjukkan segalanya, segala yang tidak perlu dunia tahu. Cukuplah malam menutupi apa apa yang tidak perlu ditampakkan.

Aku, dengan segala keterbatasanku, sungguh tidak bisa merubah diri sejauh itu. Aku, hari ini, menyadari kembali bahwa aku tidaklah sama dengan yang lainnya. Sejujurnya aku cukup terpukul, mengetahui masih ada rasa takut yang sebenarnya tidak perlu ada. Aku, pemuda berusia 23 tahun, masih takut untuk sekedar menghabiskan waktu dan tertawa bersama mereka yang tak kukenal. Aku... payah bukan?
Bahkan ilmu survival terendah saja, tidak bisa kumiliki.

Lalu aku kembali berpikir. Kamu yakin bisa bertahan di luar sana? Bersama makhluk-makhluk yang dari ukuran mata saja sudah berbeda.

Aku bukannya tidak suka bersosialisasi. Aku sangat suka ada di tengah mereka yang lingkarannya melindungi.
Aku hanya tidak bisa, sungguh tidak bisa dipaksa dan memaksa diri untuk sama dengan yang lainnya, untuk dapat selalu menampakkan binar mata yang menyenangkan ketika sedang gusar.

Aku pun kecewa, dengan diriku sendiri.
Aku, belum, untuk tidak disebut sebagai da'i yang gagal.

Share:

Kamis, 14 Desember 2017

Tak Sesederhana Amarah

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa aku ini seseorang yang menyeramkan ketika marah. Percayalah, kau yang baru mengenalku tak akan mau ada di dekatku ketika aku sedang marah. Tapi ini hanya perkara marah, bukan perkara besar untukku. Pernah suatu hari aku marah besar, menahan tangis semalaman karena bisa-bisanya seseorang yang selalu ada tiba-tiba menghilang di agenda besar tahunan. Tapi sekali lagi, ini hanya urusan amarah. Besoknya, ketika aku bertemu dengannya, aku peluk dengan erat dan aku tepuk pundaknya dengan gemas seraya berkata "Awas kalau kamu kaya gini lagi!". Dan ia tertawa, selesai. Sungguh, selesai semuanya. Jadi sebenarnya, marah adalah perkara kecil untukku.

Tapi tidak dengan kecewa. Itu sulit, berat sekali.
Ketika aku kecewa, aku akan diam. Tak menyeramkan bukan? Toh hanya diam, entah berapa lama, bisa jadi selamanya. Biasanya aku akan menghukum diriku sendiri. Iya, sejatinya aku hanya menghukum diri sendiri. Kau kira mudah bagiku untuk diam seperti itu? Tidak, aku pun ingin mentransformasikan rasa ini menjadi sekedar rasa marah sesaat dan ucapkan segalanya langsung di depan mukamu. Tapi apa daya, tidak bisa. Ada sesuatu yang mendasar yang terlanjur terluka disini.

And in this case, this time, you hurt someone precious for me.
No, it's not about me. I don't care if you got mess with me. I don't really care too if you hurt my heart with your statements about me. I don't care.
And no no, it's not about my bestfriend. It's not about how you made her cry before in front of your face. I'm agree that it's not right, but i know that she could handle it. So, it's your business with her.


But do you know? Do you remember how you called your close friend as a "Provocator"?!
I don't get it. How could you state your friend with that name. The Provocator. To the people out there and made them feel that she is truly a provocator based on your story.

Hey, it's hurt me!
She is my little sister, you're my little sister too. I really couldn't get it why are you so mean.
Wonder how if i were her, maybe i'll cry all over the night because the one who i care so much would called me like that.

Ah, you don't know. You don't know how hard she tried to do her best to help you get out from this situation. I'm curious, what will you do, if you know that i'm on her side, that every act from her is based on my instruction. What will you do? Will you called me as a provocator too?
I dont care. Really. Just call me whatever you likes.

Please. Stop. Stop it right now.
We already need to recover everything, so stop everything right now.

See, now you know how childish i am.But i'll always be this childish if someone hurt my lovely friends. Sure, whoever you are.

*So sorry, i have no time to check the grammar first, haha.
Share:

Jumat, 24 November 2017

It's Okay


Bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini seharusnya berjalan sesuai porsinya masing-masing?
Ikan berenang di air, burung terbang di langit, manusia berjalan di muka bumi..


Lalu mengapa, mengapa harus menginginkan sang ikan terbang di langit?
Apakah tingginya langit menjadi suatu simbolis keberhasilan?


Mengapa harus melatih burung berenang di laut?
Apakah menaklukan luasnya laut menjadi suatu simbol kegagahan?


Mengapa, mengapa harus memaksakan manusia yang dapat melakukan segalanya?
Menyamaratakan potensi yang ada, hingga menggunduli antusiasme dalam kehidupan.
Hingga kosong, habis semua keinginan.

Mungkin segala kunci permasalahan ini ada di keimanan, di titik keseimbangan antara sabar dan syukur.

Toh Allah Maha Baik. Ia tahu akan ada air mata yang jatuh sore ini. Lalu secara tak terduga, ia kirimkan seseorang agar kau dapat menangis di pangkuannya.
Maaf, ada yang untuk pertama kalinya tak berhasil mengendalikan rasa. Terimakasih, untuk mengusap pundak ini dengan sabar tanpa bertanya apapun, hingga hilang sengguk tangis itu. Terimakasih telah bersedia menunggu, seperti biasanya.

It's okay dear, everything will be alright.
Share:

Selasa, 31 Oktober 2017

Ini Semua Tentang "Kita"

Pernah di suatu hari yang sangat sibuk, aku yang berseragam putih abu, dengan laptop di pangkuan dan berkas-berkas surat di genggaman serta printer yang tak hentinya bekerja maksimal, seorang teteh tiba-tiba berbicara dengan tegas dan keras "Mandeu, kok kamu tuh segala dikerjain sendiri sih?! Itu temen-temen kamu tuh banyak, disuruh kerja juga ngga?!"

Jleb.

Dua kalimat yang totally bikin aku terdiam. Saat itu aku ingin sekali bantah dengan keras "Iya teh, temen-temen aku memang banyak, tapi aku ngerasa sendiri disini!". Tapi tidak, aku seakan ditampar, aku merasa sombong sekali jadi manusia. Siapa aku hingga pantas berpikir bahwa hanya aku yang berjuang disini? Bisa jadi semuanya karena aku, aku yang sok merasa sendiri dan merasa orang lain lalai dengan tugasnya. Padahal bisa jadi, mereka bekerja dalam diam, aku saja yang hanya pandai memaksa mereka bekerja dengan ritme ku.

Tidak adil. Ya, aku tidak adil pada mereka. Aku tidak adil bahkan sejak dalam pikiran.

Maka sejak saat itu, aku mulai belajar membagi beban. Bukan, bukan pertanda lemah, tapi jalan yang jauh dan terjal memang hanya bisa dilalui berjamaah, meski lebih lembat, tapi jauh lebih aman.

===

Dan untukmu, adikku.

Kau tidak sendirian, ingin sekali aku bisikkan padamu saat itu, bahwa kau tidak sendirian.
Ada Allah. Ada Allah. Ada Allah.

Dan kau tahu?
Sejatinya.. mungkin kau sedang berlari, meninggalkan kawan-kawanmu.
Sedang kawanmu itu, mungkin sedang berjalan dengan kecepatan konstan, kehilangan jejakmu yang sudah lebih dulu berlari tanpa henti. Hingga kalian sama-sama tak bisa melihat satu sama lain.

Kau tak salah, cepatnya kau berlari bukanlah suatu dosa yang perlu dirutuki.
Tapi sedikit saran dariku, dari orang yang penuh dosa ini, cobalah kau kurangi kecepatan berlarimu, tunggu sebentar, berjalanlah dengan santai hingga terlihat wajah kawan-kawanmu di belakang sana yang tergopoh-gopoh mengejarmu. Lalu tunggulah sebentar lagi, hingga posisi mereka tepat di sebelahmu. Setelah itu, berjalanlah sejauh mungkin, bersama-sama. Karena barangkali, perjalanan jauh dan terjal akan lebih baik ditempuh dengan kecepatan yang konstan, tak perlu terengah-engah dengan berlari cepat.

Atau kau ingin solusi yang lebih cepat lagi?
Berlarilah. Bukan kedepan, tapi ke belakang, ke arah dimana kawan-kawanmu berada.
Hampiri mereka sesegera mungkin, genggam tangan mereka, sehingga tak perlu lagi saling meninggalkan satu sama lain. Lalu berjalanlah, berjalanlah sejauh mungkin bersama-sama.

Sungguh, makhluk hina ini pun tahu, kau tidak sendiri.
Kau hanya perlu berhenti berlari, sejenak. Hingga kau temukan tangan-tangan yang sebenarnya selalu siap terulur untuk membantumu. Mungkin tak mudah, tapi yakinlah, bersama itu jauh lebih menguatkan, meski sakit dan mengibas perasaan di hati.

Satu lagi.
Di dunia ini, kita tak perlu mengerjakan segala jenis pekerjaan.
Semua ada porsinya, semua ada tempatnya, semua punya peran yang tak bisa dipindahtangankan.
Dahulu, makhluk hina yang sedang menulis ini pernah dinasihati oleh seorang bidadari, ia berkata
"Berikan kepercayaanmu seutuhnya pada saudaramu, maka ia akan lakukan yang terbaik dan memberikan segala sesuatu yang ia punya".
Terkadang, tak semua masalah di dunia ini harus selesai melalui tangan kita.
Bisa saja, menggenggam tangan orang lain dan menguatkannya untuk selesaikan masalah tersebut akan jauh lebih baik daripada kita yang harus turun tangan langsung menyelesaikannya.

Percayalah, setiap orang, "punya ukuran sepatu masing-masing".
Aku ingin kau belajar dari kesalahanku.
Karena ini semua tentang kita. Bukan hanya kamu, atau bahkan mereka.
Share: